
Rama membisu memandangi jendela yang mulai basah oleh rintik hujan. Otaknya di penuhi bayangan wajah Maya. Ada segores luka terekam jelas lewat siluet wajahnya. Tiba-tiba rasa bersalah menyergapnya. Sepertinya ia memang sudah keterlaluan pada gadis manis itu. Apa? Manis? tidak.. tidak..! Mana mungkin gadis bawel sepertinya berwajah manis.
"Bengong aja!" Angga menepuk pundak Rama dengan keras. Membuyarkan lamunan sesaatnya.
"Lama banget lu!" Maki Rama.
"Gue kan jemput Bayu dulu"
"Sorry bro, mules tadi perut gue" Pria yang bernama Bayu itu mengelus-elus perut bidangnya.
"Lu mau tidur di basecamp lagi?" Tanya Angga. Tangannya sibuk membuka Snack di atas meja.
"Iya"
"Bonyok pergi lagi?" Tanya Bayu.
"Biasa.. nyokap shopping. Bokap keluar kota. Tau deh kota mana" Jawab Rama enteng.
"Lu nyuruh kita kesini karena butuh temen?" Ledek Angga.
"Gue nyuruh lu berdua kesini buat bantuin ngabisin duit gue! Ayo kita nongkrong ke kafe, gue yang traktir!" Rama mengeluarkan kartu kredit emas miliknya.
"Ayoklah... berangkat!" Bayu mencuri start.
***
Maya membuka matanya. Kali ini ia terbangun bukan karena mimpi orang tuanya. Kejadian hampir tenggelam di kolam renang mengacaukan pikirannya. Dipandanginya jaket berwarna merah yang tergantung pada pintu lemarinya lalu dilemparnya dengan boneka panda kesayangannya. Kesal mengingat pemiliknya adalah orang yang mendorongnya ke kolam renang.
Ia segera bangkit dari ranjangnya. Ditariknya kursi meja belajarnya lalu didudukinya. Di pandanginya layar persegi yang selalu menemani hari-harinya.
{kak..}
Sapa Maya. Waktu menunjukkan pukul 04.00 dini hari. Ia hanya ingin tahu apakah black benar-benar menunggunya setiap malam.
{Hai, sayang.. aku kira kamu gak mimpi hari ini. Soalnya udah jam 4 kamu belum chat aku. Ternyata kamu mimpi lagi?}
{Mimpi sih.. tapi mimpi yang berbeda}
{Mimpi apa?}
{Tenggelam di kolam renang}
{ Wah.. serem juga tuh. Buat jaga-jaga lebih baik kamu belajar renang}
{Kakak belum tidur?}
{Belum bisa tidur sebelum ngobrol sama kamu}
{Ih.. kesini-sini hobby banget gombal}
{Kok gombal sih, serius ini}
{ Kalo aku ajak ketemuan mau gak kak?}
{ Mau banget. Pengen liat obat tidur aku tampangnya kaya apa}
{Kalo aku jelek gimana?}
__ADS_1
{Ya.. aku tinggal pulang}
{Ih.. jahatnya..}
{He..he..he.. ya gak lah. Aku cuma becanda. Tapi.. kalo aku yang jelek gimana?}
{Persahabatan kan gak Mandang rupa kak}
{ Yah.. aku pengennya lebih dari sahabat}
{Yah... aku kan masih kecil kak.. Masuk kuliah aja belum}
{Takut dikira jalan sama om-om ya?}
{Gak juga sih.. Cuma aku belum pernah ketemuan sama cowok yang gak aku kenal. Kalo ketemu, aku ajak temenku boleh gak?}
{Kenapa? Kamu takut diculik sama om-om?}
{Takut juga sih.. Aku gak pernah punya temen cowok sebelumnya. Satu-satunya cowok yang aku ajak ngobrol ya cuma kakak}
{ Mau ajak nenek kamu juga boleh kok. Ha.. Ha.. Ha..}
{ Ish.. aku bisa di jewer sama nenek kalo ketauan ketemuan sama orang gak di kenal. Cowok lagi}
{Nenek kamu sayang banget sama kamu berarti}
{ Iya.. cuma aku yang satu-satunya nenek punya}
{Enak ya kalo ada yang merhatiin gitu}
{Lah.. emang ortu kakak gak merhatiin?}
{Sesekali, sempetin kumpul Kak meskipun cuma makan atau nonton tv bareng. Sepi lho kalo gak ada orang tua. Mumpung orang tuanya masih lengkap. Kalo kaya aku jadi sedih banget rasanya. Selalu sendirian}
{ Masih lebih baik kehidupan kamu, sepi karena memang sendirian. Lebih sedih aku dong, ada tapi kaya gak ada}
{ Kalo kakak ngerasa sepi, boleh chat aku}
{Oke gadis ku! Aku tidur ya.. udah ketemu kamu langsung ngantuk. Selamat tidur }
Maya menutup layar laptopnya. Sudah hampir subuh, lebih baik ia membantu nenek memasak di dapur.
***
Maya berjalan di koridor kampus dengan papperbag di tangannya. Ia berdiri didepan ruang senat lalu mengetuk pintunya. Angga berdiri membukakan pintu.
"Kecubung? Ngapain pagi-pagi kesini?" Tanya Angga.
"Kak Rama nya ada kak?"
"Itu!" Angga menunjuk sosok yang tengah terlelap di sofa. Sebagian wajahnya tertutup oleh lengannya.
"Oh.. tidur. Aku nitip ini aja deh kak. Tolong kasih ke kak Rama ya kak" Maya memberikan papperbag itu pada Angga.
"Oke"
Angga segera mengambil papperbag dari tangan Maya lalu kembali menutup pintu. Angga menggoyang-goyangkan kaki Rama.
__ADS_1
"Bangun bos, ada titipan nih"
"Ah.. ganggu orang lagi tidur aja nih"Sungutnya. Mau tidak mau Rama membuka matanya.
"Lagi.. lu mah aneh banget. Tidur tuh dirumah. Tidur di ruang senat. Kaya gak punya rumah aja"
"Suka-suka gue mau tidur dimana kek. Titipan apa?"
"Tuh di meja. Dari kecubung"
Rama mengerutkan keningnya. Ia mengambil papperbag dan melihat isinya lalu kembali merebahkan tubuhnya pada sofa.
"Apa isinya?" Angga penasaran.
"Jaket gue"
"Oh.. yang kemarin lu pinjemin sama kecubung"
"Iya"
"Dilihat-lihat itu cewek cantik juga. Katanya dia paling pinter lho disekolahnya. Sempurna banget itu cewek ya, udah cantik, pinter lagi"
"Sempurna? Buta mata lu kali. Cewek songong kaya gitu lu bilang sempurna"
"Eh bro.. Dia satu-satunya cewek yang berani ngelawan lu. Itu artinya predikat lu jadi playboy kampus gak laku di mata dia" Cibir Angga.
"Gue juga gak tertarik sama cewek kaya dia"
"Emang sejak kapan lu tertarik sama cewek? Kerjaan lu kan macarin, terus mutusin. Belum ada cewek yang ngisi hati lu"
"Ada.."
"Siapa?"
"Keppo banget lu. Awas ah, gue pengen tidur! Baru tidur 2 jam gue"
"Hm.. udah mulai main rahasia-rahasiaan nih sama gue. Eh bro, kecubung buat gue ya"
"Sono ambil kalo bisa. Lu gak tau aja kelakuannya kaya apa"
"Wah.. kalo yang ganteng kaya lu aja gak bisa naklukin dia, gue mundur aja dah"
"Yang bilang gue gak bisa naklukin dia siapa?"
"Gue barusan, emang lu gak denger?"
"Gak ada cewek yang gak bertekuk lutut di bawah kaki gue!"
"Oke.. 2 Minggu ya!"
"Oke! 2 Minggu!"
Rama memejamkan matanya. 2 Minggu! Tantangan dari Angga untuk menaklukkan hati Maya. Seperti biasa, setelah puas bermain-main Rama akan meninggalkannya.
Selain membuat onar di kampus. Memacari para mahasiswi adalah kegiatan wajibnya. Dengan statusnya sebagai anak pemilik kampus dan wajah tampannya, cewek mana yang akan menolaknya? Bahkan mereka sendiri yang berdatangan untuk menawarkan diri.
Semua itu ia lakukan untuk mencari perhatian pada orang tuanya yang selalu sibuk diluar. Tak ada rektor ataupun dosen yang berani melawannya. Bahkan orang tuanya saja membiarkan ulahnya asal masih diambang batas kewajaran.
__ADS_1
Otak Rama kini sibuk berpikir. Bagaimana cara menaklukkan gadis yang jauh lebih arogan dari dia. Harta dan tampang sepertinya bukan kelemahannya. Melihat dari sosoknya yang arogan, sepertinya ia butuh kasih sayang dan cinta. Ya.. gadis keras kepala seperti Maya butuh banyak cinta, seperti dirinya yang juga butuh cinta!