
..... Tapi berbeda dengan Dion, saat aku lagi asik melukis kalau Dion menelpon entah kenapa aku lebih senang menerima telepon nya daripada melanjutkan melukis ku.
*****""
Kesibukan papa sepertinya semakin bertambah, aku bahkan tidak melihat papa sarapan selama dua hari ini, di tambah lagi beberapa akhir pekan kami tidak bisa melewatinya bersama.
Papa merasa sangat bersalah, sebisa mungkin saat senggang papa menyempatkan waktu untuk menelfonku, pesan dari papa sekarang mulai tidak mendominasi ponsel ku.
Aku tau papa sangat berusaha meluangkan waktu untuk ku, dan itu membuat ku merasa bersalah, aku memaklumi tanggung jawab papa yang besar di perusahaan, sebenarnya aku tidak mempermasalahkan kalau akhir pekan tidak bersama papa.
Seperti akhir pekan ini, papa tidak bisa menemaniku karena harus mengecek lahan baru di singapura. Kantor lama disana akan di pindahkan ke kantor baru yang lebih luas, jadi papa ingin mengecek pembangunannya, takutnya laporan dengan yang di lapangan berbeda.
*
Aku sengaja bangun agak siang pagi ini, bermalas malasan di hari libur memang sesuatu yang nikmat.
Aku keluar dari kamarku dan menuju dapur,namun saat langkah ku di anak tangga terakhir aku melihat seseorang sedang berkutat di dapur.
Sepertinya aku kenal gumamku
__ADS_1
Dan saat wanita itu menoleh aku terkejut bukan main.
" Stevi... Sayang... Sudah bangun?"
Rasanya aku ingin berlari masuk ke dalam kamar ku lagi. Wanita sok cantik yang ada di hadapanku ini benar benar membuat mood pagiku rusak.
" Umm.. "
Aku hanya menjawab asal saja, aku sudah ingin berbalik naik ke kamarku, saat tante Cintia memegang lenganku.
" Makan dulu gih.. Kamu belum sarapan kan? Tante sudah masakin masakan spesial buat kamu.
" Papa enggak ada"
Jawab ku dengan nada yang terdengar tidak ramah.
Tante cintia terlihat terkejut dengan jawabanku, tapi dengan cepat dia tersenyum dan mengelus lengan ku lagi. Emang aku kucing pakek di elus batinku.
" Iya. Tante tau.. Tadi papamu yang nyuruh tante buat jagain kamu, katanya papa mu hanya mempercayakan kamu sama tante, ya tante dengan senang hati dong. Karena tante kan sayang sama kamu stevi.. "
__ADS_1
Idih... sok sok an bilang sayang, ndak usah sok baik deh. ingin rasanya aku memaki tante Cintia, tapi aku masih punya sopan santun.
Lagian kenapa juga si nenek sihir ini datang kesini, udah bagus selama beberapa tahun ini hidupku tenang dan damai. Aku bergumam sendiri sambil memandang malas pada tante Cintia.
" Makasi, aku mau ke kamar dulu. Permisi tante... "
" Loh loh.. Sarapan dulu dong"
Aku langsung saja pergi meninggalkan tante Cintia yang terus merayuku untuk sarapan bersamanya. Aku tidak perduli, mood ku benar benar rusak.
Aku duduk di balkon kamar dan menghela nafas kasar. Ingatanku melayang saat tante Cintia mulai sering datang ke rumah ku, awalnya aku senang karena ada yang menemaniku, toh tante Cintia teman baik mama, katanya.
Tapi lama kelamaan sifat aslinya mulai terlihat, tante Cintia hampir tiap hari datang ke rumah setelah mama meninggal.
Dia membawakan ku makanan, buku serta mainan yang banyak, dia datang di pagi hari untuk memasak untuk kami. Siang nya dia berangkat ke kantor nya dan kembali lagi ke rumah saat malam, saat papa di rumah.
Papa sudah melarang tante Cintia untuk datang, alasanya kasian dengan perjalanannya, jarak rumah kami dengan kantor tante Cintia terbilang cukup jauh, lagipula apa kata orang kalau tante Cintia terus terusan ada di sini.Bahkan kakek pun merasa risih dengan tante Cintia yang terus mencari perhatian papa.
Tapi tante Cintia memaksa untuk tetap datang kerumah setiap hari. Papapun sudah lelah untuk berdebat, dia baru kehilangan istri tercinta nya, pikirannya tidak mampu kalau hanya untuk berdebat dengan teman istrinya itu. Papa sudah hafal dengan watak tante Cintia.
__ADS_1