
Bunga berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Kiki, Bella, dan Della.
"Ngapain mondar-mandir, bisulan? " tanya Della, kepalanya ikut bergerak ke kiri ke kanan mengikuti Bunga.
"Cari akal. Aku nggak boleh kalah dengan Kania. Aku harus mendapatkan Rommy, " katanya Bunga.
"Tapi ... Kania kan juga cantik. Mungkin karena itu Rommy menaruh hati padanya, " ucap Della.
"Apa?! Kamu bilang Kania cantik! Hey ... aku jauh lebih cantik! " damprat Bunga. Matanya melotot ke arah Della. Membuat Della mati kutu.
"Sekali lagi kamu bilang Kania cantik, Awas! Kita berhenti berteman! " ancam Bunga.
Bella memberi isyarat kepada Della untuk diam dan maaf. Bella tahu kalau Bunga marah laksana letusan gunung berapi. Meledak-ledak.
"Maaf ... Bunga lebih cantik dibanding Kania, " ucap Della menundukkan kepala. Menyembunyikan wajah pucat pasi ketakutan dengan amarah Bunga.
"Sudahlah ... lebih baik kita bantu Bunga berpikir, " saran Bella membela Della, saudara kembarnya.
Kiki mengangguk-anggukkan kepala. Setuju dengan pendapat Bella.
"Apa saranmu? " tanya Kiki.
"Kita ikuti Romny, " jawab Bella.
"Maksudnya? " tanya Kiki lagi.
"Kita ikuti pergerakan Rommy. Kita awasi tingkah laku Rommy mulai dari rumahnya. Seperti detektif lah ...., " saran Bella.
Mata Bunga berbinar senang. Boleh juga idenya Bella. "Tumben ... kamu pintar. Kita awasi mulai besok. Makasih Bella, " katanya.
Bella tersipu malu. Bahagia atas pujian Bunga.
"Kania ... aku ke rumahmu sore ini, ya? " tanya Dessy diujung telpon.
"Enggak ah. Jangan sore ini ... aku lagi kerja, " jawab Kania.
"Kapan donk? Kangen sama Mama kamu, " rajuk Dessy.
"Lebay, " ucap Kania diiringi suara tawa. Begitulah Dessy kalau ada maunya. Akan membujuknya sampai mau.
"Pleaseee ...." Ucap Dessy lagi.
Kania berpikir sejenak. " Minggu saja. Karena aku libur, " ucapnya.
"Kelamaan. Boleh enggak aku main ke tempat kerjamu? " tanya Dessy. Pertanyaan Dessy seperti tawar-menawar di pasar.
"No, " kata Kania mengakhiri percakapannya.
"Tega nian dikau, oh ... Kania, " rajuk Dessy. Disusul dengan suara tawa Dessy renyah yang bisa mengundang orang lain tertawa.
Seperti biasa, Kania memeriksa kembali setiap orderan pelanggan. Hal inilah yang disukai Bu Nadia.
"Pesanannya sudah oke semua. Tinggal diantar deh, " kata Kania.
"Kamu memang bisa diandalkan, " puji Bu Nadia.
'Ini rumahnya? " tanya Bella.
"Iya. " Jawab Bunga
Bunga konco-konconya mengawasi rumah Rommy dari dalam mobil.
"Kamu yakin, kita nggak salah? " tanya Bella lagi.
Bunga melotot ke arah Bella. " Memang aku pikun! Sembarangan saja, " ketusnya.
__ADS_1
Bella tersenyum kecut. Pandangannya kembali di arahkan ke rumah Rommy.
Seorang pria tampan berkulit putih ke luar dari rumah itu.
"Itu Rommy! " seru Kiki.
"Ya ... bener itu Rommy. Kita temui dia, yuk! " ajak Bella kegirangan.
Bella membuka kunci pintu mobil. Namun, tangan Bunga menahannya.
"Kita ke sini jadi mata-mata, paham! Tujuan kita memantau gerak-gerik si Nenek Lampir Kania, " ketus Bunga.
Kiki, Bella, dan Della tak berkutik dengan Bunga. "Hampir lupa ...." kata Kiki sambil menggaruk kepala yang sebetulnya tidak gatal.
"Mi ... aku jalan dulu ya, " pamit Kania.
"Iya anak Mami yang paling cantik. Ini helmnya, " ucap Bu Nadia sambil memakaikan helm di kepala Kania.
Kania membetulkan posisi helm. Mengancing dan menutup kaca helm warna merah itu. Dia pun menghidupkan sepeda motornya dan berlalu dari rumah Bu Nadia.
"Ada motor lain! " seru Kiki.
"Siapa ya? " tanya Bella.
Sebuah motor keluar dari garasi rumah Bu Nadia. Namun, helm pengemudinya tertutup rapat.
"Sepertinya perempuan. Aduh nggak bisa lihat orang itu, " kesal Bunga campur penasaran.
"Dimotornya banyak kerdus, " ucap Della.
"Tante Nadia lagi buat apa sih? Sial! Aku nggak bisa main ke situ, " kata Bunga.
"Kenapa enggak? Jangan banyak mikir. Mending kamu turun dari mobil. Kita ke rumah Rommy sekarang, " saran Kiki.
Kiki memukul pelan kepala dengan tangannya. "Pakai otak, Bu, " ucapnya.
Kiki mengambil mangga arum manis yang ada di kursi belakang mobil.
"Bawakan ini. Bilang buat Tante Nadia. Pedekate sekalian cari info, " saran Kiki menyerahkan seplastik mangga ke tangan Bunga.
Bunga memeluk Kiki. Mencubit kedua pipi Kiki. "Kadang kamu lebih pintar dari aku. Kadang-kadang loh ...." ucapnya.
Bunga memperbaiki penampilannya lebih dulu. It's show time. Saatnya jadi detektif.
Bunga turun dari mobilnya. Berkaca di spion. Merapihkan bajunya yang sebetulnya sudah rapih. Tangan Bunga mendadak dingin seperti es.
"Kiki ... aku takut ke rumah Rommy sendirian. Temani yuk, " ajak Bunga.
"Kenapa musti takut? Memangx Tante Nadia itu drakula? " tanya Kiki.
"Tante Nadia ... galak super sama ... aku, " kata Bunga terbata.
"Ha?! " Kiki kaget, telapak tangannya menepok jidat jenongnya.
Kiki pun turun dari mobil. Dia berdiri berhadapan dengan Bunga.
"Jangan takut. Persoalan Tante Nadia, serahkan kepadaku. Kecil ....," kata Kiki sok berani.
Kiki menggandeng tangan Bunga menuju rumah Rommy. Kiki juga membawa satu kantong mangga. Bunga memberikan isyarat agar Kiki mengetuk pintu rumah.
"Tok ... tok ....," Kiki mengetuk pintu rumah.
Kiki yang sok berani hampir melompat ketika pintu rumah itu dibuka. Seorang wanita cantik berlesung pipi muncul dibalik pintu. Kiki menduga wanita itu berusia sekitar 50 tahun
"Ada Rommy ... Tante? tanya Kiki gugup. Bunga memilih sembunyi dibalik badan Kiki.
__ADS_1
" Rommy keluar. Ke kantor. Kamu temannya Rommy? tanya Bu Nadia.
Bu Nadia melihat Bunga yang ngumpet dibalik punggung Kiki.
"Kamu ... kamu Bunga?! " tanya Bu Nadia campur kaget.
Bunga terpaksa keluar dari persembunyiannya. Kiki nyaris tak bisa bicara. Bunga salah tingkah. Kepalang basah.
"He ... he ... iya. Apa kabar Tante Nadia? " tanya Bunga pelan.
"Mau ngapain kamu ke sini?! " hardik Bu Nadia.
"Mau bawakan ini, " ucap Bunga menyerahkan sekantong mangga.
Bu Nadia terpaksa menerima pemberian Bunga di depan pintu rumah. Kiki berinisiatif membantu Bunga yang hampir mati berdiri.
Kiki sempat melihat ke dalam ruang tamu rumah Bu Nadia. Ada beberapa kotak berisi kue. Sepertinya Bu Nadia lagi berbisnis kue.
"Itu ... kue buat dijual? " tanya Kiki pelan.
"Iya, " jawab Bu Nadia.
"Kelihatannya enak. Saya mau ... membelinya, " ucap Kiki.
Bunga turut menganggukkan kepala. Membenarkan perkataan Kiki.
"Boleh. Mau beli berapa? " tanya Bu Nadia.
"Satu. Eh ... dua. Dua kotak, " jawab Kiki.
"Ok, " kata Bu Nadia.
Bu Nadia memerlisahkan Kiki dan Bunga masuk. Dia membungkus pesanan Kiki. Bunga hanya pasrah mengikuti rencana Kiki.
Kiki membayar pesanan kuenya. Namun, masih enggan beranjak dari rumah Rommy. Bu Nadia agak heran dibuatnya.
"Cari siapa? Bukannya kue itu sudah dibayar, " ucap Bu Nadia dengan suara ketus.
Kiki membuka salah satu kotak kue. Mengambil sepotong kue brownies dan memakannya. Kiki pun menawarkan brownies itu kepada Bunga.
"Browniesnya enak, Tante, " puji Kiki tidak tulus. Dia Memuji brownies itu hanya untuk mengambil hati Bu Nadia. Bunga cepat tersadar dengan akal Kiki.
"Browniesnya benar-benar enak, " puji Bunga.
Bu Nadia hanya tersenyum tipis. Bunga makin salah tingkah. Dia pun memutuskan pamit.
Bunga dan Kiki bergegas menuju mobil. Menyudahi penyelidikan mereka hari ini. Lima belas menit kemudian, Kania tiba di rumah Bu Nadia. Pesanan pelanggan selesai diantar.
"Mangga darimana? " tanya Kania.
"Dari Bunga. Perempuan yang mengaku sebagai pacar bahkan tunangannya Rommy, " jelas Bu Nadia.
"Pacar Rommy? " tanya Kania.
"Mengaku pacarnya Rommy. Tapi bukan. Lagipula, Mami nggak suka dia. Sudahlah, tidak usah bahas Bunga.Tidak penting, " ucap Bu Nadia.
Kania cukup kaget dengan kedatangan Bunga ke rumah Bu Nadia. Tebakan Kania, Bunga ingin menyelidiki kedekatannya dengan Rommy.
Kania memilih pulang cepat dari rumah Bu Nadia. Tiba di rumah, Dia segera menghubungi Dessy.
"Apa? Bunga ke rumah Bu Nadia. Bisa gawat nih! " seru Dessy panik.
"Kalau Bunga tahu aku kerja jadi kurir di sana, pasti dia akan cerita dengan teman-teman di kampus, " ucap Kania khawatir.
"Kita harus cari akal, " saran Dessy.
__ADS_1