
Aaron pun mengajak Yuka berkeliling kota. Pertama-tama, Aaron dan Yuka pergi ke Statue yang ada di kolam ikan dan di tengah-tengah kota.
"Sepertinya Statue ada dimana-mana yah," ucap Yuka sambil mencemplungkan tangannya ke kolam.
Aaron menjawab sambil melihat Statue tersebut, "Tentu saja. Kalau hanya ada satu Statue, kami akan kesusahan untuk berdoa. Tapi, keadaan sekarang..."
Aaron pun menundukkan kepalanya. Meski banyak orang yang wara-wiri melewati mereka, entah kenapa suasananya tiba-tiba menjadi canggung.
Yuka pun mendekati Aaron. "Sudahlah Aaron, kau menunduk seperti itu tak ada gunanya kau tau. Lebih baik kita makan saja, hehe. Aku lapar nih..." ucap Yuka sambil mengelus-ngelus perutnya.
"Perasaan tadi kayaknya ku liat kamu masih kenyang deh. Bahkan masih ada sedikit sisa buah di bibirnya. Antara dia gak tau atau dianya emang bego," pikirnya.
Aaron pun menghela napasnya. "Hah, nanti saja. Nanggung, udah mau malam," ujarnya.
"He... Tapi aku maunya sekarang..! Ayo dong! Nanti kalau malam, aku gak bisa nyari tempat buat tidur tau!" keluh Yuka sambil menarik-narik tangan Aaron.
"Uh, kalau mau tidur, kau bisa tidur di rumahku, oke? Jadi, cepat selesaikan tur menyebalkan ini lalu pulang ke rumahku," ucap Aaron.
Dengan cepat, Yuka pun membawa Aaron untuk mengelilingi kota.
Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di sebuah gedung putih yang besar yang ada di lantai dua kota.
[Freelance memiliki 3 lantai. Lantai pertama adalah pusat kota, tempat toko-toko dan rumah rakyat. Lantai dua tempatnya organisasi atau Guild, seperti Freedom Warrior. Lantai satu tempatnya para bangsawan dan gereja.]
"Gedung cantik apa ini? Indah dan megah..." kagum Yuka.
"Ini adalah Library Adventurer's Guild. Seperti namanya, tempat ini menyimpan berbagai informasi, mau dari wilayah Freelance, Vigour, dan wilayah lainnya." jelas Aaron.
"Wuaw, gudang pengetahuan yang aku perlukan ada di sini..." gumam Yuka.
"Gudang pengetahuan? Apa maksudmu?"
"Ah, aku ada bilang kan, kalau aku itu hilang ingatan?"
Aaron berpikir sejenak. "Gak, gak ada kamu ngomong tuh."
Yuka pun keheranan, "Ha?? Masa sih? Kayaknya aku ada ngomong deh... Kamu kali yang gak ingat!"
"Gak, kamu gak ada ngomong oke. Dan kamu gak usah balas jawab, gak selesai-selesai nanti."
Yuka terdiam.
"Hah, meski pun kamu hilang ingatan, harusnya kamu inget pengetahuan dasar, ya kan?" ucap Aaron.
__ADS_1
"Pengetahuan dasar? Seperti apa?"
Aaron menepuk dahinya. "Haduh, seperti Elemental Power, Unknown Creature, sejenis itu pokoknya."
Yuka cuma bisa menggaruk kepalanya, "Aku tau kata-katanya tapi aku gak ngerti maksudnya. Memang Elemental Power itu apa? Unknown Creature itu apa?"
Aaron pun seketika hilang semangat. Lalu...
"KAKAK SIALAANN!!!"
Seorang wanita yang identik dengan warna hitam merah, ranbut coklat, mata merah dengan pupil bunga tiba-tiba saja muncuk di belakang Aaron dan menarik telinga Aaron.
"Aw, aw, aw..!! Sa-sakit! S-siapa sih?!!" jerit Aaron.
"Ha! Bagus ya! Adiknya capek-capek kerja, kakaknya malah enak-enakan kencan di sore hari! Bagus banget!" ucap wanita itu.
"A-Ainsley?! K-kok kamu ada di sini?!" ucap Aaron dengan terkejut.
Wanita yang diapanggil Ainsley itu melepas tarikannya. "Masih nanya! Jelas patroli lah kak..!!" teriak Ainsley.
Yuka yang melihatnya tiba-tiba merasa sedikit ketakutan dan mengambil langkah mundur.
"Entah kenapa.. intuisiku mengatakan kalau... dia wanita berbahaya! Bisa-bisa pertumpahan darah akan muncul karenanya!" pikir Yuka.
"Mereka bertengkar lama banget dah, sampai capek aku ngelihatnya," keluh Yuka di dalam hati sambil duduk di meja yang ada di toko makanan di belakang mereka berdua.
Di sisi Aaron dan Ainsley, Ainsley menunjuk Aaron sambil berkata, "Pokoknya, sekarang juga, balik ke markas dan tolongin kakek! Kasian tau kakek, udah tua disuruh kerja!"
Aaron hanya bisa mengiyakannya. Tapi, ia mengusulkan syarat, yaitu mengantarkan Yuka ke rumah mereka berdua. Tentu saja Ainsley kaget mendengarnya.
Ainsley pun mendekati Yuka. Yuka yang awalnya enak-enakan duduk, langsung berdiri dengan cepat karena tak mau cari gara-gara.
Awalnya Ainsley melihat Yuka dari atas sampai bawah, lalu ia meminta Yuka untuk memberitahukan identitas Yuka. Yuka pun memberitahunya seperti yang dia beritahukan kepada Aaron.
Setelah mengatakan identitasnya, Yuka pun meminta Ainsley untuk mengatakan identitasnya juga.
"Aku salah satu dari Warrior di Freedom Warrior, namaku Ainsley Bastian. Panggil saja aku Ainsley,"
Mereka berdua pun berjabat tangan dengan pikiran mereka masing-masing.
"Uh! Aku harus jaga jarak dari monster wanita ini! Aku takut aku jadi korban dia! Hiii!!" pikir Yuka.
"Dasar rubah! Tak akan ku biarkan kau mendapatkan kakak begitu saja!" pikir Ainsley.
__ADS_1
Setelah berjabat, Ainsley mengajak Yuka untuk pergi kerumahnya. Dan dengan cepat Yuka menyuruh Ainsley untuk jalan dengan cepat, karena kebetulan Yuka sedang lapar.
Sesampainya di rumah Ainsley, mereka pun masuk dan segera pergi ke tempat makan.
Ainsley pergi ke dapur untuk memasak dan Yuka pun duduk di meja makan seperti tamu biasanya sembari melihat sekeliling.
Setelah beberapa saat, masakan pun telah selesai dimasak. Aroma enak seketika memenuhi seluruh ruangan. Perut Yuka pun makin kelaparan.
Ainsley pun dengan segera meletakkan masakannya ke meja makan dan memakannya bersama Yuka.
Setelah selesai makan, mereka pun mulai mengobrol ringan. Sepertinya mereka melupakan apa yang baru saja terjadi tadi.
"Jadi Yuka, bagaimana caramu bertemu dengan Aaron?" tanya Ainsley.
Yuka meminum sedikit air di gelasnya lalu menjawabnya, "Aku bertemu dengannya di dekat jembatan. Saat itu aku melihat sebuah kemah, kupikir itu ditelantarkan, ternyata ada yang punya," jelasnya.
Ainsley mengangguk mengerti, "Kalau gitu, bisa beritahu kau berasala dari mana? Dilihat dari pakaian dan namamu, sudah jelas kau bukan dari Freelance," ucapnya.
Yuka pun terkejut, "Me-memangnya pakaianku kenapa?! A-apa aku aneh?!"
Ainsley menggelengkan kepalanya. "Tidak, kau tak aneh. Hanya saja, kau terlihat mencolok karena bajumu seperti orang bangsawan dan lagi kau juga terlihat elegan dengan rambut hitam dan mata putihmu," jelas Ainsley.
"A-apa benar seperti itu?"
"Tentu saja. Sudahlah, hentikan saja pembicaraan ini. Ini sudah malam, karena kakak memperbolehkanmu ke sini, itu artinya kau boleh menginap," kata Ainsley sambil berjalan ke kamarnya.
"Kamu tidurlah di kamar kakak, disini," tambahnya sambil menunjuk kamar Aaron.
"Lah, t-terus Aaron tidur dimana dong? Apa gak bisa aku tidur denganmu?" tanya Yuka.
Ainsley menggelengkan kepalanya, "Gak bisa, aku gak bisa tidur dengan orang lain, mau dia keluargaku atau tidak. Kau juga gak bisa tidur di tempat kakek. Jadi kamu tidur di tempat kakak aja."
"Lagipula, dia bisa tidur di sofa, itu hukuman untuknya. Aku duluan ya.. Hoaaamm..." Ainsley pun masuk kedalam kamarnya sambil menguap.
....
"Apa benar gak apa-apa? Lagian, baru jam segini lho, kok dah ngantuk aja? Hm, mungkin karena dia kerja gantiin Aaron deh."
"Ya udah lah, tidur aja di kamarnya dia," ucap Yuka sambil pergi ke kamar Aaron.
Beberapa jam kemudian, Aaron pun kembali. Ia kaget ternyata Ainsley dan Yuka sudah tidur. Tapi ia lebih kaget dengan tulisan merah yang ada di dekat pintu masuk.
"TIDUR... DI... SOFA...!!!!!!!!"
__ADS_1
Karena tak mau cari ribut dan ini sudah malam, Aaron cuma bisa melakukannya. Ia pun segera mengambil selimut dan bantal dari kamar kakeknya lalu ridur di sofa.