Kekasih Kontrak CEO

Kekasih Kontrak CEO
Bab 6


__ADS_3

"Jecci, mau mampir atau tidak?" ucap Mentari setelah mobil yang membawa mereka sampai di depan rumahnya.


"Lain kali saja, aku harus pulang ibu peri. Aku cuma titip salam sama paman dan bibi" ucap Jessica tersenyum sambil memukul kecil lengan Mentari.


"Ya sudah, hati-hati di jalan" ucap Mentari kemudian bergegas turun dari mobil Jessica.


"Eits tunggu dulu, tuh barang-barang mu" ucap Jessica sembari menunjuk perlengkapan penyamaran Mentari di sampingnya.


Refleks Mentari menoleh mengikuti arah yang ditunjuk oleh Jessica.


"Ambil saja, lagian pria itu tidak bakalan menemui ku" ucap Mentari dengan bangganya, mengingat rencananya dianggap berhasil.


"Kamu saja yang simpan, Tar. Bagaimana jika pria itu kembali mengajakmu berkencan?" timpal Jessica sambil mengedipkan matanya menggoda Mentari.


"Itu tidak akan pernah terjadi, Jecci. Aku yakin seratus persen pria yang akan dijodohkan denganmu sudah kabur sejauh mungkin. Dan kurasa dia tidak bakalan mau menemui ku!" sahut Mentari sambil cengengesan. Dia kembali teringat dengan aksi jahilnya sendiri, bertingkah seperti gadis gila.


"Oke, aku percaya, Tar. Tapi, setidaknya simpan ini dengan baik, siapa tahu suatu hari nanti barang-barang ini masih bisa berguna untukmu" ucap Jessica sembari menyodorkan tas rajut berisi perlengkapan penyamaran untuk Mentari.


"Iya iya. Aku akan menyimpannya dengan baik" ucapnya tersenyum lalu mengambil tas rajut dari tangan Jessica.


"Bagus, anak pintar" ucap Jessica tersenyum memamerkan gigi ratanya, bahkan menaikkan jempolnya, membuat Mentari ikut tersenyum melihat sahabatnya tampak senang.


"Oh iya, aku hampir lupa mengatakannya, Tar. Sesuai janjiku kepadamu, jika perjodohan itu gagal, aku akan menghadiahkan mu motor sport. Jadi tunggu konfirmasinya besok pagi, jika kamu memang berhasil, pagi itu juga aku akan mengantarmu ke dealer motor. Kamu bebas memilih motor sport impianmu" jelas Jessica tak main-main. Sedangkan Mentari hanya mampu mengangguk, karena begitu senangnya hanya mendengar kata 'motor sport'.


Dia sangat menginginkan sebuah motor sport, kendaraan roda dua yang selalu digunakan oleh sang idola ketika sedang balapan. Walaupun jenis dan tipe motornya sangat jauh berbeda, yang jelasnya jenis motor sport.


Mentari tidak langsung masuk ke dalam rumah, dia sempat menatap mobil Jessica melaju pergi.


"Uuuh aku tidak sabar menunggu hari esok. Semoga harapanku terkabulkan dan perjodohan Jecci batal, aamiin ya Allah" ucapnya tersenyum sambil menatap bintang di langit.


"Aku hanya perlu menunggu konfirmasi dari Jecci. Pokoknya pagi-pagi aku harus sudah standby menunggu kabar baik dari Jecci. Setelah itu, aku akan mengajak Abah untuk mendatangi tempat dealer motor sport" gumam Mentari, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum!" ucapnya saat membuka pintu rumah yang tidak terkunci, kemudian kembali menutup pintu lalu menguncinya.


"Waalaikumsalam!" jawab ibu dan Abah serempak yang tengah menonton TV di ruang tamu.

__ADS_1


Abah dan ibunya tidak beralih menatap kearahnya. Mereka terlihat fokus menatap layar televisi yang sedang menayangkan siaran langsung kompetisi musik dangdut.


Mentari tersenyum tipis melihat kedua orang tuanya yang tampak antusias jika acara TV menayangkan siaran langsung musik dangdut. Maklumlah, abahnya begitu ngefans bang Haji Rhoma Irama, lebih tepatnya penggemar berat si raja dangdut Indonesia.


Seperti sekarang ini, Abahnya akan selalu standby didepan TV jika bintang tamu acara musik dangdut menghadirkan bang Haji Rhoma Irama. Sedangkan ibunya juga menyukai genre musik dangdut. Sehingga mereka memang pasangan serasi yang satu frekuensi.


Sementara itu, adik kesayangannya tengah duduk melantai di atas karpet sambil mengerjakan tugas di meja kayu yang berhadapan dengan televisi. Sedang Abah dan ibu duduk di kursi di depan televisi, dimana Abah yang memegang remote TV.


Mentari melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 8 malam. Dia menghampiri adiknya lalu meletakkan paper bag yang dibawanya di atas meja.


"Eeemmm wanginya, apa itu kak?" tanya Rizky antusias sambil meletakkan pulpen ditangannya. Matanya menelisik paper bag yang dibawa oleh kakaknya dan ia sangat menyakini makanan lezat.


"Buka dulu, kakak yakin kamu pasti suka makanannya. Kalau begitu kakak mau ambil piring di dapur" ucap Mentari tersenyum.


"Biar ibu yang ambil piring" cegat ibunya lalu melangkah cepat ke dapur.


"Wah makanan orang kaya, ada daging sapi sama kentang goreng. Wah ada juga pizza, pasti pacar kakak yang beli semua ini" ucap Rizky antusias sambil mengecap lidahnya yang sudah bersemangat ingin memakannya.


Mentari membulatkan kedua matanya lalu tersenyum tipis mendengar ucapan adiknya.


Abahnya hanya mampu mengangkat jempolnya membenarkan ucapan anak gadisnya. Setelah itu, Mentari memilih melangkah menuju kamarnya untuk bersih-bersih lalu berganti pakaian.


*


*


*


Sementara di tempat lain....


Arsakha kembali mendatangi rumah sakit tempat kakeknya menjalani perawatan di sebuah kamar perawatan VIP.


Dia sungguh malas untuk menemui Kakeknya yang sedang melakukan drama rumah sakit. Saat menginjakkan kakinya di ruang perawatan sang kakek, keningnya berkerut melihat kakeknya sedang tertawa bersama dengan ibunya.


Arsakha sungguh tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan sampai-sampai cekikikan dan sama sekali tidak menyadari keberadaannya.

__ADS_1


"Ehemm!" Arsakha berdehem untuk membuyarkan dunia mereka yang sepertinya sedang diselimuti kebahagiaan.


"Wow, akhirnya kamu datang, sayang. Bagaimana dengan kencanmu, apa semuanya berjalan lancar?" tanya ibunya yang terlihat antusias melihat kedatangan putra semata wayangnya.


"Seperti harapan kalian!" ucap Arsakha santai lalu mendaratkan bokongnya di sofa yang tersedia di ruangan tersebut.


Sontak saja tuan Herman langsung saling tos bersama dengan putrinya.


"Lalu kapan kalian akan berencana menikah?" tanya sang kakek yang sudah tak sabaran melontarkan pertanyaan yang setiap hari selalu ditanyakan kepada sang cucu.


"Aku masih ingin mengenal lebih dekat wanita itu" jawab Arsakha tanpa beban sama sekali.


"Wah itu kabar baik, nak. Mama tidak masalah jika kamu ingin mengenal lebih dekat calon istrimu" ucap ibunya dengan senyuman menghiasi bibirnya.


"Nah! eyang sangat setuju. Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta... ha ha ha " ucap tuan Herman diiringi gelak tawa yang begitu senang karena sang cucuk mau datang di acara kencan yang sudah dia persiapkan jauh-jauh hari.


Cucuku, kamu belum besar dari pengalaman. Batin tuan Herman tersenyum tipis.


*


*


*


Keesokan harinya....


Mentari bangun lebih awal dari biasanya. Dia tampak siap berangkat ke kantor, namun ia masih perlu menunggu kabar baik dari Jessica yang tak kunjung memberikan kabar kepadanya.


Berkali-kali Mentari menengok ponselnya berharap Jessica menelponnya. Tapi sayang seribu sayang, tak ada panggilan masuk dari Jessica pagi ini.


Padahal waktu sudah hampir menunjukkan pukul 7 pagi. Mentari bergegas keluar dari kamar untuk menemui Abah dan ibunya. Setelah itu, ia memutuskan untuk berangkat bekerja.


***


Mentari hampir saja telat datang ke kantor gara-gara menunggu konfirmasi dari Jessica. Namun, sampai sekarang Jessica tak kunjung menghubunginya.

__ADS_1


Mentari melangkah tergesa-gesa menuju lift yang akan membawanya ke lantai lima tempat divisi keuangan berada. Saat lift akan tertutup, tiba-tiba saja seorang pria menyelonong masuk ke dalam lift, membuat Mentari terperanjat kaget melihatnya.


__ADS_2