
Angga mengitari lapangan mencari Maya. Misi dari Rama harus segera dijalankan agar mereka bisa menentukan siapa yang akan jadi pemenang. Angga dan Bayu bertaruh bahwa Rama tidak akan bisa menaklukkan hati Maya. Jika Rama kalah, Rama harus mentraktir mereka selama sebulan.
"Kecubung, di suruh ke kantin sama Rama!" ucap Angga.
"Kenapa ya kak?" Maya penasaran. Baru saja ia bernafas lega seharian rambut jagung tak mengganggunya.
"Mana gue tau. Kan lu musuhnya. Udah buruan kesana, nanti Rama keburu marah lho"
Dengan gusar Maya berjalan meninggalkan lapangan dan menuju kantin. Jika sudah berurusan dengan Rama, pasti ada-ada saja tingkahnya yang menjengkelkan. Entah akan disuruh apa nanti ia di kantin. Kalau cuma di suruh masak atau bersih-bersih kantin sih gak masalah. Kalau disuruh makan makanan yang tidak ia suka bagaimana?
Rama terlihat sedang menyeruput jus jeruknya. Perlahan Maya menghampiri dan berdiri di sampingnya.
"Ada apa kak?"
"Duduk!"
Maya menarik kursi lalu mendudukinya. "Jaketnya tadi saya titipin ke kak Angga. terima kasih sudah meminjamkan jaket. Sudah saya cuci dan setrika juga"
"Mau makan apa?" Tanya Rama.
"Apa?" Dahi Maya berkerut. "Gak salah nih? dia nanya mau makan apa? Jangan-jangan makanan yang mau gue pesen di kasih pencahar atau haremnya di banyakin lagi" Maya membatin.
"Gue bilang mau makan apa? Emang gak denger kuping lu?"
"Terima kasih kak, saya sudah kenyang" Tolak Maya. Daripada jadi apes nantinya.
"Kalau gak mau makan, sana pesan minum atau es krim"
Kerutan di dahi Maya makin bertumpuk. "Jangan-jangan ini orang kesambet" Batinnya.
"Lu mau pesen sendiri apa gue yang mesenin?" Ancamnya.
"Pesen sendiri aja" Jawab Maya cepat. Daripada dipesenin yang aneh-aneh. Akhirnya Maya memesan segelas es kelapa muda.
"Sorry. Kemarin gue udah dorong lu ke kolam renang" Ucapnya terbata. Dalam hidupnya, tak ada kamus untuk meminta maaf. Baru kali ini kata maaf keluar dari mulutnya.
"Jadi kak Rama ngajak aku kesini untuk meminta maaf?"
"Gue tau gue udah keterlaluan sama lu. Lu mau kan maafin gue?"
Maya terdiam. Ia sudah banyak mendengar cerita tentang senior berambut jagung itu. Hal yang sangat mustahil jika Rama meminta maaf padanya. Rencana apa yang sedang ia jalankan? Yang pasti Maya tak boleh terlena dalam permainannya.
"Kok lu diem aja? Gak mau maafin gue?" Rama menahan dongkolnya melihat raut wajah Maya yang melihatnya dengan ekspresi yang begitu menyelidik. Apa aktingnya kurang meyakinkan?
__ADS_1
"Ya.. itu hak lu sih mau maafin gue apa gak. Ya udah.. kalo mau makan lu pesen aja. Nanti biar gue yang bayar. Thanx udah nyuciin jaket gue" Ucap Rama lalu berlalu meninggalkan Maya yang masih terdiam tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
***
"Sial! sial! sial" Umpat Rama. "Itu cewek gak ada ekspresinya sama sekali" Lanjutnya sambil mondar mandir di depan Angga dan Bayu.
"Kan.. kata gue juga apa. Maya itu beda.. gak bakalan bisa lu naklukin dia deh" Ledek Angga.
"Wuih.. kayaknya kita bakalan kenyang selama sebulan nih, Ga" Tambah Bayu.
"Coy.. baru juga 2 jam. Jangan pada kepedean lu berdua. Inget ya, kalo gue menang tugas kampus selama sebulan lu berdua yang ngerjain"
"Beres.. Buktiin aja dulu!"
"Oke! Tunggu aja!" Rama meninggalkan duo sohibnya dengan gusar.
***
Acara ospek hari ketiga di tutup dengan bakti sosial ke panti asuhan dan rumah singgah. Para calon mahasiswa baru di bagi menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok akan di pimpin oleh 3 senior.
Ada 2 hal yang kini meliputi hati Maya. Bahagia karena ia 1 tim dengan Sisil. Sedih karena senior yang membina mereka adalah trio biang kerok.
Maya dan tim mendapat tugas bakti sosial di panti asuhan. Beberapa makanan dan minuman yang sudah di bawa oleh calon mahasiswa di kumpulkan dan bagi -bagi untuk aksi bakti sosial.
Netra Maya berkeliling mencari keberadaan Rama yang sejak masuk ke aula tadi tidak di lihatnya. Kemana dia? Dia gak bikin onar kan? Atau.. jangan-jangan ia tertidur di taman? Ah.. masa bodolah! Lebih tenang jika ia tak ada di sini.
"Bu.. Nita tidak ada di barisan" Seorang gadis kecil menarik-narik baju salah satu pengurus panti.
"Aduh.. jangan-jangan kabur lagi" Desisnya lalu bergegas keluar aula untuk mencarinya.
Maya yang mendengar percakapan itu pun ikut berdiri. Ia akan membantu pengurus untuk mencari keberadaan Nita.
" Biar saya bantu, Bu" Maya berlari menyejajari langkah pengurus panti.
"Terima kasih, dek. Tolong cari di taman belakang, saya akan mencari ke pagar depan"
Maya mengangguk lalu berpencar arah dengan pengurus panti. Ia berlari dengan cepat ke arah taman belakang. Matanya menangkap sosok berambut jagung yang tengah menggandeng seorang gadis kecil. Jangan-jangan itu Nita? Mau di bawa kemana oleh Rama?
Maya mengencangkan larinya. Di hadangnya Rama dengan nafas terengah-engah.
"Mau di bawa kemana anak itu?" Maya memegangi perutnya yang nyeri akibat berlari tadi.
"Ngapain lu disini?" Tanya Rama.
__ADS_1
"Di tanya malah balik nanya. Adik kecil, kamu yang namanya Nita?" Tanya Maya.
"Iya kak"
"Ikut kakak balik ke dalam yuk. Temen-temen udah pada nungguin Nita tuh didalem" Ajak Maya.
"Gak mau, ah. Aku mau ikut kak Rama ketemu ibu" Nita bersembunyi di balik punggung Rama.
"Sama kak Maya aja yuk. Nanti kak Maya anter ketemu sama ibunya Nita"
"Gak ah. Pasti kak Maya bohongin Nita deh"
"Lu masuk aja ke duluan. Nanti Nita gue yang anter ke dalem"
"Tapi pengurus lagi sibuk nyariin nita. Katanya dia suka kabur"
"Lu gak percaya sama gue? Ayo ikut! Takut amat anak orang gue bawa kabur"
"Bukan begitu kak. Tapi pengurus pada panik nyariin nita."
.
"Nita bilang, ia suka liat mamanya berdiri di pager Deket pintu belakang. Dia udah bilang ke pengurus tapi pengurus gak ada yang percaya. Ini gue mau buktiin, omongannya Nita bener apa gak. Kalo lu mau ayo ikut. Kalo gak mau Sono masuk ke dalem!"
Maya tak punya pilihan selain ikut bersama Rama. ia takut terjadi apa-apa pada Nita dengan level kesabaran Rama yang di bawah rata-rata manusia normal pada umumnya.
Ketiganya sudah berdiri di pagar belakang panti asuhan. Nita sibuk mengamati ujung jalan tempat ibunya biasanya berdiri sambil menangis melihat ke arah panti.
Tak lama sesosok wanita lusuh membawa karung berdiri di ujung jalan. Tubuh kurusnya bersandar pada tiang lampu penerang jalan. Sesekali ia menyeka air matanya yang terlanjur jatuh.
"Itu ibu kak" Seru Nita.
"Pegangin Nita!" Suruh Rama. Ia segera melompati pagar pembatas panti dan berlari menghampiri wanita lusuh itu. Tak lama kemudian Rama kembali dengan sebuah boneka kelinci di tangannya.
"Nita sayang, Kata ibu, Nita harus baik-baik disini. Kalau ibu sudah punya uang, ibu akan jemput Nita lagi"
"Kak Rama bohong! Ibu sengaja ninggalin Nita disini kan? Ibu gak sayang lagi sama Nita kan?" Nita terisak. Hatinya terlalu pedih mengingat satu-satunya orang yang ia sayangi justru meninggalkannya sendiri di panti ini.
"Kak Rama gak bohong. Seminggu lagi, ibu jemput Nita sama kak rama. Kak Rama janji!"
"Bener ya!" Mata gadis kecil itu membulat.
Rama mengangguk. "Kak Rama janji!. Minggu depan kak Rama jemput. Sekarang kita masuk lagi ke dalam ya"
__ADS_1
Nita mengangguk. Ia kembali menggenggam tangan Rama. Sedang Maya masih terdiam tak mengerti tentang apa yang dilihatnya.