
Mentari terpaksa menggantikan sahabatnya yang bernama Jessica melakukan kencan dengan pria yang akan dijodohkan dengan sahabatnya.
Bukan tanpa sebab Mentari melakukannya, dia diiming-imingi akan mendapatkan satu unit motor sport, jika berhasil menggagalkan perjodohan tersebut.
Untuk itu, Mentari melakukan berbagai cara demi menggagalkan kencannya, agar perjodohan sahabatnya gagal total. Namun sialnya, apa yang direncanakannya tidak membuahkan hasil, dia malah terjerat dalam permainannya sendiri.
"Tolong jangan pecat saya pak, saya ngaku salah sudah membohongi anda"--- Mentari Putri Anjani.
"Aku tidak akan memecatmu. Tapi, dengan satu syarat, kamu harus menjadi kekasih kontrakku! bagaimana?"--- Arsakha Prasetya Kamoga.
Dengan mantap Mentari mengangguk cepat mengiyakan ucapan Arsakha tanpa harus berpikir dua kali.
Bagaimana nasib Mentari setelah menjadi kekasih kontrak CEO?
*
*
*
Seorang gadis berambut sebahu dengan tubuh mungil yang dibalut kemeja krem dipadukan celana kain hitam tampak berjalan tergesa-gesa memasuki kafe kekinian yang terletak di pusat kota Jakarta.
Pandangannya diedarkan mencari sosok yang dikenalinya, hingga sosok gadis cantik berambut panjang dengan pakaian modis melambaikan tangannya kearahnya.
"Mentari!"
"Jessica!"
Teriaknya bersamaan ketika bertemu pandang, membuat beberapa pengunjung kafe menoleh kearah mereka. Karena ulah keduanya mampu menjadi pusat perhatian para pengunjung kafe terutama kaum pria.
"Oh Mentari ku sayang, kemarilah. Aku sangat merindukanmu" ucap gadis cantik berpakaian modis sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk sahabatnya.
Gadis yang disapa Mentari langsung berhambur memeluk sahabatnya yang bernama Jessica Anastasya Ghifari. Umur keduanya tak jauh beda, cuma beda bulan, tapi sama-sama berumur 23 tahun.
Mentari sosok gadis ceria dan penyayang. Dia berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya bernama Masrul berprofesi sebagai tukang pijat dan petani cabai, sedangkan Ibunya bernama Rosita hanya ibu rumah tangga yang mengurus pekerjaan rumah dan terkadang membantu sang suami mengurus ladang cabai yang letaknya hanya di belakang rumahnya.
Mentari bersyukur memiliki orang tua yang sangat menyayanginya dan merawatnya hingga tumbuh dewasa. Selain itu, kedua orangtuanya pekerja keras. Mereka bekerja banting tulang untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya yang bisa disebut pas-pasan.
Untungnya Mentari masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya sampai tingkat S1 berkat beasiswa yang didapatkannya dari pemerintah.
__ADS_1
Jika tidak memiliki otak encer, mungkin dia tidak bisa melanjutkan pendidikannya sampai di perguruan tinggi, mengingat dia hanya keluarga sederhana dengan ekonomi pas-pasan.
Hingga Mentari berhasil menyelesaikan kuliahnya hanya tiga tahun lima bulan dan mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi dan menjadi lulusan terbaik di kampusnya.
Berkat kemampuan yang dimilikinya, saat ini Mentari bekerja di salah satu perusahaan swasta di kota Jakarta, dia begitu bangga bisa bekerja di perusahaan Sentosa Group, dimana seleksi masuk ke perusahaan Sentosa Group sangat ketat dan begitu banyak pesaing yang mengandalkan orang dalam. Untungnya dia lolos murni setelah melewati berbagai tahapan seleksi penerimaan karyawan di perusahaan tersebut.
Kedua orang tuanya sangat bangga putrinya bekerja kantoran. Mentari sangat bersyukur kepada Tuhan atas pencapaian yang didapatkannya. Dia berjanji akan merubah perekonomian keluarganya.
Tidak hanya itu, Mentari memiliki adik laki-laki berumur 13 tahun bernama Rizky Ramadhan. Adiknya sudah bersekolah di sekolah menengah pertama tahun ini. Mentari sangat menyayangi adiknya dan berjanji akan menyekolahkan adiknya sampai bergelar sarjana seperti dirinya.
Berbeda halnya dengan Jessica yang berasal dari keluarga berada bisa dikatakan keluarga konglomerat. Perusahaan ayahnya tersebar di seluruh Indonesia bahkan di Asia.
Walaupun Jessica berasal dari keluarga berada, dia tetap rendah hati dan selalu membantu sahabatnya jika membutuhkan.
Jessica mengganggap Mentari sudah seperti saudara kandungnya. Sehingga saat mendapatkan masalah, dia larinya ke Mentari yang merupakan sosok ibu perinya dan mampu menyelesaikan setiap masalahnya.
"Aku juga sangat merindukanmu Jecci? aku pikir kamu tidak akan balik ke Jakarta" ujar Mentari sembari melepaskan pelukannya. Pasalnya sahabatnya itu sudah menetap di luar negeri sudah hampir dua tahun lamanya setelah wisuda.
Mentari dan Jessica bersahabat dari SD sampai detik ini, bersekolah di tempat yang sama begitupun berkuliah di perguruan tinggi yang sama pula. Mereka tidak pernah terpisahkan bagaikan sendal jepit, kemana-mana terus bersama.
"No no, aku lebih suka menetap di sini dibandingkan menetap di luar negeri. Makanan disini enak-enak, tentu aku lebih betah tinggal di kota kelahiranku" ucap Jessica sembari menarik kursi untuk diduduki oleh sahabatnya. "Silahkan duduk ibu peri" tambah Jessica sambil tersenyum manis.
Mentari sudah tahu betul sifat asli Jessica. Jika mendapatkan masalah pasti akan datang kepadanya. Jadi sudah tak heran lagi jika sahabatnya itu mengajaknya ketemuan di saat jam pulang kerja seperti ini.
Jessica bergerak duduk di kursi berhadapan dengan Mentari, lalu menopang dagu dengan wajah sendu.
"Apalagi masalahmu?" tanya Mentari lalu menyeruput jus Alpukat yang sudah dipesankan untuknya dengan begitu rakusnya, maklum tenggorokannya terasa kering yang sempat terjebak macet di jalan sebelum akhirnya tiba di kafe tersebut.
"Habiskan dulu minumanmu, Tar. Aku tidak ingin kamu sampai shock mendengar masalahku" ujar Jessica.
Sontak Mentari langsung menyimpan kembali gelas di tangannya di atas meja dan kembali menatap kearah Jessica.
"Aku jadi penasaran, ayo ceritakan." Mentari menyilangkan kedua tangannya sembari menatap Jessica dengan mode serius.
Perlahan Jessica mengulurkan tangannya dan langsung memegang lengan Mentari layaknya anak kecil yang sedang merengek kepada ibunya.
"Mentari, bantu aku, orang tuaku sedang mengatur perjodohanku dengan seorang pria yang sama sekali tidak aku kenal" pinta Jessica sambil memasang wajah sendu.
"Orang tuaku dan orang tua pria yang akan dijodohkan denganku mulai mengatur jadwal kencan kami. Dan aku sungguh tidak ingin dijodohkan, Mentari. Hanya kamu satu-satunya harapanku saat ini. Kamulah orang yang bisa ku andalkan untuk menggagalkan perjodohanku, bantu aku Mentari, please!!!" tambah Jessica merengek persis anak kecil di depan Mentari.
__ADS_1
Mentari hanya mampu melongo lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar dan mulai angkat bicara.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Mentari yang mampu mencerna kata-kata sahabatnya.
"Kamu harus menggantikanku menghadiri kencan pertamaku, bisa dikatakan sebuah kencan buta antara aku dengan pria itu, tolong ya...." ucap Jessica memohon-mohon kepada sahabatnya.
Mentari membulatkan kedua matanya mendengar ucapan Jessica. Dia lantas melepaskan tangan Jessica yang masih setia memeganginya, seolah akan terus menahannya.
"Maaf, aku tidak bisa Jecci. Turuti saja keinginan orang tuamu, terima perjodohannya, bereskan" ucap Mentari dengan entengnya, menolak halus keinginan sahabatnya.
"Tapi, aku sudah memiliki kekasih, Mentari. Bahkan aku sangat mencintai kekasihku" ujar Jessica menunduk sembari meremas kedua tangannya di bawah meja.
Dia terpaksa berbohong kepada sahabatnya bahwa sudah memiliki kekasih, tapi kenyataannya dia masih mengincar sosok pria yang menjadi cinta pertamanya saat masih di bangku sekolah sampai detik ini.
"Kemana lagi aku harus meminta tolong, Mentari. Aku janji akan membayarmu mahal, jika kamu berhasil menggagalkan perjodohanku. Tolong terima tawaranku, Mentari, ibu peri ku" ucapnya memohon-mohon.
"Aku tidak...."
Mentari tidak melanjutkan ucapannya karena Jessica kembali memotong ucapannya.
"Tolong aku Mentari, kali ini saja. Aku janji akan memberikan apapun yang kamu minta. Kamu hanya perlu menggantikanku menghadiri kencan itu lalu gagalkan kencannya, otomatis perjodohanku pasti batal" ucap Jessica.
Mentari memilih diam seribu bahasa, sejujurnya dia pun kasihan kepada sahabatnya. Namun tidak mungkin melakukan hal seperti itu.
"Aku janji akan menghadiahkanmu motor sport yang kamu impikan, asalkan kamu berhasil menggagalkan perjodohanku. Ingat Mentari, tawaranku hanya berlaku sekali saja" ucap Jessica tidak kenal lelah membujuk sahabatnya.
Seketika Mentari langsung melebarkan kedua matanya mendengar kata 'motor sport'. Motor yang diimpikannya selama ini.
"Bagaimana Mentari?" ucap Jessica penuh harap.
"Aku menerima tawaranmu." ucap Mentari dengan entengnya.
*
*
*
Assalamualaikum teman-teman.
__ADS_1
Selamat datang kembali di cerita terbaru author. Semoga kalian suka 🤗