Kekasih Kontrak CEO

Kekasih Kontrak CEO
Bab 11


__ADS_3

Sesuai perintah Arsakha, pagi-pagi sekali Mentari tiba di Perusahaan Sentosa Group, lebih tepatnya sebelum jam enam pagi. Semua itu ia lakukan semata-mata untuk mempertahankan pekerjaan di perusahaan tersebut.


"Ya Tuhan, sisa lima belas menit lagi waktu menunjukkan pukul enam pagi. Aku bahkan belum sarapan pagi, bagaimana jika aku sampai lemes atau jatuh pingsan ketika berhadapan dengan pak Arsakha" gumam Mentari yang mulai dilanda perasaan cemas.


Kedua mata Mentari terus fokus memandang kearah lift, siapa tau orang yang tidak dinantikan kedatangannya mendadak nongol sebelum tiba waktunya.


"Jangan putus asa Mentari, gunakan sisa waktumu sebaik mungkin. Ayolah, fokus-fokus, kalau perlu nikmati makananmu yang sempat kami bawa dari rumah sekarang juga" ucapnya berbicara sendiri.


Mentari lantas mengeluarkan sepotong roti dan teh botol yang sempat dia bawa dari rumah. Dia begitu lahapnya memakan sepotong roti isi selai nanas dengan pandangan tak henti-hentinya mengarah kearah lift khusus CEO.


"Ya, masih kurang nih, sepertinya cacing-cacing di perutku saja yang menikmati sarapanku." gumam Mentari sambil menatap bungkusan roti yang dibawanya dari rumah.


Sungguh pagi yang menyedihkan baginya, harusnya pagi ini ia menikmati terlebih dahulu nasi goreng buatan ibunya sebelum berangkat kerja. Namun sayang sekali, semuanya tak sesuai dengan konsepnya pagi ini dan kemungkinan besar seterusnya akan seperti itu.


Dertt...Derttt....Derttt


Mentari sempat terkejut mendengar ponselnya berbunyi, dia langsung gercap mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Dan betapa terkejutnya dia melihat nama yang tertera di ponselnya.


"Pak Arsakha!" gumamnya sembari celingak-celinguk berharap pria itu belum datang.


Dengan gugup dia mencoba menggeser ikon berwarna hijau untuk mengangkat panggilan masuk dari Arsakha. Namun sayangnya, Arsakha lebih dulu membatalkan panggilannya.


"Hufff, syukurlah, dia membatalkan panggilannya" ucap Mentari tersenyum tipis lalu menyimpan kembali ponselnya di dalam tasnya.


Sekarang Mentari tidak tahu harus melakukan apa, setiap kali berhadapan dengan Arsakha, dia selalu gugup plus takut, lebih tepatnya dia takut di pecat.


Lama-lama menunggu akhirnya orang yang ditunggu kedatangannya nongol juga. Dengan gagahnya Arsakha melangkah keluar dari lift. Pandangannya lurus ke depan menatap tajam kearah sosok gadis yang baru saja berdiri dari tempat duduknya saat melihat kedatangannya.


Terlihat jelas dia mampu membaca pikiran gadis tersebut yang tampak gugup melihatnya.


Sementara Mentari sendiri mencoba untuk rileks dengan memamerkan senyuman indahnya.

__ADS_1


"Selamat pagi, pak!" sapa Mentari sambil membungkukkan setengah badannya. Tak ada salahnya jika dia menyapa terlebih dahulu atasannya.


"Sudah lama menunggu?" ucap Arsakha berpura-pura bertanya tanpa membalas sapaan dari Mentari. Padahal dia tahu jelas jam berapa Mentari tiba di kantornya.


"Aaah...saya juga baru datang pak. Bahkan saya siap menunggu anda kapanpun" ucap Mentari tersenyum tipis, dia bahkan merutuki ucapannya sendiri, bisa-bisanya dia berkata hal seperti itu.


"Bagus, karena mulai sekarang kamu memang harus selalu siap menungguku!" ucap Arsakha dengan sinis nya.


"Tentu, selama itu mengenai hal yang positif, saya akan selalu standby selama 24 jam" ucap Mentari dengan percaya dirinya.


Membuat Arsakha menyeringai tipis mendengar ucapannya barusan.


"Benarkah? aku pegang kata-katamu. Karena Kontrak kerja sama kita akan berlangsung cukup lama. Tak ada lagi kesempatan bagimu untuk mundur selama kamu menandatangani kontrak kerja sama yang ku ajukan kepadamu. Jadi, jika kamu ingin mundur, maka mundur lah sekarang, sebelum semuanya terlambat." ucap Arsakha panjang lebar, bahkan ucapannya barusan terdengar horor ditelinga Mentari.


"Saya sudah yakin dan siap menanggung konsekuensinya, pak" sahut Mentari tanpa kenal takut. Padahal dalam hatinya sudah bergejolak dan berbeda haluan dengan jalan pikirannya. Namun, pantang baginya mundur sebelum bertarung.


"Kita bahas masalah ini di ruanganku. Karena masih banyak hal yang perlu kita bicarakan dan perlu kamu pelajari selama menjadi kekasih kontrak ku" ucap Arsakha dengan tegasnya.


"Baik pak" sahut Mentari.


"Hehehe...maaf pak, untuk sebutan panggilan kita perlu diskusikan ya pak. Soalnya saya takut memanggil anda dengan nama sembarangan, takutnya image anda sebagai...." Mentari tidak melanjutkan ucapannya karena Arsakha langsung memotongnya cepat.


"Aku tidak masalah, yang jelasnya embel-embel nama sebutan untukku masuk akal dan tidak terlalu konyol" ucap Arsakha dengan sorot mata tajam sambil menunjuk kearah Mentari.


"Maka dari itu kita perlu diskusikan ya pak" sahut Mentari sambil menaikkan kedua jempolnya, membuat Arsakha langsung mengerutkan keningnya.


Secepat kilat Mentari langsung mengatupkan kedua tangannya, guna untuk meminta maaf atas sikap bercandanya.


Arsakha tidak menimpali ucapannya, dia malah bergerak masuk ke dalam ruangannya. Sontak saja Mentari langsung bergerak cepat mengikuti langkahnya.


"Pak, saya minta maaf, jika ada salah-salah kata" ucap Mentari sembari mengekor di belakangnya.

__ADS_1


Lagi-lagi tak ada sahutan dari Arsakha, membuat Mentari merasa serba salah. Namun dia tidak ingin ambil pusing. Toh dia harus ekstra hati-hati menyaring dengan baik seluruh kata-kata yang keluar dari mulutnya, jangan sampai ucapannya menjadi boomerang baginya.


"Silahkan duduk!" perintah Arsakha kepada Mentari.


Dengan patuhnya Mentari lekas duduk di sofa yang memang dikhususkan untuk tamu dalam ruangan tersebut.


Arsakha langsung mengeluarkan beberapa lembar kertas berisi kontrak perjanjian mereka beserta daftar hal yang harus Mentari pelajari selama menjadi kekasih kontraknya, termasuk bolpoin untuk pembubuhan tanda tangan.


"Ini kontrak kerjasama kita beserta daftar list yang harus kamu pelajari selama menjadi kekasih kontrak ku" ucap Arsakha memberitahu Mentari.


"Iya pak. Saya akan membacanya terlebih dahulu" ucap Mentari tersenyum.


Dia harus lebih jeli dalam melihat situasi yang tengah dihadapinya. Kemungkinan perjanjian tersebut menguntungkan sekaligus merugikan baginya, namun Mentari harus siap menerimanya dengan lapang dada.


Setelah membacanya keseluruhan, Mentari langsung membubuhkan tanda tangan pada lembar kontrak kerjasama mereka. Seolah garis nasibnya berada dalam kontrak kerja sama tersebut.


"Mulai hari ini, kamu resmi menjadi kekasih kontrak ku." ucap Arsakha sambil membubuhkan tanda tangan pada kontrak kerjasamanya.


"Iya pak, saya mengerti. Tapi, mohon kerjasamanya. Siapa tahu saya salah ucap nantinya" ucap Mentari dengan nada rendah diakhir kalimatnya.


"Aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun!...mengerti!" tegas Arsakha sembari mencondongkan sedikit tubuhnya kearah Mentari, membuat Mentari terlonjat kaget dan langsung menggangguk cepat menanggapi ucapan Arsakha.


Sungguh Mentari sangat gugup melihat wajah Arsakha dari jarak dekat, jantungnya bahkan tiba-tiba berdegup kencang melihat lebih dekat wajah tampan CEO nya yang menjadi idaman karyawan wanita.


Dan anehnya Mentari masih saja memandangi wajah pria idaman kaum hawa, tanpa menyadari sebuah tangan sudah mendarat di keningnya.


"Awwww" Mentari langsung meringis kesakitan sambil memegangi keningnya.


"Itu hukuman pertama untukmu" ketus Arsakha sambil tersenyum sinis melihat wajah Mentari yang tampak memerah akibat ulahnya.


Namun diluar dugaan, terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan, membuat Arsakha dan Mentari saling melempar tatapan dengan kening berkerut.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗


__ADS_2