
"Mati dah kita" Sisil menyenggol bahu Maya. Seseorang dengan seringaian sinisnya berdiri di samping podium. Matanya tak lepas menatap sosok Maya seakan bersiap menerkamnya.
Maya menatap lekat si rambut jagung yang ternyata seniornya. Dengan almamater dan syal merah di lehernya menandakan ia adalah salah satu panitia peloncoan calon mahasiswa baru. Ia mengedipkan sebelah matanya sambil melemparkan senyum tersinisnya pada Maya.
"Kena lu!" Batinnya. Ia begitu bahagia saat mengetahui bahwa gadis yang mengganggunya kemarin adalah calon mahasiswa baru di kampusnya.
Semua mahasiswa baru sudah berkumpul di lapangan dan berbaris rapi. Acara pertama orientasi mahasiswa baru adalah senam sehat ceria. Para calon mahasiswa mengenakan seragam SMA dengan aksesoris kacamata hitam yang dicopot kaca sebelahnya sedangkan calon mahasiswi menguncir rambutnya sebanyak 6 kunciran menggunakan tali plastik.
Alat-alat ospek, stok makanan dan minuman disimpan didalam kantong plastik hitam yang di ikat dengan tali plastik sebagai pengganti tas. Kaos kaki hijau tua dan oranye menghiasi kaki kanan dan kiri mereka. Mirip sekali dengan orang dengan gangguan kejiwaan.
Gerakan senam sengaja di buat bebas. Tapi justru itu yang di gunakan oleh para senior untuk mencari alasan untuk menghukum para juniornya.
Dari kejauhan, Rama berjalan perlahan menghampiri Maya. Apalagi kalau bukan untuk mengerjainya. Ia melihat name tag yang bertuliskan 'kecubung' di dadanya.
"Eh kecubung, gerakan senam lu salah!" Teriaknya.
Maya menghentikan gerakannya. Ia menatap tajam senior berambut pirangnya.
"Emang lu gak pernah senam? Ikut gue ke belakang!"
Dengan amarah yang masih di tahannya, Maya mengikuti langkah Rama menuju taman.
"Lu liat daun-daun yang ada di tanah itu? Cariin gue daun yang paling cantik, muda dan segar. Bukan daun yang layu dan kering. Inget ya! yang di bawah tanah, bukan metik dari pohonnya!"
Maya balik badan tanpa menjawab ucapan Rama.
"Eh kecubung, lu gak punya mulut? kalo senior ngomong lu harus jawab 'iya kak'!" Bentaknya.
Maya kembali membalikkan badannya. "Iya kak" Jawabnya lalu mengamati satu persatu daun yang berguguran di taman.
Maya melotot tajam melihat Rama malah asyik tidur di bangku taman. Sedangkan ia harus berjibaku mencari daun muda cantik yang terjatuh dari pohonnya. Rama memang benar-benar mengerjainya. Kenapa gak sekalian aja suruh nyari daun perawan!
Sudah 30 menit Maya mencari daun muda yang terjatuh tapi belum juga menemukannya. Diliriknya kembali sosok Rama yang masih tertidur pulas di bangku taman.
__ADS_1
"Mendingan gue petik aja daun dari pohonnya. Mumpung si rambut jagung masih tidur" Batinnya.
Maya segera mencari pohon dengan daun terindah. Ia memilih pucuk merah karena bagian pucuk daunnya berwarna merah. Menurutnya pohon itu paling unik dibanding pohon lainnya dengan pucuk daun berwarna hijau muda. Maya memetik 1 daunnya lalu berlari menghampiri Rama yang masih tertidur dibangku.
"Kak, ini daunnya"
Rama tak menjawab. Ia malah mengeraskan dengkurannya.
"Sabar Maya, sabar! cuma tiga hari kok" Batinnya sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri.
"Kak Rama.. ini daunnya!" Kali ini Maya mencoba menggoyangkan badannya.
Rama tampak menggeliat dan menggaruk-garuk kepalanya. Matanya memincing mengamati selembar daun ditangan Maya.
"Emang lu pikir gue bodoh! Mana ada daun muda yang rontok dari pohonnya!"
"Itu tau! Kenapa masih nyuruh nyari daun muda yang rontok ditanah" Batinnya berteriak. Ingin sekali Maya menendang pria yang ada didepannya itu.
"Kalo gue ngomong tuh jawab! emang lu bisu!"
"Terus lu sengaja metik dari pohon gitu? Emang tadi lu gak denger kalo gue nyuruh nyari daun muda yang jatuh di tanah bukan metik dari pohonnya. Itu artinya, lu mau nipu gue kan!"
"Saya gak bermaksud begitu kak. Kan kak Rama sendiri yang bilang kalau gak ada daun muda yang jatuh ke tanah. Lalu, kenapa kakak malah nyuruh saya nyari yang jatuh di tanah kak?"
"Udah berani ngebantah lu ya! Eh kecubung, lu lupa apa peraturan pertama di orientasi ini? SENIOR TIDAK PERNAH SALAH!"
Maya terdiam. Giginya gemeretak menahan marah sedang paru-parunya sibuk menghirup dan mengeluarkan udara dalam-dalam untuk menahan amarahnya.
"Sebagai hukuman atas kebohongan lu. Gue mau lu ngerayu gue sampe gue Nerima cinta lu!"
"Apa??? Emang dasar gila nih orang!!!" Makinya dalam hati. Sudah pasti Rama tidak akan mau menerima cintanya. Ia pasti sengaja mempersulit nya.
"Kok diem aja? Lu tau gak, berapa banyak cewek yang berharap bisa nyatain cintanya ke gue, lu gue kasih kesempatan malah di sia-siain"
__ADS_1
"Kak Rama, Saya suka sama kakak. Kakak mau kan jadi pacar saya!"
"Lu ngerayu apa maki-maki gue? Mana ada cowok yang mau Nerima cinta lu kalo cara nembaknya kaya gitu!"
"Maaf kak, sampai saya sebesar ini saya belum pernah menyatakan cinta jadi saya gak tau caranya. Kasih aja hukuman yang lain yang lebih susah!" Tantangnya kesal.
"Kasian banget lu. Udah tua gak bisa nyatain cinta. Pasti gak ada juga cowok yang nembak lu kan?"
Maya tak menggubris ucapan Rama. Entah berapa banyak murid pria di sekolahnya yang berulang kali menyatakan cintanya pada Maya. Tak hanya pintar, Maya pun terkenal paling cantik disekolahnya. Ternyata Rama tak hanya konslet otaknya, matanya pun buta karena tidak bisa membedakan mana cewek yang cantik mana yang jelek.
"Lu bisa gak ngerayu gue?"
"Gak bisa kak. Hukumannya yang lain aja!"
"Cemen lu! Sok-sokan gangguin gue, nyatanya gak bisa apa-apa!"
"Cari hukuman yang lain aja kak. Tolong yang lebih rasionalis ya kak" Pinta Maya. Entah ide konyol apalagi yang terlintas di otak Rama untuk mengerjainya. Yang pasti bakalan membuatnya tersiksa.
"Oke! Sekarang gue minta lu cariin gue cacing yang udah resmi jadi sepasang suami istri. Inget ya, suami istri! harus ada bukti buku nikahnya! Gue gak mau lu dapet cacing yang jomblo apalagi kumpul kebo!"
"Kak.. itu gak salah?" Rahang Maya makin mengeras mendengar hukuman terkonyol yang diberikan oleh Rama.
"Senior gak pernah salah! inget itu!" telunjuknya mendorong-dorong hidung Maya.
"Dimana saya bisa Nemu cacing yang udah nikah? Di KUA?" Maya menekan suaranya. Sepertinya kesabarannya mulai habis.
"Ini calon mahasiswa yang gak lulus SMA kayaknya nih. Yang namanya nyari cacing ya di tanah, masa di KUA!"
Tanpa sadar Maya melayangkan tendangannya tepat ke tulang kering Rama. Rama tampak mengaduh kesakitan sambil memegangi bekas tendangan Maya.
"Gila lu ya!" Makinya.
"Lu cariin dulu penghulunya baru gue cariin cacing yang udah siap kawin massal!"
__ADS_1
Maya melenggang meninggalkan Rama. Tak didengarnya teriakan Rama yang memanggil namanya. Harusnya dari tadi Maya menendangnya, biar tau rasa! Dasar gila!