
Mentari tampak tak bersemangat pulang ke rumah. Hal itu membuat Ibu dan Abahnya langsung menghadangnya di ruang tamu. Karena baru kali ini mereka tidak mendengar suara bass putri cantiknya ketika mengucapkan salam.
"Apa gerangan? kenapa putri cantik Abah tampak murung dan cemberut begini" ucap Abahnya sedramatis mungkin sambil mengusap puncak kepala putrinya, sedang Mentari sendiri hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Abah, Mentari baru saja pulang, sebaiknya kita antar saja dia ke kamar" ucap ibunya dengan penuh perhatiannya dan langsung bergerak menuntun putrinya ke kamar.
Abahnya menggangguk setuju dan ikut membantu sang istri menuntun putri kesayangannya ke kamar.
Mentari hanya bisa pasrah dan mengikuti segala perlakuan sayang yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Sementara adiknya yang tengah mengerjakan tugas sekolah hanya melirik sekilas kearah mereka lalu melanjutkan kembali tugas sekolahnya.
"Abah, ibu, aku mau istirahat" ucap Mentari sambil membuka pintu kamarnya. Dia tidak ingin kedua orang tuanya ikut masuk ke dalam kamar untuk mengulik perihal kondisinya yang lagi murung abis.
"Emm...apa perlu ibu atau Abah temani kamu, nak?" tanya ibunya.
"Tidak perlu, Bu" ucap Mentari sambil menggeleng pelan.
"Ya sudah, jangan lupa mandi terus istirahat" sahut abahnya dan Mentari mengangguk cepat.
Setelah itu, dia bergegas masuk ke dalam kamarnya dan tak lupa mengunci pintu kamarnya supaya Abah dan ibunya tidak kepo mengurusi kondisinya yang sedang murung.
Mentari meletakkan tasnya di atas meja, kemudian ia membuka lemari pakaian untuk mengambil handuk beserta baju ganti. Dia bahkan sampai menguap berkali-kali sampai masuk ke dalam kamar mandi.
Tak perlu membutuhkan waktu berjam-jam lamanya Mentari selesai membersihkan tubuhnya, kira-kira hanya lima menit saja berada di dalam kamar mandi.
Dia melangkah cepat mendekati meja riasnya, pasalnya dia mendengar ponselnya berdering heboh. Kening Mentari berkerut melihat panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Dia menjadi bimbang untuk mengangkat panggilan itu atau tidak.
"Angkat, tidak, angkat, tidak...emm angkat saja deh, siapa tahu penting." gumamnya yang sempat bimbang.
"Halo... ini...." Mentari tidak melanjutkan ucapannya karena dipotong cepat oleh si penelpon.
"Jam enam pagi kamu harus stand by di kantor. Ada beberapa hal yang harus kamu pelajari sebelum melakukan tugasmu, karena aku tidak ingin terjadi kesalahan sedikitpun selama kamu menjadi kekasih kontrak ku!" ucap seseorang di ujung telepon yang tak lain adalah Arsakha.
Sontak saja Mentari membulatkan kedua matanya mendengar suara yang sangat familiar di ujung telepon. Mau tak mau dia langsung buka suara.
"Ba-baik pak" ucap Mentari tergagap di ujung telepon dan sangat tahu pasti siapa pemilik suara khas tersebut.
__ADS_1
Tutttt
Arsakha langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak setelah mendengar langsung ucapan Mentari.
Dengan malas Mentari menyimpan ponselnya di atas meja riasnya. Pandangannya tampak kosong menatap cermin di depannya.
"Aduh, kenapa sekarang aku harus berurusan dengan pak Arsakha. Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku sungguh tidak ingin menerima tawaran dari Jecci, huhuuuu. Motor impianku hilang sudah dan sekarang aku harus menghadapi bos yang galaknya minta ampun." gumam Mentari lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Jujur saja dia tidak ingin berurusan dengan pak Arsakha, apalagi sampai berada dalam situasi menjadi kekasih kontraknya, walaupun itu sifatnya pura-pura, tetap saja dia merasa horor untuk menjalaninya.
"Lebih baik aku mandi dulu, biar pikiranku menjadi jernih." ucap Mentari dan melangkah cepat memasuki kamar mandinya.
*
*
*
Sementara di tempat lain....
Arsakha masih stand by di kantor, lebih tepatnya berada di ruangan CEO. Dia baru saja memerintahkan Robin, orang kepercayaan kakeknya untuk mencari tahu perihal gadis bernama Mentari yang ternyata merupakan karyawannya.
"Setelah melihat profilnya, terus awasi gadis ini, jangan sampai dia macam-macam atau kabur dari masalah. Karena aku merasa gadis ini sangat cerdik dan banyak akal" ucap Arsakha menyeringai tipis, karena sempat mengingat pertemuan pertama mereka yang menurutnya sangat konyol.
"Saya jamin, tak seorangpun akan macam macam kepada anda" sahut Robin tersenyum tipis.
"Ya ya, aku percaya akan hal itu. Tapi, terus awasi gadis ini dan ingat jangan sampai masalah ini diketahui oleh Eko, karena jika itu terjadi, kamu orang pertama yang langsung aku curigai!" ucap Arsakha dengan tegasnya sambil menunjuk kearah Robin.
"Jangan khawatir tuan muda, saya akan selalu tutup mulut untuk masalah yang satu ini" ucap Robin meyakinkan tuan mudanya.
"Oke, aku pegang kata-katamu, Robin!" sahut Arsakha. Dia pun melanjutkan kembali pekerjaannya.
Namun tiba-tiba ponselnya berdering, refleks Arsakha langsung mengulurkan tangannya untuk mengambil ponselnya di atas meja. Akan tetapi, Robin lah yang lebih dulu mengambil ponselnya dan melihat langsung siapa yang menelepon.
"Dari tuan Herman" ucap Robin memberitahu.
"Tak perlu mengangkatnya, untuk apa Eko meneleponku, bukankah dia sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Bukannya istirahat dia malah sibuk menerorku." ucap Arsakha berdecak kesal sambil merampas ponselnya dari tangan Robin.
__ADS_1
"Mungkin tuan Herman hanya ingin mengetahui kabar anda" timpal Robin.
"Ada-ada saja!" kesal Arsakha sambil berkutat dengan laptopnya. "Robin, kamu boleh keluar" perintah Arsakha tanpa beralih dari layar monitornya.
"Baik tuan muda" ucap Robin sambil membungkukkan badannya lalu bergerak keluar dari ruangan tuan mudanya.
*
*
*
Di rumah sakit, Tuan Herman dan Ibu Arsakha tampak senang dengan kedatangan Keluarga Jessica. Maksud dari kedatangan keluarga Jessica tidak lain untuk menjalin silaturahmi sekaligus untuk melihat kondisi Eyang Arsakha yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit.
"Aku sangat senang dengan kedatangan kalian. Apalagi tidak lama lagi kita akan menjadi besanan." ucap tuan Herman dengan bahagianya.
"Kami merasa terhormat bisa menjadi bagian dari keluarga anda" sahut tuan Sultan (Ayah Jessica) dengan senyuman menghiasi bibirnya.
"Lalu dimana calon istri cucuku?" tanya tuan Herman dengan terang-terangan. Pasalnya dia tidak melihat kehadiran putri mereka yang sudah dijodohkan dengan cucu penerusnya.
"Ya ampun, ayah. Biasa lah anak muda, mereka masih menikmati kencannya. Bukankah tadi Arsakha sempat memberitahu kita bahwa mereka sedang berkencan" jelas ibu Arsakha.
"Kebetulan sekali, putri kami juga sempat memberitahu kami perihal kencannya" sahut Nyonya Wahida (Ibu Jessica).
"Oh...ha ha ha ha....mereka memang berjodoh. Eyang sangat yakin mereka pasti sudah janjian bahkan saling kompak memberitahu keluarganya." ucap tuan Herman dengan peraduganya.
Mereka pun saling bercanda gurau dan tertawa bersama membicarakan perihal rencana pernikahan anak-anak mereka.
Sementara itu, Jessica sendiri tengah asyik menjadi penguntit demi bisa melihat langsung sosok pria pujaan hatinya tengah bermain basket.
"Angga! Angga Angga!" teriak beberapa pria dan wanita dengan kompaknya menyuarakan nama pria yang sangat populer dalam club basketnya.
Jessica yang tengah berdiri di pojok ruangan tampak tersenyum tipis melihat sosok pria pujaan hatinya sedang bermain basket.
"OMG, dari dulu dia selalu saja terlihat tampan dan memukau. Aku sungguh tidak bisa melupakannya" gumam Jessica senyum-senyum sendiri dan berharap pria bernama Angga juga mencintainya.
__ADS_1
Bersambung.....