
Operasi pengangkatan tumor di kepala Caca sedang berlangsung. Dokter yang menangani terlihat hati-hati dalam bekerja. Sesekali meminta alat pada perawat. Sedangkan Caca sendiri terbaring dengan wajah pucat.
Bang Andre yang menunggu di luar ruangan operasi menunggu dengan gelisah.
"Andre!! " Saudara seseorang mengejutkan dia.
"Papa ?" Gumam Andre.
"Papa ngapain disini!!! Mending papa nggak usah datang.!!! " bentak Andre.
"Bang Andre ngapain di sini??" Tanya Selly.
"Abang nunggu caca dek. " Ujar Andre dengan suara parau.
"Emang kenapa sama anak sial itu!!? " tanya Selly tak lupa untuk memaki Caca.
"Caca bukan anak sial!! Kalian yang udah bikin hidup dia penuh kesialan.!!! " Andre mendorong bahu Selly.
"Aaawww... Bang Andre kok gitu?? Sakit mama... " rengek Selly.
"Andre kamu itu apa apaan sih!!!? Masa adek sendiri di dorong!! " bela mama.
"Denger ya.. Kalo kalian kesini cuman mau ngata-ngatain Caca. Mending kalian pulang!! Gak usah datang!!! " Ujar Andre murka.
"Heh... Ya sudah, kami kesini juga bukan mau nengokin adek sial kamu itu. " Cibir Papa.
"Ya udah yuk... Ma, Selly. Ruangan temen Papa udah deket kok. " ajak Papa.
Mereka pun meninggalkan Andre sendiri di depan pintu operasi.
Andre tidak habis pikir dengan ketiga orang itu. Bisa bisanya mereka tidak cemas, padahal anggota keluarga mereka sedang bertarung dengan maut. Hidup nya sedang di ujung tanduk.
Dimana hati nurani mereka? Apa yang mereka pikirkan??Bagaimana bisa mereka tidak khawatir.??! Tapi sudah lah. Andre masa bodoh dengan mereka. Dia hanya cemas pada nasib adik perempuan nya ini.
__ADS_1
......................
Lampu di ruang operasi padam. Operasi yang berlangsung 2 setengah jam akhirnya selesai. Andre terpaku, melihat sebuah ranjang pasien yang keluar dari ruangan itu. Dan bawa ke sebuah ruangan.
Dokter mendekati Andre. Dia membuka masker nya, dan dapat dilihat. Raut wajah yang putus asa, sedih dan lelah. Andre masih terdiam.
Dokter menepuk bahu Andre.
"Maaf kan kami. Kami sudah berusaha semampu kami. Tapi, kami gagal. Seperti Allah memang sayang pada Caca. Maaf kan saya Andre... " Dokter memeluk tubuh Andre yang kaku.
Bagi dokter itu, Caca sudah dia anggap adik kandung nya sendiri. Karena itu dia sangat sedih.
"Ma-maksud dokter apa?? Op-operasi nya lancar kan 'dok? Caca selamat kan???" Andre melepas pelukan dokter dan mengguncang bahu dokter itu.
Dokter nampak mengusap air mata nya.
"Maaf kan saya Andre. Operasi nya memang lancar tapi, seperti Caca sudah tidak sanggup lagi. Caca sudah dipanggil sang Illahi. Hikss... huhuhu... " Ujar dokter sambil menangis.
Lutut Andre seakan berubah jadi jelly. Dia terduduk di lantai rumah sakit yang dingin. Menundukkan kepala bahu nya bergetar. Dan pipi nya basah.
"Caca!!!!! Caca jangan tinggalin abang dek!!! Caca nggak sayang sama abang!!!! " Andre menangis histeris.
Andre memukuli lantai dengan kuat. Hingga tangan nya berdarah.
Dokter langsung ikut terduduk. Dia menggenggam tangan Andre.
"Maaf Andre. Saya memang bukan siapa-siapa kamu. Saya juga sedih atas kepergian Caca. Selama ini Caca sudah saya anggap adik saya sendiri. Setiap minggu dia selalu mengunjungi saya. Dulu dia datang bersama nenek kalian. Tapi setelah nenek kalian wafat, Caca selalu datang sendiri. "
Tutur dokter itu.
Andre terdiam. Hanya diam. Tatapan mata nya tertuju pada sebuah ruangan di mana caca dibawa.
"Sebaiknya, segera bawa adik mu pulang. Caca bilang, jika dia meninggal dia ingin makam nya berada di sebelah makan nenek kalian. " ujar dokter.
__ADS_1
......................
......................
Keesokan harinya
09.15 Pagi
Jenazah caca kini sudah sampai di tempat pemakaman umum. Tempat yang sama di mana ada nya makan sang nenek. Para sahabat caca menangis histeris, bahkan ada yang sampai jatuh pingsan. Begitu mendapat kabar bahwa teman mereka sudah berpulang. Andre ikut membawa keranda yang berisi jenazah caca.
Pemakaman caca diiringi tangisan teman beserta Guru sekolah nya. Andre sendiri sudah tidak bisa mengeluarkan air mata nya. Kering. Sudah kering hingga air mata nya tak bisa jatuh.
Andre memasuki lubang peristirahatan terkahir caca. Air mata nya kembali jatuh saat menerima tubuh sang adik yang kaku, terselimuti kain kafan putih.
Tangisan sahabat Caca semakin menjadi. Kemudian, perlahan papan kecil di susun. Dan para penggali makan menutup liang kubur Caca dengan tanah. Dan menancap kan nisan yang bertuliskan Nama Icha Safitri.
Lahir 12 Januari 2005
Wafat 13 Februari 2022.
Kedua orang tua Caca dan Selly, pulang begitu selesai pembacaan doa. Di susul yang lainnya. Dan hanya tersisa 5 orang. Bang Andre, Nabila, Ayu, Salsa dan Farel. Bang Andre dan teman Caca masih tetap setia berada di samping makan Caca yang masih segar.
"Sebaiknya kalian pulang. Terima kasih sudah mengantar Caca ke tempat istirahat terkahir nya. Abang minta maaf atas nama Caca kalau Caca pernah menyakiti hati kalian. Tolong maaf kan dia. Dan kalau Caca punya hutang, katakan saja. Abang akan membayar nya. " tutur bang Andre.
"Nggak bang. Caca nggak pernah bikin kami sakit hati. Caca itu baik, perhatian sama kita kita. Dan caca nggak punya hutang apa pun. Malahan, kami yang harus nya minta maaf sama dia. " Jawab Nabila.
"Iya bang. Kadang kami sering usil sama Caca. Tapi dia nggak pernah marah. " Timpal Ayu.
Sesaat suasana menjadi hening. Salsa yang sempat pingsan dan sudah kembali sadar tidak berkata apapun.
"Ya udah guys. Yuk kita pulang. Kasian Salsa, muka nya makin pucat. " Ajak Farel.
Kedua nya mengangguk. Farel membantu Salsa berdiri. Mereka pamit pada bang Andre, dan meninggalkan TPU dengan mobil milik Farel.
__ADS_1
Andre mengusap nisan caca yang masih berbentuk kayu. Dan mencium nya.
"Maaf kan abang ya dek. Abang udah gagal. Sekarang kamu udah nggak sakit lagi. Abang janji nggak akan sedih lagi setelah ini. Kamu akan tetap di hati abang selama nya. " ucap Andre.