
Kembali kepada Yuka dan Dariel. Dariel pun menceritakan apa yang selama ini mengganggunya. Setelah mendengar cerita Dariel, ternyata menjadi Preceptor bukanlah hal yang mudah.
[Dulu aku hanyalah salah seorang dari Selected People yang beruntung dipilih oleh The Rule untuk menjadi Preceptor selanjutnya dari Element Wind.]
[Orang-orang, bukan, manusia-manusia yang ada dibawahku menganggap kalau aku sangat hebat dan dapat diandalkan karena masih hidup meski 3.000 tahun berlalu.]
[Dan setelah 3.000 tahun itu, aku berpikir kalau aku sudah bisa menyerahkan kota yang susah payah ku bangun bersama para rakyat kesayanganku dan yang kupercaya kepada mereka dan dengan pemikiran itu aku pun tertidur selama beberapa tahun.]
[Namun ternyata realita tak sesuai harapan. Saat terbangun, aku mendengar kalau kota yang ku bangun ini telah mulai kacau. Kota yang penuh dengan kebebasan tanpa terikat status atau perintah, kini terikat kembali dengan status.]
[Sebelum aku menjadi Preceptor, sebenarnya Freelance hanyalah kota yang buruk dengan banyak kasus kejahatan. Sejak meninggalnya Preceptor sebelumnya, aku berusaha merubah kota dengan sistem kerajaan dan kejahatan menjadi penuh kebebasan.]
[Tapi nyatanya, Freelance hampir kembali lagi seperti keadaan yang dulu. Aku bahkan membuat sahabatku sendiri sampai jatuh ke dalam kegelapan.]
[Sejujurnya aku sedikit senang Diamon muncul dan membuat para Bangsawan dan Bangsawan keturunan kerajaan kabur ketakutan.]
[Tapi disatu sisi, aku merasa bersalah karena Diamon sampai bisa dikendalikan oleh para Underworld Worshiper.]
Kurang lebih, itu yang diceritakan oleh Dariel pada Yuka.
"Dan kau tau apa? Jika bukan karenamu, mungkin waktu itu aku hanya bisa melihat kotaku dihancurkan berkeping-keping oleh sahabatku sendiri," ujarnya.
"Oleh karena itu, bolehkah aku memberikanmu Elemental Power? Aku selalu memikirkannya dari kemarin. Entah kenapa ada perasaan aneh yang memintaku untuk membuatmu menjadi Selected People," ucap Dariel lagi.
Yuka terkejut dan menolak saran Dariel. Namun Dariel tetap memaksa. Karena Yuka tipe anak yang tidak bisa menolak jika dipaksa, ia pun menurutinya dan menjulurkan tangannya ke Dariel.
Dariel pun tersenyum lalu mengukir lambang angin di tangan kanan Yuka.
"Dengan ini kau sudah resmi menjadi Selected People. Ah, rasanya hati ini lebih damai," ujarnya.
"Aku mengandalkanmu Yuka. Semoga kau, maksudku kita bisa menang di pertempuran berikutnya. Aku mau pergi dulu. Kalau kau ada pertanyaan, cari aku di bar atau di gereja ya. Dahh~"
Dariel pun pergi dengan tersenyum seolah-olah tak terjadi apa-apa dan sambil melambaikan tangannya.
...
"Dia menghampiriku hanya untuk bercerita hal kekanak-kanakkan seperti ini..? Dasar Preceptor."
"Hmph!"
"A-apa-apaan mulutku?! Uh, apa makhluk yang ada di tubuhku yang berbicara? Bisa-bisanya dia bilang cerita itu cerita yang kekanak-kanakkan..." ucapnya.
__ADS_1
Yuka melihat waktu sudah semakin sore. Dan karena perutnya juga sudah lapar, ia pun pulang ke rumah mempersiapkan mental dan fisik untuk pelatihan besok.
...****************...
Keesokan harinya, Yuka pergi ke Freedom Warrior bersama Aaron. "Aaron, Ainsley mana? Kok dia gak ikut kita?" tanya Yuka padanya.
Aaron menggelengkan kepalanya, "Dia izin, entah bagaimana bisa dia tiba-tiba saja sakit demam, batuk, pilek secara bersamaan."
"Hee? Kok kayaknya aku pernah dengar penyakit itu ya..?" gumamnya.
"Kenapa?"
"Gak, gak ada kok."
Setelah beberapa langkah, mereka pun sampai di ruang pelatihan Warrior. Aaron meminta kakeknya Ardolph untuk jangan terlalu keras pada Yuka lalu pergi meninggalkan Yuka.
Yuka yang saat itu hanyalah wanita dan orang asing terus saja dilihatin oleh para Waarior disekitar. Hal itu membuat Yuka tak nyaman.
"Kenapa ada orang asing disini?"
"Apa dia mau belajar bertarung? Tapi dia kan wanita"
"Tapi tidakkah dia hanya mengandalkan koneksi?"
"Entahlah."
Bisik para Warrior-Warrior itu. "Hei kalian! Latihan! Siapa yang bilang kalian boleh istirahat dan menggibah seseorang ha?!! Cepat latihan kalian!!" teriak Ardolph.
"Waa!! S-SIAAAAPP!!!" Para Warrior pun berlari ke tempat mereka masing-masing dan mulai berlatih.
"Ha... Dasar anak-anak zaman sekarang. Bisanya cuma ngomongin orang saja. Maaf ya Yuka," ucap Ardolph.
Yuka mengangguk iya. Lalu, Ardolph mengajak Yuka ke salah satu sisi di ruang pelatihan. Di sisi tersebut, ada dua meja kayu yang lebar dengan berbagai senjata disana.
Meja sebelah kanan berisi pedang, tombak, dan pedang yang besar. Lalu di meja sebelah kiri berisi busur dengan anak panahnya, pistol dengan pelurunya, dan sebuah benda bulat dengan cincin yang mengelilingi bola itu.
Ardolph bertanya pada Yuka, Yuka ingin belajar serangan jarak dekat atau jarak jauh. Yuka pun menjawab jarak dekat. Lalu, Ardolph meminta Yuka untuk memilih senjata apapun yang ingin dipelajarinya di meja sebelah kanan.
"Aku ingin mencoba pedang lebih dulu," ucapnya sambil mengambil pedang tersebut.
Lalu Ardolph pun mengajari Yuka hal-hal dasar lebih dulu. Cara untuk memegang pedang dengan benar, cara membuat dasar yang kokoh agar tidak mudah jatuh, dan sebagainya.
__ADS_1
Namun yang mengejutkan adalah, Yuka tak perlu waktu lama untuk mempelajari dasar-dasar itu. Hanya dalam waktu 3 jam saja, dia sudah menguasai dasar-dasar itu.
"Yuka, apa kau yakin ini pertama kalinya kau berlatih bela diri..? Kau... seperti sudah menjadi seorang ahli dalam sekejap..." ujar Ardolph tak percaya.
Yuka terheran-heran, "Ehh, apa iya segitunya? Saya yakin kok ini pertama kalinya buat saya..." ucapnya.
Ardolph pun tersenyum, "Kalau begitu, kau langsung ujian saja!" katanya sambile menarik Yuka.
"Hee?!! U-ujian?!!"
Di ruang pengujian, Yuka dihadapkan oleh satu papan kayu yang menyerupai manusia dan memegang . Tapi anehnya! Papan itu bisa bergerak layaknya manusia! Apa-apaan coba!
"Hancurkan dia dengan menyerang titik vitalnya! Yuka!"
"Haaa??!!"
Dan, "Wuushh!" Manusia kayu itu hampir saja mengenai Yuka. Yuka pun sadar, ini bukan waktunya menganggap hal ini dengan remeh. Ia mencoba menyerang kepala manusia kayu itu namun gagal.
Antara serangan Yuka yang belum kuat atau karena pedang kayu miliknya kurang tajam. Yuka pun mencari cara untuk mengalahkannya. Namun musuhnya tidak memberinya kesempatan untuk berpikir.
Manusia itu menyerang Yuka dengan pedang tajamnya dan, "Sreeett!!", serangan Manusia itu berhasil mengenai wajah Yuka dan membuat wajah Yuka berdarah.
"D-darah..."
Dan saat melihat darah itu, tiba-tiba saja amarahnya menggebu-gebu, lalu ia memegang pedangnya lebih kencang dan menyodorkan pedang miliknya.
"Sialan kau.. AKAN KUHANCURKAN KAU!!!!"
Tak tau apa yang terjadi, tiba-tiba saja Yuka sudah muncul di depan Manusia itu lalu menyerang kepalanya.
Kepala manusia itu pun mulai tergores. Layaknya manusia, ia sadar kalau dirinya terancam, ia pun mengayunkan pedangnya ke Yuka. Namun, pedangnya sedikit terlambat, karena Yuka telah menghilang lebih dulu.
Melihat hal itu, Yuka tersenyum dengan aneh, "..KETEMU..!!" Setelah Manusia itu melancarkan serangannya, Yuka segera menghampirinya lalu menyerangnya dan kemudian menghindar dari serangannya.
Ia terus mengulangi itu dengan cepat sampai kepala musuhnya terlepas dari badannya.
Ia pun berhenti sejenak lalu tertawa. Setelah itu dia menghampiri potongan kayu itu dan menginjak-injaknya sampai hancur lebur sambil tertawa.
Ardolph yang melihatnya terdiam. "Apa... dia benar seorang wanita, bukan psikopat? Dia bertarung layaknya di medan pertempuran, dan sifatnya beda jauh sesaat sebelumnya. Seperti.. dua orang yang berbeda..." pikirnya.
Yuka sendiri masih saja menginjak-injak kayu itu sambil tertawa layaknya orang gila, benar-benar gila.
__ADS_1