Kania Kurir Cantik

Kania Kurir Cantik
Rencana Rommy


__ADS_3

Dessy menghampiri Kania yang tengah membaca buku. Ia menggoda Kania dengan menaruh telapak tanganya di lembaran buku.


"Iseng amat, sih! " tegur Kania. Ia menyingkirkan tangan Dessy dari buku. Dessy malah tertawa tanpa dosa melihat wajah kesal sohibnya. Kania melanjutkan bacaannya.


"Ada gosip, " kata Dessy pasang mimik wajah serius.


"Ghibah. Dosa tahu, " kata Kania.


"Ye ... ada gosip, eh ... informasi beredar di kampus. Bunga mau buat pesta ulang tahunnya di hotel bintang lima, " jelas Dessy.


"Bodo amat. Bukan urusan kita, " ucap Kania.


"Katanya, Bunga mau menyaingi pesta ulang tahun kamu. Pesta di hotel bintang lima, " jelasnya.


"Ganti topik ya. Malas ngomongin soal Bunga. Titik, " tegas Kania.


Kania memasukkan buku yang dibacanya. Mengambil tas dan hendak beranjak pergi


"Mau kemana? " tanya Dessy.


"Balik. Lapar nih, " jawab Kania.


"Aku main ke rumahmu ya. Kangen masakan Mama kamu, " kata Dessy.


Kania kaget bukan kepalang. Harus cari akal agar Dessy tak tahu kondisinya sekarang.


"Lain kali saja ke rumahku. Aku ... kurang enak badan, " elak Kania.


"Ya sudah lain kali saja, " ucap Dessy.


Kania celingak-celinguk, memastikan agar tak ada seorangpun yang mengikutinya, termasuk Dessy. Ia tak membawa motor ke kampus. Dulu, ia biasa pergi ke kampus dengan menyetir mobil pribadi. Motornya disimpan di rumah.


Kania celingak-celinguk memastikan agar tak seorang pun yang mengikutinya, termasuk Dessy, sahabatnya. Ia sengaja berjalan kaki menjauh dari gerbang kampus. Lumayan capek, ia belum siap menceritakan kondisinya saat ini kepada Dessy.


Kania berhenti di halte yang agak jauh dari kampus. Peluh membasahi dahinya. Sesekali ia mengelap peluh itu dengan tissu. Bus kota pun tiba. Kania memilih duduk di bangku depan. Agar memudahkan untuk turun dari angkot. Ia pun tiba di jalan yang mengarah ke rumah barunya.


"Assalamualaikum ...." salam Kania.


"Walaikum salam. Eh ... anak cantik Mama sudah pulang kampus, " jawab Mama Kania.


Kania membuka sepatunya. Mencium tangan Mama, duduk sebentar. Mama membawakan segelas air putih. "Minum dulu, biar tidak dehidrasi, " katanya.


Kania meminumnya habis. "Ma ... aku beli sayur matang di depan gang, " katanya. Ia menyerahkan kantong plastik berisi sayur matang dan lauk pauk.


"Padahal Mama masak sayur sup, " ucapnya.


"Yah ... kita makan semuanya saja. " Kata Kanja.


Bu Ira menaruh sayur matang yang dibeli Kania ke sebuah mangkok. Sayur lodeh kesukaannya.


"Papa sudah makan? " tanya Kania sambil mengunyah makanan.


"Sudah. Papa juga sudah minum obat. Oh ya ... besok jadwal cek up kesehatan Papa. "


"Aku temani Mama antar Papa cek up, ya, " ucap Kania.


"Mama pergi berdua saja sama Papa. Sekarang kamu sibuk, mana kuliah, mana kerja. Mama bisa kok. "


"Enggak apa-apa, Ma. Bu Nadia tuh baik banget orangya. Nanti aku telelpon dia minta izin agak telat. Dia pasti mengerti. "


"Terserah kamu lah. " Kata Bu Ira sembari makan.


Kania melihat jam dinding. Sudah jam 2 siang. Ia harus bergegas ke rumah Bu Nadia. Pekerjaannya menunggu. Ia menghabiskan makan siangnya. Tak lupa membantu merapihkan meja makan.


Hampir telat. Untung saja Kania mempercepat laju motornya. Bagai melaju di atas angin. Dia pun tiba di rumah Bu Nadia.

__ADS_1


Rommy sedang duduk di teras rumah. Memperhatikan Kania yang baru turun dari motor.


"Telat! Dasar malas! " ketus Rommy.


Kania enggan menggubris ucapan Rommy. Ia masuk ke rumah menemui Bu Nadia yang sibuk packing pesanan kue hari ini. Dengan sigap ia membantu Bu Nadia. "Maaf, agak telat, " katanya.


Bu Nadia hanya tersenyum. "Tidak apa-apa. Kamu makan dulu, gih, " ajaknya.


"Aku sudah makan di rumah. Sini aku bantuin packingnya biar cepat. "


Rommy masuk ke dapur. Ia sempat memperhatikan Maminya dan Kania. Ia pun mendekati keduanya. "Kania ... bikinin aku mie instant! " perintahnya.


"Rommy! Keterlaluan kamu! " hardik Bu Nadia.


"Memang kenapa, Mi? Wajar donk aku suruh pegawainya Mami. " bela Rommy.


Kania merasa tak enak hati dengan pembelaan Bu Nadia. Ia angkat bicara, "Enggak apa-apa kok, Mi. Sini aku buatkan mie instant. "


Kania menyalakan kompor dan mendidihkan air untuk masak mie instant. Lima menit kemudian, mie instant pesanan Rommy siap. Ia meletakannya di meja makan.


"Boleh aku antar pesanan pelanggan sekarang? Biar tidal kesorean. "


"Iya, " jawab Bu Nadia singkat.


Bu Nadia membantu Kania mengatur barang yang akan dibawa. Seperti biasa dua kali pengantaran. Ia pun memakaikan Kania helm.


"Maafkan anak Mami. Hati-hati di jalan, " kata Bu Nadia.


Kania hanya tersenyum. Ia memacu motornya. Di perjalanan, pikirannya teringat kelakuan Rommy. Dulu, ia pernah menjadi anak seorang milyarder. Namun, kedua orang tuanya selalu mengajarkan sopan santun dan menghargai orang lain tanpa melihat status sosialnya.


"Cit ....! " Kania menginjak rem mendadak. Seorang pejalan kaki tiba-tiba melintas di depannya.


"Ya Allah. Nyaris saja. " Katanya.


Kania melanjutkan perjalanannya lagi. Sore itu semua pesanan pelanggan sudah selesai terbagi.


"Sayang, "


"Kok pesan aku gak dibalas sih? " pesan dari Bunga di WA Rommy.


Sebetulnya Rommy sudah melihat WA dari Bunga, tapi ia malas membalasnya.


"Sayang ... Sayang! Memang aku pacarmu! " geram Rommy.


Pesan dari Bunga masuk lagi, "Sayang ... baju yang warna merah atau hijau untuk pesta ulang tahunku. "


Rommy membaca pesan Bunga yang membuat ia tambah marah. "Terserah kamu mau pakai baju merah, hijau, atau sekalian baju Tarzan. Bodo amat! " marah Rommy di depan foto Bunga.


Rommy tetap tak membalas pesan dari Bunga. Ia pun mematikan ponselnya sementara. Menghindari Bunga.


"Harus cari akal agar Bunga tak mendekatiku lagi, " kata Rommy.


Pesta ulang tahun Bunga tanggal 1 November. Tinggal seminggu lagi.


"Bagaimana kalau aku datang ke pestanya Bunga dengan pacar bohongan? " tanyanya di depan cermin. "Ide briliant, tapi siapa orangya? " tanyanya lagi.


Rommy terdiam sesaat. Tiba-tiba ia tersenyum lebar seakan-akan memenangkan hadiah undian.


"Kania ...." sebut Rommy.


Dessy mentraktir Kania di kantin kampus. "Aku lagi kaya hari ini. Tante Nida, adiknya Ibuku, transfer aku uang, " katanya senang.


Kania memesan somai dan es teh manis. Sedangkan Dessy memilih bakso. Tak lama Bunga dan rekan satu bank nya, masuk ke kantin juga. Bunga mendekati Kania dan Dessy. Bunga menyerahkan sebuah amplop undangan.


"Ini undangan pesta ulang tahunku. Hanya kamu ya Dessy, " jelas Bunga. Ia selalu pasang muka cemberut saat berhadapan dengan Kania.

__ADS_1


"Mana undangannya Kania? " tanya Dessy.


"Kania? OMG ... Dessy, aku tidak mengundang Kania. Oh ... ya, nanti saat pesta ulang tahunku, aku akan memperkenalkan pacar baruku. Tunanganku, " jelas Bunga.


Empat mahasiswi anggota gank nya Bunga, mencibir Kania. Dessy nyaris naik pitam melihatnya. Namun, Kania melarang.


"Aku juga ada kegiatan saat tanggal 1 November. Oh ya ... kalau begitu, aku ucapkan selamat ulang tahun duluan. " Kata Kania.


"Makasih, " ucap Bunga singkat. Ia dan gank nya berlalu dari Kania dan Dessy.


Selepas kuliah, Kania minta izin tak mengantarkan orderan Bu Nadia. Karena ia membawa Pak Malik, Papanya, ke dokter prakter untuk pemeriksaan kesehatan.


***


Rommy sengaja masuk ke dapur hari ini. Pura-pura ingin membuat kopi, padahal mencari keberadaan Kania.


"Bikin apa kamu di dapur?! " tanya Bu Nadia ketus.


"Buat kopi, " jawab Rommy.


Rommy tak melihat Kania. Tapi ia terlalu gengsi bertanya dimana kurir Maminya itu.


"Kamu ngapain diam di situ? Sini bantuin Mami packing! " perintah Bu Nadia.


Rommy menuruti kemauan Maminya, meskipun sebenarnya malas. Tapi hanya itu cara agar tahu dimana Kania.


"Hari ini, Mami terpaksa kerja sendiri. Kania izin tidak masuk. Ia antar Papanya cek up ke dokter, " Bu Nadia.


"Jadi siapa yang antar semua pesanan ini? " tanya Rommy sok prihatin.


"Mang Karya. Ojek langganan Mami. Kamu tuh contoh Kania, ia anak yang perhatian sama orang tuanya. Seandainya Kania itu jodoh kamu, Mami bahagia sekali, " katanya.


Rommy kaget mendengar perkataan Maminya. "Jangan aneh-aneh, Mi, " tegur halus Rommy.


"Kenapa enggak boleh Mami berharap Kania jadi istrimu kelak. Dia gadis yang baik, cantik, cerdas, sholeha, dan perhatian sama Mami, " jelas Bu Nadia.


"Mami ... banyak cewek yang lebih dari Kania di luar sana, " ucap Rommy.


"Maksud kamu si Bunga. Anak pecicilan itu ... amit-amit jadi mantu Mami. "


Pikir Rommy percuma berdebat dengan Bu Nadia, Maminya. Dia dan Maminya punya sifat yang sama, tidak mau mengalah. Lagipula ia sudah tahu keberadaan Kania. Lebih baik ia alihkan perhatian, ganti topik pembicaraan.


"Cepat packingnya, Mi. Nanti Mang Karya keburu datang, " katanya.


Bu Nadia dibantu Tommy segera mengemasi dagangannya


***


Malam itu, Rommy sempat tak bisa tidur. Pikirannya tertuju kepada Kania.


"Kira-kira Kania mau atau tidak kalau aku ajak ke pestanya Bunga? " tanya Rommy galau.


"Dia mau lah. Aku kan anak bosnya. " Jawab Rommy sendiri.


"Dia enggak mau karena kesal sama aku. " Jawabnya sendiri lagi.


"Wa ....! Bisa kacau rencanaku. Semoga ia mau. Semoga ia datang besok, " harap Rommy


Rommy baik di peraduannnya. Matanya tetap tak bisa terlelap.


"Aku harus berpura-pura baik pada Kania. Minta maaf atas kelakuanku. Masih ada waktu. Empat hari lagi pestanya Bunga. "


Rommy menatap langit-langit kamarnya. Berharap rasa kantuk itu datang, tapi tak kunjung tiba.


"Kania ... oh Kania ...." Katanya.

__ADS_1


Menjelang Subuh, Rommy baru bisa tertidur.


***


__ADS_2