Kembalinya Penguasa Sesungguhnya

Kembalinya Penguasa Sesungguhnya
Freelance, Kota Kebebasan


__ADS_3

Setelah 001 menghilang, Mieko atau sekarang namanya Yuka pun berdiri dan melihat sekelilingnya sekali lagi.


Lalu saat menoleh ke belakang, ia melihat sebuah patung laki-laki dan pohon yang besar seperti pohon beringin.


Lalu, tiba-tiba saja Realm Book milik Yuka bersinar. Yuka pun dengan cepat membukanya.


Ia terkejut karena buku yang awalnya kosong tanpa apapun itu tiba-tiba terisi oleh sebuah gambar dan tulisan.


Ia pun membaca tulisan yang ada di buku itu.


[Statue, adalah sebutan untuk sebuah patung yang dibuat oleh manusia kepada Preceptor mereka. Dan ini adalah salah satu dari Statue Preceptor yang ada di Dunia, yaitu Statue Preceptor of The Wind, Preceptor Anemoi.]


[Katanya, orang yang berdoa kepada Statue akan memberoleh Blessing dalam berbagai bentuk. Juga beberapa orang yang terpilih akan mendapatkan Elemental Power dari Preceptor. Preceptor bisa memilih orang yang diinginkannya untuk mendapat Elemental Power, mau dari wilayah kekuasaannya ataupun tidak.]


[Sacred Banyan. Sebuah pohon raksasa yang ada di wilayah Preceptor of Wind. Konon katanya, Sacred Banyan memiliki banyak roh yang tertidur dan memiliki kekuatan yang suci. Mungkin itu sebabnya tak ada satupun Unknown Creature di sekitarnya.]


Yuka cuma bisa membacanya tanpa mengerti sedikit pun. Rasanya kepala Yuka mau meledak karena informasi.


Setelah membaca informasi yang menyebalkan itu, ia pun menutupnya dan menyimpannya di Layar Status dengan memakai cara yang diberitahu oleh 001.


Lalu setelah itu, ia melihat detail dari Quest yang didapatkannya.


Quest itu meminta Yuka untuk pergi ke kota kebebasan yang jauh ada di depan Yuka. Quest itu juga memiliki batas waktu, sekitar 5 hari.


Sebelum berangkat, ia berdoa ke Statue, berharap bisa mendapatkan perlindungan selama perjalanannya.


Lalu, ia pun memulai langkah barunya menuju Kota Kebebasan.


Awalnya Yuka berpikir kalau untuk ke Kota paling tidak memakan waktu 2 sampai 3 hari. Namun, nyatanya, hanya perlu beberapa jam saja ia sudah sampai.


"Eee... kenapa aku sudah sampai saja..? Bukannya batas waktunya 5 hari? Tapi ini setengah hari aja gak dapet..." ujarnya.


Sembari memikirkannya, tiba-tiba saja layar muncul diwajahnya dan hal itu membuat Yuka terkejut.


Layar itu memberitahukan Yuka kalau Quest yang dilakukannya telah selesai dan akan segera berganti ke Quest yang baru.


Dan sebelum dimulainya Quest kedua, layar memberikan 3 hari agar Yuka bisa istirahat dan berkeliling.


Yuka tak habis pikir. Setelah itu, Yuka pun bergegas ke gerbang Kota.


Saat hendak memasuki gerbang Kota, ia diberhentikan oleh penjaga. Para penjaga meminta Yuka untuk menjelaskan identitasnya.


"N-namaku Yuka, seorang pengelana. Kebetulan aku melihat ada kota, jadi aku mencoba untuk mengunjunginya," jelas Yuka kepada Penjaga.


Karena para Penjaga merasa kalau Yuka tida k berbohong, mau tak mau para Penjaga harus mengijinkan Yuka untuk ke kota.


Setelah berhasil masuk, muncul sebuah pesan yang berisi kalau Realm Book Yuka memperolej informasi baru. Yuka pun mengeluarkannya dan mengeceknya.


[Freelance. Kota Kebebasan yang dipimpin oleh Preceptor of The Wind, Anemoi. Dulu, Freelance adalah kota yang menerima siapa saja. Namun, sejak Yang Mulia Anemoi tertidur, Freelance mengalami kekacauan.]


[Kekacauan itu dimulai oleh para bangsawan, terutama oleh bangsawan Alston yang merupakan keluarga kerajaan dari kerajaan Alston.]

__ADS_1


[Entah sejak kapan pemerintahan Freelance berubah menjadi kerajaan. Dan karena hal itu juga, para Freedom Warrior jadi tidak bisa melaksanakan tugasnya. Alhasil, banyak juga para atasan atau orang atas yang melakukan korupsi.]


Yuka hanya bisa diam saja sembari memasukkan kembali bukunya.


Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di kepala Yuka.


"Apa sebenarnya Preceptor itu?"


"Bangsawan Alston? Kerajaan? Pemerintahan?"


"Freelance?"


"Elemental Power?"


Itu hanya beberapa pertanyaan dari sekian banyak pertanyaan.


Namun, karena Yuka tau kalau berpikir tak akan menyelesaikan apapun, ia pun memutuskan untuk mengubur dulu pertanyaan-pertanyaannya dan segera bekeliling.


"Kota Freelabce... Kota yang terkesan seperti kota yang sudah sangat tua. Kota yang dikelilingi tembok dan dikelilingi sungai..."


"Angin yang sejuk, kicauan burung, bunga yang cantik, bagus banget," pikir Yuka sembari berjalan-jalan.


Saat berjalan, ia melewati sebuah kios buah. Seketika perut Yuka pun berbunyi.


Yuka pun mengelus perutnya, "Aku lupa kalau aku belum makan sedikit pun.. Ugh..."


Yuka pun menghampiri kios buah itu.


"Permisi..."


Raut wajah pedagang yang awalnya senang, seketika menjadi kesal. Ia marah-marah kepada Yuka dan mengusirnya.


Mau tak mau, Yuka hanya bisa pergi. Ia tak tau harus ngapain lagi. Sementara perutnya berbunyi semakin keras.


Karena tak ingin mati kelaparan, ia pergi keluar dari kota dan mencari buah di pohon yang ada di dekat sana.


Dan bisa-bisanya Yuka tidak sadar betapa banyaknya buah di pepohonan. Lalu, dengan cepat Yuka pun mengambil semua buah yang dilihatnya dan menghabiskannya dalam sekejap.


Karena kekenyangan, ia memutuskan untuk istirahat sebentar. Ia pun segera mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat.


Dan kebetulannya, ada sebuah kemah yang dibiarkan begitu saja. Ia pun menghampirinya dan mengecek sekitar kemah.


Di sekitar kemah, ia melihat tanda-tanda kehidupan. Lampu minyak yang menyala, tapak kaki yang baru, dan minuman yang masih hangat.


"Hm, berarti ini kemahnya ada yang punya dong? Yah, gak jadi istirahat deh..." keluhnya.


Dan tiba-tiba saja, dibelakang Yuka muncul seorang pria.


Pria itu memegang pundak Yuka. Yuka pun terkejut dan menampar wajah pria itu.


Pria itu tepukul mundur. Ia memegang pipinya itu sambil merintih kesakitan.

__ADS_1


"Aw..!! Sakit! Apa-apaan kamu?!" teriak pria itu.


"Justru kau sialan! Ngapain kamu muncul dibelakangku seperti itu?! Kau ingin mengejutkanku sampai mati ha?! Hah.. ha.. ha.." balas Yuka.


Pria itu pun gak mau kalah. "Ha?!! Kok kamu marah sih?! Aku yang harusnya marah! Ngapain kamu di kemah orang, ha?! Mau mencuri?!!" teriak pria itu lagi.


"Hei! Gak usah sok tau oke?! Aku cuma kebetulan nemu kemahnya dan tau tau kamu sudah ada di belakangku seperti itu! Aku hampir saja pingsan gara-gara terkejut tau!" balas Yuka.


Mereka berdua terus berdepat sampai hari hampir sore. Karena terus berdebat, mereka berdua berbaring di tanah dengan napas yabg terengah-engah.


"Hah, hah, ha... s-sialan..." ujar Yuka.


Pria yang terbaring di samping Yuka segera duduk dan berbicara pada Yuka.


"Ha, ha, ha.. Hei, cewek aneh, cepat katakan siapa kau sebelum ku serang dengan pedangku ini," ancam pria itu sambil mengeluarkan pedang yang ada di samping celananya.


Dan dengan cepat Yuka pun memperkenalkan dirinya karena dia gak mau kenapa-napa.


"Jadi kesimpulannya, kamu Yuka, seorang pengelana yang tiba-tiba terbangun sudah ada disini, miskin, dan hilang ingatan, begitu?"


Meski sedikit menusuk, tapi itu kenyataannya.


"Karena aku sudah memberitahu diriku, sekarang giliranmu! Katakan! Kau siapa?" tanya Yuka.


Lelaki berambut biru tua, berbaju hitam biru dan bermata hitam dengan pupil biru tua itu segera berdiri dan melakukan pose aneh sambil memperkenalkan diri.


"Aku adalah Grandmaster dari Freedom Warrior, namaku Aaron, Aaron Bastian," ucapnya.


"Aaron? Grandmaster?"


Aaron pun duduk kembali. "Ya, aku Aaron, sang Grandmaster Freedom Warrior. Aku baru saja pulang setelah menyelesaikan misi di Vigour," tambahnya.


"Menyelesaikan misi? Memang misi apaan? Dan kalau memang benar, kenapa kamu gak langsung ke kota, malah kemah?" tanya Yuka.


Aaron terdiam. "..itu bukan urusan orang asing sepertimu. Ini hanya masalah pribadi rakyat Freelance," ujarnya.


"Ah~ Aku tau, ini pasti ada hubungannya dengan para bangsawan, ya kan?"


Aaron terkejut, dan langsung mencengkram baju Yuka.


"Kau... kau tau darimana informasi ini, ha?!!" teriak Aaron.


"A-aw! Kok malah tanya sih?! Ya sudah jelas dari omongan orang-orang lah! Uhuk! Sakit!" balas Yuka sambil merintih kesakitan.


Aaron pun mencoba menenangkan dirinya dan melepas cengkramannya.


"Ugh, sialan, kalau bukan karena kau Grandmaster, aku pasti sudah memukul dan mengumpatmu habis-habisan," ucapnya dengan nada kesal sambil memegang-megang kerah lehernya.


"Hah.. maafkan aku. Sepertinya aku kelelahan. Lagipula harusnya aku tau kalau para bangsawan tua itu pasti akan mnyebarkannya..." ujar Aaron dengan nada pasrah.


Yuka yang awalnya kesal, merasa sedikit bersalah.

__ADS_1


"Maafkan aku, sebagai gantinya, aku akan memberimu uang dan mengajakmu berkeliling kota, bagaimana? Tawaran yang bagus bukan?"


Tanpa basa-basi, Yuka menerima tawarannya dan lagsung menarik Aaron ke kota.


__ADS_2