
“Saya nikahkan engkau Zidan Putra Pratama dengan Syifa Putri Ananda dengan mas kawin seperangkat alat sembahyang dibayar tunai!” ucap Pak Penghulu tegas dan lantang.
“Saya terima nikahnya Syifa Putri Ananda dengan mas kawin tersebut, tunai!”
Akhirnya Zidan berhasil mengucapkan ijab kabul setelah sebelumnya sempat tidak mengetahui siapa nama calon istrinya, dan berulang kali gagal meski pakai contekan. Para saksi pun bersorak ‘sah' selepasnya.
Zidan merutuki keberhasilannya dalam hati. Pria dengan telinga ditindik dan menggunakan anting serta rambut disemir pirang itu menyesal karena telah berhasil mengucapkan ijab kabul.
‘Sial! Kenapa gua berhasil ngucap ijab coba? Arggh! Sekarang status gua jadi suaminya si cupu. Shit! Menjijikkan! Cuih!’ Zidan terus merepet dalam hati. Bahkan tak mengaminkan do’a penutup yang dibacakan oleh ustaz setempat.
Zidan terdiam masih duduk di depan penghulu yang tersekat meja kecil, ia manyun kesal dengan takdir yang harus diterimanya.
‘Argh! Kenapa kemarin gua pake acara gagal segala pas mau kabur dari rumah. Kenapa gua pake dihadapkan dengan takdir sialan ini!’ Lagi, Zidan merutuki nasibnya.
***
“Sekarang acara ijabnya sudah selesai. Ayo, temui istrimu di kamarnya!” titah mertua Zidan. Ibundanya Syifa.
__ADS_1
Dengan langkah lesu Zidan ke kamar Syifa setelah dipaksa oleh mertuanya juga mama dan papanya.
“Ma’afkan sikap Zidan, ya, Jeng,” ucap mama Zidan pada besannya.
“Iya, kami paham,” balas mama Syifa.
“Semoga setelah ini Zidan bisa berubah menjadi lebih baik, dan semoga pernikahan mereka ini bisa langgeng ya, Jeng,” imbuh mama Zidan, dan diamini oleh suaminya juga besannya.
***
Tanpa mengetuk pintu dan tanpa permisi, Zidan langsung membuka daun pintu bernuansa cokelat. Syifa yang sudah menunggunya di dalam pun terkejut dibuatnya.
“Nggak usah terlalu formal! Lagian gua nikahin elu juga karena terpaksa. Jangan ge’er lu! Status kita boleh suami istri, tapi bagi gua, elu bukan siapa-siapa dan elu nggak punya tempat di hati gua. Paham?!” bentak Zidan seraya menunjuk Syifa dengan kasar.
Syifa hanya diam menunduk sedih. Ini sama sekali bukan pernikahan sesuai dengan impian dan harapannya. Zidan juga bukan lelaki yang selama ini diimpikan Syifa.
‘Kenapa harus aku yang diberi amanah dan tanggung jawab sebesar ini? Sanggupkah aku menjalani takdir ini?’ batin Syifa, sambil memandangi punggung suaminya yang semakin menjauh memasuki kamar mandi. Selepas mengomel tadi.
__ADS_1
‘Aku percaya, Tuhan tidak mungkin menguji melebihi batas kemampuan hamba-Nya.’ Syifa kemudian berusaha menguatkan dirinya sendiri. Menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan hingga berulang kali. Lalu kembali duduk di sudut ranjang. Menahan sesak di dada.
***
Syifa seorang gadis religius dinikahkan dengan lelaki berandalan. Zidan adalah seorang ketua geng motor, ganteng, tapi urakan, arogan, kasar, ********, playboy, dan masih banyak lagi.
Syifa diberi amanah oleh orang tuanya juga mertuanya agar membimbing Zidan ke jalan yang benar.
Orang tua Zidan sudah angkat tangan. Karena berbagai cara sudah dilakukan agar putranya itu berubah, tapi selalu gagal. Menikahkan Zidan dengan Syifa adalah jurus pamungkas.
Orang tua Zidan memiliki keyakinan bahwa Syifa anak dari sahabat baiknya itu adalah orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidup putranya. Dan percaya bahwa kelak Syifa mampu merubah putranya menjadi orang yang lebih baik dari sekarang.
Pun dengan orang tua Syifa sendiri, mereka akhirnya setuju dengan perjodohan ini setelah melewati proses yang cukup panjang dan alot. Kedua orangtua Syifa percaya bahwa putrinya itu mampu mengemban amanah.
Lantas, akankah Syifa berhasil menarik suaminya dari lembah kegelapan?
Akankah cinta tumbuh di antara keduanya?
__ADS_1
***