
Syifa melangkah mendekat ke arah Zidan yang sedang merangkul bahu kedua wanita yang duduk mengapit dirinya. Mereka bertiga cekikikan mesra tanpa merasa berdosa pada Syifa.
“Siapa mereka?” tanya Syifa berusaha tetap tenang. Zidan menatap ke arah Syifa sekilas, lalu melirik ke arah wanita di sisi kiri dan kanannya.
“Mereka pacar gua. Kenapa?” sahut Zidan ketus.
Syifa menggeleng muak. “Sumpah, aku bener-bener nggak ngerti cara berpikirmu, Mas. Masalahmu dengan Lynna saja belum selesai. Sekarang bawa lagi dua perempuan,” cerocos Syifa. Sejurus kemudian ia mendengkus kesal.
“Lynna ... Lynna itu sudah bukan pacar gua lagi. Dia udah jadi mantan.”
“Dia hamil ....”
“Iya, gua tau. Kalok dia hamil, terus hubungannya sama gua apa?” sela Zidan cepat.
Syifa bersedekap sambil geleng-geleng kepala. “Dia hamil anak kamu, Mas. Ya, kamu harus tanggung jawab lah.”
“Ck, tanggung jawab apa?” tanya Zidan belagak pilon, sambil memainkan rambut panjang wanita di sisi kiri dan kanannya.
“Nikahi Lynna!”
“Ck, ogah. Nikah sama lu aja ribetnya minta ampun. Disuruh nambah bini lagi. Kagak sudi gua!”
“Kalau gitu stop mainin wanita!” tegas Syifa.
“Serah gua. Hidup-hidup gua ngapa lu yang repot.”
“Aku ini istrimu, Mas. Jelas aku peduli, karena aku ingin yang terbaik untukmu.”
“Kalok elu mau yang terbaik buat gua. Lu pegi dari rumah gua, dari hidup gua. Biarin gua menikmati hidup dengan tenang. Itu kalok lu mau yang terbaik buat gua.”
Kedua wanita di sisi Zidan terkikik, lalu bersandar manja di bahu Zidan. Matanya menatap Syifa sedemikian rupa seolah sedang mengejek wanita berhijab yang berdiri di depan mereka.
__ADS_1
“Kalian berdua masih mau dengan lelaki yang tidak punya rasa tanggung jawab kayak dia?” tanya Syifa pada kedua wanita, pacar Zidan itu.
“Kalau aku sih, santai aja. Hidup mah, nggak usah dibuat ribet dengan segala rencana dan peraturan. Jalani apa yang kita suka dan nikmati,” jawab wanita di sebelah kiri Zidan. Sementara yang satunya menjentrikan jari tanda setuju dengan ucapan wanita satunya.
“Subhanallah.” Syifa benar-benar hilang akal dengan kelakuan ketiga manusia di hadapannya. Mereka seperti manusia rimba saja tidak taat terhadap peraturan baik yang diciptakan oleh negara maupun oleh agama. Padahal mereka memiliki patokan hidup berupa agama, tapi norma-normanya diabaikannya begitu saja.
“Kalian semua benar-benar sudah rusak!” Syifa melihat orang-orang di depannya satu persatu. Tak terkecuali Zidan. “Kalian berdua mau pergi sendiri dari sini atau saya panggil warga supaya usir kalian berdua secara tidak hormat!” gertak Syifa pada kedua wanita, pacar suaminya itu.
“Ck, aku nggak mau ribet berurusan sama warga. Mending pulang sendiri aja.”
“Gua juga pulang, ah. Ganggu aja. Dasar nenek lampir!” ejek satunya pada Syifa.
Sebelum pergi, kedua wanita itu mengecup kedua sisi pipi Zidan secara bersamaan. Satunya pipi Zidan sebelah kanan, dan satunya lagi sebelah kiri.
Syifa hanya mampu ber-istighfar. Sudah melarang, tapi tak didengar mau bagaimana lagi.
***
“Alhamdulillah, untunglah aku punya mertua yang baik,” ucap Syifa bersyukur. Karena saran yang diajukan ditanggapi positif dan disetujui oleh mertuanya.
“Semoga setelah ini Mas Zidan bisa berubah mandiri dan dewasa,” gumam Syifa. Ponsel yang semula masih di genggaman diletakkannya di atas nakas. Lalu lanjut beraktifitas membereskan rumah. Setelah pekerjaan rumah selesai ia kerjakan, Syifa bergegas ke kantor.
Sesampainya di depan gang kompleks rumahnya, Syifa berhenti di pinggir jalan raya menunggu angkot. Namun, hingga hitungan menit tidak ada satu pun angkot yang lewat. Syifa pun gelisah sesekali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu menengok ke kiri dan kanan.
Selang beberapa saat sebuah motor berhenti tepat di depannya berdiri.
“Asalamu’alaikum,” sapa pengendara motor, sambil mengangguk kecil.
Syifa tersenyum santun lalu menjawab salam, “Wa’alaikumssalam.”
“Lagi nunggu angkot, ya?”
__ADS_1
“Iya, tapi dari tadi tidak ada yang lewat juga,” jawab Syifa, sambil menoleh ke kiri dan kanan.
“Ya sudah, kita bareng aja, yuk!” ucap lelali di hadapannya sambil menyodorkan helm.
“Maaf, untuk kesekian kalinya aku merepotkan.”
“Tidak ada kata repot untuk seorang sahabat,” jawab Zimar.
Syifa tersenyum sambil sibuk memasang pengait helm.
“Bisa, nggak?” tanya Zimar, saat melihat Syifa kesulitan mengaitkan helm.
“Nggak tahu nih, kok susah ya?” sahut Syifa, masih sambil berusaha mengaitkan pengait helmnya. Tapi tidak juga berhasil.
Zimar sedikit memiringkan badannya. “Sini aku bantu. Maaf, ya,” ucap Zimar sambil mengambil alih mengaitkan pengait helm.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengawasi adegan keduanya, dan berniat mengambil keuntungan dari hasil rekaman video dalam ponselnya.
***
Sepulang dari kantor Syifa dipandang aneh oleh tetangga kompleknya yang kebetulan berpapasan di jalan depan rumahnya.
“Nggak nyangka ya, berhijab kelihatan alim, tapi kelakuannya minus,” bisik seorang wanita pada wanita lainnya, tapi terdengar jelas di telinga Syifa.
Syifa yang tidak tahu menahu apa maksud ucapan ibu-ibu komplek itu, memilih diam. Lalu masuk ke dalam area pelataran rumahnya dengan ekspresi wajah penuh kebingungan.
N
E
X
__ADS_1
T
👇