
Setelah Yuka bertukar posisi dengan Penyair itu, Yuka tiba-tiba saja pingsan, sepertinya tubuhnya tak sangguh menahan beban kekuatan dari makhluk yang merasuki tubunya. Untungnya, Ainsley bisa menangkapnya.
Sementara Penyair itu berusaha untuk berkomunikasi dengan Diamon. Jika komunikasi ini selesai, maka perang yang mendadak antara Freelance dengan Dragon ini akan berakhir.
Namun, ternyata semua tak berjalan selancar itu. Saat Penyair itu bertanya tentang alasan kenapa Diamon menyerang kota, tiba-tiba saja muncul Pria Hitam yang lain di leher Diamon.
"Hentikanlah, Preceptor," ucap Pria tersebut.
"Gh, lagi-lagi kalian, Underworld Worshiper."
Pria itu kemudian duduk di leher Diamon lalu mengelus-elus lehernya Diamon. "Uh, kasian sekali Dragonku yang satu ini. Kau pasti marah karena Tuanmu yang membuangmu tiba-tiba muncul tanpa rasa bersalah, ya kan?" ucap Pria itu.
"GGRRRRR...."
Penyair itu merasa sangat marah, "LEPASKAN DIAMON! DASAR KALIAN ORGANISASI SESAAATTT!!!! ULTIMATE ELEMENTAL! WIND BLADE!!!" teriak Penyair itu sambil menjulurkan tangannya ke atas.
Seketika, muncul beberapa bilah raksasa diatas Diamon. "SERAAAANGG!!!!" teriak Penyair itu sembari mengayunkan tangannya ke bawah dengan kuat. Bilah-bilah itu pun menyerang Diamon dan Pria itu secepat angin.
Karena bilah itu terbuat dari angin, alhasil muncul angin yang sangat kencang di sekitar mereka. Meski itu angin, namun benda apapun yang terbang ke arahnya akan hancur berkeping-keping, bahkan besi sekalipun.
"Kekuatan yang hebat... Padahal aku salah satu Selected People lho.. Lalu apa gunanya lambang yang ada ditanganku ini, Ainsley?" ujar Aaron sambil melihat tangan kanannya dengan perasaan sedih.
"Kak, jangan berkata seperti itu. Harusnya kakak senang telah dipilih oleh Preceptor of The Water. Jika beliau mendengar perkataanmu ini, beliau pasti akan merasa sangat sedih," balas Ainsley sambil menggendong Yuka.
"Mm, makasih Ain. Ngomong-ngomong, kau tidak lelah menggendong Yuka terus?"
Ainsley menggeleng, "Gak, gak berat kok. Lihat, dia seringan bulu, hehe," ucapnya sambil menaik-turunkan Yuka. Aaron hanya bisa tersenyum melihat tingkah adiknya itu.
Namun, disaat mereka sedang asik sendiri, angin yang ada disekitar Diamon itu tiba-tiba terbawa ke arah kota. Untungnya, angin itu tidak terlalu berdampak untuk orang-irang maupun bangunan sekitar. Sepertinya anginnya mulai sedikit melemah.
"Hm, bisa-bisanya kau mengatakan hal buruk tentang Underworld Worshiper. Jika yang mulia mendengarnya, bisa-bisa dia akan marah dan menyatakan perang lho~" ucap Pria hitam itu dengan dinding hitam di depannya.
__ADS_1
Penyair yang melihatnya sangat terkejut, begitu pula dengan para anggota di Freedom Warrior.
"Nah, Diamon, waktunya kita pulang. Lain kali saja kita menghancurkan kota ini. Dan, kita tinggalkan saja, orang yang sudah tidak berguna," ucap Pria itu sambil melihat pria yang sudah di tendang Yuka sebelumnya.
"GRRAAAAAAOOOORRRR!!!!!!!!!!"
Setelah Diamon meraung dengan keras, ia mengepakkan sayapnya sampai-sampai angin lagi-lagi bertiup dengan kencang. Alhasil, Diamon pun pergi dari kota bersama Pria hitan itu.
Karena Diamon dan orang itu telah pergi, Penyair itu pun perlahan-lahan mulai turun.
Saat ia sudah mencapai tanah, ia memukul tanah dengan keras karena merasa sangat kesal dan seperti telah dipermainkan.
Lalu, Aaron yang melihatnya segera menghampiri Penyair itu.
"Maafkan saya jika saya mengganggumu, tapi saya harus melakukannya sebagai Grandmaster dari Freedom Warrior. Katakan, siapa anda?" ucap Aaron.
Penyair itu menenangkan dirinya lalu menjawab Aaron, "Kau tak perlu mengetahuinya, setidaknya, tidak sekarang."
"Yang perlu kau tahu hanyalah, aku merupakan salah satu dari Selected People dan bisa dibilang aku juga seorang yang bisa berkomunikasi dengan Preceptor of The Wind," tambahnya lagi.
Aaron terdiam sejenak, "Baiklah, saya tidak akan banyak bertanya. tapi saya harap, anda bisa diajak bekerja sama di kemudian hari," kata Aaron.
Dan akhirnya, perang yang dadakan ini telah berakhir. Para rakyat dan bangsawan yang kabur segera kembali ke Freelance.
Namun, entah bagaimana bisa, sebuah isu muncul di kota yang membuat para rakyat dan bangsawan ketakutan. Isu itu mengatakan kalau Dragon akan kembali lagi untuk mnyerang Freelance.
Para bangsawan marah habis-habisan kepada para Freedom Warrior karena tak bisa melindungi kota dengan benar.
Aaron yang tidak terima pun marah, dan meminta para bangsawan untuk pergi dari kota jika tidak terima.
"DASAR PARA BANGSAWAN BUSUK! KALIAN PIKIR KAMI BISAS DITINDAS HANYA KARENA KALIAN BANGSAWAN SIALAN?!!"
__ADS_1
"KALAU KALIAN TIDAK MENERIMANYA, LEBIH BAIK KALIAN PERGI SEBELUM AKU MEMBUNUH KALIAN DENGAN PEDANGKU!!!!!" teriak Aaron sambil mengacungkan pedangnya kepada para bangsawan yang protes.
Para bagsawan itu hanya bisa diam sambil menggertakkan giginya, lalu mengancam Freedom Warrior sambil pergi layaknya pengecut.
Alhasil, sebagian besar para bangsawan pergi meninggalkan Freelance, dan sisanya, seperti rakyat dan sisa bangsawan masih menetap di Freelance.
Beberapa hari kemudian, Yuka pun akhirnya terbangun juga. Saat terbangun, ia terkejut, ternyata ia sudah pingsan selama beberapa hari. Dan lagi, ia tak bisa mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
Dan setelah sedikif lebih baik, ia mendapat Quest utama di Layar Status. Quest itu menyuruh Yuka untuk belajar bela diri di Instructor di Freedom Warrior.
Tanpa berlama-lama, Yuka langsung pergi ke Freedom Warrior dengan bantuan Aaron dan Ainsley.
Sesampainya disana, Aaron mengajak Yuka pergi ke tempat pelatihan Warrior, karena disana adalah tempatnya para Instructor.
Mereka berjalan dan berjalan, sampai ia melihat seorang laki-laki besar yang tinggi berambut coklat berbaju putih coklat dan mata kirinya ada luka cakaran yang besar.
"Yuka, kenalkan, ini kakekku dan Ainsley, namanya Ardolph Bastian, panggil saja Ardolph. Dan dia adalah Grandmaster terdahulu. Karena sudah pensiun, dia jadi Instructor disini," jelasnya.
Yuka menunduk dan memperkenalkan dirinya. "Kyaaa! Orang menyeramkan ini kakeknya Aaron?!! Karena badannya dan wajahnya itu, aku pikir dia premaaannn!!! Uuhh...!" pikir Yuka sambil ketakutan dalam hati.
Ardolph menatap Yuka dengan tatapan tajam. Alhasil Yuka menjadi semakin takut olehnya. Namun, sesuai kata pepatah, kita tak boleh menilai dari sampulnya saja.
Dan, yah, penampilannya berbeda dengan sifatnya. Dia menyapa Yuka dengan ramah bahkan mengajaknya mengobrol. Dan ditengah-tengahnya Ardolph menggoda Aaron dengan mengatakan kalau Yuka adalah pacarnya.
Aaron tentu saja malu, karena ini peristiwa yang jarang, melihat seorang Grandmaster yang dingin terlihat malu-malu seperti itu, semua para Warrior di sekitar pun tertawa bahkan Ardolph sekalipun.
Setelah selesai mengobrol-ngobrol ringan, mereka pun akhirnya masuk ke topik utama. Ardolph menanyakan alasan Yuka mendatangi Ardolph.
Yuka menjawabnya tanpa basa-basi, "Instructor Ardolph, bisa tolong ajarkan saya bela diri?"
Ardolph melihatnya dengan ragu, "Kau yakin? Aku tak akan menahan diri melatihmu hanya karena kau berteman dengan cucuku," ucapnya dengan nada intimidasi.
__ADS_1
Yuka mengangguk dengan sangat yakin. "Baiklah, pelatihan akan dimulai besok. Kau istirahat saja, kudengar kau habis pingsan, ya kan? Ke sinilah besok jam 8 pagi," balas Ardolph.
Yuka pun pulang lebih dulu ke rumah sendirian, karena Aaron dan Ainsley masih ada kerjaan. "Aku harus nagapain dong...?"