
Pesta ulang tahun Bunga tinggal dua hari. Rommy masih cari waktu yang tepat untuk bicara dengan Kania.
"Kania mau enggak ya aku ajak ke pesta? Aduh ... jadi bingung sih. Ah ... Bunga ini gara-gara kamu, " keluh Rommy di dalam kamar.
"Kayaknya harus minta bantuan Mami deh. Mereka kan dekat. " Katanya lagi. "Nanti kalau Mami salah paham, gimana? Bisa runyam nih. "
"Wa ... bikin puyeng! "
Ponsel Rommy berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Pak Arman, Papi Rommy.
"Nak ... meeting dengan para pemegang saham hari ini jam 11 siang, Kamu harus hadir. On time, "
"What? ****** aku, belum siap. Mana sudah jam 8, " kata Rommy panik.
Rommy segera bersiap-siap ke kantor Pak Arman. Kamar Rommy berada d
"Mi ... aku mau ke kantor Papi. Meeting jam 11 siang, " ucap Rommy. "Kania sudah datang? " tanyanya.
"Belum. Kenapa kamu tanya dia? " tanya Bu Nadia heran.
Rommy menyeruput kopi sambil menikmati sepotong sandwich buatan Bu Nadia. "Aku ada perlu sama Kania. Aku mau ajak dia ke pesta ulang tahun teman. " Jelasnya.
"Kenapa kamu mau ajak dia? Apa tidak ada yang lain? " tanya Bu Nadia penasaran.
"Ada sih ... itupun kalau Mami setuju. Bunga, " jawab Rommy.
"Bunga! No ... jangan ajak dia. Mami enggak suka anak itu, " kata Bu Nadia.
"Maka dari itu, Mi. Aku mau ajak Kania ke pestanya temanku, " jelas Rommy berbohong kalau pesta yang akan dihadiri ia dan Kania adalah pesta ulang tahun Kania.
"Mami mau kan bantuin aku bilang ke Kania, " bujuk Rommy.
Bu Nadia terdiam sesaat. Pantas saja sikap Rommy kepada Kania berubah lebih baik. Rupanya karena ingin menjadikannya partner ke pesta. Atau mungkin Rommy diam-diam menaruh hati dengan kurir cantiknya.
"Baiklah, Mami bantu. Tapi, awas kalau kamu berani kurang ajar sama dia. Kamu akan berhadapan dengan Mami! " ancam Bu Nadia.
"Kapan pestanya? " tanya Bu Nadia.
"Dua hari lagi, " jawab Rommy pasang muka penuh harap.
"Mami coba tanya Kania dulu, tapi Mami enggak janji hasilnya. Persoalan Kania mau atau tidak, Mami kembalikan ke dia. "
"Bujuk dia, Mi. Please ...." kata Rommy.
Rommy memeluk Maminya. Rencananya berhasil. Tak lama lagi dia bebas dari kejaran Bunga. Rommy pun pamit ke kantor Pak Arman.
"Aku jadi tidak enak sama kamu. Aku diundang pestanya Bunga, tapi kamu tidak, " ucap Dessy.
"Tidak apa-apa kok. Lagipula, Aku ada kerjaan nanti sore. " Ujar Kania.
"Kita kan sohib. Aku tuh bete banget ... kalau kamu tidak hadir di pesta itu. Bunga juga, kenapa sih dia tidak suka kamu? Aneh, " gerutu Dessy.
Kania memegang kedua pundak Dessy. Menatap netra Dessy dan mencubit pipinya.
"Au ....! Sakit tahu! " seru Dessy.
"Daripada kamu pikirkan aku yang tidak diundang, mending kamu pikirkan kado apa yang buat Bunga, " kata Kania.
Dessy mengusap pipinya yang masih sakit akibat cubitan Kania. "Ada hadiah yang cocok buat Bunga ... bom, " ucapnya kesal.
"Ha ... ha ... ha ...." Kania tertawa terpingkal-pingkal.
Kania memeriksa satu per satu pesanan yang akan diantarnya sore ini. Bu Nadia memerhatikannya, bagaimana cara menyampaikan keinginan Rommy.
"Sudah diperiksa semua pesanannya? " tanya Bu Nadia.
"Sudah, Mi, " jawab Kania. "Orderan sore ini lebih banyak daripada yang lain. " katanya.
"Kamu ada kegiatan besok sore? " tanya Bu Nadia.
"Tidak. Aku kan hanya mengantar order an kue sore hari. " ucapnya.
Bu Nadia diam sejenak. Berat juga ngomong hal ini dengan Kania. Ia pun beranikan diri.
"Boleh Mami minta tolong? "
"Tolong apa? "
"Rommy diundang pesta ulang tahun oleh temannya, besok malam. Maksud Mami, Rommy ingin ... ingin ajak kamu ke pesta temannya itu, " jelas Bu Nadia.
Kania jadi serba salah dengan permintaan Bu Nadia. Di satu sisi, dia kurang suka dengan Rommy, meski berapa hari belakangan ini sikapnya berubah baik. Namun, di sisi lain, Ia tak sampai hati menolak pernohonan Bu Nadia.
"Aduh ... gimana ya. " Kania diam sejenak. Matanya menatap dinding ruang keluarga tempat Ia biasa bercengkrama dengan Bu Nadia. Tempat Ia memulai aktivitas sebagai kurir, memeriksa satu per satu orderan sebelum sampai ke tangan pelanggan.
__ADS_1
"Mami tidak paksa kok. Kalau kamu tidak mau, ya tidak apa-apa. " Kata Bu Nadia.
Kania makin tidak enak hati. Terpaksa ambil keputusan yang bertentangan dengan suara hatinya.
"Baiklah. Aku mau, " ucap Kania.
Bu Nadia memeluk Kania, tanda ucapan terima kasih. Batinnnya pun berharap lebih dengan Kania. Lebih dari sekedar partner pesta Rommy. Keinginan terbesar Bu Nadia adalah menjadikannya bagian dari keluarganya, seorang menantu.
"Kalau gitu, kamu tidak usah masuk kerja besok. Kamu siap-siap di rumah, nanti Rommy jemput kamu. Eh ... kayaknya kita harus ke butik belanja gaun pesta buat besok, " ucap Bu Nadia dengan wajah berseri-seri.
"Tidak usah, Mi. Aku punya kok baju pesta yang masih bagus, " kata Kania.
Bunga tampak panik mempersiapkan pesta ulang tahunnya. Padahal, dia sudah melibatkan Event Organizer, yang bisa membuatnya bak putri raja. Tinggal duduk manis segalanya sudah tersedia. Ditambah bantuan ketiga soulmate nya yaitu, Kiki, Bella, dan saudaranya Bella. Plus keterlibatan kedua orang tuanya.
"Kiki ... aku nervous kelas dewa nih. " Kata Bunga yang sesekali melirik jam tangannya.
"Bunga ... easy girl. Lagian, apa sih yang kamu kuatirkan? Persiapan pestamu tuh 100 persen kelar, " heran Kiki.
"Iya nih. Dekor ruang dengan tema flower sudah. Makanan, kue tart ulang tahun, penyanyi, MC, Dan gaun pesta sudah ada semua. Bahkan yang terbaik termahal, " jelas Bella.
Bunga masih tampak grogi. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Kemewahan persiapan pesta tak mampu menghapus rasa gelisahnya.
"Aku rasa masih ada yang kurang deh. Kayaknya bunga-bunganya perlu ditambah di beberapa bagian ruangan, " jelas Bunga.
"Aku takut Rommy tidak datang, " Katanya pelan dengan wajah sendu.
"What...?! Apa kamu bilang tadi? " tanya Kiki.
"Aku WA, telepon, dan SMS Rommy berkali-kali, tapi tidak dibalas, " jelas Bunga. "Aku malu kalau sampai Rommy tidak datang, " katanya.
"Bukannya kamu bilang Ro
Bella dan Della tak banyak komentar. Hanya berani memandang Kiki. Saling memberi kode kalau jangan menambah bunga lagi. Kesannya norak. Kiki lebih berani memberi saran atau kritik ke Bunga, meski kerap kena semprot.
" Jangan ... jangan ditambah bunganya. Nanti kesannya agak ... norak, " ucap Kiki pelan sambil menundukkan kepala. Karena ia tahu akan reaksi Bunga berikutnya. Marah.
"Kamu bilang apa tadi? Norak! Hey ... ini pestaku dan aku mau semuanya perfect, " ketusnya.
"Mas ... tolong kasih tahu, bunga di bagian panggungnya ditambah. Tempat di bagian aku akan berdiri nanti, " jelas Bunga kepada salah seorang anggota event organizer. Perintahnya pun langsung dituruti.
Bunga memeriksa meja hidangan. Mengambil sepotong kue yang akan disajikan kepada para undangan.
"Yummy ....," ucapnya. Ketika ia hendak mengambil sepotong kue lagi, Bundanya Bunga menghampiri.
"Kamu tidak siap-siap. Ini sudah jam empat sore. Pestanya habis Magrib, " ucap Bunda Bunga.
Bunga beserta ketiga sohibnya kembali ke kamar hotel. Sampai di depan pintu kamar, sudah berdiri perias yang akan mendandaninya. Bunga akan dirias bagai seorang Putri Bunga.
Bunga memandangi berkali-kali wajahnya di cermin. "Aku sangat cantik. Pasti Rommy makin jatuh cinta sama aku, " ucapnya sambil tersenyum manis.
"Bunga ... kamu sangat cantik, " kata Bella. Della mengacungkan dua jempol ke arah Bunga, membuatnya besar kepala.
"Kira-kira, Dessy sohibnya Kania, datang atau tidak? " tanya Kiki.
"Pasti datang. Kan dia tuh anak miskin, jarang dapat undangan di Hotel Bintang Lima. Habis itu dia cerita deh dengan si Kania tentang pestaku dan pacarku, Rommy. Secara ... aku Bunga mahasiswa tertajir dan tercantik di kampus. Dan aku juga punya gebetan kaya and ganteng super, " ucapnya.
"Kania ... sudah siap? Aku sudah di depan rumahmu, " kata Rommy.
"Iya. " Jawab Kania singkat.
Rommy merapikan sejenak pakaiannya. Bercermin di kaca mobil. Ponsel Rommy berbunyi. Telepon dari Bu Nadia.
"Sudah sampai di rumah Kania? " tanya Bu Nadia.
"Ini di depan rumahnya. " Jawab Rommy.
"Jangan kemalaman pestanya. " nasihat Bu Nadia.
"Tenang, Mi. Mami ... makasih bantuannya, " kata Rommy.
"Perlakukan Kania dengan baik. Mami ... senang kamu ajak Kania pesta, " ujar Bu Nadia. Dia pun menutup telepon.
Rommy turun dari mobil. Berjalan ke arah rumah Kadia. Dia mengetuk pintu rumah Kania. Seorang wanita yang seusia Maminya membuka pintu.
"Assalamualaikum ... ada Kania, Bu? " tanya Rommy.
"Walaikum salam. Ada ... mari silahkan masuk, " kata wanita itu.
"Saya Mamanya Kania. Silahkan duduk. Tunggu sebentar, saya panggilkan Kania, " ucap Bu Ira, Mama Kania.
Dugaan Rommy benar, wanita itu memang ibunya Kania. Karena wajah dan kulitnya sama dengan Kania. Bagaikan pinang dibelah dua.
Bu Ira menemui Kania di kamarnya. Ia sempat terpaku dengan kecantikkan putrinya sendiri. Gaun pesta lama warna hitam, tak memudarkan pesona putri semata wayangnya.
__ADS_1
"Cantik sekali anak Mama. Tuh ...teman kamu sudah datang. Teman apa teman ...." goda Bu Ira.
"Oh ... Rommy. Dia Rommy, anaknya Bu Nadia. Anak bos Kania, Ma. " Ucap Kania.
"Sebenarnya, aku tidak mau ke pesta dengan Rommy. Berhubung Bu Nadia yang bilang, aku turuti, " jelas Kania. Ia masih duduk di depan cermin.
"Pergi saja. Anggap sebagai hiburan. Refresing, " kata Bu Ira.
Kania mengangguk mendengar saran Mamanya. Saran yang cukup menenangkan, kendati ia sebenarnya kurang sreg jalan dengan Rommy malam ini.
"Papa tahu aku akan pergi pesta malam ini? " tanya Kania.
"Papa tahu kok. Mama sudah beritahu tadi sore. Eh ... Rommy lagi nonton TV dengan Papa, " ucap Bu Ira.
Kania keluar dari kamarnya. Ia melihat Rommy sedang berbicara dengan Papanya, meskipun Papa Kania menjawab dengan suara yang kurang jelas. Tak sekalipun Rommy menertawakan Papa.
"Kania jalan dulu, Pa, " kata Kania mencium tangan Pak Malik, Papanya.
Pak Malik tersenyum. Rommy pun pamit dengan Papa dan Mama Kania.
Lantunan musik mengiringi acara pesta ulang tahun Bunga. Bunga begitu cantik di malam spesialnya. Para undangan mengakui penampilan Bunga yang cantik bagai bidadari.
"Selamat ulang tahun ya. Malam ini kamu cantik sekali, " kata Dessy, satu-satunya undangan yang tak tulus memuji Bunga. Dessy agak risih datang ke pesta itu sendiri, tanpa Kania. Mati kutu. Mati gaya dihadapan Bunga dan ketiga dayang-dayangnya.
"Makasih. Syukurlah kamu datang tanpa Kania, " ketus Bunga.
Kalau saja Dessy tak ingat saat itu pesta, dia balas perkataan Bunga. Hampir semua teman sekelas mereka diundang, kecuali Kania. Dessy menahan diri dan bergabung dengan undangan yang lain.
"Bunga ... sudah waktunya acara tiup lilin dan potong kue ulang tahun, " ucap Bunda Bunga.
"Tunggu bentar, Bun. Teman spesial Bunga masih di jalan, " tolak Bunga.
Bunga celingak-celinguk selama acara. Mencari seseorang yang disebut sebagai teman spesial.
"Ah ... dia datang, " kata Bunga sumringah.
Seorang pria berkulit putih blasteran dan tinggi tegap datang. Bunga menghampiri pria itu.
"Rommy ... kenapa baru datang, sih? " tanya Bunga agak merajuk. " Yuk ... aku ikut aku ke depan, aku mau kenalkan dengan orang tua dan teman-temanku, " ucapnya.
"Oh ... aku telat karena jemput temanku dulu, " jawab Rommy.
"Mana temanmu? " tanya Bunga.
"Tunggu sebentar, " kata Rommy. Ia keluar sebentar karena Kania masih ada di luar ruangan. Tak lama, Rommy masuk kembali.
"Ini temanku. Teman spesialku ... Kania, " ucap Rommy.
"Apa?! " tanya Bunga campur kaget.
Bunga tak mampu berkata-kata. Dia memandang sinis ke arah Kania, saingan beratnya di kampus. Kania lebih serba salah lagi, karena dia baru tahu kalau pesta yang dihadirinya adalah pesta ulang tahun Bunga.
"Bunga ... mana teman spesial kamu? " tanya Bunda Bunga.
Bunga yang terlanjur malu terpaksa berbohong. " Orangnya tidak jadi datang, Bun, " jawabnya.
Kiki, Bella, dan Della melihat dari kejauhan ada yang tak beres dengan Bunga. Ketiga teman Bunga menghampiri.
"Ngapain kamu ada di sini? Bunga tidak mengundang kamu! " hardik Kiki.
"Hallo ... Ki. Ini Kania pacar saya, " kata Rommy.
Muka Kiki merah padam. Malunya luar biasa mendengar jawaban Rommy. Kiki menarik tangan Bunga menjauhi Rommy yang berdiri berdampingan dengan Kania.
"Sebaiknya kamu tiup lilin. Soal Kania dan Rommy kita urus besok, " bisik Kiki. Bunga mengangguk setuju. Bisikan Kiki berhasil meredam amarahnya. Dia pun naik ke panggung, acara tiup lilin pun di mulai. Rencana Bunga berantakan total.
Kiki menghampiri Dessy yang tak memerhatikan kedatangan Kania. "Eh ... tuh ada Kania. Dia datang sama pacarnya, " kata Kiki.
"Kania datang? Pacar? " tanya Dessy bingung.
Dessy mencari Kania. Ia mendapati Kania berada di samping seorang pria tampan. "Ini pacar kamu? Kok ... aku tidak tahu? Bukankah kita sahabat, saling terbuka, " katanya dengan nada kecewa. Rommy yang mendengar pertanyaan Dessy, hanya tersenyum.
"Saya Rommy, pacarnya Kania. Kamu temannya Bunga? " tanya Rommy sebagai perkenalan.
Dessy tambah geram. Karena dibohongi Kania. Raut muka Dessy merah padam menahan amarah. Kania semakin serba salah.
"Dessy dengar dulu penjelasanku, " pinta Kania.
"Aku tidak iri kamu punya pacar ganteng, tapi kenapa kamu tidak kasih tahu. Kiki yang baru saja kasih tahu aku, " ucap Dessy.
"Dessy please ... aku jelaskan semuanya, " kata Kania memegang tangan Dessy.
"Aku mau pulang! " ketus Dessy. Ia pun meninggalkan pesta Bunga yang belum usai.
__ADS_1
Kania menatap kecewa Rommy. Ternyata dirinya hanya dijadikan alat Rommy menghindari Bunga. Menjadikannya kekasih bohongan. Kania berusaha bersikap tenang, meskipun tak nyaman dengan tatapan tajam Bunga Dan ketiga anak buahnya.
"Aku mau pulang. Tolong antar aku, " kata. Kania kepada Rommy.