
***
Tangis Syifa pecah, gadis berjilbab mocca itu menangis sesegukan, ketakutan. Saat pintu kamar tempatnya bersembunyi ada yang menggerakkan knopnya. Kemudian diketuk seraya berteriak meminta agar pintunya dibuka. Namun, Syifa bergeming meski tahu itu suara Zidan.
“Woy! Cupu, gua tahu lu di dalam. Buka pintunya! Gua kebelet, ****!” teriak Zidan, seraya menggedor-gedor pintu dengan brutal.
“Toilet lain kan ada,” sahut Syifa di sela isak tangisnya.
“Heh, ini rumah gua, kamar gua, ngapa jadi lu yang ngatur gua!”
“Keluar kagak lu, cupu! Lagian gua udah bilang kan jangan pernah masuk ke kamar gua. Masih aja!” lanjut Zidan, merepet.
Tak lama kemudian Zidan pun pergi setelah tak dibukakan juga pintunya oleh Syifa.
***
Syifa mengelus dada lega, seraya mengucap hamdalah berulang kali. Ia terselamatkan dari orang-orang yang sedang mabuk berat. Setelah Pak RT dan beberapa warga datang mengusir geng Zidan. Karena merasa terganggu akibat kebisingan yang Zidan dan gengnya ciptakan.
Sekarang Syifa hanya perlu menghadapi satu orang yang sedang mabuk, yakni Zidan, suaminya.
Syifa baru berani keluar dari kamarnya setelah kondisi benar-benar sudah sepi terkendali.
“Heh, lu mau ke mana? Temenin gua!” oceh Zidan, khas orang mabuk. Saat berpapasan dengan Syifa yang keluar dari kamar.
Zidan yang sedang mabuk berat pun merangkul bahu Syifa, lalu menariknya ke dalam kamar dengan gusar. Syifa berusaha menolak, ia sadar suaminya melakukan itu karena efek alkohol semata.
Zidan semakin bertindak liar tak terkendali, sehingga membuat Syifa ketakutan. Reflek, Syifa mendorong tubuh Zidan yang oleng efek mabuk. Hingga tubuh atletis Zidan terjengkang ke atas kasur. Selepas itu Syifa berlari keluar kamar, dan menutup pintunya. Meninggalkan suaminya yang masih mengoceh tidak jelas.
Syifa kembali menangis sesegukan setelah sampai di kamarnya sendiri. Lebih tepatnya selama ini Syifa tidur di kamar tamu. Sementara Zidan tidur di kamarnya sendiri. Alias pisah ranjang. Meski telah sah menjadi istri Zidan, tapi status dirinya masih perawan.
Sementara Zidan di kamarnya tertawa terbahak saat mengingat ekspresi wajah Syifa yang diselimuti ketakutan tetamat sangat. Baginya itu lucu. Ia merasa telah berhasil menakut-nakuti istrinya.
“Gua yakin setelah ini si cupu pasti nggak betah tinggal dimari,” ucap Zidan penuh keyakinan. Ia lantas lanjut tertawa.
***
__ADS_1
Azan subuh mengalun merdu menggema ke seluruh penjuru kota. Syifa sudah bangun dari beberapa menit sebelum memasuki waktu subuh. Ia membersihkan rumah dari berbagai macam sampah pasca pestanya Zidan dan gengnya semalam. Banyak botol bekas miras, puntung rokok, dan kulit kacang juga bungkus ciki, yang berserakan di lantai ruang tengah, sampai ruang tamu hingga teras rumahnya.
Selepas beberes Syifa pergi ke kamar Zidan membangunkan suaminya dari luar pintu guna menyuruhnya melaksanakan salat subuh, tapi tidak ada sahutan dari si lelaki berandal itu.
Sehingga Syifa kembali ke kamarnya sendiri, dan melaksanakan ibadah salat subuh sendirian lagi seperti hari-hari sebelumnya.
***
Hari berlalu berganti bulan, Zidan belum ada tanda-tanda akan berubah. Bahkan malah semakin menjadi. Sudah berulang kali Zidan menyusun siasat untuk mencelakakan Syifa, tapi selalu gagal. Syifa selalu lolos dari kejahatan yang Zidan lakukan.
Sementara Syifa masih terus berusaha sabar menghadapi kelakuan Zidan. Syifa bukannya menyerah, ia justru semakin prihatin dan bertekad kuat ingin menuntun Zidan ke jalan yang lebih baik. Ia ingin lebih giat lagi dalam mengenalkan suaminya pada syari’at agama yang mereka anut.
***
“Woy! Buka pintunya, ****!” pekik Zidan, sembari menggedor pintu dengan brutal.
Syifa lantas lari tergopoh lalu membuka pintu.
“Lama banget si, ngapain aja lu? Hah?!” omel Zidan setelah pintu dibuka. Lagi, ia terpapar minuman beralkohol.
“Argh! Salat terus. Sok alim lu. Salat tekun juga bukan jaminan lu bakal masuk surga,” ucap Zidan.
“Nah, itu Mas tahu. Kalau yang salatnya tekun saja belum tentu masuk surga, lantas bagaimana dengan yang tidak salat?” Syifa membalikkan ucapan Zidan. Sehingga lelaki berandalan itu terdiam sejenak.
“Ini siapa, Mas?” tanya Syifa kemudian, sambil menunjuk wanita berpakaian seksi dan minim, yang sedari tadi berdiri memapah Zidan.
Zidan lantas memandang wanita seksi di sampingnya, pun dengan wanitanya. Keduanya saling pandang. Lalu mereka berdua tertawa terbahak di depan Syifa. Layaknya orang tidak waras.
“Dia Lynna, cewek gua,” jawab Zidan enteng.
“Astagfirullah hal’adzim, Mas. Istighfar Mas!” ucap Syifa. Syok.
“Ah, banyak bacot lu. Awas! Minggir!” sentak Zidan, seraya mendorong tubuh Syifa hingga membentur tembok di sisi daun pintu.
Zidan dan Lynna tidak mempedulikan Syifa yang mengaduh kesakitan. Keduanya lantas pergi masuk ke kamar Zidan lalu menutup pintunya.
__ADS_1
Syifa berusaha mencegah terjadinya kemaksiatan di dalam rumahnya. Ia masuk ke dalam kamar Zidan dan berusaha menasehati keduanya.
“Kalian ini kan bukan muhrim. Jadi, nggak seharusnya kalian di dalam satu ruangan macam ini. Saya mohon jangan berbuat zina di sini! Takutlah kalian akan azab Allah yang sangat pedih.”
“Ini rumah gua. Kenapa lu jadi ngatur-ngatur gua? Serah gua mau ngapain aja. Lagian tenang aja kalok gua masuk neraka, gua nggak akan ngajak lu, kok,” jawab Zidan enteng.
Lynna terkekeh lalu dengan santainya mengecup pipi Zidan di depan Syifa. Sehingga lipstik merahnya membekas di pipi suami Syifa. Sementara Syifa hanya bisa menggeleng miris seraya ber-istighfar berulang kali.
“Udah sono pegi! Ganggu aja lu!” usir Zidan. Sementara Lynna mengibaskan tangan mengusir Syifa seolah mengusir ayam saja.
“Mas ....”
“Argh! Banyak bacot lu!” potong Zidan, nyolot.
Lalu ditariknya lengan Syifa dan diseretnya dengan kasar dibantu oleh Lynna. Kemudian Syifa dimasukkan ke dalam gudang, dan pintunya dikunci oleh Zidan dari luar.
Zidan menebah tangannya, pun dengan Lynna.
“Begini kan aman,” ucap Zidan. Lantas merangkul bahu Lynna, dan mengajak Lynna kembali ke dalam kamarnya.
Syifa ditinggalkannya di dalam gudang yang gelap dan kotor.
Syifa
👇

N
E
X
T
__ADS_1
👇