
Maya menjatuhkan tubuhnya pada sofa. Hari pertama ospek benar-benar menguras emosi dan tenaganya. Untung saja tadi Rama tidak membahas tendangannya didepan senior yang lain. Mungkin.. dia malu jika ketahuan oleh senior yang lainnya. Masa preman kampus kalah sama cewek!
Lepas dari Rama hari ini tak lantas membuat Maya tenang. Masih ada 2 hari yang pastinya di gunakan oleh Rama untuk mengerjainya habis-habisan. Heran deh, terbuat dari apa ya itu orang kok nyebelinnya tingkat dewa.
Maya menarik punggungnya dari sofa dan bergegas masuk ke kamar. Ia ingin segera meluapkan kekesalannya pada black shadows.
{Kak..}
Maya merubah panggilannya saat mengetahui kalau black shadows 9 tahun lebih tua darinya.
{Kak? Tumben?}
{ He.. he.. aku panggil kak aja ya.. biar lebih sopan}
{ Lalu, kamu mau aku panggil apa? adik? atau... sayang?}
{Terserah kakak aja deh..}
{Kalo kamu manggil aku 'kakak' biar lebih sopan, gimana kalo aku manggil kamu 'sayang' biar lebih romantis?}
{ish.. bisa gombal juga ya}
{Bukan gombal.. tapi nyata.. gak tau kenapa aku ngerasa tenang aja kalau ngobrol sama kamu}
{Online darimana kak? dari tempat kerja?}
{ Dari rumah. Ini sudah jam berapa? Masa masih kerja aja}
{Oh, iya ya}
{Gimana ospeknya tadi? seru?}
{Sebenernya.. seru sih.. cuma.. sebel banget sama senior yang satu itu}
{Eh.. jangan sebel-sebel dong.. tar lama-lama suka deh}
{Suka sama orang kaya gitu? Ogah amat! Kaya gak ada cowok lain aja}
{Emang kamu diapain?}
{Gak di apa-apain sih. cuma ngeselin banget orangnya. Ada ya, orang yang modelnya kaya gitu? Sok kegantengan lagi}
{Udah.. cuekin aja. Kamu jangan marah-marah terus! nanti cepet tua lho}
"Maya.. nenek mau ke pasar dulu" teriak nenek didepan pintu kamar Maya.
__ADS_1
"Iya nek"
"Cepet makan, jangan main laptop terus!"
"Iya nek"
Maya kembali mengalihkan wajahnya pada laptop. Padahal baru saja Maya ingin cerita tentang kekesalannya pada Rama. Tapi begitu black muncul, rasa kesalnya hilang semua berganti dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Sebenarnya bukan hanya black yang merasa tenang saat ngobrol dengannya, Maya pun merasakan hal yang sama. Seperti ada ikatan batin di hatinya. Apakah black jodohnya? Maya segera menepuk dahinya sendiri. Darimana ia punya pikiran seperti itu?
{kak.. aku makan dulu ya.. sampai ketemu nanti malam}
{Oke, Bye..}
Maya mematikan laptopnya. Ia keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk makan. Setiap sore neneknya selalu ke pasar membeli sayuran untuk bahan gado-gado. Sejak kakek meninggal, nenek memutuskan untuk berjualan gado-gado sebagai sampingan karena uang pensiun kakek hanya cukup untuk makan selama sebulan. Ditambah yang sekolah Maya yang makin membesar sesuai jenjangnya.
Sebisa mungkin Maya membantu meringankan beban neneknya. Ia mempromosikan gado-gado nenek secara online dan setiap libur Maya yang selalu mengantarkan pesanan gado-gado nenek dengan motor maticnya. Ia berjanji dalam hati, apapun akan ia lakukan demi membahagiakan neneknya.
Awalnya, Maya tak ingin kuliah. Ia ingin fokus bekerja dan menabung untuk uang kuliahnya. Tapi nenek selalu memaksanya untuk kuliah. Nenek bilang rejeki sudah ada yang ngatur jadi tidak perlu khawatir. Sesulit apapun nenek pasti akan mengusahakannya karena Maya adalah satu-satunya amanah yang dititipkan padanya.
Selesai makan, Maya segera mandi dan menyiapkan peralatan untuk ospek besok. Entah masalah apa lagi yang akan dibuat oleh Rama padanya. Ia dengan khusyuk berdoa semoga besok si rambut jagung tidak mengganggunya lagi.
***
Jam berdenting 2 kali. Menunjukkan pukul 2 dini hari. Maya duduk sambil memegangi selimutnya. Mencoba mengatur nafasnya yang naik turun tak beraturan. Ia menyeka keringat yang bercucuran di dahinya. Mimpi itu selalu menemani Maya sepanjang hidupnya. Menyisakan sesak dan air mata untuknya. Kematian orang tuanya selalu terbayang di pelupuk matanya. Lalu, bagaiman ia bisa melupakannya?
{Kak..}
{Kamu bangun lagi?}
{Iya}
{Mimpi lagi?}
{Iya}
{Bukankah sudah ku bilang untuk melupakannya, itu bukan salahmu}
{Kalau bukan salahku, kenapa tiap malam mimpi itu menghantuiku?}
{Karena kamu belum mengikhlaskan kejadian itu}
{Bagaimana aku bisa ikhlas saat melihat orang tuaku meninggal dengan tragis didepan mataku}
{ Tapi itu bukan salahmu. itu murni kecelakaan}
__ADS_1
{Andai saja aku tidak merengek minta camping, mungkin mereka masih ada bersamaku sekarang}
{Jangan bicarakan itu lagi! Kamu cuma trauma saja makanya bayangan kecelakaan orang tuamu terbayang terus diotak mu}
{Terima kasih karena selalu memberiku support. Oh iya, aku mau tanya. Kenapa tiap jam segini kakak online?}
{Kok tanya kenapa? ya buat nungguin kamu lah. Udah 2 tahun ini aku hidup kaya vampir. siangnya tidur, malemnya begadang nungguin kamu}
{Maaf ya kak, aku jadi ngerepotin ya?}
{Gak kok. Aku seneng aja bisa jadi bagian dari kamu. Tidur lagi sana! Biar besok gak kesiangan bangunnya!}
{Oke.. aku tidur dulu ya}
{Selamat malam sayang.. semoga mimpi indah}
Maya menutup laptopnya dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Ia akan segera mengatur pertemuannya dengan black shadows untuk memastikan hubungan apa yang akan mereka jalani setelah bertemu nanti. Ah.. sepertinya Maya akan mimpi indah malam ini.
***
Maya menarik nafas dalam didepan pagar kampus. Ia menyiapkan kekuatan dan kesabaran ekstra untuk memulai hari ini. Sisil berlari-lari kecil menghampirinya.
"Di apain lu kemarin sama kak Rama?" Tanya Sisil sambil berjalan beriringan dengan Maya.
"Gue disuruh nyari cacing yang udah resmi nikah, gila kan tuh! orang aja banyak yang nikah siri, gue malah disuruh nyari cacing yang udah nikah coba, harus ada buku nikahnya lagi"
"Apa?" Sisil tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Maya. "Gila.. niat banget itu dia ngerjain lu"Lanjutnya tanpa menghentikan tawanya.
"Tau deh hari ini ide gila apa lagi yang ada di otaknya"
"Sayang banget ya, padahal kak Rama itu ganteng lho"
"Aduh sisil, please! ganteng darimana? orang ngeselin gitu kok dibilang ganteng"
"Kaya gitu ya ganteng lah, Maya! lu sih, buku Mulu yang di baca. Sekali-kali nyari cowok apa"
"gue udah punya tuh"
"Serius lu?"
"Black shadows.."
"Halah.. itu mah dunia maya. Yang dunia nyata dong cari"
"Moga-moga dari dunia Maya jadi dunia nyata"
__ADS_1
Maya dan Sisil segera berlari ke lapangan begitu sirine berbunyi. Mereka kembali ke barisan awal saat ospek. Maya memandangi satu persatu seniornya yang sudah berdiri didepan para calon mahasiswa baru. Tak ada di rambut jagung disana!
"Syukurlah... terima kasih Tuhan karena sudah mengabulkan doaku" Batinnya kegirangan.