Kekasih Dunia Maya

Kekasih Dunia Maya
Bab 1


__ADS_3

Maya segera membantu ibu dan ayahnya memasukkan barang-barang bawaan kedalam mobil. Senyum riang selalu menghiasi bibirnya menantikan petualangan berkemah bersama ayah dan ibunya. Sudah sangat lama Maya menginginkannya. Menikmati suasana sejuk pegunungan sambil menikmati langit yang bertaburan bintang. Dan di tutup dengan melihat sunrise sebelum kembali kerumahnya. Sudah terbayang di otaknya kegiatan yang begitu menyenangkan itu terlebih bisa menikmatinya dengan keluarga tercinta.


Mobil berjalan perlahan ditemani nyanyian Maya yang diiringi tepuk tangan oleh ibunya. Sesekali ayahnya ikut bernyanyi sambil memfokuskan dirinya pada kemudinya. Perjalanan dilaluinya penuh canda dan tawa. Sesekali Maya membuang pandangannya pada kaca jendela mobil. Menikmati hiruk pikuk perjalanan impiannya.


Hamparan kebun teh yang luas memanjakan pandangan mata Maya. Daun-daunnya yang menghijau menyiratkan lukisan indah sang pencipta. "Bu, kita istirahat dulu yuk sambil makan siang di kebun teh!" Ajak Maya.


"Ide yang bagus, sayang. Yah, kita berhenti dulu ya!"


"Oke!"


Ayah Maya segera menepikan mobilnya di bahu jalan. Begitu mobil berhenti, Maya langsung membuka pintu dan berlari keluar mengitari kebun teh didepan matanya.


"Sayang jangan jauh-jauh ya! Ibu sama ayah keluarin matras sama makanan dulu di mobil " Teriak ibunya Maya.


Maya mengangguk tanda mengerti, ia kembali berjalan mengitari kebun teh itu sambil menghirup dalam-dalam udara yang begitu menyegarkan di daerah pegunungan. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara benturan yang begitu keras. Maya segera menoleh. Mobil ayahnya ringsek di tabrak sebuah truk bermuatan kayu. Masih dengan perasaan tak percaya, Maya berlari menuruni kebun teh ke arah mobil yang tampak ringsek terhimpit badan truk.


Dari jendela yang kacanya retak, Maya melihat tubuh kedua orang tuanya terimpit kepala truk di bagasi belakang. Darah segar membanjiri tubuhnya yang terjepit didalam mobil diantara pembatas jalan dan kepala truk. Sopir truk pun tampak terkulai dengan kepala diatas kemudinya. Asap tampak mengepul dari mesin truk.


"Ayah, ibu..!" Teriak Maya sambil menggedor-gedor badan mobil yang ringsek.


Tubuh kedua orang tuanya tidak bergerak. Warga segera menggendong Maya menjauh dari lokasi kecelakaan. Warga lainnya segera menghubungi kantor polisi terdekat agar bisa segera mengevakuasi korban. Maya menangis histeris menyaksikan kedua orang tuanya bersimbah darah tak bernyawa. Wanita tua yang memeganginya memeluknya erat berusaha menenangkannya.


***

__ADS_1


Maya tersentak. Keringat dingin membasahi kening dan tubuhnya. Mimpi itu kembali hadir dalam tidurnya. Mengingatkannya pada kisah 11 tahun silam. Kisah yang membuatnya selalu dihantui rasa bersalah tentang kematian kedua orang tuanya.


Kala itu Maya baru berusia 7 tahun. Ayahnya seorang kontraktor alat berat yang selalu bekerja di luar kota. Kadang seminggu bahkan sebulan sekali baru pulang ke rumah itupun hanya sebatas 3 atau 5 hari lalu kembali lagi ke luar kota. Maya merengek pada ayahnya ingin pergi berkemah bersama keluarga. Baginya, waktu yang hanya 2 hari libur ayahnya itu ingin ia habiskan bersama keluarganya sebelum keberangkatan ayahnya ke luar kota untuk kembali bekerja.


Kenyataannya, 2 hari impiannya kandas akibat kecelakaan yang menimpa orang tuanya. Andai saja saat itu Maya tahu, ia rela kehilangan 2 hari berharganya asal ia bisa menghabiskan hari-harinya bersama orang tuanya seperti biasanya. Tak apa ayahnya selalu pulang seminggu atau sebulan sekali. Tak apa hari-harinya hanya di isi dengan bersenda gurau dengan ibunya dirumah. Ia akan bertahan dengan kebosanannya dirumah bersama ibunya. Bisakah waktu diulang kembali? Mengapa Tuhan menyelamatkannya tapi mengambil kedua orang tuanya?


Apa mau di kata, takdir berkata lain. Kini Maya hanya bisa berteman dengan mimpi yang hampir tiap malam mengusiknya. Penyesalannya terhadap kematian orang tuanya begitu dalam. Meskipun neneknya sudah berulang kali mengingatkannya bahwa itu semua bukan kesalahannya. Itu sudah takdir dari Tuhan!


Maya mengambil gelas di meja belajarnya dan meneguk air yang selalu disiapkannya. Sudah menjadi kebiasaannya bangun ditengah malam akibat mimpi yang selalu menghantuinya.


Kantuknya tiba-tiba menghilang. Dinyalakannya laptop yang setia menemaninya. Di bukanya aplikasi chat online dengan emoticon berwarna kuning itu. Dilihatnya satu-persatu teman dunia mayanya yang masih online.


{Hai} Ketiknya.


{Seperti biasa, terbangun dimalam hari}


{Sebaiknya kamu berusaha melupakannya, Lily}


{Aku sudah berusaha. Tapi tidak bisa! Mimpi itu selalu hadir dalam tidurku}


{Itu bukan kesalahanmu, Itu takdir!}


{Tapi aku merasa itu adalah kesalahanku. Andai saja aku tidak mengajak orang tuaku berkemah. Mungkin kecelakaan itu tidak pernah ada}

__ADS_1


{Jika memang sudah takdirnya, tanpa berkemah pun mereka akan tiada, Lily}


Maya terdiam. Black shadows adalah orang ketiga yang selalu menyemangatinya setelah nenek dan sahabatnya, Sisil. Ia mengenal black shadows melalui aplikasi chat online 2 tahun lalu. Baginya, mengenal black shadows adalah obat mujarab untuk menenangkan dirinya. Jangan tanya apakah Maya mengenal wajah black shadows? tentu saja tidak! Maya benar-benar tidak tahu bagaimana rupa black shadows sebenarnya. Ia pun tak tahu dimana ia tinggal, tidak tahu nama aslinya bahkan jenis kelaminnya. Lalu, kenapa Maya berteman dengannya? bahkan menceritakan semua pengalaman hidupnya. Jawabnya karena Maya merasa lebih aman jika bercerita pada orang yang sama sekali tidak mengenalnya. Biarlah ia menjadi teman yang menemaninya di dunia maya.


Black shadows sendiri tak pernah menanyakan nama aslinya, tempat tinggalnya dan semua yang berbau tentang kepribadiannya. Mungkin, black shadows adalah orang yang sama sepertinya. Menginginkan teman tanpa tahu bagaimana wujud aslinya. Bahkan ia sangat jarang menceritakan kepribadiannya. Ia lebih banyak mendengar curhatan dari Maya dan selalu memberikan supportnya.


{White Lily, apa kamu sudah tidur?}


Maya menoleh begitu mendengar bunyi notifikasi dari laptopnya. Ia terlalu sibuk dengan lamunannya hingga lupa membalas pesan dari black shadows.


{Belum, maaf aku melamun tadi} Balas Maya.


{Cepatlah tidur. Bukankah besok kamu akan mendaftar di universitas?}


{ Baiklah, terima kasih sudah menemaniku}


{Selamat malam. Mimpi indah ya}


Maya me- non aktifkan aplikasi chat itu. Ia naik ke ranjangnya lalu menarik selimut hingga menutupi dadanya. Black shadows benar, ia harus menyiapkan diri untuk mengurus beasiswanya di salah satu universitas terbaik besok.


Sepeninggal orang tuanya, Maya hanya tinggal bersama neneknya. Ia tak ingin memberatkan sang nenek yang sudah mengasuhnya sejak kecil. Ia berusaha keras mendapatkan beasiswa di setiap jenjang pendidikannya. Maya memang terlahir sebagai anak yang cerdas. Juara umum selalu di raihnya disetiap jenjang pendidikannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Maya memaksa menutup kedua matanya berharap rasa kantuk perlahan menyerangnya dan membuatnya terlelap. Ia harus menyambut paginya dengan semangat di tempat yang baru dengan kawan yang baru pula. Bersama Sisil, sahabatnya sejak kecilnya yang memutuskan kuliah ditempat yang sama.

__ADS_1


__ADS_2