
Tampak Mentari pura-pura sibuk mengetik di atas papan keyboard, lebih tepatnya fokus pada komputernya ketika orang yang sangat disegani semua karyawan melangkah penuh wibawa memasuki ruangan divisi keuangan.
"Pak Arsakha!" gumam Bu Dessy terkejut melihat sang CEO berada di ruangannya.
Bu Dessy lekas bangkit berdiri dari kursinya, kemudian bergerak cepat memberi kode-kode kepada bawahannya agar memberikan hormat kepada sang CEO.
Mentari begitu gugup plus takut berdiri di belakang Bu Dessy dan ketiga rekannya. Mereka berlima kompak membungkukkan badannya menyambut sang CEO masuk ke ruangan divisi keuangan.
"Kumpulkan laporan keuangan bulan yang lalu dan segera bawa ke ruanganku!" ucap Arsakha dengan tegasnya.
"Baik Pak!" sahut Bu Dessy dengan hormat. Wanita berusia empat puluh tahunan itu begitu serius sembari mencatat hal penting yang disampaikan oleh atasannya.
Sementara itu, diam-diam Mentari melirik kearah Arsakha yang terlihat serius mengobrol dengan Bu Dessy. Hanya saja Mentari tidak begitu memperhatikan yang diucapkan oleh Arsakha karena tengah memikirkan kembali rencana yang harus dipersiapkan untuk menghadiri kencan yang kedua kalinya.
Kenapa otakku tidak bisa berpikir jernih!. Oh Tuhan, terlalu banyak rintangan yang harus kuhadapi untuk mendapatkan salah satu benda impianku. Tolong mudahkanlah urusanku. Mungkin seperti ini nasibku, seharusnya saat ini aku sudah memiliki motor sport. Tapi,...huhuhuuuu belum kesampaian. Batin Mentari merana.
Arsakha mengalihkan pandangannya kearah Mentari dengan tatapan datar memindai wajah gadis yang terlihat bengong.
"Hei kamu! bawa semua laporan keruanganku!" perintah Arsakha dengan tatapan tajam sambil menunjuk kearah Mentari.
Mentari yang masih bengong sama sekali tidak mendengar ucapan Arsakha. Refleks Gita menyikut lengan Mentari untuk menyadarkan kembali rekannya yang tampak bengong.
"Awww....Gita! sakit tau!" gerutu Mentari sambil mengusap lengannya.
Akan tetapi, dia terlonjat kaget melihat semua orang menatap kearahnya, termasuk Arsakha yang sudah melipat lengannya di depan dada.
"Apa kamu paham dengan ucapanku?" tanya Arsakha dengan tatapan tajam.
Sontak saja Mentari langsung menundukkan pandangannya dan merasa bingung dengan ucapan yang dilontarkan oleh atasannya.
Ya ampun, apa maksudnya ya? sebaiknya aku iyakan saja yang diucapkan oleh pak Arsakha. Batin Mentari.
Tak ada jawaban yang diberikan oleh Mentari, membuat Bu Dessy, Bagus, Gita dan Susan menjadi panik melihat tingkah Mentari. Karena hal itu bisa saja mendatangkan bencana bagi mereka.
"Iya pak, saya sudah paham!" ucap Mentari mantap.
Arsakha hanya mampu melirik sekilas wajah Mentari sebelum melangkah keluar dari ruangan tersebut diikuti oleh sekretaris dan dua bawahannya.
__ADS_1
Setelah memastikan sang CEO keluar dari ruangan divisi keuangan, barulah mereka bisa bernafas dengan leluasa nya.
"Mentari! kamu ada masalah? aku lihat-lihat dan terawang dari dekat gelagat mu sangat aneh, sepertinya kamu memiliki masalah deh!. Apa kamu sedang PMS? atau jangan-jangan kamu sedang putus cinta?" ucap Susan dengan tebakannya.
Mentari hanya menggelengkan kepalanya bahwa tebakan Susan salah.
"Banyak cicilan ya" tebak Gita dan Mentari kembali menggelengkan kepalanya.
"Ditinggal nikah kagak!" sahut Pak Bagus karena nasibnya selalu saja ditinggal nikah oleh para mantannya terdahulu.
"Semua tebakan kalian salah, aku baik-baik saja kok." ucap Mentari lalu mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya.
"Mentari, Gita, bawa semua laporan ini keruangan pak Arsakha." perintah Bu Dessy.
"Baik Bu" ucap Mentari dan Gita dengan kompaknya. Kemudian mereka membawa laporan yang diminta oleh sang CEO.
Pada saat mereka akan mengetuk pintu ruangan sang CEO, tiba-tiba saja pintu terbuka lebar membuat Mentari dan Gita terlonjat kaget.
Apalagi Mentari hampir saja mengetuk tubuh tegak sang CEO. Refleks dia segera menurunkan sebelah tangannya lalu membungkukkan setengah badannya di hadapan sang CEO, karena merasa hampir saja menggali liang lahatnya sendiri.
"Baik pak" sahut Mentari dan Gita secara bersamaan.
Pak Arsakha mau keluar? kira-kira dia akan pergi kemana ya?. Batin Mentari yang mulai bertanya-tanya dalam benaknya.
Mereka segera memberi jalan sang CEO saat melangkah melewatinya. Lagi-lagi Mentari menundukkan pandangannya dan tak berani bertemu pandang dengan CEO nya yang terkenal dingin dan perfeksionis.
"Siapkan mobil untukku, aku tidak ingin terlambat datang dalam kencanku!" ucap Arsakha dengan tegasnya. Dia bahkan sengaja meninggikan suaranya agar terdengar oleh kedua karyawannya.
Apa! ak-aku tidak salah dengar kan! Pak Arsakha pergi untuk berkencan, itu artinya....OMG!!!. Batin Mentari yang sudah kesulitan menelan ludahnya.
Lantas Robin langsung mengiyakan ucapan atasannya dan tak lupa mengintruksikan kembali kepada kedua karyawan wanita yang tak lain adalah Mentari dan Gita, perihal pekerjaan tambahan yang harus mereka kerjakan.
"Pak Arsakha meminta kalian untuk merevisi ulang laporan keuangan bulan kemarin, karena masih banyak yang harus direvisi dan dari keseluruhan totalnya sama sekali tak sesuai. Jadi kalian harus selesaikan pekerjaan tersebut hari ini juga!." ucap Robin dengan tegasnya. Setelah itu, pria paruh baya itu segera melanjutkan langkahnya mengikuti langkah kaki atasannya sekaligus tuan mudanya.
"Tapi pak...." Mentari mencoba melontarkan kata-kata protes, namun sayangnya Robin keburu pergi menyusul Pak Arsakha yang sudah masuk ke dalam lift.
"Pak Robin, tunggu sebentar, pak!" teriak Mentari sambil berlari kecil, namun sayang seribu sayang lift sudah tertutup rapat dan nasib Mentari sudah terombang-ambing layaknya tengah berada di lautan lepas.
__ADS_1
"Aaahh....apa yang harus aku lakukan? pak Arsakha mau berkencan. Sementara aku....Oh Tuhan, kenapa menjadi kacau begini sih. Bagaimana ini, aku semakin pusing dengan semua ini!. Lagian Jecci tidak mengatakan bahwa jadwal kencannya sekarang" gumam Mentari lalu mengusap wajahnya dengan gusarnya.
Dia tidak habis pikir CEO nya begitu cepat bergerak mengatur jadwal kencan ronde kedua mereka.
"Mentari, ayo kita selesaikan pekerjaan yang diminta oleh Pak Arsakha" ucap Gita dan Mentari terlihat aneh memukuli kepalanya.
"Hei Mentari, kenapa kamu terus memukuli kepalamu?" tanya Gita bingung.
"Kepalaku sakit dan aku semakin pusing dengan masalah yang sedang kuhadapi" cercos Mentari dengan lugasnya. Namun setelahnya dia baru menyadari ucapannya dan langsung menutup mulutnya.
"Kalau kamu punya masalah, ceritakan kepadaku. Siapa tahu aku bisa membantumu" ucap Gita dengan perhatiannya.
Sontak saja Mentari langsung mengalihkan pandangannya kearah Gita, lalu memegang kedua bahu rekan kerjanya itu.
"Gita, bisakah kamu membantuku?" tanya Mentari dan Gita langsung mengangguk cepat menanggapi ucapan Mentari.
Tak ingin membuang-buang waktu, Mentari pun mulai berbisik-bisik kepada Gita perihal masalahnya.
"Ya sudah, sebaiknya kamu berangkat, urusan pekerjaan biar aku saja yang handel. Jangan sampai kamu ditinggal pergi oleh kekasihmu." ucap Gita tersenyum, membuat Mentari langsung berhambur memeluk tubuh rekan setimnya.
"Terima kasih, Gita. Kalau begitu aku berangkat sekarang" ucap Mentari sambil melepaskan pelukannya.
Kemudian Mentari berlari kecil menuju ruangannya untuk mengambil tasnya. Dia harus datang tepat waktu dan tak boleh melakukan kesalahan sedikitpun dalam kencan ronde keduanya.
Setelah berhasil berganti kostum dan berdandan norak dibantu oleh sahabatnya Jessica, akhirnya Mentari berhasil keluar dari mobil.
Dengan perasaan campur aduk, Mentari kembali melangkahkan kakinya memasuki restoran mewah yang belum pernah ia kunjungi.
Mentari mulai mengedarkan pandangannya mencari-cari sosok pria yang disegani plus ditakutinya itu. Namun saat akan mengalihkan pandangannya tiba-tiba saja seseorang menarik tangannya.
"Hei lepaskan!" bentak Mentari saat tangannya ditarik-tarik oleh orang tak dikenal.
Bersambung....
Mohon maaf aku baru update🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗
__ADS_1