Kekasih Kontrak CEO

Kekasih Kontrak CEO
Bab 4


__ADS_3

"Drama apa lagi ini?" ujar Arsakha sambil melangkah mendekati ranjang pasien. Dia bahkan sampai geleng-geleng kepala melihat kakeknya terbaring di atas tempat tidur pasien menggunakan alat bantu pernapasan.


Sementara ibu tercintanya tampak menangis tersedu-sedu di kursi samping tempat tidur pasien. Ibunya terlihat sedih melihat kondisi kakeknya saat ini.


"Ma, tak perlu menangis. Eyang belum meninggal" decak Arsakha sambil menatap penuh selidik wajah sang kakek. Itu pasti akal-akalan dari kakeknya, melakukan drama main rumah sakit segala.


"Arsakha! tidak seharusnya kamu berkata seperti itu, dia eyang mu. Jadi kamu berpikir Mama akan menangis ketika eyang mu meninggal dunia begitu maksudmu? Kamu sungguh keterlaluan! mama sangat yakin eyang mu masuk ke rumah sakit pasti gara-gara kamu!" ujar Nyonya Larissa sambil menunjuk kearah putra semata wayangnya.


Arsakha menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia memilih bungkam daripada meladeni ibunya yang bisa-bisa menimbulkan perdebatan hebat antara dirinya bersama ibunya.


Dia bingung sendiri bagaimana meyakinkan Mama nya bahwa kakeknya tengah melakukan aksi drama main rumah sakit. Namun sayang sekali sang Mama selalu menganggap serius apa yang sedang dialami oleh kakeknya sekarang ini dan sulit baginya untuk meyakinkan ibunya.


Sungguh Kakeknya benar-benar raja drama dan begitu pandai berakting di depan semua orang. Mungkinkah hal ini salah satu dari rencana licik sang kakek untuk mengatur kembali perjodohannya.


"Pokoknya kalau Eyang mu sudah sembuh, kamu harus menuruti semua keinginannya titik!" tegas ibunya sambil mengusap air matanya.


"Oke, aku akan menuruti semua keinginan eyang" ucap Arsakha mengalah, daripada perdebatannya dengan ibunya semakin bercabang-cabang dan kembali mendapatkan tuntutan dari ibunya untuk memintanya segera menikah.


Diluar dugaan seulas senyuman tipis terpatri di sudut bibir tuan Herman.


Eyang, tidak akan pernah kalah darimu, cu. Sekarang tiba saatnya eyang turun tangan mengatur kembali perjodohanmu. Eyang ingin tahun ini kamu segera menikah. Batin tuan Herman tersenyum dalam hati.


*


*


*


Pagi hari Mentari tengah bersiap-siap di dalam kamarnya. Hari ini dia mengenakan kemeja biru langit dipadukan celana kain berwarna hitam melekat di tubuh mungilnya.


Rambutnya diikat tinggi menyerupai kuncir kuda. Memoles wajahnya yang chubby dengan bedak bayi dan liplos berwarna pink agar wajahnya terlihat segar dan manis.


Terdapat lingkar hitam di bawah matanya akibat begadang semalaman demi menyusun sebuah rencana untuk menggagalkan perjodohan sahabatnya.


"Sepulang kerja aku harus menemui Jecci, dia sudah mempersiapkan dengan baik segala persiapan yang sudah ku minta" gumam Mentari tersenyum sambil mengelus ujung rambutnya.


"Mentari! ayo sarapan dulu. Abah yang akan mengantarmu ke tempat kerja" teriak ibu dari luar kamarnya.


"Iya Bu" sahut Mentari dari dalam kamarnya.


Kemudian Mentari menyambar tasnya beserta ponselnya, lalu melangkah menemui ibu dan Abahnya yang sudah berada di meja makan untuk sarapan bersama.

__ADS_1


Dengan lahapnya Mentari memakan sepiring nasi goreng buatan ibunya, hanya beberapa menit saja nasi goreng buatan ibunya ludes tanpa satu biji pun nasi tersisa di piringnya.


"Alhamdulillah, wenaknya masakan ibu" puji Mentari dengan perut kenyang.


Ibu Rosita hanya mampu tersenyum mendengar pujian dari putrinya.


Hugggh


Mentari bahkan sampai bersendawa, dengan santainya dia cengengesan di depan ibunya. Sementara sang ibu hanya mampu geleng-geleng kepala melihat kebiasaan buruk putrinya.


Selesai sarapan, Mentari diantar oleh abahnya ke perusahaan Sentosa Group. Tapi sebelumnya, Abahnya mengantar terlebih dahulu adiknya ke sekolah yang jarak sekolah dari rumah hanya memakan waktu lima menit.


Kebetulan hari ini Abah akan ke tempat pengepul cabai merah, sehingga Abah yang memakai motor putrinya. Maklum cuma ada satu motor yang biasa digunakan beraktivitas di keluarga Abah Masrul.


Setibanya di perusahaan Sentosa Group, Mentari bergegas turun dari motor dan tak lupa mencium punggung tangan abahnya.


"Terima kasih, Abah" ucap Mentari sekalian berpamitan kepada abahnya.


"Iya nak, nih bekalmu, nanti sore Abah datang menjemputmu" ujar Abah tersenyum sambil menyerahkan tas bekal kepada putrinya.


Mentari tersenyum mengambil tas bekalnya sembari berkata "Tidak perlu, Abah. Aku pulang bersama Jessica" ucap Mentari memberitahu kepada abahnya.


"Hati-hati, Abah" ucap Mentari sembari menatap kepergian abahnya. Setelah itu, dia melangkah bersama dengan karyawan lainnya memasuki perusahaan.


Sementara di lain sisi, Arsakha kembali datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi kakeknya yang sedang memainkan drama rumah sakit.


Kebetulan pagi ini dia tidak ada rapat, sedang ibunya sudah berkoar-koar di rumah sakit memintanya untuk segera datang ke rumah sakit.


"Bagaimana kondisi, Eyang?" ujar Arsakha sembari menghampiri kakeknya yang tengah menempati tempat tidur pasien. Dimana alat bantu pernafasan sudah tidak lagi menempel di tubuh sang kakek.


"Arsakha, duduk!" perintah Nyonya Larissa kepada putranya, dimana dia sedang menyuapi ayahnya.


Sontak Arsakha lekas duduk di sofa sambil memperhatikan kakeknya yang sedang sarapan.


Eyang sungguh cerdik, bisa-bisanya memanfaatkan kondisinya demi melancarkan rencananya. Batin Arsakha.


"Kemarilah cucuku, Eyang ingin mengatakan sesuatu...uhukk...uhukkk" Tuan Herman sampai terbatuk-batuk, membuat Nyonya Larissa khawatir dengan kondisi ayahnya.


"Ya ampun, ayah. Jangan banyak gerak, kondisi ayah belum sepenuhnya stabil. Kalau mau bahas urusan pekerjaan dengan Arsakha lain kali saja" jelas Nyonya Larissa.


"Larissa, ayah tidak akan membahas urusan pekerjaan. Tapi, ayah ingin membahas hal yang menggembirakan bagi ayah." ucapnya tersenyum tipis melirik kearah Arsakha. Sontak saja membuat Arsakha mengerutkan keningnya dengan tatapan penuh selidik akan arti dari ucapan sang Kakek.

__ADS_1


"Kabar menggembirakan, maksud ayah seperti apa?" tanya Nyonya Larissa.


"Arsakha sudah setuju untuk dijodohkan, dia akan segera menikah. Ayah cuma ingatkan kembali kepada Arsakha untuk tetap menghadiri acara kencannya malam ini, walaupun kondisi Eyangnya belum sembuh total. Tapi, demi kebahagiaan cucuku, aku selalu mengijinkannya untuk mengenal lebih dekat lagi calon istrinya, bukan begitu Arsakha?" jelas tuan Herman dengan senyuman mengembang menghiasi bibirnya.


"Apa! eyang, kapan aku...." Arsakha tidak melanjutkan ucapannya karena ibunya langsung memotongnya ucapannya


"Wah, mama ikut senang mendengarnya, akhirnya kamu mau menikah" ucap Ibunya dengan antusiasnya. "Mama sangat setuju dengan ucapan eyang mu, pergilah hadiri kencan mu malam ini. Setelah itu, kenalkan calon istrimu kepada Mama" tambah ibunya dengan senyuman menghiasi wajah cantiknya yang tidak termakan usia.


Arsakha menjadi bungkam, dia kehabisan kata-kata, sekarang dia seperti dijebak oleh kakeknya sendiri. Dia sudah menduganya bahwa kakeknya akan mati-matian untuk mengatur perjodohannya.


"Kurasa aku harus berangkat ke kantor" ucap Arsakha sambil melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ya sudah, semangat berkerja nak. Jangan sampai lupa dengan kencan mu nanti malam."


Lagi-lagi ibunya kembali mengingatkannya dan Arsakha hanya mampu menggangguk pasrah lalu melenggang pergi.


*


*


*


Sesuai dengan jadwal kencan sahabatnya malam ini, Mentari harus mengganti sahabatnya sesuai rencana yang sudah disepakati bersama.


Mentari begitu antusias memasuki restoran mewah tempat dirinya akan berkencan dengan pria yang akan di jodohkan dengan sahabatnya.


Demi sebuah motor sport, dia terpaksa menggantikan sahabatnya menghadiri kencan tersebut. Sesuai rencananya, dia berdandan menjadi gadis jelek dan norak dibantu oleh Jessica.


Semua itu semata-mata untuk membuat pria yang akan dijodohkan dengan Jessica menjadi ilfil kepadanya dan sudah pasti pria itu akan membatalkan perjodohan mereka.


"Maaf, aku terlambat" ucap Mentari sambil mengedipkan matanya, dimana bulu matanya berwarna warni.


Refleks pria tampan yang sudah menempati meja langsung menoleh kearahnya. Mentari terlonjat kaget, bulu matanya hampir copot melihat wajah pria itu.


*


*


*


Jangan lupa, like komen dan vote bestie

__ADS_1


__ADS_2