
"Kota ini sudah banyak berubah, untungnya para penjaga itu bisa dikelabui dengan mudah. Tapi, apa mereka tidak mengingat pesanku dulu? Kalau begini ceritanya, sepertinya aku harus menghabisi sampau ke akarnya," pikir lelaki penyair itu.
Lelaki itu terus berjalan menuju lantai tiga, sampai ia melihat Yuka di toko yang ada di lantai satu. "Hm? Aura aneh ini..." ujarnya sambil melihat Yuka.
"Siapa wanita itu? Dia memiliki aura yang unik dari yang lain. Lalu, sepertinya ada banyak roh di sekelilingnya. Lalu sepertinya, para angin juga menyukainya," pikir Lelaki itu.
Lelaku itu menatap Yuka beberapa saat, lalu lanjut berjalan. Namun, tiba-tiba saja muncul sebuah raungan yang sangat keras sampai-sampai membuat orang-orang di sekitar ketakutan.
Lalu, dari atas kota, sebuah Dragon biru terbang di atas kota sambil meraung dengan keras. Para warga dan bangsawan segera melarikan diri, hanya para Freedom Warrior yang masih disana untuk melawan Dragon itu.
Yuka yang melihatnya pun segera menghampiri Freedom Warrior dan berniat untuk membantunya. Namun, sesampainya disana, ia tau kalau dia tidak akan bisa membantu, jadi dia hanya bisa menonton.
Akibat dari kepakan sayah sang Dragon, membuat hembusan angin yang sangat kencang, sehingga dapar dengan mudah membuat orang terbang. Para Freedom Warrior pun tak melepaskan kesempatan ini.
Mereka segera memakai benda seperti terjun payung lalu terbang dengan bebas. Para Freedom Warrior juga bertarung menggunakan senjata mereka, salah satunya Ainsley.
Dia menembakkan sebuah peluru ke Dragon itu. Tapi anehnya, semua peluru yang ditembakkan Ainsley memiliki Elemental Power tipe Fire.
Saat terkena serangan tersebut, Dragon itu meraung kesakitan. Para Freedom Warrior memanfaatkan waktu itu dengan menembak peluru dan anak panah dengan cepat.
Sementara itu, Yuka yang melihatnya cuma bisa terkagum-kagum. Saking kagumnya, ia tak sadar ada seorang lelaki yang lari dari belakang menuju ke Freedom Warrior.
"DIAMOONNN!!!!"
"GRAAAAAAARRRRRR!!!!!!!!"
Leleki itu berlari secepat angin sambil berteriak dengan kencang. Aaron yang melihatnya marah lalu berteriak, "WARGA SIPIL CEPAT PERGIII!!!! JANGAN IKUT-IKUTAN JIKA TAK INGIN MATIIII!!!!!"
Lelaki itu mengacuhkan peringatan Aaron dan terus berlari sampai dekat dengan tembok perbatasan kota.
"Ck! Training Warrior! Cepat hentikan warga sipil yabg gila itu! Ini perintah!!!"
"SIAAAAPP!!!" Para Training Warrior dengan cepat mengejar lelaki itu dengan bantuan terjun payung dan angin yang kencang
"GRAAAAAA!!!!!!! GRAAAAOOORRRRR!!!!!!!"
Dragon itu meraung makin keras. Kawanan Dragon yang lebih kecil dengan cepat menyerbu kota lalu menembak Fireball. Para Freedom Warrior menghindar sebisa mungkin. Namun, saking banyaknya Fireball, banyak yang terjun payungnya rusak lalu terjatuh dan terluka.
"Ugh..! A-apa tak ada yang bisa ku bantu??! T-tapi, aku tak bisa bertarung! Apa yang harus kulakukan?! Apa aku hanya bisa menonton saja?! Ughh, sialan!!" kesal Yuka.
Sementara lelaki tadi sudah semakin dekat dengan tembok. Saat sudah sekitar satu meter dengan tembok, ia melompat dengan tinggi oleh bantuan angin yang dibuatnya dengan Elemental Power ke arah tembok.
Saat kakinya sudah menyentuh tembok, dia mendorong kakinya dengan kekuatan angin yang sama, sampai akhirnya, ia tiba di hadapan Dragon.
"GRAAAA!! GROOAAAAAARRRRR!!!!!!!!!"
"DIAMOOOOONN!!! HENTIKAN SEMUA INI SEKARANG JUGA!!!!" teriaknya sambil membuat pijakan dari angin dengan kekuatannya.
__ADS_1
"Ugh,, maaf kapten, kami gagal menyusulnya..." ucap salah satu dari Training Warrior yang sepertinya dia adakah pemimpinnya.
"Tak apa! Kau sudah bekerja keras!"
"Yang jadi masalah, bagaimana cara kami mengehentikan Dragon ini tanpa melukai lelaki itu?! Sialan! Dan lagi di memanggilnya Diamon?! Apa iya dia itu Guardian Dragon?! Uhh, sialan, sialan!!"
"Tim Archer! Tembak panah-panahnya sekarang!"
"SIAAAPP!!" Seketika, para Tim Archer yang sedang menunggu komando dibawah langsung menembakkan panahnya tanpa basa-basi.
Namun, sayangnya, panah-panah itu dihentikan oleh lelaki itu.
"Elemental Skiil I, Wind Wall!" Lalu, muncul sebuah tembok yang menghalangi jalan panah.
"Kalian para Manusia lebih baik jangan mengganggu!" ucap lelaki itu dengan tatapan yang mengerikan. Dan entah kenapa, tatapan itu memberikan tekanan kepada orang-orang di sekitar termasuk Aaron, Ainsley dan Yuka.
"Uh! Tekanan macam apa ini?!"
"Grandmaster! Apa yang harus dilakukan sekarang!? Kita sudah kehabisan peluru!" teriak Ainsley pada Aaron.
Aaron terdiam sejenak sambil menggertakkan giginya. "..mundur.. MUNDUR SEMUANYA!!"
"SIAAAAPP!!!!" Para Freedom Warrior pun segera mundur.
"A-apa, ini sebuah kekalahan? T-tidak... tidak bisa... jika kalah, kota ini akan... hancur.." gumam Yuka dengan suara gemetar.
"Benar sekali. Marahlah. Kesallah. Semakin kau kesal, semakin akan membantumu. Jadi, kau mau aku membentumu..?" ucap sebuah suara asing.
"S-siapa kau?!! A-apa maumu?!!"
"Aku? Aku adalah Kamu. Dan Kamu adalah Aku. Aku hanya ingin membantumu. Dan Kau... tidak bisa MENOLAK BANTUANKU!!!"
Yuka terkejut, namun, itu terlambat. Tubuhnya telah diambil oleh Entitas asing. Matanya yang putih seperti bulan, telah berubah menjadi berwarna merah seperti terkena darah.
"..nah, waktunya, PERTEMPURAN," ucap Yuka dengan senyuman yang haus darah.
Mari balik ke sisi penyair asing itu.
"Diamonn! Hentikan! Kenapa kau seperti ini?!" ucap lelaki itu kepada Dragon.
Dragon itu mengecilkan raungannya. Sepertinya ia sedikit tenangan.
"Hei, Diamon, kau kenapa? Kenapa kau sampai menyerang kota ini? Kota yang kubangun? Kota yang kau jaga? Kenapa?" tanyanya lagi.
Dargon itu cuma diam sambil mengerang kecil.
"Xixixi, jangan dengarkan perkataan dia, Diamon," ucap seorang pria dengan baju hitam yang tiba-tiba muncul di kepala Dragon. Sepertinya dia bersembunyi di belakang leher Dragon.
__ADS_1
"Kau..! Jadi kalian yang ada dibelakang ini semua, Underworld Worshiper!"
"Kyahahaha! Wah! Senangnya bisa melihat raut wajah seperti itu dari seorang Preceptor! Hahaha!! Ayo! Ayo! Berputus asalah!!" teriak pria hitam itu dengan gembira.
"Ayo! Diamon! Kerahkan seranganmu! Tembakkan Light of Destruction!"
Seketika, Dragon itu mengamuk lalu membuat cahaya biru dari mulutnya.
"DIAMOOOONNN!!! HENTIKAAAANN!!!!"
"GYAHAHAHAHA!!!!!!"
"Cih, apa ini akhir dari kita?" gumam Aaron.
"Kapten..."
Lalu... "DUAAAAAKKKK!!!!!!" "UHHHUEEEKKKK!!!!!!"
"Ck, kurang keras sepertinya," ujar Yuka di atas kepala Dragon. Sepertinya Yuka yang diambil alih melompat dari bawah lalu menendang pria hitam tadi dengan keras sampai terjatuh.
"Y-yuka?!!" kata Aaron dan Ainsley dengan terkejut
"Wanita itu..."
Karena pria itu terjatuh, Light of Destruction yang dibuat Dragon menjadi tak terkendali dan semakin membesar. Para kawanan Dragon yang masih terbang di atas kota juga ikutan membuat Fireball dan hendak menembakkannya.
"Uh, bagaimana cara menghentikan Diamon dan para Dragon ini?!" pikir Lelaki itu dengan keras.
"..fuuh, sepertinya, aku lagi yang harus melakukannya. Sayap," Lalu, muncul sebuah sayap hitam yang besar di punggung Yuka.
"Ayo, putar balikkan keadaan!" Yuka pun mengepakkan sayapnya dan pergi ke depan arah Light of Destruction dan Fireball hendak ditembakkan.
Yuka menjulurkan tangannya laku mengatakan, "Magic... Sucker!"
Lalu muncullah sebuah lingkaran hitam kecil ditangannya yang mirip seperti Black hole yang semakin lama semakin besar karena sihir yang diserapnya.
Setelah menyerap semua sihir, sihir yang ada di sekitar Yuka, seperti sihir para Dragon, dan sihir lelaki itu pun menghilang tanpa tersisa sedikit pun.
Karena sihir lelaki itu menghilang, angin pijakan yang dibuatnya pun menghilang alhasil ia pun terjatuh. Untungnya, ia bisa mendarat dengan selamat, padahal tingginya lebih dari 1000 meter.
"Disappear." Seketika, lingkaran hitam raksasa yang dibuatnya pun menghilang. Karena sihir para Dragon menghilang, mereka mengamuk dan meraung dengan keras.
"Cih! Berisik! Endless Confinement!" Lalu muncul sebuah kotak hitam di para Dragon, dan mereka pun menghilang, kecuali Diamon.
"GRRRRRR.....!!"
"Hm~ Untuk yang ini, kuserahkan padanya saja. Ctak!"
__ADS_1
Setelah menjentikkan jarinya, penyair itu tiba-tiba berdiri lagi tepat dihadapan Diamon. Anehnya, ia tak terjatuh padahal tak ada lantai di kakinya. Sementara Yuka ada di bawah, seolah-olah mereka bertukar posisi.
"Lakukanlah, Preceptor."