
Mentari hampir saja telat datang ke kantor gara-gara menunggu konfirmasi dari Jessica. Namun, sampai sekarang Jessica tak kunjung menghubunginya.
Mentari melangkah tergesa-gesa menuju lift yang akan membawanya ke lantai lima tempat divisi keuangan berada. Saat lift akan tertutup, tiba-tiba saja seorang pria menyelonong masuk ke dalam lift, membuat Mentari terperanjat kaget melihatnya.
Bagaimana tidak sang CEO lah yang ikut masuk ke dalam lift khusus karyawan. Mentari langsung stok jantung, dia perlahan berjalan mundur sampai mentok di bagian dinding lift. Pasalnya cuma dia dan sang CEO berada dalam lift.
Dua karyawan wanita yang ingin masuk ke dalam lift terkejut bukan main melihat sang CEO berada di dalam lift khusus karyawan. Mereka pun memilih mundur dan tak berani satu lift dengan sang CEO.
Apalagi mereka berdua tak sengaja melihat rekan kerjanya sudah pucat di dalam sana. Mereka sungguh kasihan, mau menolongnya sama saja berhadapan dengan sang CEO.
Sementara itu, Mentari tak bisa berkutik di dalam lift, dia hanya mampu menjelma sebagai boneka manekin ketika pintu lift tertutup rapat.
Suasana menjadi hening di dalam lift, saat lift mulai beranjak naik menuju lantai yang mereka tuju. Jantung Mentari terus meletup-letup di dalam sana dan seolah-olah waktu berputar begitu lambat ketika satu lift dengan sang CEO.
Jujur saja Mentari tak bisa bernafas dengan leluasa, apalagi dia sudah menghirup aroma parfum dari pria berkuasa di depannya itu, membuat bulu kuduknya mulai meremang di landa perasaan cemas plus takut.
Dia berniat untuk tahan nafas, tapi takutnya dia malah buang angin dan berakhir membuatnya malu sendiri di depan sang CEO.
Sementara itu, Arsakha selalu saja terlihat cool menatap pintu lift, dimana angka terus berganti dan tak kunjung sampai pada lantai tertinggi perusahaan.
Dengan penuh kesabaran, akhirnya pintu lift terbuka, tepatnya pada lantai lima. Sontak saja Arsakha langsung berbalik badan untuk melihat siapa karyawan yang sedang bersamanya.
Mentari yang sudah bersemangat ingin keluar dari lift harus pupus sudah melihat Arsakha menghadap kearahnya.
"Permisi pak" ucap Mentari kikuk mencoba untuk melewati Ceo-nya. Namun tak ada jawaban yang diberikan oleh sang CEO, membuatnya dilanda kebingungan. Bahkan secepat kilat pintu lift kembali tertutup rapat seolah di remote oleh pria dingin di depannya.
"Pak, saya mau...."
Mentari yang sudah berkeringat dingin lagi-lagi tidak mendapatkan respon dari Arsakha yang kembali berbalik badan menghadap kearah pintu lift.
Hanya kepalan tangan yang mampu dilakukan oleh Mentari untuk mengontrol perasaannya yang sedang gundah gulana. Pagi-pagi dia sudah berurusan dengan CEO, mungkinkah hari ini hari tersial baginya, pikirnya.
Pintu lift kembali terbuka saat berada di lantai tertinggi perusahaan. Dengan santainya Arsakha keluar dari lift dengan gaya angkuhnya.
Ingin rasanya Mentari menarik rambut atasannya, tapi itu cuma angan-angannya saja, mana berani dia melakukan hal seperti itu kepada atasannya.
Dengan perasaan dongkol, Mentari kembali mengarahkan lift ke lantai lima tempat ruangannya berada. Mentari keluar dari lift sambil berlari kecil saat melihat Bu Dessy masuk ke dalam ruangan.
"Mentari!" tegur Bu Dessy melihat Mentari seperti kerasukan setan menyelonong masuk mendahuluinya.
"Hanya 1 menit, Bu Des!" ucap Mentari cengengesan yang sudah menempati meja kerjanya.
__ADS_1
Bu Dessy hanya mampu geleng-geleng kepala melihat tingkah bawahannya yang satu itu. Karena Bu Dessy kepala divisi keuangan dan merupakan bos dari keempat anggota alias bawahannya.
"Bagaimana laporan keuangan bulan ini? apa ada kendala?" tanya Bu Dessy kepada keempat bawahannya yang berada di ruangan itu, termasuk Mentari.
"Belum ada, Bu Des!" sahut Pak Bagus.
"Bagus jika seperti itu, Pak Bagus. Baiklah, sebelum memulai pekerjaan hari ini, marilah kita berdoa bersama-sama demi kelancaran pekerjaan kita hari ini" ucapnya selaku atasan di ruangan tersebut.
Mereka berlima mulai memanjatkan doa bersama guna kelancaran pekerjaannya hari ini.
🍁🍁🍁🍁
Sementara di dalam ruangan CEO, terlihat Arsakha sedang mondar-mandir di depan jendela raksasa, tepatnya dinding kaca anti peluru.
Tampaknya Arsakha sedang berpikir keras, namun entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini.
"Aaahh, aku harus memastikannya lagi. Karena aku merasa tidak asing dengan gadis aneh itu" gumam Arsakha menyeringai.
Dia lekas menelpon Ronald untuk mengatur ulang kencan buta nya bersama wanita aneh semalam.
"Lakukan sesuai perintahku! ingat satu hal jangan beritahu Eko masalah ini!" tegas Arsakha kemudian mematikan teleponnya secara sepihak.
Tok
Tok
Tok
Tampak pria yang seumuran dengannya dengan setelan jas menghampirinya.
"Rapat koordinasi kerja akan dimulai, semua orang sudah menunggu anda di ruang rapat" jelas Andi dan merupakan sekretarisnya.
"Hemm, aku sudah siap. Ayo!" ucap Arsakha sembari merapikan jasnya. Kemudian Arsakha melangkah lebar menuju ruang rapat dan Andi hanya mampu mengekor di belakangnya.
*
*
*
"Apa! itu tidak mungkin!" ucap Mentari panik yang sedang bertelepon dengan seseorang di ujung telepon.
__ADS_1
"Aku serius, Tar. Dia kembali mengajakmu berkencan untuk kedua kalinya" jelas seseorang di ujung telepon.
Mentari terlonjat kaget dan hampir saja menjatuhkan ponselnya di genggaman tangannya. Harapannya akan mendapatkan satu unit motor sport sepertinya harus dipending.
"Bagaimana hal itu bisa terjadi, Jecci? aku yakin ini pasti jebakan dari orang tuamu" ucap Mentari dengan guratan frustasi.
Tidak mungkin jika rencananya semalam harus gagal total, padahal dia berusaha keras mengeluarkan kemampuan aktingnya yang masih terpendam dalam dirinya.
"Aku juga tidak tahu, bahkan ayahku pun tak tahu dengan kencan kali ini. Kurasa kencan kali ini sangat dirahasiakan!. Tar, hanya kamu yang bisa menggagalkan rencana perjodohanku, tolong lakukan satu hal, hancurkan acara kencan itu, please!!" ucap Jecci penuh harap di ujung telepon.
Dan ujung-ujungnya akan membuat Mentari pusing tujuh keliling.
"Baik, aku akan memikirkannya" ucap Mentari sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Jadi kamu mau hadir kembali di kencan ronde kedua itu kan?" tanya Jessica di ujung telepon.
"Ya. Aku akan hadir di kencan ronde kedua dan seterusnya sampai semuanya tuntas" ucap Mentari dengan penuh keraguan.
Sejujurnya dia mulai pesimis untuk menghadiri kencan yang kedua kalinya, namun dia tidak ingin mengecewakan sahabatnya. Jika tak berjalan lancar, dia memilih untuk mengakhiri semuanya.
"Terima kasih, Tar. Aku tutup ya teleponnya."
"Iya Jecci" ucap Mentari dan mendadak tubuhnya menjadi lemas. Dia bahkan meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya lalu menjatuhkan kepalanya di atas meja.
"Ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan!" ucap Mentari sambil mengacak-acak rambutnya, seolah sedang dilanda frustasi.
Bagus dan Susan sampai terkejut melihat tingkah laku rekan kerjanya. Mereka bertiga beranjak dari tempatnya lalu mendekati Mentari.
"Istighfar, Mentari. Istighfar!" ucap Bagus selaku yang tertua dari rekan kerjanya.
"Huhuuuu.. motor impianku..." rengeknya persis anak kecil.
"Yang sabar Mentari, kamu pasti bisa membelinya" timpal Susan.
"Gays, Pak CEO datang!" ucap Gita yang baru saja masuk ke ruangan.
"APA!!!" Mereka bertiga terkejut bukan main dan langsung bergerak duduk di kursinya.
*
*
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar 🙏