KETABRAK CINTA KETUA GENG MOTOR

KETABRAK CINTA KETUA GENG MOTOR
BAB 6


__ADS_3

đź’•đź’•đź’•


Syifa sudah kehabisan tenaga juga suara. Teriakannya tak dihiraukan oleh Zidan dan Lynna. Usahanya untuk keluar dari gudang pun tak berhasil. Tidak ada jalan lain selain pintu yang kini sedang dikunci dari luar oleh Zidan.


Syifa meraba dinding mencari sakelar lampu. Namun, saat dipencet berulangkali lampunya tidak mau menyala.


“Ya Allah, lampunya mati,” lirih Syifa. Lalu bersandar pada dinding. Syifa menghela napas pajang. Tubuhnya melemas, dan terduduk di lantai memeluk lutut. Kemudian ia tersedu karena tak bisa menggagalkan kemaksiatan yang  kini sudah dilakukan oleh suaminya.


***


Kamar pengantin yang seharusnya digunakan untuk memadu kasih dengan sang istri, Zidan pergunakan untuk mencumbu wanita lain. Tanpa merasa berdosa keduanya menghabiskan malam bersama dengan penuh kemesraan layaknya sepasang suami istri.


***


Azan subuh mengalun merdu memecah keheningan, menyapa gendang telinga setiap insan. Syifa yang semula tertidur dalam posisi duduk bersandar pada dinding gudang pun terbangun. Tubuh ramping Syifa terlonjak kaget saat membuka mata dan mendapati ruangan yang gulita. Ia lupa kalau sedang dikurung di dalam gudang.


Setelah kesadarannya terkumpul, Syifa kembali menggedor pintu dan berteriak meminta agar dibuka pintunya. Namun, hingga azan subuh usai tak ada yang datang membukakan pintu. Syifa pun terpaksa bertayamum menggunakan debu yang menempel pada tembok gudang. Lalu melaksanakan salat subuh menggunakan pakaian yang melekat di badannya. Lagi pula ia menggunakan kaus kaki. Jadi auratnya tertutup.


***


Lynna melenguh, matanya mengerjap lalu terbangun.  Saat menoleh ke samping kanannya, Zidan masih terlelap.


“Hei, kuda liarku, bangun!” ucap Lynna manja, sambil mengguncang bahu Zidan.


Zidan hanya merespon dengan gumaman. Kemudian membenarkan posisi tidurnya, dan kembali memejamkan mata setelah sebelumnya mengerjap sebentar.


“Iih, bangun! Aku lapar,” imbuh Lynna.


“Minta si cupu suruh buatin kita sarapan, gih!” jawab Zidan parau, masih sambil merem. Tanpa merubah posisi tidurnya.


“Eh, Beb, kan si cupu masih kita kurung di gudang.  Kalau dia koit, gimana?” celetuk Lynna. Sontak membuat Zidan langsung dalam posisi duduk. Keduanya lalu sibuk merapihkan pakaian masing-masing. Lantas buru-buru memeriksa kondisi Syifa ke gudang.


Syifa yang melihat knop pintu bergerak langsung berdiri menunggu pintu dibuka.


“Syukurlah lu masih idup,” ceplos Zidan.


“Buruan keluar, terus buatin kita berdua sarapan!” titah Lynna berlagak layaknya dialah sang ratu di rumah Zidan.

__ADS_1


“Aku bukan pembantu di sini. Kalau kalian mau sarapan buat saja sendiri,” jawab Syifa. Lalu melenggang mendahului Zidan dan Lynna. Syifa berlari ke kamarnya, dan mengunci pintu. Lalu menangis setelah melihat tanda merah di leher Lynna.


Hati Syifa nyeri, ia juga merasa telah gagal mencegah terjadinya kemaksiatan di rumahnya, yang dilakukan oleh suami dan selingkuhannya itu.


Syifa menguatkan diri, ia lalu keluar kamar bermaksud hendak mengusir Lynna dari dalam rumahnya. Namun, lagi-lagi hati Syifa bagai dihujam belati saat mendapati suaminya sedang bermesraan dengan Lynna di ruang tengah.


“Sudah cukup! Hentikan kegilaan kalian!” pekik Syifa geram.


Zidan dan Lynna pun menoleh ke arah Syifa berada.


Syifa melangkah gusar ke arah kedua manusia tak beradab di depannya. Lalu menarik lengan Lynna, dan menyeretnya ke teras.


Zidan mengekor di belakang sambil berusaha menolong Lynna dari kemarahan Syifa.


Setelah sampai di ambang pintu didorongnya tubuh seksi Lynna dengan kasar oleh Syifa. Hingga Lynna terduduk di lantai teras.


“Pergi kamu dari sini! Jangan pernah injakkan kaki kotormu itu di sini!” imbuh Syifa, seraya menunjuk memberi isyarat agar Lynna pergi.


“Heh! Siapa elu main usir-usir tamu gua, hah?!” bentak Zidan.


“Aku istri sahmu, Zidan! Aku berhak sepenuhnya atas dirimu, pun sebaliknya.”


Zidan melewati tubuh Syifa. Lalu mengulurkan tangan membantu Lynna berdiri. Kemudian merangkul bahu Lynna mesra.


“Kamu nggak apa-apa kan, Sayang?” tanya Zidan pada Lynna. Lynna menggeleng tanda tidak mengapa. Sejurus kemudian Zidan mengecup kening selingkuhannya mesra di depan istrinya.


“Oke, kalau kalian nggak mau pergi. Aku akan lapor sama Pak Lurah. Biar warga yang menghentikan kelakuan bejat kalian,” ancam Syifa.


Lynna bersungut sebal. “Ya sudah, Beb. Aku pulang aja. Aku nggak mau ribet kalau harus berurusan sama warga. Lain kali kamu aja yang ke kontrakan aku kalau kangen. Males aku ke sini lagi. Istrimu bikes!” dumel Lynna. Lalu pergi setelah mengambil tas slempang mini miliknya.


“Mau lu itu apa sih, hah?! Elu itu cuma jadi benalu tau nggak di hidup gua!” oceh Zidan. Lalu pergi menyusul Lynna. Meninggalkan Syifa seorang diri.


***


Semua pekerjaan rumah sudah di selesaikan oleh Syifa. Ia merasa bosan terus berada di rumah, tapi mau keluar tidak berani jika tanpa restu suami.


Akhirnya Syifa memutuskan untuk duduk di teras rumah. Memikirkan selanjutnya apa yang harus ia lakukan.

__ADS_1


Hujan tiba-tiba turun begitu derasnya.  Seorang pria yang sedang mendorong motornya berhenti di depan pagar rumah, dan melihat ke arah Syifa berada.


“Asalamu’alaikum, Mbak. Motor saya mogok. Bolehkan kiranya saya numpang berteduh di teras rumah Mbaknya?”


“Wa’alaikumssalam, eum, boleh, silakan saja!” balas Syifa.


Pria di depan pagar pun berlari melewati pelataran rumah lalu akhirnya sampai di teras.


“Terima kasih, Mbak.”


Syifa mengangguk.


“Oh ya, saya Zimar,” ucap si pria memperkenalkan diri sambil menangkupkan tangannya. Syifa berdiri lalu membalas menangkupkan tangannya dan menyebutkan namanya.


“Maaf, suami saya sedang tidak ada di rumah. Jadi, saya permisi masuk ke dalam dulu, ya. Maaf saya tidak bisa mempersilakan anda masuk,” tutur Syifa.


“Oh, iya-iya. Nggak apa-apa saya di sini saja sudah lebih dari cukup kok. Silakan kalau Mbaknya mau masuk.”


“Silakan duduk!” ucap Syifa mempersilakan Zimar duduk di tempatnya tadi duduk setelah dirinya sampai di ambang pintu hendak masuk. Zimar mengangguk ramah.


“Maaf, nama lengkapmu Syifa Putri Ananda, bukan?” tanya Zimar. Syifa pun urung menutup pintu.


“I-iya,” jawab Syifa tergagap.


Syifa lalu melirik sekilas ke arah Zimar. Lalu menundukkan pandangannya, dan mencoba mengingat sosok yang kini sudah duduk di kursi yang tadi didudukinya.


“Kamu lupa ya, sama aku?” tanya Zimar.


Syifa masih terdiam di ambang pintu mencoba mengingat siapa sebenarnya sosok Zimar.


N


E


X


T

__ADS_1


👇


__ADS_2