Kekasih Dunia Maya

Kekasih Dunia Maya
Bab 9


__ADS_3

"Kak.. gimana sama ibunya Nita?" Maya mulai keppo. Sekuat tenaga ia berusaha menekan rasa penasarannya, tapi runtuh juga saat melihat Rama hanya duduk diam di teras depan panti asuhan.


"Ibunya memang sengaja nitipin Nita di panti. Semenjak bapaknya yang sakit-sakitan meninggal. Harta bendanya habis semua. Ibunya tidur di depan emperan toko karena gak ada tempat tinggal. Dia gak mau Nita ngalamin hal kaya gitu makanya Nita di titipin dulu disini. Nanti kalau ekonomi membaik, dia jemput Nita lagi"


"Kenapa waktu Nita cerita ke pengurus tentang ibunya, pengurus gak percaya?"


"Ibunya yang nyuruh, takut Nita minta ikut ibunya kalo tau ibunya Dateng. Makanya ibunya suka berdiri di tiang lampu ujung jalan itu. Ngeliatin Nita dari jauh"


"Ibunya sekarang kerja apa?"


"Mulung barang-barang bekas buat makan sehari-hari"


Mendengar cerita Rama, Maya menjadi lebih berbesar hati. Ia selalu merasa bahwa ia adalah anak ter malang di dunia karena di tinggalkan orang tuanya dengan tragis di depan matanya. Tapi Nita, Ia jelas-jelas memiliki seorang ibu. Tapi ibunya harus meninggalkannya karena kebutuhan ekonomi. Atau, black yang masih memiliki orang tua lengkap tapi tak pernah berkumpul bersama karena kesibukan masing-masing.


"Minggu depan mau ikut gak?"


"Ikut kemana?"


"Jemput Nita" Rama memandang lekat gadis yang duduk di sebelahnya itu. Di lihat-lihat dia memang cantik, apalagi kalau lagi kalem begitu.


"Belum tau ikut apa gak"


"Pinjem hp dong!"


"Buat apa?"


"Gue lupa naro hp gue"


Maya mengeluarkan ponsel dari tasnya dan memberikannya pada Rama. Ia menekan sebuah nomor dan menghubungi nomor itu.


"Hp gue disiapa?" Tanya Rama. "Oh.. oke" ia segera memutuskan panggilannya.


"Nih Hp nya. Hp gue di bawa Bayu. Thanx ya" Ucapnya lalu pergi.


***


"Gokil..." Bayu tertawa terpingkal-pingkal. "Ada-ada aja nih anak idenya"


"Alesan aja nyariin hp, padahal mah dia secara gak langsung minta nomernya si Maya tuh" Angga geleng-geleng kepala mengingat Rama yang berpura-pura meneleponnya menanyakan hp nya. Padahal dia sendiri yang menitipkan hp nya ke Bayu.


"Urusan naklukin cewek sih, gue yang nomor satu" Rama dengan percaya dirinya tersenyum lebar di depan dua sohibnya.

__ADS_1


"Terus gimana tuh sama emaknya Nita?" Bayu penasaran.


"Gue cariin kontrakan dulu deh. Nanti gue modalin buat buka jajanan anak-anak didepan kontrakannya"


"Salut.. salut.. demi mendapatkan Maya aktingnya pol-polan bro.." Angga bertepuk tangan.


"Ini gak ada hubungannya sama Maya. Gue kasian liat Nita sama ibunya. Paling gak, mereka bisa kumpul sama-sama lagi"


"Menyelam sambil minum air nih bro.." Ledek Bayu.


"Itu plus-plusnya sih" Rama terkekeh. Ia akan mengajak Maya untuk menuntaskan aksinya. Dengan begitu, Maya akan lebih simpati padanya.


***


Maya merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia jadi berdiri didepan swalayan ini sih? Bukannya ia sudah mengikrarkan diri untuk tidak masuk dalam permainan Rama? Dan sekarang, ia berdiri menunggunya. Lagi, ia melirik pesan di ponselnya.


{Gue tunggu jam 10 didepan swalayan ya. Bantuin gue belanja buat kebutuhan Nita sama ibunya. Gak usah bawa motor! gue bawa mobil}


Rama berlari menghampiri Maya. "Sorry telat, udah lama?"


Maya menggeleng "Belum"


"Ayo masuk!"


"Emang mereka tau apa yang di perluin sama Nita dan ibunya. Kan lu cewek pasti lebih paham dong"


"Gak ngajak pacar kak Rama aja?"


"Jomblo gue. Belum sempet nyari lagi. Lu sebenernya mau bantuin gue apa mau ngajakin gue ribut sih?"


"Ya bantuin lah. Ngapain juga kesini kalo gak bantuin"


"Kalo bantuin yang ikhlas! Pake ngebahas pacar segala. Emang bakti sosial kudu Ama pacarnya apa" Sungutnya.


"Gak gitu. Takut aja kena semprot sama pacarnya kak Rama"


"Gue udah bilang gue jomblo. Tenang aja!"


Maya mengekori Rama yang sudah terlebih dulu masuk ke dalam swalayan sambil mendorong troli belanjaan. Rama beberapa kali meminta pendapat pada Maya tentang kebutuhan apa saja yang di perlukan Nita dan ibunya selama sebulan.


"Lebih baik buka jajanan anak-anak aja dulu. mereka kan belum punya kulkas. Belanjanya lebih mudah juga. bisa ke pasar tradisional. Nanti kalau mereka punya kulkas, baru di tambah jajanan yang serba di bakar"

__ADS_1


"Aku belikan saja showcasenya"


"Kak.. biarkan saja mereka berusaha dulu untuk mengumpulkan uang. Sisanya nanti baru di bantu lagi" Saran Maya.


Uang memang bukan masalah untuk Rama. Ia bebas menarik berapapun yang ia mau. Ia memiliki kartu kredit dengan limit yang tak terbatas. Tapi Rama sendiri belum bekerja, uang yang ia ambil adalah uang jajan dari orang tuanya. Menyewa sebuah kontrakan dan memenuhi kebutuhannya selama sebulan di rasa sudah cukup banyak. Maya hanya tak ingin orang tua Rama menganggap bahwa anaknya hanya bisa menghambur-hamburkan uangnya.


"Ehem.. pacar baru nih?" Ucap seorang gadis yang tengah mengantri di belakang Maya dan Rama.


Kalau Maya tidak salah tebak. Pasti salah satu mantan pacarnya Rama deh.


"Pake pelet apa mbak bisa bikin Rama ngeborong segitu banyak? Jaman pacaran sama gue dulu, gue langsung di putusin gara-gara minta coklat harga 50.000 di hari valentine. Ati-ati itu playboy pasti ada maunya"


Maya melirik tajam pada Rama yang masih dengan santainya mengantri di kasir seolah-olah tak mendengar ucapan mantan pacarnya yang jelas-jelas berbicara sangat keras padanya. Bahkan orang-orang yang tengah antri di kanan kirinya pun memandang Maya dengan tatapan aneh.


"Kak, serius itu cewek di putusin gara-gara minta coklat doang?" Tanya Maya gondok. Gara-gara itu dia jadi pusat perhatian pengunjung swalayan yang tengah mengantri.


"Iya"


Maya lebih kesal lagi mendengar jawaban santai Rama sambil memasukkan barang-barang belanjaan ke dalam mobilnya.


"Tadi belain gue kek! Gue kan bukan pacar lu! Malu gue di liatin sama pengunjung swalayan. Dikira gue beneran melet lu lagi" Maya mulai emosi.


"Ah.. lu jadi cewek labil amat sih.. Bentar-bentar manggil gue kakak, Bentar-bentar 'lu-gue' ke gue. Gak punya pendirian lu!"


Maya mengunci mulutnya lalu ikut masuk ke dalam mobil. Ucapan Rama ada benarnya juga. Mau bagaimana pun Rama adalah senior semester 8 di kampus sedang ia baru semester 1. Ia harus lebih sopan pada Rama.


"Abis sebel banget sih. Nanti di kira orang-orang aku beneran melet kak Rama lagi. Lagian lebay banget sih jadi cowok, masa gara-gara coklat aja main putus-putusin seenaknya" Gerutunya.


"Itu artinya dia matre"


"Ya ampun.. cuma coklat sebatang gak bakalan ngabisin harta benda kak Rama kali.."


"Jangankan sebatang, se pabrik juga bisa gue beliin. Tapi gue paling males sama cewek yang mau pansos doang lewat gue. Dia bikin challenge di akunnya kalo gue bakalan ngasih coklat ke dia di hari valentine. Dia mau nunjukin ke mantan-mantan gue yang lain kalo dia bisa bikin gue nurutin maunya dia. Karena selama ini cewek-cewek itu yang selalu nurutin maunya gue"


"Terus gara-gara itu di putusin gitu? Wajarlah.. orang pacarnya anak orang kaya, punya universitas gimana gak mau di pamerin"


"Itu cuma salah satu alasan kecilnya aja sih. Alasan utamanya karena bosen. Gue udah 2 Minggu pacaran sama dia"


"Emang, berapa lama masa pacaran kak Rama?"


"Paling cepet 2 jam, paling lama 2 Minggu"

__ADS_1


Maya menepuk keras dahinya. God! Ini orang gak punya hati kali ya..


__ADS_2