Kania Kurir Cantik

Kania Kurir Cantik
Istana Baru Kania


__ADS_3

"Bruk! " Kania menutup kopernya yang ketiga. Benda segi empat itu penuh dengan bajunya. Nyaris tak bisa tertutup.


"Kania! Sudah selesai?! teriak Bu Ira sekaligus bertanya.


" Dikit lagi, Ma, " jawab Kania.


Kania memeriksa ulang setiap sudut kamarnya, apakah masih ada benda-benda penting yang terlupa.


"Baju, tas, jeans, hm ... apa lagi ya? " tanyanya pada diri sendiri.


"Kayaknya udah masuk semua di koper. Lengkap. Selamat tinggal istana kecilku. Semoga suatu saat, kita bertemu kembali, " kata Kania. Dia memandangi kamarnya untuk terakhir kalinya. Rasa sakit di dalam hatinya, tak menyangka akan berada di titik terendah dalam hidupnya. Miskin.


"Bye .... " Kania melambaikan tangannya kepada dinding, lemari, dan perabot yang ada di kamar itu. Semua perabot rumah dijual untuk menutupi hutang Pak Malik.


Kania menutup pintu kamarnya. Berjalan menuju ruang tamu. Disitu, Pak Malik dan Bu Ira sudah menunggu. Hanya beberapa koper berisi pakaian yang mereka bawa.


"Sudah dapat kontrakannya, Pa? " tanya Bu Ira.


"Alhamdulillah, sudah. Kita langsung ke sana saja. Biar cepat sampai, " ucap Pak Malik.


Pak Malik mengambil ponsel di saku celana. Menghubungi taksi online.


Bu Ira memperhatikan wajah Kania yang tampak murung.


"Kamu sedih, Nak? " tanya Bu Ira.


"Sedih! Aku gak sedih, kok. Hanya ngantuk dan lapar. Habis kita belum makan siang, " bohong Kania.


Bu Ira tertawa kecil. Dia tahu kalau Kania sedih.


"Oh ... jadi lapar, yah. Tenang saja, begitu sampai di rumah baru, mama buatkan makanan kesukaan kamu. Telur balado, " ucap Bu Ira.


"Asik! Telur balado ekstra pedas. Aduh ... jadi makin lapar, nih, " sahut Kania memegang perutnya.


Sepuluh menit kemudian, petugas bank yang akan mengeksekusi rumah, datang. Dua orang pemuda yang sebetulnya tampan, laksana seperti 'monster' di hadapan Kania.


Pak Malik minta waktu barang lima menit, menunggu taksi online yang dipesan tiba. Sebuah mobil sedan bewarna putih berhenti di depan pagar rumah. Pak Malik memasukkan koper pakaian ke bagasi mobil itu. Sisanya ditaruh di salah sudut jok belakang. Bu Ira menggandeng tangan Kania.


"Tidak usah lihat ke belakang. Anggaplah, yang terjadi hari ini hanya mimpi buruk, " kata Bu Ira.


Hasrat hati Kania ingin melihat sebentar tempat dimana dia dibesarkan. Namun, dia pilih mengikuti omongan Bu Ira.


Pak Malik menyerahkan kunci rumah ke salah seorang petugas bank.

__ADS_1


"Terima kasih atas kelonggaran waktunya, " kata Pak Malik.


Pak Malik berjalan menuju taksi online. Di dalamnya sudah menunggu Bu Ira dan Kania.


"Jalan, Pak Supir! " perintah Pak Malik dengan suara pelan.


Taksi online itu berjalan menjauhi bekas rumah mereka. Pak Malik menutup mata dengan telapak tangannya. Menyesali semua kekhilafannya.


Taksi online itu masuk di sebuah gang. Berhenti di sebuah rumah petak yang dicat warna cream.


"Tunggu di mobil sebentar! " perintah Pak Malik.


Pak Malik turun dari taksi online. Menuju sebuah rumah yang lebih besar di samping rumah petak bercat cream.


"Mungkin itu, rumah pemilik petakan. Kita tunggu saja di sini, " jelas Bu Ira.


Pak Malik mengetuk pintu rumah besar itu. Seorang pria seumuran Pak Malik membuka pintu dan mempersilahkannya masuk.


"Maaf, agak telat kemari. Saya yang tempo hari mau kontrak di sini. Nama saya Malik, " jelas Pak Malik.


"Oh ya. Jadi, bagaimana kepastiannya? " tanya pemilik kontrakan.


"Saya jadi kontrak di sini. Saya kontrak setahun dulu. Kalau bisa, saya bayar setengah tahun dulu, " ujar Pak Malik.


"Boleh. Berarti 6 juta, ya, " ucap pemilik kontrakan.


"Pas ya jumlahnya. Kalau gitu, kapan rencana pindah kemari? " tanya pemilik kontrakan.


"Hari ini. Istri dan anak saya sudah ada di depan. Kami sudah membawa barang-barang, " jawab Pak Malik.


"Oh gitu. Kalau begitu, saya ambil kunci rumahnya dulu, " kata pemilik kontrakan. Dia mengambil kunci dan memberikan ke tangan Pak Malik.


"Selamat datang di kontrak kami. Kalau ada perlu apa-apa, jangan sungkan, " kata pemilik kontrakan itu.


Pak Malik pamit keluar. Berjalan bergegas menuju taksi online.


"Kelamaan ya. Ayo ... kita masuk ke rumah baru! " ajak Pak Malik.


Bu Ira dan Kania turun dari taksi online. Pak Malik menurunkan barang-barang yang ada di bagasi dan jok belakang mobil. Tak lupa, membayar ongkos taksi online.


Pemilik kontrakan menunggu di depan rumah petakan yang akan di tempati Pak Malik sekeluarga.


"Selamat datang Pak Malik. Ini rumah petakannya. Di dalamnya ada 2 kamar tidur dan 1 ruang tamu. Ada juga 1 kamar mandi. Dan bonus meja dapur, biar nyaman kalau masak, " jelas pemilik kontrakan.

__ADS_1


Pemilik kontrakan mengajak Pak Malik melihat sekeliling 'rumah baru' mereka. Setelah itu, dia pamit kembali ke rumahnya.


"Ini kamar Papa dan Mama. Dan di sebelahnya, kamar Kania, " kata Pak Malik.


Kania bergegas membawa kopernya masuk ke kamar barunya. Ternyata, ada sebuah tempat tidur sengaja dipersiapkan pemilik kontrakan.


"Ma, ada tempat tidurnya! " seru Kania senang. Bu Ira refleks memeriksa kamar barunya juga. Ternyata, kamar itu juga ada bonus tempat tidur juga.


Bu Ira masuk ke kamar Kania. Pak Malik mengikuti langkah Bu Ira.


"Syukurlah, kita tak perlu membeli tempat tidur baru. Uangnya bisa dipakai buat modal usaha, " jelas Bu Ira.


"Setuju! " teriak Kania.


"Kita harus bangkit, Ma. Kita berjuang bersama lagi, Pa, " kata Kania.


"Anak pintar ... Kalau gitu, mama mau masak dulu. Masak telur balado ekstra pedas pesanan Kania, " ucap Bu Ira.


Bu Ira menuju dapur. Kania memilih merapihkan bawaannya. Pak Malik membantu Bu Ira memasak.


"Berapa kontrakannya per tahun, Pa? Berapa dibayar tadi? " tanya Bu Ira.


"Dua belas juta per tahun. Papa baru bayar 6 juta, " jelas Pak Malik.


"Kok bisa?! Uang kita kan hanya 5 juta! " kaget Bu Ira.


"Saleh, sahabatku, memberikan uang cuma-cuma 5 juta. Katanya untuk membantu kita, " jelas Pak Malik.


"Alhamdulillah, masih ada orang baik yang tolong kita, Pa, " tangis Bu Ira


Masakan Bu Ira sudah matang. Keduanya membawa menu pesanan Kania ke ruang tamu yang juga difungsikan sebagai ruang makan.


"Kania ... Kita makan siang dulu! " teriak Bu Ira.


Kania keluar dari kamar tidurnya.


"Wow ... pasti enak. Piring mana piring, " canda Kania.


Bu Ira mengambilkan Kania sepiring nasi plus telur balado.


"Maafkan papa. Kami hanya bisa memberikan kamu kamar tidur yang kurang layak. Sangat kecil, " kata Pak Malik.


"Gak apa-apa, Pa. Aku suka kok. Lagipula, dulu Aku sering ketakutan karena kamarku terlalu besar, " ucap Kania.

__ADS_1


"Pa ... Ma ... kamar itu istana Kania, " kata Kania.


Mereka melanjutkan makan siangnya. Lantas sesudahnya, merapihkan barang-barang mereka. Malam pun tiba, Pak Malik, Bu Ira, dan Kania menikmati kebersamaan di rumah baru.


__ADS_2