
Panas matahari terasa amat menyengat. Beberapa kali Maya mengusap keringat yang menetes dari dahinya. Ia masih harus membersihkan taman dengan tangannya ditengah teriknya panas matahari. Tapi menurutnya lebih baik daripada harus berhadapan dengan rambut jagung.
"Kecubung, Kamu pindah ke kolam renang! Bersihkan kamar mandinya!" Perintah Angga, sang ketua panitia.
"Baik kak"
Maya meninggalkan taman. Dengan riang ia berjalan ke kolam renang. Hari ini keberuntungan sepertinya berpihak padanya. Sedang panas-panasnya di luar, ia malah di pindahkan ke kolam renang dalam ruangan yang adem.
Kolam renang hanya di gunakan jika anak fakultas pendidikan jurusan olah raga melakukan praktek atau pendalaman materi. Sesekali kolam renang di pakai untuk lomba antar kampus. Selebihnya di biarkan kosong tanpa di gunakan.
Maya membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Keadaannya begitu sunyi dan lembab. Tiba-tiba bulu kuduk Maya berdiri. Perasaan takut mulai menyergapnya. Sendirian di tempat sesunyi ini membuat nyalinya menciut. Bagaimana nanti kalau ada hantu yang tiba-tiba muncul dari dalam air?
Maya melanjutkan langkahnya. Ia harus membersihkan kamar mandi yang ada di belakang kolam renang. Maya merasakan ada pergerakan dari bawah air. Karena penasaran, Maya menghentikan langkahnya dan melongok ke kolam renang. Tiba-tiba sesosok pria muncul dari dasar dan naik ke permukaan kolam. Maya berteriak dengan keras sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena kaget.
Pria itu mengusap wajahnya yang basah. Melotot ke arah gadis yang berteriak histeris sambil menutup wajah dengan telapak tangan didepannya.
"Heh! Berisik!" teriaknya.
Maya menghentikan teriakannya dan membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya. Rasanya ia kenal dengan suara yang tak asing di telinganya itu. Benar saja, si rambut jagung sedang duduk ditepi kolam sambil melotot ke arahnya.
"Kirain setan, ternyata orang" Cibir Maya.
"Mana ada setan ganteng kaya gue! Ngapain lu disini? sengaja mau ngintipin gue berenang ya?"
"Ih.. ge er banget jadi orang. Gue disuruh kak Angga bersihin kamar mandi kolam renang. Siapa yang tau kalo ada makhluk jadi-jadian didalem kolam"
"Eh anak baru, gue belum selesai bikin perhitungan sama lu ya. Lu liat nih, kaki gue sampe biru lu tendang kemarin. Ganti rugi!"
"Ganti rugi apanya? jadi cowok cengeng banget sih. Baru biru sedikit aja udah nangis"
__ADS_1
"Eh kecubung, lu tau gak apa yang bikin gue benci banget sama lu? Karena lu satu-satunya cewek yang berani ngelawan gue! lu tau kan gue siapa?"
"Tau, anak pemilik universitas kan? Sayang banget ya, gak mencontohkan yang baik buat mahasiswa lainnya"
Rama segera berdiri. Baginya, Maya sudah cukup keterlaluan. Ia mendorong Maya hingga masuk ke dalam kolam renang. Maya terlihat berusaha naik ke permukaan tapi usahanya sia-sia. Maya memang tidak bisa berenang dan tercebur ke dalam kolam sedalam 2 meter.
Rama tertawa dengan puasnya melihat Maya menggelepar didalam kolam. Tawanya terhenti saat tak lagi melihat usaha Maya naik ke atas permukaan. Sadar Maya tidak bisa berenang, Rama segera menceburkan diri ke dalam kolam. Ia segera meraih tubuh Maya dan membawanya ke permukaan kolam.
Maya berpegangan erat pada tepi kolam sambil terbatuk-batuk. Rama membantunya naik ke atas. Jantung Maya berdetak kencang tak beraturan. Ia memeluk lututnya dengan erat teringat kejadian yang baru saja menimpanya.
"Lu lahir jaman purba? Hari gini gak bisa berenang! Ngapain aja lu selama ini?"
Maya menghiraukan ucapan Rama. Pergi secepatnya dari tempat ini adalah pilihan terbaik untuknya. Berlama-lama dengan Rama hanya akan membuatnya lebih stress. Bahkan ia sama sekali tidak meminta maaf atas perbuatan yang baru saja ia lakukan. Malah memakinya karena tidak bisa berenang.
Rama menatap punggung gadis yang berjalan terseok menuju pintu kolam renang. Ia menyadari bahwa kemeja putih yang dikenakannya basah hingga membuat pakaian dalamnya terlihat. Rama segera mengejarnya dan menutupkan handuk pada punggungnya.
"Lu mau ke lapangan pake baju basah begitu?"
"Gue sih gak peduli. Gue cuma mau bilang, itu pakaian dalem lu keliatan. Emang lu gak malu di liatin sama cowok-cowok yang lain?"
Maya menghentikan langkahnya. Dipandangnya kemeja putih yang di pakainya. Ya Tuhan, Bra hitamnya terlihat padahal ia sudah melapisinya dengan kaos dalam berwarna putih. Karena basah, kemeja dan kaos dalamnya menjadi transparan. Maya mengeratkan handuk yang tersampir di pundaknya.
"Kalau mau lu boleh pake kemeja putih gue. Itu juga kalo mau, kalo gak mau ya gak apa-apa"
"Sini bajunya! Ini semua gara-gara lu. Hampir aja gue mati tenggelam" Tak terasa bening meleleh dari pelupuk matanya. Hampir saja ia mengira ia akan menyusul orang tuanya ke alam baka.
Rama melemparkan kemeja putih yang di ambil dari tasnya. Ia juga meletakkan jaketnya di atas bangku.
"Lu pake tuh jaket. Biarpun lu udah ganti baju, Daleman lu tetep basah nanti baju lu juga ikut basah lagi. Minimal lu gak kedinginan selama ospek nanti"
__ADS_1
Rama mengambil tas dan pergi meninggalkan Maya yang masih mematung ditepi kolam.
***
Rama menghampiri Angga di ruang senat. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Artinya para calon mahasiswa sedang istirahat untuk makan dan beribadah.
"Lu yang nyuruh kecubung bersihin kamar mandi kolam renang?"
"Iya, kenapa bos?"
"Kan udah gue bilang. Kalau gue lagi di kolam renang jangan ada yang masuk ke dalem"
"Eh.. sorry bos. Gue gak tahu kalo lu di kolam renang. Gue kira lu gak dateng tadi"
"Gue ketiduran di kolam renang"
"Lagi, idup kok kaya kalong sih. Malem begadang, giliran siang molor"
"Terserah gue lah. Idup-idup gue! Nanti kecubung pake jaket gue. jangan ada yang hukum! Bilangin ke semua panitia"
"Kok bisa? lu apain itu anak?"
"Gue ceburin ke kolam. Bajunya basah kuyub"
"Sadis lu, kecubung cantik gitu malah di ceburin. Anaknya juga kalem kok"
"Kalem? kaki gue di tendang sampe biru lu bilang kalem?"
"Apa? kecubung nendang kaki lu? nyalinya keren juga tuh cewek"
__ADS_1
"Berisik lu!"
Rama keceplosan pada sahabatnya itu. Ia segera menutup wajahnya dengan topi yang dipakainya. Seumur hidup tak ada wanita yang berani padanya. Ini pertama kalinya ada wanita yang berani menendangnya.