Kembalinya Penguasa Sesungguhnya

Kembalinya Penguasa Sesungguhnya
Quest Sampingan yang Baru


__ADS_3

Setelah tenangan, Ardolph menyuruh Yuka untuk menyerang manusia kayu lagi, namun berbeda dengan yang tadi.


Manusia ini dibagi menjadi 2, manusia kayu berwarna merah dan manusia kayu berwarna biru. Di ujian tahap 2 ini, tiga manusia merah akan ada di belakang tiga manusia biru. Yuka harus mengalahkan manusia merah tanpa harus melukai manusia biru.


"Hah!! Apa-apaan?!! Bagaimana cara aku menyelesaikannya?! Dan lagi... kenapa sebelumnya aku bersikap seperti orang gila..?" herannya.


"Ini karena kau merasa senang, Yuka," ucap suara irmtu lagi.


"Gh, kau lagi. Kau ini sebenarnya apa sih? Dan apa maksudmu dengan aku merasa senang ha?" tanyanya dengan kesal dalam pikirannya.


"Aku sudah bilang, Aku adalah Kau, dan Kau adalah Aku. Jika kau memang ingin tau lebih lanjut, berusahalah untuk pergi ke wilayah selanjutnya dengan cepat." Dan kemudian suara itu pun menghilang.


Yuka semakin kesal. Ia pun memutuskan untuk tidak mempedulikannya dan fokus pada ujian. Saat mencoba fokus, tiba-tiba ia melihat sebuah benang putih yang mengikat pada manusia merah.


"Benang putih apa ini..?" gumamnya. Sementara Ardolph yang melihat Yuka dari sisi yang lain terheran-heran karena Yuka tak kunjung menyerang juga.


"Ikutilah benang ini Yuka. Ini adalah cara milikmu untuk menang," kata suara itu lagi. "Kau ini muncul hilang muncul hilang ya," kesalnya.


"Tapi, entah kenapa aku merasa kau benar, benang ini, adalah caraku." Yuka pun langsung menghilang secepat angin dan tau-tau sudah ada di dekat manusia merah.


Yuka langsung mengeluarkan hawa membunuh tanpa ia sadari lalu menyerangnya menggunakan Elemental Power yang belum lama dia dapatkan.


"Wind.. Swing..!!" Seketika sebuah angin yang membentuk setengah lingkaran keluar dari pedang kayu Yuka dan menyambar manusia merah dengan cepat.


Berhubung manusia merah yang menyandera manusia biru berada dalam satu garis, ketiga manusia merah itu pun hancur dalam satu serangan.


"KRAAK!!!"


"KRAAAAKK!!!!"


"KRAAAKKK!!!!"


"Fuhh, fuuh, lelah banget rasanya.." gumam Yuka dengan napas terengah-engah.


Kemudian, ujian tahap kedua pun selesai. Ardolph langsung menghampiri Yuka dengan cepat dan memegang Yuka dengan erat.


"YUKA! KAU..! KAU..!! KAU SEORANG SELECTED PEOPLE?!!" teriaknya pada Yuka.

__ADS_1


Yuka merintih kesakitan dan meminta Ardolph untuk melepaskan Yuka. "Ah, ma-maaf Yuka." Yuka pun mengangguk.


"Yuka, kau, kau seorang Selected People..?" ragunya. Yuka mengangguk lagi, "Iya, bisa dibilang begitu. Aku baru mendapatkannya kemarin..." jelasnya.


Ardolph pun tambah terkejut, "Kau sungguh bisa membuatku terkejut! Hahaha! Tak heran kau bisa bersama dengan Aaron anak itu! Hahaha!!" tawanya dengan sangat keras dan senang.


"Ahaha... B-begitu ya..?"


"Maksud kamu apaan soal "bersama" pak tua ini?!! Huh, sabar.. Akhir-akhir ini aku sering sekali marah karena hal kecil... Kenapa ya..." batin Yuka.


Setelah tertawa, Ardolph meminta Yuka untuk pulang saja. "Haha, hah, Yuka, kau pulang saja dulu. Kau pasti lelah. Besok kita lanjutkan lagi di jam yang sama. Karena kamu sudah mahir memakai pedang, besok waktunya senjata jarak jauh, oke?" katanya sambil menepuk pundak Yuka.


"Aku harus pergi dulu! Kau pulanglah! Jalan-jalan saja sama Aaron atau Ainsley! Kakek duluan!" ujarnya sambil pergi. Yuka terdiam sejenak lalu keluar dari gedung Freedom Warrior.


"Nah, apa yang harus kulakukan?" Dan saat itu pun, muncul sebuah Quest sampingan di Layar Status. Quest itu meminta Yuka untuk berkeliling wilayah Freelance sebelum esok hari dan sekalian membeli baju.


"Baju..? Memang kenapa dengan bajuku? Kenapa aku harus beli baju ya kan..." Lalu, tanpa Yuka sadari, Aaron sedang mengendap-endap hendak mengagetkan Yuka.


Tapi aksinya gagal. Bukannya Yuka yang terkejut, tapi Aaron yang terkejut sampai hampir terjatuh.


"Puahaha!! K-ka.. kamu lho Grandmaster Aaron, masa hanya karena ini kau kaget sampai hampir mau jatuh seperti itu?! Puahahaha!!!!" tawanya dengan senang sambil menyindir.


Yuka terkejut, ternyata Grandmaster yang ada di depannya ini masih berumur 18 tahun. "Ha?! K-kau masih 18 tahun?!"


Aaron tersenyum dengan sombong, "Kenapa? Masalah? Iri hm?"


"Gh! Nggak ya!"


"Hah, dahlah. Aaron, temanin aku pergi beli baju yuk, mumpung masih belum sore nih. Oh! Sama temanin aku keliling wilayah Freelance. Kamu mau gak?" pinta Yuka.


Aaron bertanya, "Hm? Beli baju? Keliling? Buat apa?"


"Pingin tau aja. Dan lagi, sepertinya bajuku aneh, ya gak sih?" balasnya.


Aaron pun melihat Yuka dari atas sampai bawah lagi. "Setelah dipikir-pikir benar juga. Pakaianmu mewah seperti bangsawan karena berwarna hitam putih yang cocok dengan mata putihmu dan rambut hitammu..." ujarnya.


"Tapi desainnya sangat berbeda dengan yang dipakai orang-orang di Alienated. Hm, apa yang membuatnya beda?" katanya sembari berpikir.

__ADS_1


Setelah berpikir, "Oh ya, saat tadi latihan, apa kau bisa bergerak leluasa tanpa masalah?" Yuka pun berpikir sejenak.


"Hm, dipikir-pikir, tadi saat latihan, aku sedikit susah bergerak karena bajunya berat. Tapi saak aku fokus, baju ini terasa sangat ringan seperti bulu," jawabnya.


"Ah, itu yang membuatnya beda."


"Apa?"


Aaron pun menjelaskannya dengan panjang lebar. "Everyday Clothes, adalah sebuah toko yang ada di seluruh wilayah Preceptor. Toko ini membuat sebuah baju yang tahan air, tahan api, tahan serangan listrik, dan tahan robek serta kokoh, namun sangat ringan."


"Tapi baju milikmu berbeda. Baju milikmu banyak hiasan namun terlihat berat. Dan lagi sepertinya dia tak tahan sama serangan fisik dan Elemental. Itu sebabnya baju mu tak seperti baju orang-orang di Alienated," tambahnya.


Yuka terdiam, "..kenapa jadi seperti ini ya kan? Aku cuma minta temanin beli baju aja kok jadi kayak semacam kelas sihh..." keluhnya dalam hati.


"Tau ah! Yang jelas, kamu mau nemanin aku apa enggak?! Jawab ya atau tidak! Aku gak perlu jawaban lebar tambah kali kurang!" kesalnya.


"Cewek ini! Udah di jelasin malah marah! Kan percuma aku ngomong jelasin tadi!" marah Aaron juga.


Yuka tak terima begitu saja. Ia pun membalasnya, "Ha?! Kan aku gak ada minta kamu jelasin!! Aku nanya kamu bisa apa gak nemanin aku! Tapi kamunya malah jadi ngadain kelas baju! Aku maunya jawaban! Bukan penjelasan!!"


"Hei!! Seenggaknya berterimakasih lah! Aku sudah capek-capek jelasin tapi gak dihargai! Dan lagi kamu sendiri kok yang minta di jelasin!!" balas Aaron lagi.


"Haa?!!"


Mereka terus beradu argumen sampai dilihat para Warrior yang ada disekitar.


"Itu Grandmaster Aaron kenapa?"


"Gak tau tuh, marah ama ceweknya?"


"Ha? Memang Grandmaster Aaron punya kekasih?"


"Mungkin? Akhir-akhir ini aku sering liat dia jalan bareng sama wanuta itu."


"Masa sih? Tapi kok mereka berdua ngomobg bahasa seperti itu?"


"Yah, namanya juga pertengkaran kekasih, bukan urusan kita. Yuk ah, mending nugas, entar kena hukuman kita."

__ADS_1


Adu argumen antara mereka masih terus belanjut.


__ADS_2