Kekasih Dunia Maya

Kekasih Dunia Maya
Bab 3


__ADS_3

"Amit-amit dah gue! jangan sampe gue ketemu sama makhluk yang namanya Rama itu! Sumpah, kesel banget gue liatnya"


Sisil hanya terkekeh mendengar makian sahabatnya itu. Dari lapangan basket hingga perpustakaan, mulutnya tidak berhenti mengucap sumpah serapah pada makhluk bernama Rama itu. Bahkan, mereka sampai nyasar karena fokus membicarakan Rama hingga lupa lokasi perpustakaan berada di belokan kedua setelah laboratorium.


Gedung perpustakaan dengan cat berwarna coklat muda itu berdiri kokoh didepan mereka. Disamping kiri-kanannya tampak beberapa mahasiswa yang tengah bergerombol. Baik membahas tugas dari dosen ataupun sekedar ngobrol-ngobrol ringan di bangku dan rumput-rumput depan gedung perpustakaan.


Maya dan Sisil menuju resepsionis dan mendaftar dengan menggunakan kartu tanda pengenal karena mereka belum memiliki kartu pengunjung perpustakaan.


Rak buku berjajar rapi dengan beberapa spot untuk membaca. Ada spot yang menggunakan meja dan bangku untuk yang ingin membaca sekaligus membuat tugas dengan menggunakan laptop. Dan ada spot khusus bagi yang ingin membaca santai di atas karpet bulu disisi ujung dekat jendela.


Maya dan Sisil mulai berpencar mencari buku yang ingin mereka baca. Sambil memeriksa apakah perpustakaan itu cukup lengkap untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah mereka nantinya.


Maya dan Sisil sepakat mengambil jurusan komputer. Ketertarikan Maya pada dunia Maya membuatnya menyukai komputer. Ia bercita-cita menciptakan aplikasi-aplikasi pertemanan baru bagi orang-orang yang membutuhkan teman dunia Maya seperti dirinya.


Samar-samar Maya mendengar celoteh manja seorang gadis di ujung rak. Sesekali terdengar tawa renyah dari ujung sana.


"Siapa juga yang iseng pacaran di perpustakaan, emang gak ada tempat lain apa!" Gerutunya.


Maya beringsut dari tempatnya dan berjalan ke ujung ruangan. Memastikan wajah siapa yang dengan santainya sayang-sayangan di tempat yang harusnya dipakai khusus untuk belajar.


Maya membuang nafas berat begitu melihat rambut berwarna pirang menyembul disela-sela rak buku.


"Tuhan, kenapa dunia sempit amat sih!" Batinnya.


Gadis berbaju ungu itu bersandar pada dinding perpustakaan. Tangannya sibuk memilin-milin ujung kaosnya dengan rona malu-malu menghiasi wajahnya. Sedangkan si pembuat onar itu mengunci gadis itu diantar kedua lengannya.


"Mau kan jadi pacarku?" Bisik Rama pelan ditelinga gadis berbaju ungu.


Gadis itu memandangnya sejenak lalu mengangguk. "Aku mau!" Jawabnya.


Perlahan Rama mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu. Gadis itu tampak grogi melihat wajah tampan Rama yang semakin mendekat. Gadis itu perlahan memejamkan matanya, menunggu aksi Rama selanjutnya.


"Stop...!!!" Teriak Maya.


Rama dan gadis itu menoleh ke arah Maya.


"Lu berdua gak atau apa kalo ini perpustakaan?" Makinya.


Rama menarik tangannya dari dinding lalu melipatnya didepan dada. Ia memandang Maya dari atas kepala hingga ujung kakinya.


"Siapa lu? Berani ganggu kesenengan gue!" Bentaknya.


"Eh, sorry ya! Gue sama sekali gak niat ganggu kesenengan lu! Lu aja yang gak tau tempat!" Balas Maya tak kalah sengit. Ia memang sudah kesal sekali dengan tingkah si pembuat onar itu.


"Kampus ini punya bokap gue! Berarti semua tempat disini milik gue! Terserah gue dong mau ngapain!"

__ADS_1


"Eh, gue gak peduli lu anak siapa! Kelakuan lu bikin sakit mata gue, tau!"


"Gak heran sih, Wajah ganteng gue emang bikin mata para cewek-cewek jadi sakit, bahkan buta!" Ucapnya dengan seringaian sinis khasnya.


"Apa ganteng? Lu gak punya kaca apa dirumah? Muka begitu lu bilang ganteng. Rambut lu aja kaya rambut jagung, ganteng darimana?"


Sisil yang samar-samar mendengar suara Maya segera mencari Maya. Ia yakin betul kalau sahabatnya itu sedang berkelahi dengan orang lain. Begitu menemukannya, Sisil langsung memegangi lengan Maya.


"Udah May, jangan diladenin!" Bisik Sisil lalu menarik Maya keluar dari kerumunan mahasiswa yang menyaksikan perdebatannya dengan Rama.


"Eh, anak fakultas mana lu?" bentak Rama kesal. Semua yang menentangnya akan mendapat ganjaran atas perbuatannya.


"Cari aja sendiri!" Sahut Maya tanpa menoleh.


"Gue bakalan nyari lu, tunggu aja pembalasan dari gue!" teriaknya.


***


Maya menyandarkan punggungnya pada kursi belajarnya. perjalanan yang memakan waktu 40 menit serta perseteruannya dengan Rama cukup membuatnya penat.


Ia memutuskan mengambil laptopnya dan membuka aplikasi chat nya. Ada dua pesan yang masuk dari black shadows. Maya segera membukanya.


{Bagaimana pendaftaran kuliahmu?}


{Kamu belum pulang?}


Lama menunggu, tak ada jawaban dari black shadows. Maya memutuskan untuk mandi mendinginkan otaknya yang masih mendidih.


Selang 1 jam, Sebuah balasan masuk dari balck shadows. Ia baru saja online.


{Syukurlah}


Maya kembali duduk di meja belajarnya. Dibiarkannya rambutnya yang masih basah terurai di punggungnya.


{Kamu baru online?}


{Iya, aku baru pulang}


{Pulang darimana?}


{Bekerja}


{Oh.. black, aku boleh bertanya sesuatu?}


{Boleh, tanya aja}

__ADS_1


{ Kamu.. cewek atau cowok?}


{ Kalau cewek kenapa? kalo cowok juga kenapa?}


{ Kalo cewek, kita ketemuan yuk. Kita udah temenan 2 tahun tapi cuma di dunia Maya aja. Bolehkan kalau kita ketemu juga di dunia nyata?}


{Terus, kalau aku cowok kamu gak mau ketemu gitu?}


{Gak gitu juga sih. Tapi kalau kamu cowok, aku butuh waktu aja buat ketemu sama kamu}


{Menurutmu, aku cewek atau cowok?}


{Kalau dari nama akunnya sih kayaknya cowok. Tapi aku kan gak tau kamu cewek atau cowok, belum tentu juga akunnya real. bisa jadi fake kan?}


{Dari gaya tulisanmu aja aku tahu kalau kamu itu cewek. Apalagi nama akunnya white Lily, sudah pasti cewek. Mana ada cowok yang ngasih nama akunnya pake nama-nama bunga}


{Ish.. tinggal jawab aja sih kamu cewek apa cowok?


{Ha.. ha.. ha.. oke.. oke.. aku cowok, puas!}


Maya terdiam. Teman dunia Maya nya itu ternyata seorang pria. Ia bebar-benar seorang pendengar yang baik dan dewasa.


{Boleh tanya lagi gak?}


{Aduh.. aku serasa lagi ujian nih, dikasih pertanyaan melulu. Boleh.. boleh.. apa sih yang enggak buat Lily?"


{Kamu umur berapa?}


{27 tahun}


"Oh.. udah tua juga ya, pantesan aja dewasa" Maya membatin.


{Aku kira kita sepantaran}


{Memang, berapa usiamu?}


{18 tahun}


{Masih kecil ternyata, ha.. ha.. ha..}


{Bukan aku yang masih kecil, tali kamu yang sudah tua ha.. ha.. ha..}


{Wah.. sungkem nih sama om. Masa aku di bilang tua}


{Kalau dibanding sama aku emang kamu lebih tua kan?}

__ADS_1


{Okelah adik kecil, Suka-suka kamu aja deh. Oh iya aku mau mandi dl, udah sore. nanati malem kita lanjut lagi ya} black shadows me-non aktif kan aplikasinya.


Maya senyam senyum sendiri mengingat percakapannya dengan balck shadows. Entah mengapa, black shadows selalu bisa menenangkan hatinya. Rasa kesal akan ulah Rama tiba-tiba lenyap seketika berganti pipi bersemu merah. Haruskah aku menemuinya?


__ADS_2