
Maya kembali memincingkan matanya memastikan sosok yang tengah duduk di pojok perpustakaan adalah Rama. Ada yang berubah dari penampilannya. Rambutnya sudah di cat warna hitam dan tanpa jambul rambut jagungnya. Bajunya pun rapi dan tanpa aksesoris rantai yang biasa memenuhi leher dan tangannya. Ia tampak khusyuk membolak-balik halaman demi halaman buku yang dibacanya. Penasaran dengan buku yang dibacanya, Maya perlahan mendekat.
"Oh.. dia mau menyusun skripsi" Maya membatin begitu melihat judul buku yang dibacanya.
"Ngapain ngeliatin gue begitu? belum pernah liat cowok ganteng baca buku" Sentaknya.
"Ish.. ge er banget" gumam Maya.
"Mau kemana lu?" Tanya Rama begitu melihat Maya beranjak dari tempatnya berdiri.
"Mau duduk disana"
"Temenin gue disini!"
"Ogah ah!"
"Mau temenin gue disini atau gue bakalan bikin heboh di perpustakaan nih!"
Dahi Maya berkerut heran dengan kelakuan konyol dan super kekanak-kanakan Rama. "Sana bikin heboh. Gak takut tuh!" Sahutnya masa bodo. Untuk apa takut pada ancaman Rama.
Tanpa aba-aba Rama langsung berdiri. "Woy.. penghuni perpus.. gue mau bikin pengumuman.. gue itung sampe tiga semuanya harus kumpul disini" Teriaknya.
Perlahan para mahasiswa yang tengah sibuk membaca berdatangan menghampiri Rama, bahkan penjaga perpus pun ikut berkumpul. Maya lupa kalau Rama adalah anak pemilik universitas yang ditakuti oleh hampir seluruh warga kampus.
"Kak Rama apa-apaan sih?" Maya berusaha melepaskan cengkraman Rama di pergelangan tangannya.
"Lu dengerin semuanya ya! Maya sekarang pacar gue! Gak ada cowok yang boleh deketin dia selain gue! Kalo ada yang ketauan deketin dia, gue bakalan bikin dia menyesal seumur hidup"
"Bohong... Bohong... jangan percaya!" Maya mencoba menjelaskan.
"Paham semua?" Teriak Rama.
"Paham kak" jawab mereka serentak lalu masing-masing kembali ke tempat semula.
__ADS_1
"Lu tau kan resikonya apa kalo berani ngelawan gue?" Rama melepaskan cengkeramannya.
Maya tak bereaksi. Nafasnya memburu seolah ingin memakan hidup-hidup Rama saat itu juga.
"Gue gak minta banyak, gue cuma minta lu duduk disitu temenin gue! Emang lu gak ngeliat kalo semua pada takut liat gue disini dan menghindari gue. Padahal gue cuma pengen baca buku disini. Gue kira lu beda sama mereka, ngeliat lu pelan-pelan deketin gue. Ternyata gue salah, lu sama aja kaya mereka. Mandang gue cuma sebelah mata!"
Deg! Maya tertegun. Netranya berkeliling menyusuri pojok ruang baca perpustakaan. Benar, hanya ada Rama sendiri disini, ditempat seluas ini. Awalnya Maya mengira Rama yang mengusir para mahasiswa agar tidak mengganggunya. Karena selain Angga dan Bayu, tak ada lagi yang berani mendekatinya. Ternyata, mereka takut melihat Rama dan memutuskan untuk menjauh darinya.
"Ngapain lu masih berdiri disitu? Sana kalo pengen pergi!" Bentaknya lalu kembali fokus pada buku yang dibacanya.
Maya menarik nafas pelan. Ia segera duduk di dekat Rama dan segera membuka buku yang di pinjamnya. Rama perlahan melirik dengan ujung matanya. Ia menyunggingkan senyum penuh kemenangan "Satu kosong" Batinnya.
***
Maya mendengus kesal. Ia menoleh lagi ke sebelah kanan dan kirinya. Memandangi para mahasiswa yang sibuk bergunjing tentangnya di kantin. Suara mereka terdengar begitu jelas di telinganya.
"Udah.. lu cuekin aja!" Sisil mencolek hidung mancung Maya yang celingukan sejak duduk di kantin kampus.
"Ngeselin banget ya mereka-mereka itu. Bisik-bisik kaya pake toa, sampe budek kuping gue. Ini semua gara-gara si rambut jagung yang asal jeplak aja mulutnya," Gerutunya.
"Gimana gak heboh, orang dia manggilin semua orang yang ada di perpus"
"Akhirnya lu nemenin dia dong tadi" Sisil tersenyum nakal sambil menaik-naikan kedua alisnya.
"Iya. Baca doang ya, jangan mikir yang aneh-aneh lu!"
"Menurut gue sih, Rama ganteng kok emang sih rada konyol anaknya. Tapi.. kenapa setua itu belum lulus juga ya?"
"Ganteng darimana sih? kelakuan gak jelas gitu dibilang ganteng. Yang kayak gitu gak usah ditanyain lagi, Sil. udah jelas dia gak lulus-lulus karna kebanyakan main. Bisa jadi bodoh juga ha..ha.. ha.." Maya tertawa dengan renyahnya.
"Ish.. ya ganteng mukanya lah. Di foto yang beredar di grup kampus tadi kalo di lihat-lihat dengan seksama, penampilannya jauh banget lho dari kesan arogannya Rama. Lu gak merhatiin dia sih, dia cool banget lho kalo lagi baca buku. yang terpenting nih ya, rambut jagung kesayangan lu udah gak nemplok lagi di jambulnya dia"
Maya tak bereaksi. Ia masih asyik melilitkan pasta pada garpunya lalu memasukkan suapan demi suapan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Kelihatannya dia naksir berat tuh sama lu. Kemarin Angga nyamperin gue. dia nanya kriteria cowok lu kaya apa. Gue bilang aja apa adanya. Nah, lu lihat kan, dia langsung berubah total hari ini"
"Bodo amat ah. Males gue ngomongin Rama. Gara-gara dia gue jadi bahan ghibahan baru di kampus. Oh iya, jangan lupa temenin gue ketemu sama black shadows Minggu depan ya"
"Yah.. dia ganti topik jadi black shadows" Sisil merubah mimik mukanya menjadi cemberut.
"Ish.. mau gak? kalo gak mau gue ajak nenek gue nih" Ancamnya.
"Sono gih dah bawa nenek lu, paling di ulek pala lu pake ulekan gado-gado"
Keduanya tertawa. Tak dihiraukannya lagi cibiran-cibiran pedas para mahasiswa yang tertuju ke arahnya. Bagi Maya, kedatangannya ke kampus adalah untuk belajar. Dan ia tak akan menyia-nyiakan beasiswa yang mati-matian di raihnya. Persetan dengan Rama dan kekonyolannya. Ia masih punya Sisil, nenek dan black shadows yang tiap hari menemani hari-hatinya.
***
"Thanks bro" Rama menepuk-nepuk pundak Angga pelan.
"Enak aja lu pake thanks doang. Di dunia ini gak ada yang gratis bro"
"Ya elah.. sama temen sendiri juga"
"Bonus gue tambahin lah"
"Gampang.. nanti kalo presentasi lu lancar plus dapet kontraknya gue dobelin"
"Yah.. kerja dua kali dong gue. Nyari berita dari Sisil itu susah bro. Gue Ampe ngajak dia makan 2 kali baru dia mau ngasih tau kriteria cowoknya Maya. Abis duit gue langsung"
"Mana billnya? biar gue transfer"
"Nah.. gitu dong bosss! Besok gue deketin lagi si Sisil. Biar tambah lengkap informasinya. Tapi, bill lu yang nanggung ya"
"Beres.. asal jangan korup aja lu!"
"Ya elah.. sama temen sendiri juga"
__ADS_1
"Kalo urusannya duit, kaga ada temen-temenan bro. Masing-masing"
Rama merebahkan tubuhnya di sofa. Baginya, hari ini adalah awal baginya dan Maya. Kita lihat saja, siapa yang akan bertekuk lutut duluan. Di kepala Rama di penuhi trik-trik terbaru yang sudah dirancangnya. Trik yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya untuk mendekati para gadis-gadis dikampusnya.