Kekasih Kontrak CEO

Kekasih Kontrak CEO
Bab 3


__ADS_3

Mentari sampai di rumah saat langit senja. Dia memarkirkan motor matic nya di teras rumah. Keningnya berkerut melihat beberapa bapak-bapak masih terlihat mengantri duduk di kursi plastik yang memang dikhususkan untuk pasien abahnya, tepatnya di teras rumah.


Mentari tersenyum ramah saat bapak-bapak kompak melihat kearahnya. Mereka pun ikut tersenyum melihat Mentari yang merupakan anak dari tukang pijat langganannya.


Perlahan Mentari membungkukkan setengah badannya melewati bapak-bapak yang masih setia menunggu antriannya untuk mendapatkan jasa pijat dari Abah Masrul.


"Baru pulang neng" ucap salah satu bapak-bapak menampilkan senyuman menewan nya yang ternyata ompong.


Mentari menggangguk disertai senyuman tipis. Lalu menoleh kearah pintu masuk, khusus ruangan abahnya buka praktek pijat untuk pasien yang mengalami patah tulang, urat kejepit dan lainnya.


"Akkkkhh, ampun Abah!"


Mentari dan para bapak-bapak terkejut mendengar jeritan pasien yang sedang ditangani oleh Abah Masrul di dalam ruangan tersebut.


"Mohon mengantri ya, pak" ucap Mentari dengan ramahnya melihat ketegangan dari wajah bapak-bapak yang terkejut mendengar jeritan salah satu pasien abahnya. Lalu Mentari melangkah masuk ke dalam rumah untuk menemui ibunya.


"Assalamualaikum. Bu, Mentari pulang!" teriaknya saat berada di ruang tamu.


"Waalaikumsalam!" jawab ibu dari arah dapur.


Mentari tersenyum tipis mendengar suara ibunya dari arah dapur. Dia melangkah menghampiri ibunya yang sedang sibuk di dapur.


"Bu, lagi masak apa?" tanya Mentari melihat ibunya sedang mengaduk masakan.


"Tumis kangkung, pepes ikan, tempe goreng dan sambal terasi" jawab ibu tersenyum yang masih mengaduk masakannya.


"Wah enak tuh. Kalau begitu Mentari ke kamar dulu, Bu" ucap Mentari sambil menghirup aroma masakan ibunya yang begitu menggugah selera, bahkan sampai mengecap lidahnya.


"Ya, sana mandi, terus ganti baju. Setelah selesai, bantu ibu buat teh untuk para pasien Abah. Karena ibu mau membuat minyak urut pesanan dari pasien Abah mu setelah ini" ujar ibu tersenyum.


"Baik Bu. Emmm.. aku lihat pasien Abah banyak hari ini, Bu. Bahkan masih banyak bapak-bapak yang mengantri di luar " jelas Mentari.

__ADS_1


"Alhamdulillah, nak, yang namanya rejeki kita tidak pernah sangka-sangka, termasuk banyaknya pasien Abah hari ini" tutur ibu sambil menuangkan penyedap rasa pada masakannya.


"Iya Bu, Alhamdulillah ya" balas Mentari, kemudian pamit ke kamarnya.


Mentari masuk ke dalam kamarnya lalu meletakkan tasnya di atas nakas. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang hanya cukup untuk satu orang.


Dipandanginya deretan poster pembalap MotoGP asal Italia yakni Valentino Rossi. Mentari sangat ngefans dengan Rossi dari SD sampai detik ini. Bahkan bisa dibilang Rossi merupakan cinta keduanya, karena cinta pertamanya hanya untuk abahnya seorang.


Rossi merupakan pembalap dunia dengan nomor motor 46, suit bernuansa biru dan kuning yang khas, serta julukan The Doctor yang begitu melekat pada pembalap MotoGP yang satu ini.


Poster Rossi hampir memenuhi dinding kamarnya, termasuk foto polaroid dari pembalap tercintanya. Dimulai dari foto Rossi yang masih muda hingga deretan foto Rossi mendapatkan tropi piala.


Bisa dikatakan Rossi adalah penyemangat hari-harinya dan sekaligus pacar halu nya. Dia bahkan rela menjadi istri kedua yang jelas bisa bersanding dengan idolanya, Valentino Rossi.


Mentari sungguh gadis yang berbeda, mengidolakan seorang pembalap dunia. Biasanya gadis-gadis seperti dirinya kebanyakan mengidolakan K-Pop ataupun aktor korea maupun aktor luar negeri yang tampan bak titisan dewa yang menjadi idola rakyat Indonesia.


"Aaahhh kapan aku bisa bertemu denganmu, Rossi. I love you so much" gumam Mentari sambil memeluk guling yang lagi-lagi foto Rossi yang terpampang di gulingnya.


Mentari terkekeh kecil lalu melangkah ke kamar mandi untuk mandi. Tak membutuhkan waktu lama, Mentari tampak segar keluar dari kamar mandi dan sudah mengenakan pakaian santainya yang sempat dia bawa masuk ke kamar mandi.


Kaos oblong putih dan celana training hitam menjadi pakaian ternyamannya. Tidak lupa Mentari menjalankan ibadah lima waktunya sebagai umat islam dengan khusyuk.


Setelah selesai menjalankan ibadahnya, barulah Mentari keluar dari kamarnya. Terlihat teras rumah sudah sepi, sepertinya pasien abahnya sudah pada pulang.


Saat akan melangkah ke dapur, tiba-tiba pintu rumah terbuka dan muncullah sosok Abah dan adik tersayangnya yang baru saja pulang dari masjid sembari mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumah.


Dengan cepat Mentari membalas salamnya, lalu menghampiri abahnya. Mentari bergerak mencium punggung tangan abahnya kemudian duduk di kursi kayu samping abahnya.


"Kemana semua pasien, Abah?. Padahal tadi ibu meminta Mentari untuk membuatkan minum untuk pasien Abah" ucap Mentari heran yang sudah tak melihat pasien abahnya.


"Mereka semua sudah pulang, nak. Bukankah jadwal praktek Abah dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Jadi yang belum kebagian, mereka kembali akan datang besok pagi" jelas Abah Masrul sambil melepaskan peci hitamnya

__ADS_1


"Ooh pantesan, kalau begitu Mentari ke dapur dulu Abah" pamit Mentari ke belakang dan Abahnya hanya mampu mengangguk menanggapi ucapannya.


Mentari akan membuatkan teh hangat untuk abahnya. Sekalian membicarakan tentang pekerjaan nya hari ini.


*


*


*


Sementara di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah sakit terbaik kota Jakarta. Terlihat pria jangkung bermanik hitam yang tak lain adalah Arsakha tampak berjalan tergesa-gesa memasuki rumah sakit.


Awalnya dia begitu cuek dan tidak peduli dengan kabar buruk yang baru saja menimpa kakeknya.


Namun, dia tidak ingin menjadi cucu durhaka sekaligus anak durhaka saat mengetahui ibunya lebih dulu datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi kakeknya dibandingkan dengan dirinya yang tadi sempat mengobrol dengan kakeknya beberapa jam yang lalu.


Arsakha melangkah lebar menuju ruang perawatan VIP. Dari kejauhan, dia sudah mampu melihat asisten pribadi kakeknya berdiri tegak di dekat pintu persis pasukan bersenjata.


"Apa yang sudah kamu lakukan Ronald?. Bagaimana bisa Eko terjatuh di restoran dan langsung mendadak masuk ke rumah sakit" ucap Arsakha dengan nada penekanan sembari menyilangkan kedua lengannya di depan dada.


Ronald yang tahu betul arah pembicaraan tuan mudanya langsung buka suara.


"Saya selalu berada di samping tuan Herman selama berada di restoran. Hanya saja, darah tinggi tuan melonjak naik ketika mengobrol bersama anda. Sekarang kondisi tuan Herman sedang kritis, jadi tolong jangan membuat masalah saat menemuinya" jelas Ronald panjang lebar.


"Apa! Eko kritis? ha ha ha...aku tidak percaya, mungkin ini cuma rencana Eko demi memuluskan rencananya untuk menjodohkanku!" ujar Arsakha diiringi gelak tawa. Dimana Eko adalah singkatan dari Eyang kolot dan Ronald sudah paham betul siapa gerangan Eko yang selalu disebut-sebut cucu tuannya.


"Saya tidak bohong tuan Arsakha, kalau anda tidak percaya silahkan anda masuk ke dalam ruangan dan lihat sendiri bagaimana kondisi tuan besar" pinta Ronald serius.


"Baiklah!"


Arsakha berdengus kesal lalu bergegas masuk ke dalam ruang perawatan kakeknya, hingga matanya membulat sempurna melihat suasana ruangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2