
Selepas menerima telefon dari seseorang yang memberitahukan bahwa suaminya kecelakaan saat melakukan balapan liar bersama gengnya. Syifa langsung bergegas ke rumah sakit sesuai arahan sang penelefon.
Sesampainya di rumah sakit, Syifa berlari kecil menyusuri koridor bersama bayi dalam gendongannya. Mencari ruangan tempat Zidan dioperasi. Bertanya ke suster dan orang-orang yang berpapasan dengannya di mana letak ruang tindakan.
Saat sampai di depan ruang operasi langkah Syifa melambat, di sana ada seorang wanita tengah mondar-mandir di depan pintu kamar tindakan. Wanita dengan pakaian seksi itu tampak mencemaskan seseorang yang ada di dalam ruang operasi sana.
Syifa ingat betul siapa wanita itu. Ya, wanita seksi itu adalah istri baru Zidan yang dinikahi beberapa minggu lalu. Wanita yang membuat Zidan lupa pulang.
Syifa melangkah perlahan mendekati wanita di depannya itu. “Bagaimana kondisi Mas Zidan?”
Wanita seksi itu pun menoleh ke arah Syifa. Ia terdiam sejenak menatap Syifa sedemikian rupa. Kemudian menggeleng lemas. Lalu menunduk pilu. Syifa mengusap bahu wanita di depannya. Kemudian duduk di kursi memanjang yang tersedia di depan ruang operasi.
“Mbak!” panggil wanita cantik. Syifa pun melihat ke arah madunya yang kini sudah turut duduk di sampingnya.
“Iya, kenapa?” balas Syifa. Tatapan keduanya pun beradu dalam hitungan detik. “Eum, oh ya, nama kamu siapa? Aku lupa,” imbuh Syifa.
“Ira, Mbak.”
Syifa mengangguk-angguk. “Ada apa?”
“Aku minta maaf untuk ....” Ucapan Ira terjeda oleh pintu ruang operasi yang terbuka. Baik Syifa maupun Ira keduanya sama-sama menoleh ke arah pintu tersebut. Lalu kompak berdiri dan mendekati pintu menunggu dokter keluar.
“Bagaimana kondisi suami kami, Dok?” tanya Syifa dan Ira, kompak. Dokter dan kedua istri Zidan terlibat kontak mata beberapa deti. Kemudian Dokter menjelaskan bahwa Zidan sudah selesai dioperasi. Yakni operasi pengangkatan darah menggumpal di otak, serta operasi lainnya. Karena banyak luka sobek di badannya.
Syifa nyaris ambruk mendengar penjelasan dari dokter.
“Apa kami sudah boleh melihat kondisi suami kami, Dok?” tanya Syifa.
“Sebaiknya nanti saja kalau sudah dipindahkan ke ruang perawatan ya, Bu.”
“Baik, Dok.”
Dokter lalu mewanti-wanti seorang suster nanti setelah Zidan dipindahkan ke ruang perawatan agar segera memberitahukan kepada kedua istrinya. Suster mengangguk paham.
***
“Mari Bu, di sini ruang suami Anda,” ujar Suster membukakan pintu dan mempersilakan Syifa masuk untuk melihat kondisi Zidan. Ira mengekor di belakangnya Syifa.
Langkah Syifa melambat dari jarak sekitar 5 meter tempatnya berdiri, ia bisa melihat kondisi suaminya yang sangat mengenaskan. Dimana hampir di seluruh tubuhnya terdapat perban bekas luka jahitan. Pun di kepala dan kakinya. Zidan yang dulu gagah dan arogan kini laksana mumi. Air mata Syifa pun menetes.
“Mbak!”
Syifa menoleh ke arah Ira. “Iya, kenapa?” jawabnya kemudian dengan suara parau.
“Sini biar bayinya aku gendong dulu. Supaya Mbak bisa leluasa melihat dari dekat kondisi Mas Zidan,” lanjut Ira, seraya mengulurkan kedua tangannya siap mengambil alih bayi dari gendongan Syifa.
Selepas menyerahkan bayinya, Syifa melihat kondisi suaminya dari jarak yang lebih dekat lagi. Air matanya terus saja mengalir. Diusapnya jemari Zidan dengan lembut. Kemudian Syifa melangitkan doa untuk kesembuhan Zidan.
Setelah puas melihat kondisi suaminya, Syifa mengambil alih bayi dari gendongan Ira. Lalu memberi kesempatan pada madunya itu untuk melihat kondisi Zidan dari dekat. Sementara Syifa izin keluar untuk mengabari mertuanya, juga orangtuanya.
Orang tua Syifa langsung datang ke rumah sakit hari itu juga. Karena jaraknya yang tidak begitu jauh. Mereka berdua tertegun saat sampai di depan ruang rawat, dan mendapati Syifa tengah menggendong bayi. Lalu mendekat ke arah Syifa berdiri dan melihat bayi dalam gendongan Syifa sedemikian rupa.
“Nduk, kok kamu ndak bilang kalau sudah punya bayi? Kabar baik begini kenapa disembunyikan dari ibu sama Bapak to?” cecar ibunya. Sementara bapaknya antusias menunggu jawaban yang akan Syifa ucapkan.
“Bu, ngomongin soal bayinya nanti saja, ya. Ibu sama Bapak ndak ingin melihat kondisi Mas Zidan dulu?” Syifa mengalihkan pembicaraan. Kedua orangtuanya mengangguk. Lalu masuk ke ruangan Zidan berada.
__ADS_1
Syifa buru-buru ikut masuk ke dalam. Ia ingat di dalam ada madunya.
“Loh, dia siapa?” tanya ibu Syifa seraya menunjuk ke arah Ira. “Kalau suster kok ndak pake baju dinas?” imbuhnya.
“Eum, dia temen aku, Bu,” kilah Syifa. Membuat dahi Ira berkerut bingung. Namun, akhirnya mengikuti drama yang Syifa sutradarai itu.
“I-iya, Bu, sa-saya temannya Mbak Syifa,” sahut Ira. Kedua orang tua Syifa pun mengangguk-angguk.
Kemudian orang tua Syifa prihatin setelah melihat kondisi menantunya yang terlihat mengenaskan.
“Kok bisa sampai kecelakaan seperti ini memangnya Zidan mau ke mana?” tanya bapaknya Syifa.
Syifa gelagapan tidak tahu mau jawab dan berkilah apa lagi. Ia merasa berdosa jika harus berbohong kesekian kalinya untuk menutupi aib suaminya di depan orang tuanya itu.
“Balapan liar.” Ira keceplosan.
Sontak membuat orang tua Syifa menoleh ke arah Ira. Lalu menoleh ke arah Syifa.
“Benar begitu, Nduk?” cecar bapak, Syifa akhirnya hanya bisa mengangguk membenarkan.
“Katamu Zidan sudah berubah lebih baik,” ujar bapak Syifa.
“Maaf, Pak.” Syifa menunduk sedih dan takut bapaknya akan marah karena selama ini sudah dibohonginya.
“Bapak kecewa sama kamu, Nduk ....”
“Sudah to, Pak. Kondisi Zidan lagi kayak begitu mbok ya, sing sareh, sabar gitu lo,” sela ibunya Syifa, yang sukses membuat suaminya terdiam.
“Pak, Bu, sebaiknya Bapak sama Ibu pulang saja. Sudah sore. Biar aku sama Ira yang jagain Mas Zidan di sini.”
Kemudian ibunya Syifa menoleh ke arah suaminya meminta pendapat. Bagaimana? Lalu bapaknya mengangguk setuju dengan saran putrinya itu.
“Baiklah kita pulang kalau begitu. Biar bayimu ibu bawa pulang saja. Kasihan ‘kan, kalau lama-lama di rumah sakit.”
“Apa Ibu yakin? Nanti malah merepotkan lagi?”
“Ndak, wes to, sini!”
Syifa akhirnya pasrah saat ibunya mengambil alih bayinya secara paksa, dan membawanya pulang.
***
Keesokan harinya orang tua Syifa kembali membesuk menantunya sekaligus membawakan segala keperluan putrinya itu. Selang beberapa saat orang tua Zidan datang dari luar kota.
“Di mana Zidan?” tanya mama mertua Syifa.
Setelah diberi tahu dimana ruang Zidan berada, kedua orang tua Zidan langsung masuk dan melihat kondisi putra mereka.
Mamanya Zidan keluar lebih dulu dan marah-marah kepada Syifa. Syifa dianggap tidak bisa menjaga putranya. Orang tua Syifa dan mertuanya pun bersitegang.
“Ada apa ini ribut-ribut?” tanya bapak mertua Syifa seraya menutup daun pintu kamar Zidan.
“Istri kamu ini loh, nyalahin anak saya. Seenaknya bilang anak saya ndak bisa jagain anak situ. Memangnya kalian pikir anak saya ini babysitters? Hah?!” Bapak Syifa murka.
Suasana menjadi tak terkendali. Bapak mertua Syifa mencoba menenangkan istrinya yang tengah emosi. Sementara ibunya Syifa menenangkan bayi yang ada dalam gendongannya karena terus menangis. Syifa mencoba menenangkan bapaknya yang tak terima dirinya disalahkan oleh sang besan.
__ADS_1
Saat suasana mulai kembali tenang, datang sepasang suami istri yang memaki-maki Ira. “Sudah mama bilang jangan nikah sama lelaki berandalan itu. Ngeyel kamu ya, jadi anak!”
“Ma, aku cinta sama Mas Zidan,” sahut Ira membela diri.
“Halah cinta-cinta! Nggak ada cinta-cintaan. Lagian sekarang ‘kan, si berandal itu sedang koma, dan kita gak tahu dia bakal sadar atau bablas ....”
“Hei! Hati-hati Anda kalau bicara!” sela mamanya Zidan sambil menunjuk tak terima dengan ucapan mamanya Ira.
“Siapa Anda? Ikut campur saja?” ketus mama Ira.
“Saya mamanya Zidan. Mau apa Anda?”
“Oh, jadi kamu orang tuanya si berandal itu. Anda sudah gagal mendidik anak tau, nggak?”
Keduanya pun berseteru hebat, yang lain sampai kewalahan menengahi. Hingga beberapa suster datang memberitahu agar jangan membuat keributan. Barulah mereka sedikit tenang.
Setelah itu orang tua Ira menyeret putrinya itu secara paksa untuk diajak pulang dan dilarang menemui Zidan lagi.
“Ma, Pa, aku ini istrinya Mas Zidan. Aku mau tetap di sini jagain suamiku, Ma, Pa,” rengek Ira, sambil berusaha melepaskan lengannya yang dicengkeram oleh ayahnya.
“Halah, kamu kan Cuma istri siri. Nggak ada bukti yang menguatkan kalau kamu menikah dengannya. Jadi nggak usah lebay!” sahut bapaknya Ira. Lalu menyeret putrinya pulang.
Suasana menjadi hening setelah Ira dan orangtuanya pergi.
“Jadi Ira itu madumu bukan temanmu?” cecar bapak, Syifa akhirnya hanya bisa mengangguk membenarkan.
“Kenapa kamu bohong segala, Nduk? Bapak seumur-umur ndak pernah loh ngajarin kamu untuk jadi pendusta!”
“Maaf, Pak!” balas Syifa lirih, sambil menunduk dalam.
Akhirnya Syifa juga memberitahukan soal bayi yang diasuhnya itu kepada orangtuanya juga pada mertuanya.
“Apa?! Jadi ini bayinya madumu si Ira tadi?” cecar ibunya.
Syifa menggeleng. “Bukan anaknya Ira, Bu, tapi anaknya Lina, madu saya yang lain,” paparnya kemudian. Sontak membuat orang tua Syifa nyaris pingsan. Pun dengan orang tua Zidan, mereka tak percaya jika putranya malah semakin menggila akhir-akhir ini.
“Terus kenapa setiap kami tanya via telefon kamu selalu bilang kalau Zidan sudah berubah lebih baik dari sebelumnya, Fa?” cecar papa mertuanya.
“Maaf, Syifa hanya tidak ingin kalian sedih dan kecewa. Karena Syifa pikir, Syifa bakal berhasil menuntun Mas Zidan ke jalan yang benar dalam waktu dekat. Tapi, nyatanya prediksi saya salah.”
Semua pun terdiam, terutama mamanya Zidan. Ia terlihat merasa bersalah karena sebelumnya sudah menyalahkan menantunya itu tanpa ia tahu betapa beratnya pengorbanan yang harus Syifa lakukan.
Kemudian mama mertua Syifa mendekat dan merangkul menantunya itu lalu meminta maaf atas sikapnya tadi.
“Iya, Ma, nggak apa-apa. Syifa ngerti kok.”
Kini semua kembali kompak, dan bergantian menjaga Zidan di rumah sakit. Namun, hingga hitungan minggu Zidan belum menunjukkan kemajuan. Ia masih terbaring koma.
***
“Kapan kamu akan sadar, Mas?” ucap Syifa yang kebetulan hari ini jadwalnya menjaga Zidan.
Tiba-tiba jari Zidan bergerak, detik kemudian Zidan terdengar melenguh. Matanya bergerak liar seperti akan terbuka. Syifa antusias menunggu suaminya membuka mata.
N E X T
__ADS_1