
Entah sudah berapa kali Kania menelpon Dessy. Tapi tak kunjung diangkat. Dessy masih marah karena merasa dibohongi oleh sahabat karibnya itu.
Sejak semalam, Kania kesulitan berkomunikasi dengan Dessy.
"Dessy ... tolong maafkan aku. Please ...." isi pesan di WA Kania. Tetap tak ada respons.
Telepon dari Bu Nadia. Kania enggan menjawabnya. Ia masih kesal dengan Rommy. Dan pasti isi pembicaraannya dengan Bu Nadia adalah pesta yang menyebalkan semalam.
Kania sengaja membiarkan ponselnya berdering. Dia hanya mengatur agar nada panggilannya silent. Hingga akhirnya telepon dari Bu Nadi berhenti sendiri.
"Maafkan aku, Mi, " kata Kania sambil memegang ponselnya.
Seandainya Kania tak memandang Bu Nadia adalah Mami Rommy, sudah dari semalam Ia menumpahkan amarahnya. Kalau saja Ia tak butuh kerja tambahan untuk membantu kedua orang tuanya, Ia sudah berhenti kerja dari semalam. Kania harus meredam sesaat emosinya.
"Aku harus minta izin tidak masuk kerja sore ini, " katanya. Dia pun mengambil ponselnya dan meminta izin ke Bu Nadia lewat benda itu.
"Maaf, Mi. Baru balas. Mami ... aku minta izin tidak masuk sore ini. Aku harus membantu Mama, " kata Kania.
"Oh ... Mama kamu sakit? " tanya Bu Nadia dengan nada suara kuatir.
Otak Kania berpikir kencang. Mencari kata yang tepat, karena ia sesungguhnya tak pandai berbohong. Agar Bu Nadia tidak curiga alasan sesungguhnya is tak bekerja sore ini karena ulah Rommy semalam.
"Aku temani Mama ke dokter praktek. Bawa Papa cek up, " jelas Kania.
"Kalau gitu, biar Mami suruh Rommy antar kalian, " kata Bu Nadia.
"Jangan ... jangan, Mi. Lagipula, kami sudah mau berangkat. "
"Ya sudah kalau gitu, " ucap Bu Nadia. Bu Nadia menutup ponselnya.
Kania berdiri di depan pintu rumah Dessy. Ia terdiam sejenak. Ragu-ragu mengetuk pintu rumah itu. Tarif nafas dalam. Terpaksa ia harus jujur.
"Tok ... tok ...."
"Assalamualaikum ...."
Dessy membuka pintu itu, " Walaikum salam, " ucapnya. Dessy kaget melihat Kania ada di rumahnya.
"Ngapain kamu ke sini?! " tanya Dessy bernada ketus.
"Aku mau ngomong sama kamu. Aku mau jelaskan semuanya, " jawab Kania kalem.
"Ok. " Kata Dessy singkat.
Dessy mempersilahkan Kania duduk. Kania rada kikuk. Serba salah menghapi tatapan tajam Dessy.
"Aku bukan Kania yang dulu, " kata Kania membuka percakapan mereka.
"Maksudnya? Jangan buat cerita seperti di sinetron deh! " ketus Dessy.
__ADS_1
Kania menarik nafas lagi. Dan mulai menjelaskan. " Papaku ditipu rekan bisnisnya dan usahanya bangkrut. Kami pun jatuh miskin. Papa pun sakit, stroke. Syukurnya ... kondisi Papa berangsur membaik, " kata Kania terbata.
Dessy memperbaiki posisi duduknya. Ia masih tak percaya dengan penjelasan Kania.
"Kamu serius? " tanya Dessy.
Kania mengangguk. "Untuk membantu kedua orang tuaku, Aku bekerja jadi kurir, mengantar pesanan kue Bu Nadia. Di sana lah aku kenal Rommy. Dia anaknya Bu Nadia, " jelasnya. Dia menghela nafas panjang.
Dessy pindah duduk, jadi di samping Kania. "Kenapa nggak bilang awal? " tanya Dessy.
"Aku takut kamu nggak mau lagi bersahabat denganku. Karena aku ... miskin, " ucap Kania terbata. Airmatanya mulai jatuh di pipi.
"Kamu pikir aku mau berteman denganmu karena kamu anak seorang milyarder? " tanya Dessy.
Kania mengangkat bahunya. "Entahlah, " ucapnya.
"Kania ... aku berteman denganmu karena kamu baik. Kamu tulus, " kata Dessy sambil memeluk Kania.
"Maafkan aku, " lirih Kania.
"Aku yang minta maaf. Aku salah sangka dengan kamu, " ucap Dessy.
Kania menyeka air matanya. Senyum kembali menghiasi wajah ayunya.
Dessy menggenggam tangan sahabatnya. " Ngomong-ngomong ... si Rommy ganteng juga, " ucapnya.
"Ye ... Non. Aku tuh setuju 100 persen kalau kamu jadian sama dia, " kata Dessy mantap.
Kania mencubit lengan Dessy. Dessy tak keburu mengelak. Ia meringis kesakitan mengusap bekas cubitan di lengannya.
"Cerita dong tentang Rommy, " ucap Dessy.
Kania menceritakan pertemuannya dengan Rommy. Termasuk sikap Bu Nadia. Sampai kenapa dia diajak Rommy ke pesta ulang tahun Bunga. Dessy terlihat serius mendengar cerita Bunga.
"Bu Nadia itu calon ibu mertua yang baik, " ucapnya singkat.
"Kayaknya Bu Nadia itu berharap yang lebih dari kamu. Bukan sekedar sebagai kurirnya, " ujar Dessy.
"Ah ... enggak lah. Aku tak mau berharap lebih. Lagipula, Rommy itu sebenarnya nggak suka aku, " kata Kania.
"Kania ... cinta tumbuh karena kebersamaan. Suatu saat dia akan menaruh hati sama kamu. Percaya deh ...." kata Dessy.
Kania melihat jam di ponselnya. Sudah hampir dua jam ia bertandang di rumah Dessy. Ia pun hendak pamit.
"Aku pulang dulu. Takut kesorean, " ucap Kania.
"Boleh aku main ke rumahmu? " tanya Dessy.
"Des ... rumahku nggak seperti dulu. Lebih kecil dan sederhana ketimbang rumah lamaku, " jelas Kania. Sebenarnya ia agak ragu mengajak Dessy main ke rumahnya.
__ADS_1
"Aku mau ketemu orang tuamu. Aku kangen Mama kamu. Mereka sangat baik padaku, " jelas Dessy. "Please ...." pinta Dessy.
"Aku anak yatim. Ibuku hanya seorang buruh pabrik. Dulu, kalau aku kesulitan biaya kuliah, kalian sekeluarga selalu membantu. Please ...." pinta Dessy lagi.
"Baiklah, " kata Kania.
Dessy bergegas kembali ke kamarnya. Ia memilih baju warna putih motif polka dot dipadukan dengan jeans biru.
"Aku siap. Cantikkan? Tapi tak lebih cantik daripada kamu ... ini kenyataan, " ucap Dessy dengan nada riang.
"Kamu baik hati. Kamu setia kawan, " kata Kania.
"Cari apa kamu? " tanya Bu Nadia.
Rommy sudah tiga kali ke dapur. Hanya melihat ke sekeliling dapur, dan kembali ke kamar. Rupanya Bu Nadia memerhatikan kelakuan Rommy.
"Enggak ... aku nggak cari apa-apa" kata Rommy gugup.
"Enggak ke perusahaan? " tanya Bu Nadia lagi.
"Besok saja, Mi. Aku lagi malas, " kata Rommy. Ia diam sejenak, "Kania nggak masuk kerja hari ini? " tanyanya.
"Kania minta izin. Katanya mau antar Papanya berobat, " jawab Bu Nadia. "Eh ... gimana pestanya? " tanyanya.
"Memang Kania nggak cerita? " tanya balik Rommy.
Bu Nadia menggelengkan kepala. Bu Nadia terlihat penasaran dengan pesta ulang tahun itu. Dalam hati Rommy, bersyukur Kania tak menceritakan kejadian di pesta itu.
"Pesta meriah, Kania terlihat cantik dengan pestanya, ia pun tak memalukan dibawa ke pesta, " jelas Rommy.
"Terus ...." ucap Bu Nadia penasaran.
"Itu aja kok, " ujar Rommy.
"Gitu doang! Rommy ... cuma segitu? " tanya Bu Nadia heran.
"Memang Mami maunnya gimana? " tanya Rommy merasa aneh dengan Maminya.
"Kirain, kamu nembak dia, " kata Bu Nadia.
"Mami ....! " seru Rommy. Kaget dengan ucapan Bu Nadia.
"Kania masih terlalu muda, " ucap Rommy yang masih shock.
Bu Nadia pindah duduk di samping Rommya. Matanya menatap lurus ke arah Rommy.
"Harus tunggu Kania jadi lebih dewasa? Atau kamu punya calon yang lain? " tanya Bu Nadia penuh selidik.
"Rommy ... Kania itu gadis yang baik, " ucap Bu Nadia.
__ADS_1