Kekasih Dunia Maya

Kekasih Dunia Maya
Bab 2


__ADS_3

"Sisil" Panggil Maya.


Gadis berkulit putih dengan rambut panjang sebahu itu menoleh lalu melambaikan tangannya ke arah Maya. Maya berlari menghampirinya.


"Lu naik motor?" Tanyanya.


"Iya" Jawab Maya singkat.


"Tadi gue tawarin jemput kerumah gak mau" Cibirnya.


"Biar gak macet. Lagian gak jauh juga kok"


Begitulah Sisil, Shohib kentalnya sejak kecil itu selalu menawarkan bantuannya. Prisilia Mauren adalah anak seorang pengusaha tambang. Kekayaan orang tuanya tidak membuatnya menjadi sombong. Ia sangat ramah dan baik hati.


"Masuk yuk!" ajak Sisil.


"Lu kesini sama siapa?" Tanya Maya.


"Sama mami, udah di dalem dari tadi ngurusin pendaftaran gue"


"Dasar anak mami, kemana-mana ngajak maminya" ledek Maya. Kadang, Maya merasa iri pada Sisil. Ia masih memiliki keluarga yang lengkap. Ada, papi, mami, dan Bayu, adik Sisil. Andai saja kedua orang tuanya tidak mengalami kecelakaan, mungkin hari ini Maya pun akan datang bersama ibunya. Karena sekarang ia hanya tinggal dengan neneknya, tidak mungkin kan Maya mengajaknya untuk mengurus pendaftaran kuliahnya.


"Bodo amat" Ia menjulurkan lidahnya. "Mana berkas-berkasnya? biar mami aja yang ngurus. Kita muter-muter kampus aja yuk!" ajaknya.


"Udah gak usah! Nanti Tante Mira malah repot. Gue urusin sendiri aja"


"Ya udah deh. Terserah lu aja"


Maya menggandeng tangan Sisil dan mengajaknya masuk ke ruang pendaftaran. Tante Mira terlihat sedang menandatangani formulir pendaftaran untuk Sisil.


"Pagi, Tante Mira" Sapa Maya lalu meraih tangan Tante Mira dan menciumnya takzim. Maya sudah menganggap Tante Mira seperti ibunya sendiri begitu pun sebaliknya.


"Eh, Maya. Udah sampe, mana berkas-berkasnya? Biar Tante yang urus. Kamu muter-muter aja sama Sisil lihat-lihat lingkungan kampus"


"Gak usah Tante, gak apa-apa biar Maya urus sendiri aja"

__ADS_1


"Tante yang akan jadi wali kamu selama kamu kuliah disini. Dan ingat, tidak boleh menolak niat baik Tante!" Ancamnya.


Maya hanya tersenyum mendengar ancaman Tante Mira. Ia cukup bersyukur, sepeninggal orang tuanya ia masih di kelilingi orang-orang yang baik.


"Baik Tante, ini berkas-berkasnya" Maya memberikan map coklat berisi semua persyaratan mendaftar kuliah.


"Ya sudah, sana jalan-jalan!" Usirnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


Maya dan Sisil balik badan keluar dari ruangan. Tempat pertama yang ingin mereka datangi adalah kantin kampus. Mereka ingin mencoba menu makanan yang di jual di kantin.


Kantin kampus cukup luas dan bersih mengingat universitas yang akan mereka masuki memang universitas nomor satu di kota. Beraneka stand makanan dan minuman dibuat berjajar rapi ditengah-tengah kantin lalu kursi dan meja di letakkan berjajar rapi dipinggir mengitari standnya.


Maya dan Sisil berdiri di stand bakso dan mie ayam untuk memesan makanan. Dibelakang mereka tampak riuh dua orang pemuda yang terlibat adu mulut.


"Jangan jadi sok jagoan lu disini!" Kata pemuda yang berambut pirang.


"Bukan sok jagoan kak, kak Rama udah keterlaluan sama Ambar" Jawab pemuda berkaca mata. Di belakangnya berdiri gadis yang tampak menangis sesenggukan.


"Lu bilangin tuh sama temen lu! Jangan sok kecakepan pake nembak sambil ngasih puisi ke gue. Dia bukan level gue, coy!" Seulas senyum sinis menghiasi bibir pemuda berambut pirang yang ternyata bernama Rama itu.


"Tapi puisinya gak perlu di perbanyak dan dipasang di Mading juga kak, kasian Ambar jadi malu"


Maya dan Sisil segera membawa bakso dan jusnya ke meja. Kerumunan mahasiswa tampak mulai sepi setelah kepergian Rama.


"Ish.. mahasiswa kok modelnya kaya preman. Mana rambutnya pirang lagi" gerutu Maya.


"Eh.. jaga mulut lu. Tar kedengeran orangnya lagi. Menurut pandangan gue, Cowok yang namanya Rama tadi itu emang premannya kampus deh. Liat aja, kelakuannya aja kaya gitu. Kasian ya, cewek yang namanya Ambar itu" Ucap Sisil setengah berbisik.


"Kita harus hati-hati tuh. Jangan sampe deh berurusan sama cowok yang namanya Rama"


"Setuju banget tuh, May. Ayo buruan makan abis ini kita ke lapangan basket yuk, liat cowok-cowok ganteng"


"Ish.. cowok Mulu yang dipikirin! Lu kesini mau kuliah apa nyari pacar?"


"Kalo bisa dua-duanya kenapa enggak, Maya!"

__ADS_1


Maya memonyongkan bibirnya ke arah Sisil dibalas juluran lidah dari Sisil. Lalu keduanya tertawa bersama dan melanjutkan melahap makanan yang sudah dipesannya.


Setelah makan, Maya dan Sisil melanjutkan tour kampusnya. Lapangan basket adalah tujuan kedua mereka, bukan mereka.. tapi Sisil! Entah kenapa sahabatnya itu terobsesi sekali dengan pemain basket. Katanya pemain basket itu tampan-tampan dan sexy.


Tak hanya Maya, Sisil pun ikut membelalakkan matanya begitu melihat sosok berambut pirang yang tampak sedang asyik melemparkan bola basket ke dalam keranjang. Yup, Rama! Cowok pembuat onar itu ada di lapangan sedang bermain basket.


"May, itu bukannya Rama ya?" Sisil memastikan.


Maya mengangguk "Feeling gue masalah bakalan dateng nih" Matanya menangkap seorang gadis dengan ekspresi kesalnya berjalan masuk kedalam lapangan.


"Rama!" Bentaknya "Lu gak bisa seenaknya mutusin gue! Alasan lu gak masuk akal!" Lanjutnya.


Rama menghentikan permainannya. Ia berjalan menghampiri gadis yang tengah berkacak pinggang di pinggir lapangan basket.


"Gue emang udah bosen sama lu! Yang gak masuk akal yang mana?" Rama ikut berkacak pinggang.


" Lu kira semua cewek itu mainan? Yang bisa lu pacarin terus lu tinggalin seenaknya kalo udah bosen! Lu tau gak bagaimana sakitnya perasaan gue? Gue bener-bener cinta sama lu, Ram" Mata gadis itu tampang berkaca-kaca.


"Terus lu mau apa? suka-suka gue dong mau macarin siapa kek, mutusin kapan kek" Jawabnya enteng.


"Lu emang bener-bener playboy, Ram!"


"Elu yang ****! Udah tau gue playboy kenapa mau gue pacarin? Karena gue ganteng? atau karena gue anak yang punya kampus? Biar lu numpang tenar gitu?"


"Mulut lu sama kaya kelakuan lu, sama-sama busuk! Denger ya, Ram! Gue doain saat lu nanti tau rasanya cinta, lu di campakin sama cewek lu!" gadis itu berlalu meninggalkan Rama dan teman-temannya yang menertawakannya.


Asap hitam terlihat mengepul di kepala Maya. Ia pun sudah mengepalkan tangannya. Sisil yang melihat perubahan ekspresi Maya langsung memegangi tangannya.


"Jangan ikut, May!" Cegahnya.


"Sumpah! Gak tahan gue liat kelakuan si Taman itu! Pengen gue tonjok mukanya" rahang Maya mengeras. Belum 1 jam ia berada di kampus, sudah ada dua kejadian dengan 1 tookoh pembuat onar yang sama, yaitu Rama!


"Eh.. lu aja belum resmi jadi mahasiswi sini, udah gak usah ikut campur. Mending kita ke perpustakaan deh"


.

__ADS_1


"Gak mood gue! Tar di perpus ketemu lagi sama preman itu!"


"Perpus kan sepi, mana berani dia bikin onar disana. Udah ayok buruan!" Sisil menarik lengan Maya meninggalkan lapangan basket.


__ADS_2