
Pagi hari pun tiba. Aaron dan Ainsley pun segera mandi dan bergegas mengganti baju mereka emnjadi seragam dari Freedom Warrior. Setelah selesai mandi, ia meminta tolong pada Ainsley untuk membangunkan Yuka sebelum ia mandi.
Ainsley langsung menolaknya dan masuk ke kamar mandi. Mau bagaimana lagi, harus Aaron yang membangunkan Yuka. Setelah selesai memakai bajunya, ia pun segera pergi ke kamar.
Sesampainya di kamar, ia melihat pose tidur Yuka yang aneh. Dia mendekapkan tangannya di dada dan tak terlihat bergerak sedikit pun. Kalau orang lain yang melihatnya, Yuka pasti dikira sudah mati.
Aaron pun mendekati Yuka dan mencoba membangunkannya. Setelah mencobanya sampai beberapa kali, entah kenapa Yuka tak kunjung bangun juga. Bukannya bangun, ia justru berkeringat dingin sambil mengigau.
Ia mengigaukan soal hal-hal yang aneh. Seperti "Kenapa..?" "Apa alasannya..?" "Apa salahku..?" dan yang sejenis itu.
Saat Aaron hendak menjulurkan tangannya untuk membangunkan Yuka lagi, tangannya di hentikan oleh Yuka. Yuka menggenggam tangan Aaron itu dengan erat, sampai-sampai Aaron perlu bersusah payah untuk melepaskannya.
Tapu dicoba berapa kali pun, ia tak kunjung berhasil. Entah bagaimana bisa seorang wanita yang tertidur memiliki tenaga yang begitu besar. Karena sudah capek berusaha, ia pun duduk perlahan di samping kasur.
Genggaman Yuka bukannya makin melonggar malah makin erat. Saking eratnya, sampai membuat Aaron sang Grandmaster sedikit kesakitan.
Sementara itu, setelah Ainsley selesai mandi, ia pun segera memakai pakaiannya kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.
Saat memasaka, Ainsley heran, kenapa Aaron tak kunjung balik juga, padahal ia hanya membangunkan Yuka saja, tapi sampai memakan waktu lama.
Setelah memasak Bom Beef, ia segera menghampiri kamar dengan perasaan gelisah dan kesal. Ia takut kalau si Aaron akan melakukan hal-hal aneh pada Yuka. Karena mau bagaimanpun ia seorang laki-laki.
Sesampainya di kamar, ia memukul pintu yang terbuka lebar itu.
"BUAAAKKK...!!!"
Aaron pun terkejut lalu berdiri. "Kakak sialan! Ngapain kamu ha?! Cuma bangunin Yuka doang lama banget??! Kakak gak ngapa-ngapain di kan sialan?!!" Amuk Ainsley.
Aaron pun panik dan mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Namun belum sempat mengatakan satu patah kata pun, Yuka telah mendahuluinya dengan... sebuah teriakan.
"GYYYAAAAAAAA.....!!!!!"
__ADS_1
Aaron dan Ainsley pun terkejut. Ainsley dengan cepat menghampiri Yuka. Mereka berdua menanyakan keadaannya dengan sangat khawatir. Sementara Yuka sendiri terlihat sangat ketakutan dengan napas yang terngah-engah.
Setelah sedikit lebih sadar, Yuka segera memeluk Ainsley yang ada disampingnya sambil menangis.
"Hiks, hiks! A-ainsley! Huaaa...!! K-kupikir... aku.. sudah mati..! Huaaa..! Hiks, hiks..!"
Ainsley pun menepuk-nepuk pundak Yuka, berharap bisa menenangkannya. Sembari menunggu Yuka tenang, Aaron dengan cepat segera ke dapur dan mengambil air putih lalu memberikannya pada Yuka.
Setelah sedikit lebih tenang, Ainsley dan Aaron meminta Yuka untuk menjelaskan apa yang sebenarnya dia mimpikan sampai-sampai dia berteriak dan menangis seperti itu.
Yuka mencoba untuk mengingat apa yang ia alami di mimpi tadi. Namun yang dia ingat hanyalah ada sebuah cahaya dan sebuah suara yang keras. Yuka tidak tau itu suara dari apa, dan dia juga tidak tau kenapa ia merasa kalau dia hampir mati.
Aaron dan Yuka semakin tidak mengerti. Tapi, karena Yuka tidak ingin membahas yang berat-berat, ia memutuskan untuk melupakan mimpinya saja. Karena Yuka sudah berkata seperti itu, mereka berdua hanya bisa mengikutinya.
Untuk menghilangkan suasana tak mengenakkan ini, Ainsley mengajak Yuka dan Aaron untuk pergi makan, soalnya makanan sebentar lagi sudah siap, hanya tinggal menyiapkan beberapa lauk saja.
Dengan cepat, Yuka pun pergi ke tempat makan seolah tak terjadi apa-apa. Namun justru karena itu, Ainsley dan Aaron merasa lebih tenang, karena sepertinya Yuka tak terlalu mempedulikan mimpinya tadi.
Beberapa saat kemudian, mereka pun selesai makan dengan perasaan yang kenyang. Lalu, tiba-tiba Yuka bertanya kepada mereka berdua, apakah mereka melihat bukunya Yuka.
"Buku..? Hm, apa maksudmu buku yang ada di meja ruang tamu itu?" ucap Aaron sambil menunjuk meja yang ada di ruang tamu.
Mata Yuka pun mengikuti arah Aaron dan melihat buku itu masih ada diatas meja. Yuka pun segera mengambilnya dan duduk di sofa.
"Memang itu buku apa Yuka?" tanya Ainsley.
Yuka hanya terdiam. Ia merasa kalau ia tak boleh memberitahu tentang Realm Book, Layar Status, ataupun 001.
"Ah, ini cuma buku untuk mencatat hal-hal yang baru aku temui kok... Soalnya aku tak mengingat apapun tentang dunia ini, jadi aku ingin mencatatnya..." jelas Yuka sembari memasukkan buku itu ke Layar Status tanpa diketahui mereka berdua.
Mereka berdua mengiyakannya. "Lalu, kau ingin kemana? Kami berdua mau pergi ke Freedom Warrior untuk bekerja. Kau mau ikut?" Tanya Aaron pada Yuka.
__ADS_1
Yuka menggelengkan kepalanya. "Aku tak ikut. Aku ingin pergi ke Library, aku ingin baca-baca disana," ujarnya.
"Kalau gitu aku mau duluan ya, Aaron, Ainsley. Kalian bekerjalah dengan benar, terutama kau, Aaron," tambah Yuka sembari pergi ke pintu keluar.
Aaron hanya bisa menggaruk kepalanya dengan perasaan malu, mau gimana juga, dia Grandmaster lho.
...****************...
Matahari terasa cukup panas, padahal ini masih pagi hari. Dan sinar matahari itu membuat pantulan sinar yabg menyilaukan mata karena sinar matahari itu mengenai Library yang berwarna putih.
"Uuh, mataku sakiitt..." rintihnya sambil memegang matanya.
Lalu, di belakangnya, ia disapa oleh seorang anak laki-laki seperti umur 15 tahun dengan pakaian hijau putih, rambut hitam dan mata biru laut.
"Hai Kakak, aku sepertinya belum pernah bertemu Kakak di wilayah ini deh. Apa Kakak seorang petualang?" kata anak itu.
Yuka pun berbalik dan menjawab pertanyaannya, "Ah, iya, aku baru sampai disini kemarin. Namaku Yuka, seorang pengelana. Namamu siapa?" balas Yuka.
Anak laki-laki itu kemudian berdiri dengan tegak lalu melakukan pose aneh seperti yang dilakukan Aaron, "Ah! Betapa tak soapannya aku! Kenalkan, saya Ellard Cedric! Seorang Training Warrior! Senang bertemu dengan anda, Yuka!" jelasnya.
"Apa semua orang dari Freedom Warrior melakukan pose aneh seperti ini?" pikir Yuka.
"Hai Ellard, senang bertemu denganmu juga. Jadi, apa kau ada urusan dengaku?"
Ellard menggelengkan kepalanya, "Tidak, kebetulan aku berpatroli dan bertemu dengan kakak. Karena kakak terlihat sedikit mencolok dan aku juga tak pernah melihat kakak sebelumnya, jadi aku menghampiri kakak untuk bertanya identitas, hehe," jelasnya.
"Ah~ Dengan kata lain, kau mencurigaiku? Begitu?" ujar Yuka dengan sedikit kesal.
Ellard pun sedikit panik, "T-tidak kok! Aku gak bermaksud begitu! Jujur! A-aku hanya melakukan apa yang disuruh para bangsawan!" ucap Ellard.
"Hah, bangsawan lagi? Sepertinya negara ini benar-benar hancur karena gak ada Preceptor," pikirnya.
__ADS_1
"Eh, tunggu, sejak kapan aku mulai beradaptasi? Belum lama juga aku sampai di sini lho... Aneh deh aku..."