Kekasih Dunia Maya

Kekasih Dunia Maya
Bab 13


__ADS_3

Rasa bosan tiba-tiba menyeruak memenuhi hati Maya. Dilirik lagi gawainya, sepi pembeli. Hari libur yang biasa di isi oleh denting gawai notifikasi pesanan kini tergeletak sepi. Tiba-tiba ia teringat pada Nita dan ibunya. Lebih baik ia menjenguk mereka sambil membawa gado-gado buatan nenek.


Disambarnya jaket Hoodie yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Ia bergegas menghampiri neneknya yang tengah duduk di teras sambil menunggu para pembeli mampir.


"Nek, bikinin gado-gado 2 ya.. yang 1 jangan pake cabe!"


"Ada pesenan?" Tanya nenek seraya bangkit dari duduknya dan bersiap di depan ulekannya.


"Ada" Bohong Maya. Nanti biar Maya yang membayar untuk pesanan gado-gado untuk Nita.


"Ya udah tungguin dulu!"


Maya menyandarkan punggungnya pada bale bambu yang di sediakan untuk pembeli yang menunggu pesanan. Tiba-tiba ia penasaran, apakah Rama menggunakan Nita sebagai salah satu alasan untuk mendekatinya? ataukah ia benar-benar tulus membantu Nita? tentu saja Maya akan menemukan jawabannya setelah ia sampai dirumah Nita.


"Nih gado-gadonya!" Nenek menyodorkan 1 kantong plastik berisi 2 bungkus gado-gado pada Maya. "Orang mana yang pesen?" Tanyanya lagi.


"Orang jauh pokoknya" Maya segera menyambar kantong plastik dari tangan neneknya. "Maya pergi dulu nek" Ucapnya begitu selesai memakai helm.


Maya melaju dengan santai. Lalu lintas di hari Minggu cukup padat, mungkin kebanyakan orang menghabiskan waktu bersama keluarganya dengan tamasya atau sekedar jalan-jalan bersama. Lain waktu Maya akan mengajak nenek pergi tamasya, karena hanya nenek satu-satunya keluarga yang Maya miliki.


Maya menghentikan motornya didepan sebuah kontrakan 5 pintu. Dari luar terlihat seorang anak perempuan sedang bermain masak-masakan di depan pintu rumahnya. Ibunya tak terlihat di depan etalase jajanan anak-anak yang terpajang di depan terasnya.


"Nita" Maya melambaikan tangan pada gadis kecil itu.


"Eh.. kak Maya" Nita berlari menghampiri Maya yang masih berdiri didepan pagar. "Ayo masuk kak!" Ajaknya.


"Kak Maya bawa gado-gado nih buat Nita sama ibu" Maya menyodorkan kantong plastik bawaannya pada Nita.


"Wah.. makasih kak" Nita menerima kantong plastik itu dengan senang sambil berlari masuk kedalam "Ibu... ada kak Maya didepan" Teriaknya.


Tak lama, ibunya Nita keluar dengan tangan yang di lap kan pada celemek lusuh yang di pakainya. "Masuk sini, nak Maya! Maaf ibu lagi cuci piring" Sambutnya masih dengan kesibukannya mengeringkan tangannya yang masih basah.


"Saya gak lama-lama Bu, cuma mau nganter gado-gado aja"


"Kok pake repot-repot segala sih, nak Maya. Udah janjian sama nak Rama ya? Mana nak Rama nya? kok nak Maya sendirian?"


"Eh, anu.. itu Bu, saya gak janjian sama Rama. Tadi kebetulan aja lewat sini jadi sekalian mampir"


"Oh.. kirain udah janjian, soalnya biasanya nak Rama memang kesini tiap tanggal 1"


"Berarti, Rama rutin mengunjungi Nita. Ah.. apa aku yang terlalu berburuk sangka pada Rama?" Maya membatin.


"Ya udah Bu, saya pamit dulu"


"Lho, kok buru-buru? masuk kedalam dulu. Ibu buatin es jeruk peras ya"


"Gak usah Bu, takut di cariin nenek kalo perginya kelamaan soalnya saya gak bilang mau mampir dulu"

__ADS_1


Yang ada di otak Maya kini adalah cepat kabur agar tidak bertemu dengan Rama.


"Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan ya! terima kasih gado-gado nya"


Maya bergegas menaiki motornya. Diraihnya helm yang tersangkut di kaca spionnya.


"Mau kemana lu?"


Maya mengurungkan niatnya menyalakan mesin motornya. Perlahan ia menoleh ke arah datangnya suara.


"Pulang"


"Gue baru Dateng, lu main kabur aja"


"Siapa juga yang kabur?"


"Lu kira gue ****. Begitu lu denger gue mau kesini lu langsung buru-buru cabut. Apa namanya kalo bukan kabur?"


"Gue cuma takut di cariin nenek"


"Temenin gue sebentar disini!"


"Gak ah!"


"Bantuin gue nurunin kasur dari mobil"


"Tega amat lu!"


"Berantemnya udah belum? nih udah ibu siapin 2 gelas es jeruk peras sama bakwan jagung" Ledek ibu Nita.


Maya dan Rama saling pandang. Lalu tertunduk malu sambil menahan senyumnya.


"Ayo masuk sebentar, gak enak sama ibunya Nita" Ajak Rama.


Nita membuka kembali helmnya. Disangkutkannya lagi pada tiang kaca spionnya. Lalu perlahan mengekor dibelakang punggung Rama.


***


[Kak.. kalau pandanganku yang awalnya buruk terus berubah menjadi baik karena suatu hal, apa aku terlalu naif?]


Maya mengetuk-ngetuk mousenya dengan jari telunjuknya dengan perlahan, menunggu balasan dari pesan yang sudah dikirimnya.


Ting!


Bunyi notifikasi terdengar dari laptopnya menandakan sebuah pesan telah masuk.


[Tidak lah... semua orang bisa berubah menjadi lebih baik. Pandangan orang pun bisa berubah jika melihat hal yang baik. Memang kenapa?]

__ADS_1


[Awalnya, aku sedikit berburuk sangka karena sikapnya yang super arogan. Tapi, saat ku selidiki, ternyata dia benar-benar tulus. Kalau aku tiba-tiba merubah pandanganku menjadi baik, aku takut di kira luluh. Tapi, kalau aku tetap pada sikapku sebelumnya, rasanya kurang baik jika aku memperlakukannya begitu. Apalagi dia lebih tua dariku]


[Aduh.. kok aku membaca hawa-hawa asmara ya]


[Ish.. asmara apaan sih kak?]


[Yang lagi kamu omongin cowok tengil ity kan? musuh bebuyutan kamu? Kalau kamu sampai memikirkan bagaimana caranya bersikap padanya, itu artinya kamu mulai peduli padanya. Kan... aku udah bilang, benci sama cinta itu beda-beda tipis]


[Cinta apaan sih kak.. tambah ngaco deh ngomongnya]


[Aku kok jadi cemburu berat ya]


[Ha.. ha.. ha.. cemburu kenapa?]


[Nanti kalau kamu punya pacar, udah gak chatan sama aku lagi dong]


[Ya enggaklah.. masa gara-gara punya pacar aku jd lupa sama kakak]


[Hey.. adik manis... kamu belum pernah punya pacar ya? Kamu tau gak makhluk yang namanya pacar itu bakalan cemburu berat kalau tahu kamu punya temen ngobrol yang spesiesnya sama kaya dia]


[Ya.. jangan bilang-bilang lah..]


[Nanti kamu dikira main belakang]


[Ish.. emang punya pacar serepot itu apa?]


[Iyalah.. makanya sampe sekarang aku belum nyari pacar. Lebih tepatnya belum Nemu yang cocok]


[Yah.. namanya 2 kepala, mana ada yang cocok sih?]


[Bisa.. kalau mau berusaha mencocokkan diri]


[Itu namanya pemaksaan kak.. masa gak cocok di cocok-cocokin]


[Bukan di cocok-cocokin, tapi berusaha mengimbangi. Yah.. saling melengkapi lah, menutupi kekurangan pasangan dengan kelebihan yang kita punya. Begitupun sebaliknya]


[Wah.. kayaknya kakak udah cocok nikah nih He.. he.. he..]


[Harusnya sih udah.. tapi belum ada calonnya. Mau gak jadi calonnya?]


[Ish.. ketemu dulu.. baru ngomong lebih jauh]


[Ah iya.. aku lupa kalo kamu punya preman kampus yang super tengil itu]


[HM.. ngeledek ya..]


Maya terdiam sejenak. Di otaknya tiba-tiba terbayang wajah Rama. "Apa aku mulai menyukainya?"

__ADS_1


__ADS_2