
Jessica langsung melompat-lompat kegirangan persis orang yang baru saja menang lotre hanya mendengar ucapan Mentari. Setelah itu, dia langsung berhambur memeluk Mentari. Sedangkan Mentari ikut tersenyum lebar membalas pelukan sahabatnya.
Dia terpaksa menerima tawaran sahabatnya demi mendapatkan satu unit motor sport yang menjadi impiannya selama ini. Bukankah tidak masalah jika mencobanya, lagian sahabatnya membutuhkan bantuannya. Menurutnya kesempatan seseorang memang cuma datangnya sekali, tidak mungkin datang dua kali ataupun berkali-kali.
"Terima kasih, Mentari. I love you...muaachh"
Bahkan Jessica tak segan-segan mencium kedua pipi Mentari dengan bahagianya. Beberapa pengunjung mulai salah kaprah melihat kedekatan mereka.
Ada yang mulai berbisik-bisik dan menganggap mereka pasangan jeruk makan jeruk atau lebih tepatnya l*sbian. Ada juga yang tertawa melihat tingkah mereka dan sebagian lagi tidak berkomentar dan hanya menatap sinis keduanya.
Baik Mentari maupun Jessica tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, yang jelasnya mereka happy happy aja atas tindakannya.
"Terima kasih, ibu peri" ucapnya kembali memeluk Mentari.
"Iya, Jecci. Tolong lepaskan pelukanmu, aku sungguh gerah apa lagi tubuhku sangat lengket, jangan sampai bau badanku menempel di pakaianmu" ujar Mentari sambil mengerucutkan bibirnya.
"Oh tidak masalah, Tar. Kalau perlu aku akan mencium ketekmu, biar kamu tahu betapa senangnya aku mendengarmu mengatakan menerima tawaranku" ucap Jessica antusias dengan senyuman lebar.
"Ha ha ha, kamu ada-ada saja" Mentari tergelak tawa sambil memukul kecil lengan Jessica dan Jessica ikut tertawa terbahak-bahak.
"Sekarang duduk lah. Kita harus membicarakan tentang hal apa saja yang harus aku lakukan" ucap Mentari sambil menaikkan kedua alisnya.
Jessica menggangguk lalu bergerak duduk di kursi sesuai instruksi dari Mentari. Mereka tampak serius mengobrol bersama membicarakan rencana kencan yang akan dilakukan oleh Mentari.
🍁🍁🍁🍁
Sementara di tempat lain...
Seorang pria tampan dengan tubuh atletis yang dibalut pakaian formal menghentikan mobilnya di sebuah restoran mewah. Dia menatap parkiran yang didominasi oleh mobil mewah dan juga mobil antik berjejer rapi di area parkiran.
Manik hitamnya berkeliaran mencari sosok yang akan menyambut kedatangannya di restoran tersebut, hingga pandangannya terhenti manakala melihat sosok pria paruh baya berpakaian formal mendekat kearahnya.
“Tuan Herman sudah menunggu anda” ucap Ronald, merupakan asisten pribadi tuan Herman.
“Hemm” hanya deheman yang dilakukan oleh pria tampan yang tingginya kira-kira 187 cm.
__ADS_1
Mereka melangkah beriringan memasuki restoran mewah. Sorot mata pria itu begitu tajam dengan pandangan lurus ke depan. Langkahnya sangat lebar dengan gaya cool lebih mendominasi penampilannya.
Kedatangan pria tampan itu di restoran, mampu menyita perhatian para pengunjung khususnya kaum wanita. Hampir semua wanita terpesona melihat ketampanan pria itu. Namun, pria tampan itu begitu cuek disekitarnya.
Sesampainya di ruangan privat, dimana ruangan itu sangat cocok digunakan untuk melakukan meeting bersama dengan klien dalam restoran mewah tersebut.
Dalam ruangan itu, tampak sosok pria tua duduk dengan penuh wibawa di kursi yang didudukinya. Sudut bibirnya yang sudah keriput terangkat membentuk seringai licik menatap kearah cucu pewarisnya.
“Ada apa Eyang?” ujar Arsakha sembari melangkah menghampiri pria tua yang merupakan kakeknya. Dia tahu betul bagaimana sifat kakeknya itu kalau ada maunya.
“Duduk dulu nak, ada yang ingin Eyang bicarakan” ucap Tuan Herman kepada cucunya.
Lantas Arsakha bergegas duduk berhadapan dengan kakeknya.
“Apa kamu sudah memiliki kekasih?” tanya Tuan Herman tanpa basa-basi.
“Kenapa menanyakan hal seperti itu?” ucap Arsakha dengan tatapan dingin dan menimbulkan ketidaksukaan mendengar ucapan sang kakek.
“Karena itu hal penting bagi Eyang untuk segera mendapatkan penerus Perusahaan Sentosa Group. Jadi jawablah pertanyaan Eyang dengan jujur tanpa adanya kebohongan” tegas tuan Herman sambil mencengkram erat tongkat berlapis emas putih di tangannya.
“Bagus kalau kamu belum memiliki kekasih, karena Eyang sudah memilih calon istri untukmu” ucap tuan Herman tersenyum lebar, membuat Arsakha terkejut bukan main mendengar ucapan kakeknya.
“Calon istri untukku? aku tidak mau eyang, aku belum berkeinginan untuk segera menikah” protes Arsakha sambil mengepalkan tangannya di bawah meja.
“Kenapa? Bukankah kamu tidak memiliki kekasih, lalu apa masalahnya!”
Pria tua itu mulai terpancing emosi mendengar penuturan cucu kesayangannya.
“Aku tidak suka hidupku selalu diatur, termasuk masalah pribadiku. Jadi aku tekankan kepada Eyang untuk berhenti menjodoh-jodohkan aku dengan para gadis di luaran sana. Karena aku belum kepikiran kearah sana” tegas Arsakha kemudian bangkit dari duduknya.
“Arsakha! Kamu tidak bisa menentang ucapan Eyang. Karena kamu tahu sendiri seperti apa akibatnya” ucap tuan Herman dengan suara meninggi. Sepertinya darah tingginya kembali naik drastis saat membicarakan kembali soal perjodohan cucunya.
“Eyang sudah mengatur jadwal kencanmu besok malam!. Jika kamu tidak datang, maka bersiaplah turun dari posisimu dan segala ahli waris akan Eyang….”
“Terserah Eyang! yang jelasnya aku tidak peduli, kalau perlu eyang saja yang menghadiri kencan itu” bantah Arsakha dengan tatapan dingin. Arsakha kemudian berbalik badan lalu melangkah menuju pintu.
__ADS_1
“Dasar cucu durhaka! Eyang bakal keluarkan kamu dari ahli waris!” ucap tuan Herman tak main-main dengan amarah menggebu-gebu menyelimutinya dan Arsakha sama sekali tidak peduli dengan ucapan kakeknya.
Sorot mata tuan Herman begitu tajam menatap kearah cucunya yang mulai melangkah mendekati pintu ruangan tersebut.
"Arsakha!" teriaknya mencoba menghentikan cucunya.
Namun, Arsakha tidak menghiraukan teriakan kakeknya. Dia bahkan menutup pintu ruangan itu dengan cara membantingnya. Kemudian melangkah tergesa-gesa keluar dari restoran tersebut.
"Ronald, tetap atur kencan, Arsakha. Aku tidak mau tau, dia harus menemui wanita yang akan menjadi calon istrinya" ucap tuan Herman dengan keinginannya.
"Baik tuan" ucap Ronald dengan anggukan kepala.
Arsakha Prasetya Sentosa, seorang CEO di salah satu perusahaan ternama di Jakarta. Arsakha sosok pria tampan namun berhati dingin, tapi sangat digilai kaum wanita. Bahkan para wanita mengantri hanya sekedar untuk diajak jalan dengannya, apalagi sampai menjadi kekasih pengusaha muda nan sukses seperti Arsakha.
Saat ini umur Arsakha adalah 30 tahun, bisa dibilang dalam umur seperti itu sudah sangat mapan untuk menikah, namun Arsakha sama sekali begitu enggan untuk memikirkan kearah sana, dia bahkan tidak begitu tertarik dalam urusan percintaan.
Akibat kejadian lima tahun yang lalu membuat seorang Arsakha menutup hatinya rapat-rapat untuk semua wanita. Diselingkuhi kekasih dan ditinggal nikah membuatnya trauma untuk memulai kembali hubungan bersama seorang wanita.
Dimata Arsakha semua wanita sama saja dan hanya memanfaatkan jabatan dan kekayaan yang dimilikinya saat ini. Karena Arsakha berasal dari keluarga Konglomerat.
Arsakha merupakan cucu dari tuan Heman Sentosa. Semua orang akan bungkam hanya mendengar keluarga Sentosa. Pasalnya kakeknya yang sering dia panggil eyang adalah sosok pebisnis hebat di negeri ini, bahkan kekayaannya tak bisa dihitung lagi. Bahkan bisnis real estate, perhotelan, mall, restoran, pertambangan sudah tersebar di berbagai negara. Kekayaannya tak akan habis sampai sepuluh turunan.
Kesuksesan Arsakha benar-benar sudah berada di puncaknya. Untuk itu, Kakeknya mulai resah dan terus berusaha mengatur jadwal kencan Arsakha setiap minggunya, namun sekalipun Arsakha tidak pernah menghadiri kencan yang diatur oleh kakeknya.
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus menghentikan keinginan Eko" gumam Arsakha sebelum menyalakan mesin mobilnya.
Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi, Arsakha lalu merogoh ponselnya dari saku jasnya. Dia mengerutkan keningnya melihat panggilan masuk dari Ronald, lalu menjawabnya.
"Apa!" Arsakha terkejut mendengar suara Ronald di ujung telepon.
*
*
Jangan lupa tinggalkan jejak bestie 🤧
__ADS_1