Kania Kurir Cantik

Kania Kurir Cantik
Makhluk Menyebalkan itu Bernama Rommy


__ADS_3

Hari pertama kerja, Kania memacu motornya menuju rumah Bu Nadia. Usai perkuliahan tidak ada lagi agenda nongkrong bareng, jalan-jalan ke mall, atau bercanda dengan teman-temannya setelah usai kuliah.


Kania tiba di rumah Bu Nadia tepat setengah empat sore. Lebih cepat setengah jam. "Assalamualaikum. Maaf rada telat, Bu, " ucap Kania.


"Mami, Kania. Dan satu lagi, kamu enggak telat, " ujar Bu Nadia.


Kania memeriksa paket kiriman kue dan alamat yang akan dituju. Sore ini ada sepuluh lokasi pemesanan.


"Eits, makan dulu. Sholat Ashar dulu, baru go, " kata Bu Nadia.


Baik sekali Nadia. Menyuruh makan dan sholat sebelum kerja. Perlakuannya sangat manusawi, hati Kania sangat tersentuh olehnya.


Usai makan dan sholat, Kania mengambil paket kiriman itu. "Mami, aku antar 5 paket dulu. Baru aku balik lagi ambil 5 paket sisanya, " ucapnya.


Bu Nadia mengangguk setuju. Kania mulai mengantarkan paket kue pesanan. Untungnya, alamat pemesan tak jauh dari tempat tinggal Bu Nadia Kelima pesanan pertama telah diantarkan.


"Assalamualaikum. Aku mau ambil sisa paket, Mami, " kata Kania.


"Walaikum salam. Kania sayang, cepat sekali kerja kamu, " puji Bu Nadia.


"Biar cepat selesai. Eh ... Mami, ini uangnya, " kata Kania. Dia menyerahkan semua hasil pembayaran kue.


Bu Nadia menghitung jumlah uang tersebut. Tidak ada yang salah. Semoga Kania tetap jujur. Harapnya dalam hati.


"Aku berangkat, Mami, " pamit Kania.


"Hey, jangan ngebut, " pesan Bu Nadia.


Pesan terakhir hari ini telah diantar. Kania menghitung uang hasil penjualan kue. Memberikan ke Bu Nadia.


"Dihitung lagi, Mi, " saran Kania.


"Enggak usah. Mami percaya kamu, kok, " ucap Bu Nadia.


"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu, " kata Kania.


"Tunggu bentar, ya, " kata Bu Nadia. Dia menuju dapur hendak mengambil sesuatu. Bu Nadia muncul dengan membawa sekotak kue brownies.


"Buat orang tua kamu, Nak. Ini uang bensin kamu hari ini, " ucapnya.


Kania menerima pemberian itu dengan senang hati. Terbayang wajah Mama dan Papa saat makan brownies buatan Bu Nadia. Sudah lama mereka sekeluarga tak makan kue ini. Padahal sebelumnya, Mama Kania kerap membuat atau memesan brownies spesial dari toko kue 'termahal' di kota.


Ketika Kania hendak pamit pulang, muncul seorang pria berwajah blasteran. Pria itu tampan, berkulit putih, tinggi sekitar 175 cm, dan bertubuh tegap.


"Mami, " sapa pria itu.


"Kemana saja kamu. Semalaman enggak pulang, " kata Bu Nadia.


"Ngongkrong di cafe. Suntuk di rumah, " jawab pria itu.


Kania belum beranjak pergi. "Rommy, kenalkan ini kurir baru mami, " kata Bu Nadia. Kania tersenyum.


"Oh ... pembantu baru, " kata Rommy enteng.

__ADS_1


"Rommy! " tegur Mami.


"Kurir itu 'kan kerja buat bantu Mami. Sama saja dengan pembantu, " bantah Rommy sambil berjalan menuju kamarnya.


Bu Nadia salah tingkah dengan perkataan putra semata wayangnya. Ada perasaan malu dan marah karena tidak bisa mendidik anaknya. Ada juga perasaan bersalah terhadap Kania.


"Maafkan Rommy anak saya, " pinta Bu Nadia.


Hati kecil Kania marah sekali dengan ucapan Rommy. Namun, melihat sikap Bu Nadia yang begitu baik, marah di hatinya bisa ditahan.


"Enggak apa-apa, Mi. Aku pulang dulu. Besok setelah kuliah, aku ke sini lagi, " ucapnya. "Dia menyium tangan Bu Nadia. Kania pun kembali ke rumah.


" Ma ... mama! " panggil Kania dalam kamar.


"Ada apa, Nak? " tanya Bu Ira.


"Lihat baju lengan panjangku yang warna biru navy? Itu yang ada kantongnya, " kata Kania.


"Bukannya ada di lemari gantungan baju, " jawab Bu Ira.


Kania membuka lemari tempat baju yang digantung menggunakan hanger. Baju yang dicari ada disitu.


"Sudah seminggu kamu pakai baju lengan panjang terus. Biasanya tidak begitu. Apa ada kaitannya dengan kerjaanmu? " tanya Bu Ira.


Kania tak menjawab pertanyaan mamanya. "Enak 'kan kue yang aku bawa semalam? " tanya Kania.


"Enak sih. Tiap hari pulang kerja kamu bawa brownies. Kamu kerja apa, Nak? "


Kania masih bungkam. Pikirnya gawat kalau sampai orang tuanya tahu. Tidal ada seorangpun yang tahu kalau dia jadi kurir. Termasuk teman kuliahnya.


Kania membantu Bu Nadia membuat kue. Ia sengaja datang lebih pagi, agar dapat belajar membuat brownies.


"Coklat bloknya ditim dulu?" tanyanya ragu.


"Iya. Cairkan bersama butter. " jelas Bu Nadia.


Kania mengikuti arahan Bu Nadia. Mencampurkan lelehan coklat dan butter dengan adonan tepung. Menuangkan ke loyang dan memanggangnya.


"Ye ... jadi! " seru Kania. Brownies pertama buatan tangannya.


Bu Nadia mencicipi kue itu. "Mantap, " katanya mengacungkan jempol kepada Kania. "Wah ... mami punya saingan, nih, " ucapnya.


"Ehem ...."


Rommy sedari tadi memperhatikan tingkah laku maminya dan Kania. Dia mendekati Kania. Membuat Kania sedikit kikuk.


"Kamu hanya kurir! Jangan panggil mamiku dengan kata mami. Paham! " ketus Rommy.


"Rommy! " hardik Bu Nadia.


Rommy tidak menggubris teriakan maminya. Dia mengambil kunci mobil dan pergi dari rumah.


"Boleh aku pulang sekarang, Bu? " tanya Kania.

__ADS_1


"Kania kita memang baru saja bertemu. Tapi, mami langsung sayang sama kamu seperti anak kandung sendiri, " jelas Bu Nadia.


Kania makin serba salah dengan sikap Bu Nadia. Jauh berbeda dengan Rommy. "Aku mau berhenti kerja. Aku tak mau hubungan Bu Nadia dengan Rommy jadi buruk karena kehadiranku, " katanya.


Bu Nadia menarik nafas panjang. "Tolong maafkan apa yang diucapkan Rommy. Dia begitu kasar karena perceraian kami, " ucapnya.


Cerai, mengapa perceraian Bu Nadia dikaitkan dengan perlakuan Rommy. Kania tak mengerti apa maksud Dari penjelasan Bu Nadia.


"Aku dan Papinya Rommy bercerai dua tahun lalu. Dia selingkuh dengan sekretarisnya. Karena itu mami membawa Rommy meninggalkannya. Rommy frustasi dengan perceraian kami. Papi Rommy adalah pemilik hotel bintang 5 di kota ini, " jelasnya.


Bu Nadia menghela nafas dalam-dalam. Ia minum seteguk air putih untik menenangkan pikirannya.


"Kamu mau 'kan bertahan kerja di sini? Bukan sebagai kurir, tapi seperti seorang anak gadis yang membantu ibunya, " pinta Bu Nadia


Bu Nadia menggenggam tangan Kania. Matanya menatap penuh kasih. Tatapan itu menyiratkan luka hati akan penghianatan dan kesedihan atas perlakuan suami dan putra tunggalnya.


"Baiklah. Aku tetap kerja di sini, " kata Kania.


Bu Nadia memeluk tubuh Kania. Membelai Kania. "Kamu seperti putriku."


Bu Ira membawakan segelas susu hangat untuk Kania. "Kamu pasti capek kerja seharian. Minum ini dulu, " katanya.


Kania meminum susu buatan mamanya. Bu Ira duduk di pinggir tempat tidur. "Bagaimana kuliahmu? " tanyanya.


Kania lumayan kaget dengan pertanyaan mamanya. Namun, dia harus bersikap tenang. Sejak kerja, ia sering bolos kuliah.


"Oh ... kuliah. Baik, Ma, " bohongnya.


Bu Ira kembali bertanya, " Siska menelpon mami. Katanya mau kerja makalah bareng. "


"Siska ... nanti aku telpon dia lagi. Tahulah, kata mereka kalau kerja tugas enggak ada aku, tidak seru, " canda Kania menutupi kebohongannya.


"Eh ... aku mau kerja tugas yang lain, " kata Kania.


"Ya sudah, kalau gitu mama mau nonton tv dulu. Habis kerja tugas langsung tidur, biar enggak kesiangan ke kampus. "


Bu Ira keluar dari kamar Kania. Ia merasakan ada yang aneh dengan anaknya sejak kerja. Namun, ia masih mencari waktu yang tepat untuk bicara.


Kania bolos kuliah lagi. Pura-pura pergi ke kampus, tapi malah langsung ke rumah Bu Nadia.


"Kamu enggak kuliah? "


"Hari ini enggak ada jadwal kuliah, Mi, " jawabnya singkat.


"Hari ini ada 15 pesanan, " kata Bu Nadia.


"Siap, " ucap Kania.


Bu Nadia tertawa dengan kelakar Kania. Tiba-tiba, Rommy masuk ke dapur.


"Ngapain orang ini ada di sini?! " tanya Rommy dengan suara keras.


Baru saja Kania akan menjawab, ternyata Bu Nadia lebih dulu membelanya. "Mami yang minta Kania tetap di sini. Kalau kamu usir Kania dari rumah ini, sama saja kamu usir mami! " bentaknya.

__ADS_1


Rommy membanting pintu kulkas. Kembali ke kamar tidurnya.


__ADS_2