Kekasih Kontrak CEO

Kekasih Kontrak CEO
Bab 9


__ADS_3

"Hei lepaskan!" bentak Mentari saat tangannya ditarik-tarik oleh orang tak dikenal.


"Bawa wanita gila ini keluar dari restoran!" ucap suara serak seorang Pria bertubuh kekar yang berseragam kecoklatan.


Sontak saja Mentari langsung membulatkan kedua matanya sembari menggelengkan kepalanya bahwasanya dirinya bukan orang gila.


"Tidak, saya bukan orang gila pak. Tolong lepaskan saya" ucap Mentari membela diri dan tak membenarkan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh pria itu yang ternyata adalah seorang satpam.


Mentari sempat terkejut melihat satpam berseragam kecoklatan layaknya seorang anggota kepolisian, mengingat seragamnya hampir mirip dengan anggota kepolisian. Untung saja mata jeli Mentari mampu melihat lambang satpam di seragam keduanya, jadi Mentari bisa membedakan seragam satpam dengan seragam anggota kepolisian.


"Lepaskan saya pak, saya mau dibawa kemana?" tanya Mentari sembari memberontak.


Sementara kedua satpam yang menyeretnya keluar dari restoran tak gencar untuk melepaskan Mentari. Dengan sekuat tenaga Mentari terus melakukan perlawanan.


"Lepaskan dia!"


Terdengar suara berat nan serak dari seorang pria, membuat kedua satpam yang menyeret paksa Mentari langsung menghentikan aksinya. Dengan kompaknya mereka langsung mengalihkan pandangannya kearah sumber suara dan mendadak terkejut bukan main.


"Ba-baik tuan!" ucap kedua satpam tersebut dengan gagapnya melihat langsung pemilik restoran tersebut. Mau tak mau mereka langsung melepaskan Mentari.


Sementara Mentari sendiri merasa malu dan canggung melihat pria tersebut yang ternyata adalah CEO nya.


"Ikuti aku" ucap Arsakha cuek tanpa melirik kearah Mentari.


Dengan patuhnya Mentari mengekor di belakangnya tanpa mengucapkan sepatah katapun hingga mereka tiba di meja yang sudah di persiapkan oleh Robin.


"Silahkan duduk" ucap Arsakha mempersilahkan Mentari duduk di kursi.


Refleks saja Mentari mengangguk paham dan lekas duduk di kursi. Melihat jus Alpukat terhidang di atas meja, membuat Mentari langsung meminum jus Alpukat dengan racusnya hingga tak tersisa dalam sekali tegukan, pasalnya tenggerokannya terasa kering bak berada di sauna.


Diam-diam Arsakha memperhatikan wanita aneh dihadapannya menghabiskan segelas jus buah, namun dia selalu menunjukkan sikap dingin dan cueknya.


"Aaahh!!" Mentari begitu puas meletakkan gelas di tangannya. Seketika moodnya kembali stabil dan siap melancarkan sandiwaranya.

__ADS_1


"Masih haus? kamu bisa habiskan minumanku" ucap Arsakha sambil menunjuk segelas jus Apel miliknya.


"Tidak perlu, rasa hausku seketika hilang hanya melihatmu, tampan!" sahut Mentari sambil mengedip-ngedipkan matanya persis orang gila. Sungguh berani dia mengatakan hal seperti itu di depan sang CEO demi tuntutan sandiwaranya.


Sebuah seringai licik muncul di sudut bibir Arsakha manakala mendengar langsung buaian dari Mentari. Dia pun tak segan-segan mengeluarkan benda yang yang sangat berharga lalu menyodorkannya kepada Mentari.


Mentari terlonjat kaget melihat name tag yang bertuliskan nama lengkapnya. Mendadak dia langsung mati kutu hanya melihat benda tersebut.


Ya Tuhan, bagaimana ini!. Kenapa name tag ku ada sama pak Arsakha. Mentari, ayolah berpikir dengan jernih, jangan sampai penyamaran mu terbongkar di depan pak Arsakha. Batin Mentari mulai tak tenang di tempatnya.


"Aku tidak sengaja menemukannya di luar, aku pikir itu milikmu" ucap Arsakha dingin dan tampak berpura-pura baru saja menemukan name tag Mentari.


"Ha ha ha bukan-bukan, kamu pasti salah paham, itu bukan milikku!" elak Mentari diiringi gelak tawa sembari memamerkan gigi ratanya. Dia harus terlihat biasa-biasa saja agar penyamarannya tak terbongkar.


"Benarkah! kalau begitu aku akan membuangnya dan menganggap pemilik name tag ini adalah gadis yang bodoh dan sangat lalai, karena menelantarkan barang berharganya. Kehilangan benda seperti ini, sama saja bersedia kehilangan pekerjaannya!" ucap Arsakha dengan nada penekanan di akhir kalimat. Seolah ucapannya barusan adalah ancaman mematikan untuk Mentari.


Hal itu membuat Mentari merasa terintimidasi dengan ucapan yang dilontarkan oleh Arsakha. Gadis penggemar berat Valentino Rossi itu hanya bisa menunduk diam dengan seluruh tubuh mulai terkulai lemas.


"Baiklah, aku akan menyuruh Robin untuk menghubungi HRD agar segera memecat pemilik name tag ini" ucap Arsakha sambil mengetuk-ngetuk kan name tag tersebut di atas meja. Dia yakin seratus persen rencananya kali ini mampu membuka kedok penyamaran wanita berpenampilan aneh di hadapannya.


Seketika raut wajah Mentari menjadi pias hanya mendengar kata memecat. Sungguh dia tidak ingin di pecat gara-gara name tag tersebut.


Seberdosa itukah dirinya karena sudah membohongi CEO nya sampai-sampai sekarang dirinya akan dipecat oleh CEO nya.


"Pak itu...." ucap Mentari dengan bibir bergetar, bahkan dia tidak mampu untuk melanjutkan ucapannya saking takut plus paniknya akan dipecat.


Mendadak sikap pemberani yang dimilikinya beserta ide cemerlangnya selama ini hilang seketika tergantikan perasaan takut dipecat oleh atasannya.


Tiba-tiba saja Mentari langsung bangkit dari duduknya. Entah apa yang merasukinya dia melepaskan penyamarannya alias rambut wig bentukan kribo di kepalanya beserta bulu mata anti badai yang kerlap-kerlip layaknya lampu diskotik. Hanya satu menit, dia berhasil melepaskan alat penyamarannya.


"Tolong jangan pecat saya pak, saya ngaku salah sudah membohongi anda" ucap Mentari memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.


Tak ada respon yang dilakukan oleh Arsakha, membuat Mentari kembali memohon-mohon belas kasih agar tidak dipecat. Arsakha sedikit tersentuh melihat aksi Mentari, sontak saja dia langsung buka suara.

__ADS_1


"Aku tidak akan memecatmu. Tapi, dengan satu syarat, kamu harus menjadi kekasih kontrakku! bagaimana?" ucap Arsakha disertai penawarannya.


Dengan mantap Mentari mengangguk cepat mengiyakan ucapan Arsakha tanpa harus berpikir dua kali.


Arsakha begitu puas dengan persetujuan dari Mentari. Lagi-lagi seringai licik terpatri di wajahnya melihat tingkah laku Mentari tampak tak berdaya.


Instingku tidak pernah salah. Batin Arsakha.


****


Sementara di tempat lain....


"Bagaimana dengan kencan cucuku, Robin?" ucap tuan Herman di ujung telepon.


"Seperti biasa, kencan mereka selalu berjalan lancar, tuan" ucap Robin di ujung telepon yang memang ditugaskan untuk memata-matai cucu sang pewaris Sentosa Group.


"Ha ha ha, bagus-bagus, aku sungguh tidak sabar untuk melihatnya menikah" ucapnya diiringi gelak tawa dan Robin ikut tersenyum mendengar ucapan atasannya.


****


Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Mentari hanya mampu diam membisu tanpa menimpali ucapan Jecci yang sesekali mempertanyakan masalah kencannya.


"Tar, katakan dengan jujur. Apa rencana Kita sudah terbongkar?" tanya Jessica dan mentari hanya mampu mengangguk sebagai jawabannya.


Untuk itu, Jessica langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan.


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa dan semuanya....." Mentari tidak bisa melanjutkan ucapannya, membuat Jessica langsung berhambur memeluknya.


"Tidak apa-apa, lagian kamu sudah mencobanya. Aku hanya bisa pasrah dan menerima perjodohan orang tuaku" ucap Jessica tersenyum sambil membalas pelukan sahabatnya.


Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena segala skenario Tuhan sudah ada yang atur. Biarlah motor sport impian Mentari lepas kali ini, mungkin bulan atau tahun berikutnya mampu diwujudkan oleh sang pencipta.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2