Kania Kurir Cantik

Kania Kurir Cantik
Jadi Kurir, Kenapa Tidak?


__ADS_3

"Ma, mau kemana? " tanya Kania


"Mama mau ke pasar. Mau belanja untuk keperluan dagangan besok, " jelas Bu Ira.


"Sebaiknya ... sebaiknya, mama berhenti jualan, " usul Kania.


Bu Ira terkejut mendengar saran putrinya. "Kalau mama berhenti jualan, kita makan apa? " tanya Bu Ira dengan suara tertahan.


Bu Ira menarik Kania ke dapur. Agar lebih leluasa bicara dan tak membangunkan Pak Malik, suaminya.


"Sayang, coba pikirkan kembali usulmu. Seandainya mama tidak dagang nasi kuning, bagamana kita bisa membeli obat buat papa? "


Hati Kania makin pedih mendengar penolakan mamanya. Namun, Kania lebih sedih lagi bila mamanya harus kerja keras membanting tulang.


"Aku bisa kerja, Ma. Kerja apa saja yang penting halal, " ucap Kania.


"Kania! Kamu tidak boleh kerja. Ingat masa depanmu, nak. Mimpi mama dan papa, kalau kamu ... kalau kamu jadi duta besar, " kata Bu Ira dengan suara bergetar menahan tangis.


"Aku mau kerja, ma! Biar aku saja yang kerja, " pinta Kania. Dia berlari masuk kamar meninggalkan Bu Ira sendirian di dapur.


Kania membuka ponselnya. Mencari iklan lowongan kerja. Siapa tahu ada yang berbaik hati mau mempekerjakannya sebagai pegawai. Dengan modal ijazah SMU.


"Huh ... Kenapa rata-rata yang dibutuhkan tamatan S1? " tanya Kania kesal.


Kania meletakkan ponsel di tempat tidur. Menarik nafas panjang. Hampir putus asa. Namun, wajah papa yang sakit dan mamanya terlintas di benak.


"Aku tak boleh menyerah, " tekad Kania.


Mata Kania tertuju pada sebuah iklan.


"Dibutuhkan pria/ wanita untuk posisi kurir. Memiliki SIM C. Dan ... ijazah tidak diutamakan" bacanya. "Kayaknya, aku bisa deh jadi kurir. Tidak ada pilihan, " katanya.


Kania mencatat nomor ponsel yang tertera di iklan tersebut. Kemudian menghubunginya.


"Assalamualaikum. Boleh tanya tentang iklan lowongan kurirnya, ? " tanya Kania rada gugup.


"Walaikum salam. Iya benar. Saya sendang mencari kurir untuk membantu pengantaran jualan kue online, " jelas suara seorang perempuan.


"Masih ada lowongannya, bu? Kebetulan, saya berminat, " ujar Kania.


"Masih ada dek. Kalau gitu, adik silahkan temui saya di rumah besok jam 4 sore. Alamat saya di Jalan Bunga Melati No 15, " kata ibu itu.

__ADS_1


"Iya, bu. Insha Allah, saya datang menemui ibu besok, " ucap Kania. Dia pun menutup ponselnya.


"Telpon siapa, Mi? " tanya Rommy.


"Ini calon kurir baru mami, " jawab Bu Nadia.


"Memang kenapa dengan si Dicky? Itu tuh yang katanya orang kepercayaan mami, " ucap Rommy.


"Oh ... Dicky. Beberapa kali dia bawa lari uang pesanan kue mami. Awalnya, dia bilang hilang, dicuri, jatuh di jalan lah. Ternyata, uang itu dia pakai sendiri, " jelas Bu Nadia.


"Kamu juga sih, enggak mau bantu mami! " tegur Bu Nadia.


"Kok jadi aku yang disalahkan! Mami sendiri kan yang tertipu dengan Dicky, " protes Rommy.


Bu Nadia menahan diri untuk tak membalas perkataan Rommy, putra semata wayangnya. Watak Rommy yang keras dan mau menang sendiri membuat Bu Nadia pilih mengalah.


"Kita makan malam, yuk! " ajak Bu Nadia mengalihkan pembicaraan.


Bu Nadia dan Rommy melangkah menuju meja makan. Di atas meja tersaji ayam goreng crispy, orak arik, dan tempe goreng kesukaan Rommy.


"Mami masak sendiri, " ucap Bu Nadia.


Bu Nadia mempekerjakan Bi Ida untuk meringankan tugas domestiknya. sebagai ibu rumah tangga. Sehingga Bu Nadia bisa fokus mengurus bisnis kue onlinenya.


"Ia minta izin pulang kampung tadi pagi. Katanya, anaknya sakit, " jawab Nadia.


Rommy meneruskan makannya. Lidahnya sendiri lebih akrab dengan masakan Bi Ida ketimbang maminya.


"Mau kemana, sayang? " tanya Bu Ira. Heran dengan penampilan Kania yang rapih sekali sore itu.


Kania mengenakan kemeja lengan panjang warna biru navy dipadu jeans warna biru muda. Warna kemeja itu makin menegaskan kulit putih Kania laksana mutiara.


"Aku mau pergi wawancara, Ma. Aku dapat panggilan kerja, " bisik Kania takut terdengar Pak Malik.


"Kenapa wawancaranya sore hari? Aneh, " heran Bu Ira.


Kania tidal menjawab pertanyaan mamanya. Dia mengkoreksi kembali make up nya. Agar tidak ada yang menor.


"Aku pergi dulu, ma. Doakan ya, Ma. Biar aku diterima kerja, " pinta Kania.


Kania menghidupkan motor. Beranjak pergi ke rumah Bu Nadia. Dengan sejuta harapan memperoleh pekerjaan, meski hanya sebagai kurir.

__ADS_1


Entah sudah berapa Kali, Bu Nadia menonton tayangan resep kue di You Tube. Sesekali dia menghentikan sementara agar resepnya bisa dicatat.


Kania tiba di depan rumah Bu Nadia. Rumah berwarna cream itu sangat asri. Halamannya dipenuhi dengan aneka bunga yang bermekaran. Mulai dari melati, mawar, anggrek, dan beberapa jenis yang Kania tidak tahu namanya.


Kania mengetok pintu rumah itu. Seorang ibu yang usianya tak jauh beda Bu Ira, Mama Kania, muncul di balik pintu rumah. Wajahnya oval, ada dua lesung di tiap pipinya, dan rambut yang dicat pirang. Tebak Kania, inikah calon bosnya.


"Assalamualaikum, Bu. Saya, Kania. Saya yang bertanya tentang lowongan kurir kemarin, " jelas Kania.


"Walaikum salam. Oh ... iya. Maaf, saya hampir lupa. Ayo, silahkan masuk! " ajak Bu Nadia.


Kania masuk ke rumah Bu Nadia. "Siapa tadi namanya? " tanya Bu Nadia lagi.


"Kania, " jawab Kania singkat.


Bu Nadia mengambilkan sebotol soft drink dari mini showcase yang sengaja disimpan di ruang tamu.


"Anak muda biasanya suka yang beginian. Silahkan minum, dik, " kata Bu Nadia.


Kania meminum soft drink untuk meredakan gugupnya. Meskipun dia tak sedikitpun merasa haus.


"Kamu kuliah? " tanya Bu Nadia.


"Iya, bu. Saya cari kerja untuk membiayai kuliah. Tidak enak minta uang terus dengan orang tua, " jawab Kania.


"Apa bisa membagi waktu antara kuliah dan kerja? Berat loh, " ujar Bu Nadia.


"Insha Allah bisa, Bu, " ucap Kania.


Bu Nadia memperhatikan wajah Kania. Entah mengapa, tiba-tiba timbul rasa sayang. Dia bisa merasakan, kalau Kania itu gadis baik-baik. Meskipun, baru pertama bersua.


"Kamu punya SIM C? " tanya Bu Nadia.


"Punya. Ini SIM nya, " jawab Kania menyodorkan SIM miliknya ke tangan Bu Nadia.


Bu Nadia memeriksa SIM Kania. "Baiklah, Kamu saya terima kerja. Upah Kamu per bulan. Saya juga tanggung bensin motor Kamu. Kamu bisa kerja besok, " jelas Bu Nadia.


"Alhamdullah. Makasih, Bu, " ucap Kania penuh syukur.


Kania pun hendak pamit pulang. Untuk mengabarkan berita bahagia ini ke namanya. Namun, tangan Bu Nadia memberikan isyarat, tunggu sebentar.


Bu Nadia masuk sebentar ke dalam. Dia membawa sebuah kotak kue. "Ini buat Kamu. Inilah jualan on line saya. Satu lagi, panggil saya mami. Bukan Bu, "ucap Bu Nadia.

__ADS_1


Kania mengangguk setuju sambil tersenyum. Beranjak pulang bertemu kedua orang tuanya.


" Ma, aku diterima kerja, " bisik Kania sambil memeluk mamanya.


__ADS_2