
Maaf ya teman-teman, aku baru update. Beberapa hari ini aku sakit dan tak bisa nulis untuk lanjutkan bab selanjutnya. Insyaallah, semoga author di beri kesehatan dan akan terus menghibur teman-teman semua lewat tulisan author yang nyeleneh iniπ€π
Happy reading πππ
"Maaf, aku terlambat" ucap Mentari sambil mengedipkan matanya, dimana bulu matanya berwarna warni.
Refleks pria tampan yang sudah menempati meja langsung menoleh kearahnya. Mentari terlonjat kaget, bulu matanya hampir copot melihat wajah pria itu.
"Silahkan duduk!"
Suara tegas nan serak yang dilontarkan oleh pria tampan itu seakan menghunus jantung Mentari saat itu juga.
"Ba-baik" ucapnya terbata-bata seakan jantungnya akan copot dari tempatnya melihat sosok pria tampan dengan sejuta pesona duduk angkuh di kursi.
Pria tampan itu tidak lain adalah sang CEO Perusahaan Sentosa Group, tempat Mentari bekerja selama setahun ini.
Dengan gugup plus takut, Mentari lekas mendaratkan bokongnya di kursi kayu yang terdapat bantalan di atasnya. Nyali Mentari seakan menciut melihat pria tampan yang bernama lengkap Arsakha Prasetya Sentosa.
Siapa yang tidak kenal sosok CEO Perusahaan Sentosa Group. Hampir semua karyawan wanita begitu terpesona bahkan tergila-gila memuja ketampanan sang CEO, tapi terkecuali bagi seorang Mentari.
Namun dilain sisi, hampir semua karyawan begitu segan bahkan tak ada yang berani berurusan dengan sang CEO, termasuk Mentari. Walaupun mengenai hal sekecil apapun tidak ada berani mengusiknya, karena pekerjaan dan jabatan mereka yang akan menjadi taruhannya, jika berani berurusan dengan CEO dingin yang tidak kenal kata maaf dan belas kasih.
Menurut rumor yang beredar, mulut sang CEO setajam belati panas yang siap menghancurkan mangsanya, satu ucapan saja beribu-ribu makna yang terkandung didalamnya yang mampu menghancurkan karier seseorang hari itu juga.
Mentari hanya mampu menunduk dan begitu kesulitan menelan ludahnya, dia tidak berani untuk menatap wajah tampan atasannya. Kedua tangannya tampak diremas di bawah meja yang mulai gemetaran.
Tidak hanya itu, kedua kakinya di bawah sana sudah gemetaran, untungnya dia hanya memakai sneaker, jika memakai hills mungkin saja akan terdengar bising di bawah meja dan mengundang perhatian pengunjung yang berdekatan meja dengannya.
Ya Tuhan, apa aku salah orang? kenapa harus pak Arsakha yang berada di meja ini. Seandainya saja aku datang lebih awal, mungkin aku tidak akan bertemu dengannya di tempat ini. Batin Mentari.
Mentari sudah tidak tenang duduk di kursi yang ditempatinya. Dia seolah akan dieksekusi mati yang hanya tinggal terhitung beberapa menit saja jika dihitung mundur.
Mendadak pikirannya menjadi blend berhadapan langsung dengan sang CEO.
__ADS_1
Ayolah Mentari, tunjukkan bakat aktingmu demi mendapatkan motor sport impianmu. Batinnya menyemangati dirinya sendiri. Dia tidak boleh pantang menyerah sebelum bertarung.
Perlahan Mentari mengangkat wajahnya dan tak lupa merapikan kembali rambut wig bentukan kribo yang terpasang di kepalanya. Jujur saja kulit kepalanya berkeringat dan sangat gerah menggenakan alat penyamaran tersebut.
"Nona Jessica Anastasya Ghifari...." ucap Arsakha dengan nada penekanan menyebutkan nama lengkap wanita yang sedang berkencan dengannya.
Dia bahkan terpaksa mendatangi kencan tersebut, supaya si Eko tidak mati berdiri di depan ibunya. Apa mau dikata, jika hal itu terjadi, selamanya dirinya akan dicap sebagai anak durhaka oleh ibu tercintanya.
Sorot mata Arsakha begitu tajam memindai penampilan wanita yang akan dijodohkan dengannya, hingga sebelah alisnya terangkat diikuti gelengan kepala melihat tampang wanita yang begitu dibanggakan oleh sang kakek. Bahkan seringai tipis terpatri di sudut bibirnya.
Wanita aneh! kenapa dia berpenampilan seperti badut? atau jangan-jangan dia juga memiliki niatan untuk menggagalkan rencana perjodohan kami. Batin Arsakha yang mampu menduganya. Dia begitu pandai membaca situasi disekitarnya.
"Hehehe...aku sangat terharu anda menyebut nama lengkapku, padahal kita baru saja bertemu paa....aah maksudku Arsakha, ya Arsakha" ucap Mentari gugup sambil menunjuk kearah Arsakha, dengan seulas senyuman tetap menghiasi bibir tipisnya.
Ekspresi wajah Arsakha tetap datar menatap tajam wajah wanita aneh yang duduk di hadapannya.
"Nona Jessica, kamu pasti tahu maksud pertemuan...."
"Aaah tentu saja, ha ha ha tidak usah berbicara formal, panggil saja aku Jessica" potong Mentari diiringi gelak tawa sambil memukul ujung meja.
Arsakha mengerutkan keningnya lalu mengusap rambutnya ke belakang. Dia yakin seratus persen jalan pikirannya sama persis dengan wanita yang sedang berkencan dengannya. Mengingat penampilan wanita itu begitu mencolok dan seolah-olah hanya dibuat-buat menjadi gadis jelek.
Bagaimana tidak, wanita itu berpenampilan persis seperti badut dan sungguh aneh menurutnya. Berpakaian berwarna-warni, rambut kribo, riasan wajah tebal nan mencolok persis kue beras yang siap digoreng. Bulu mata beraneka warna yang mengkilap-kilap dan sangat merusak penglihatannya.
Mereka kembali sibuk dengan pikirannya masing-masing, hingga pegawai restoran membawa pesanan mereka yang lebih dulu di pesan oleh Arsakha.
Mentari tersenyum tipis melihat pegawai restoran begitu cekatan menyajikan makanan dan minuman di atas meja yang ditempatinya.
"Wah, kamu sangat tahu betul makanan kesukaanku, Arsakha. Steak daging sapi, kebab, ayam panggang dan semuanya" ucap Mentari dengan mata berbinar melihat menu makanan yang mampu menguras isi dompet untuk kaum duafa seperti dirinya.
Oh, ternyata benar yang dikatakan oleh Ronald. Batin Arsakha sambil mengetuk meja menggunakan jari telunjuknya.
"Silahkan di nikmati tuan, nyonya" ucap pegawai restoran sebelum pamit undur diri.
__ADS_1
"Terima kasih, aku memang ingin menghabiskan semuanya" ucap Mentari keceplosan, untungnya dia segera meralat ucapannya. "Eeeh maksudku bersama Arsakha, pasangan kencanku" ucap Mentari dengan senyum dipaksakan menatap kearah Arsakha.
Ya ampun ada-ada saja dengan ucapanku ini. Tapi, biarin aja yang jelas dia harus melihat rencanaku selanjutnya. Batin Mentari senyum-senyum sendiri persis orang gila.
Sementara Arsakha hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar melihat tingkah wanita aneh yang menjadi teman kencannya.
"Karena makanan yang kamu pesan begitu banyak, maka dari itu kita harus berlomba menghabiskannya, bagaimana?" ucap Mentari antusias.
"Kamu saja yang habiskan semuanya, aku hanya ingin habiskan minumanku. Bukankah semua menu ini menjadi makanan kesukaanmu, Jessica" sinis Arsakha tersenyum mengejek.
"Oh baiklah" timpal Mentari dan langsung menyantap ayam panggang dengan racusnya. Semua itu ia lakukan semata-mata untuk membuat Arsakha menjadi ilfil kepadanya.
Dan benar saja apa yang dilakukan oleh Mentari membuat Arsakha menjadi mual dibuatnya. Pasalnya Mentari menjelma sebagai wanita rakus yang tengah kelaparan, seolah-olah sebulan lebih tidak diberi makan.
Arsakha sungguh tidak tahan melihat cara makan Mentari. Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia bergegas pergi. Meninggalkan Mentari seorang diri di restoran mewah tersebut.
"Yes, sepertinya aku berhasil" ucap Mentari berbangga diri melihat kepergian Arsakha. Dia lantas meletakkan tulang belulang ayam kalkun yang dipegang di kedua tangannya di atas piring. Mulutnya sudah belepotan bak manusia serigala yang baru saja memakan hewan buruannya.
Namun mendadak wajah Mentari menjadi pias melihat pegawai restoran menghampirinya. Ia mulai menduga akan dimintai tagihan atas semua makanan yang dipesan oleh Arsakha.
"Semuanya sudah dibayar Tuan Arsakha" ucap Pegawai restoran dan Mentari bernafas lega.
"Tolong di bungkus makanan ini" ucap Mentari yang tidak tega melihat makanan yang sama sekali tidak disentuh oleh Arsakha.
"Baik nyonya" ucap Pegawai restoran.
Mentari keluar dari restoran mewah sambil menenteng paper bag yang berisi makanan. Dia berjalan santai mendekati mobil Jessica.
"Bagaimana Mentari?" tanya Jessica yang sudah menunggunya di dalam mobil.
"Berhasil!" jawab Mentari sambil melepaskan rambut wig nya sebelum masuk ke dalam mobil Jessica.
Diluar dugaan, seseorang tengah memperhatikannya dari dalam mobil.
__ADS_1
Bersambung......