KEBAHAGIAAN STEVI

KEBAHAGIAAN STEVI
11


__ADS_3

..... Oke. Udah di ijinkan lo ya"


Aku tersenyum malu malu.. Dalam hati aku merasa senang sekali. Aku mendekap tas ku erat, kacamata maaf ya.. Sepertinya kamu belum waktu nya untuk keluar sekarang.


***********


Setelah hampir 3 jam lebih kami berada di dalam bioskop, akhirnya selesai juga film horor yang kami tonton. Akhirnya kami bisa bernafas lega.


Clara dan cika terus saja mengomel sepanjang jalan keluar.


" Duh Nad.. Jangan ajak aku lagi kalau mau nonton film begian"


Celoteh cika


" Bener, big no! Tanggung jawab kalau tar malem g bisa tidur"


Clara tak kalah kerasnya.


" Iya iya.. Aku juga ogah nonton film kayak gini lagi. Kapok.


Eh.. Kamu gimana stev? Lempeng aja dari tadi"


Nadia melihat ku yang hanya diam melihat celoteh teman temanku.


" Ehh.. Ehh.. Anu.. Aku takut kok, i..iya kan dion?"

__ADS_1


Aku menyenggol dion yang berjalan di sampingku.


" Umm.. Takut banget dia"


Goda dion sambil tersenyum.


Bagaimana tidak, sepanjang film di putar aku memegang tangan dion, bahkan sempat Dion menyandarkan kepalaku ke bahunya bukannya merasakan takut karena film tetapi karena jantung ini yang berdebar tidak karuan, apalagi saat dion menggenggam tanganku. Mana konsen aku dengan hantu hantu di film tadi.


" Takut kok senyum senyum sih stev.. "


Cika yang daritadi memperhatikan ku tersenyum melihat ku yang salah tingkah


" Eh enggak kook.. Enggak.. "


Jawabku dengan gugup. Sambil memegang pipiku yang mungkin sekarang sedang merona


Teriak teman teman ku bersamaan.


Setelah acara nonton bareng, hubungan ku dengan Dion menjadi semakin dekat. Aku tidak tau apa yang aku rasakan ini aku hanya merasa nyaman bersama Dion, dan ini baru pertama kali aku rasakan.


Karena aku tidak pernah dekat dengan cowok selain papa. Mungkin karena perhatian Dion yang tidak berlebihan membuat ku tidak bosan, kadang aku suka melihat ponselku, menunggu pesan dari Dion.


Sampai sekarang papa tidak tau kedekatanku dengan Dion. Aku sengaja tidak memberitahu papa, aku tidak mau papa berpikir yang tidak tidak. Karena aku dan dion sepakat kami hanya berteman saja, kami masih harus fokus dengan sekolah dan fokus dengan cita cita kami.


Kami hanya akan saling mendukung saja, tentu dalam hal yang positif ya, Dion juga termasuk murid cerdas, meski dia murid pindahan tapi dia mampu memahami dengan baik pelajaran yang dia ikuti selama ini.

__ADS_1


Kami juga sepakat kalau pendidikan itu sangatlah penting. Dion termasuk cowok yang perhatian, padahal di sekolah dia terkenal cowok yang cuek.


Banyak murid cewek yang tertarik padanya, bahkan ada yang terang terangan mendekati Dion. Tapi Dion tidak memperhatikan, senyum aja enggak.


Beda sekali saat saat Dion bersama ku dan teman temanku. perhatiannya bisa membuatku salah tingkah.


*


Sudah beberapa hari ini papa sangat sibuk, aku juga tidak mau menanyakan kepada papa, aku tidak mau papa merasa bersalah padaku.


Selama ini ada Dion yang selalu menemaniku, meski hanya lewat telepon tapi bagiku itu sudah cukup.


Dulu aku suka menghabiskan waktu dengan melukis atau membaca buku di kamar. Malas sekali rasanya harus keluar rumah, teman teman ku sampai hafal dengan tabiatku ini.


Tapi berbeda dengan Dion, saat aku lagi asik melukis kalau Dion menelpon entah kenapa aku lebih senang menerima telepon nya daripada melanjutkan melukis ku.


*****



* sumber gambar pinterest. ( maafkan kehaluan nya)


Stevi lagi liatin Dion yang lagi nonton. Duh bikin enggak fokus nih...


__ADS_1


sumber gambar dari pinterest.


Dion yang akhirnya tau kalau Stevi ngliatin Dion terus dari tadi.


__ADS_2