
.... Tapi tante Cintia memaksa untuk tetap datang kerumah setiap hari. Papapun sudah lelah untuk berdebat, dia baru kehilangan istri tercinta nya, pikirannya tidak mampu kalau hanya untuk berdebat dengan teman istrinya itu. Papa sudah hafal dengan watak tante Cintia.
***
Sampai suatu hari tante Cintia sedang memasak untuk sarapan di dapur, dia memang selalu memonopoli rumah saat papa tidak ada di rumah, saat papa tidak ada di rumah tante Cintia akan berlagak seperti nyonya rumah, dan kalau papa ada di rumah tante Cintia akan selalu menempel pada papa mengikuti papa.
Saat itu hanya ada Bik yem pembantu kami yang sedari awal mama dan papa menikah sudah bekerja kepada kami dan tante Cintia di dapur. Bik Yem tidak sengaja menumpahkan sayur dan mengenai pakaian tante Cintia. tante cintia marah besar pada bik Yem bahkan mengancam akan memecat bik Yem.
Bik yem hanya bisa menangis mendengar cacian dari tante Cintia, dia memang hanyalah pembantu di rumah ini, dia sadar dengan posisinya.
Aku waktu itu sedang duduk melihat televisi. Mendengar ribut di dapur aku segera mengintip di dapur. Aku mendengar tante cintia yang berteriak seperti orang kesurupan, memaki bik Yem sampai menangis.
Kami saja tidak pernah memarahi Bik Yem seperti itu, untuk menegur jika bik Yem ada yang keliru, mama atau papa akan mengajak bik Yem duduk dan berbicara sopan. karena bagaimanapun usia bik Yem lebih tua.
Tante cintia berkata bahwa dia ini istri papa, menggantikan mama, dia juga majikan di rumah ini, dia akan membuat peraturan peraturan baru dan memecat asisten rumah tangga yang tidak bisa bekerja seperti kalian.
__ADS_1
Aku terkejut dengan perkataan tante cintia, aku hanya terdiam tanpa bisa membantu bik yem, maklum aku masih kecil saat itu, meski aku tau tante Cintia kelewatan tapi aku tidak bisa berbuat apa apa. Coba kalau sekarang, sudah jadi perkedel kalau berani macam macam.
Pernah juga tante cintia memukul ku karena aku tidak menjawab pertanyaan yang dia ajukan. Semenjak kejadian di dapur aku makin hari makin takut dengan tante Cintia, aku lebih banyak diam saat bersama nya.
Tante Cintia makin menjadi dengan diam ku, dia bahkan memindah mindah perabot yang ada di rumah dengan seenaknya, dia juga selalu menyuruhku untuk meminta papa menjadikan dia mama baruku. Aku hanya mengangguk karena takut.
Pernah suatu hari dia menemukan foto mama di laci kamar ku, tante Cintia pun langsung merobek foto mama dan membuang nya ke tempat sampah.
Aku yang tak sengaja melihat itu pun langsung menangis, tante Cintia marah saat melihat aku masih menyimpan foto mamaku, dia ingin menghapus kenangan dan jejak dari mama.
Saat papa pulang tante Cintia langsung mengadu kalau aku sedang merajuk karena kangen dengan mama, tante Cintia mulai menghasut papa dengan mengatakan kalau Stevi butuh figur ibu baru.
Papa yang sudah tau sifat tante Cintia hanya manggut manggut dan menyuruh tante Cintia pulang karena sudah malam.
Tante Cintia bersikeras untuk menginap di sini, tapi papa tetap tidak mengijinkan. Akhirnya tante Cintia pulang dengan wajah kesal.
__ADS_1
Seharian aku menangis di dalam kamar, mataku sudah bengkak, papa langsung memelukku erat. Beliau bahkan sampai menangis melihat ku seperti ini.
Maafkan papa.. Itu kata kata papa saat melihatku menangis
Aku memeluk papa dan mulai menangis lagi, aku tidak bisa menghentikan tangisan ku ini.
" Tante cintia merobek foto mama"
Akhirnya aku memberanikan diri untuk bercerita pada papa. meski masih dengan mata bengkak karena menangis dan suara parau yang tidak begitu jelas
Papa melepas pelukannya, dan melihat ke arahku.
" Papa percaya pada stevi "
Dan aku kembali menangis di pelukan papa. Aku menyayangimu papa.. Maafkan stevi
__ADS_1
Keesokan hari nya tante Cintia sudah tidak datang ke rumah lagi. Entah apa yang di lakukan papa, dan entah apa yang terjadi, tapi aku bersyukur kalau nenek lampir itu tidak lagi berada di sini.