
“Belum ingat juga?” tanya Zimar, sambil tersenyum manis.
Syifa menggeleng, karena memang dirinya tidak ingat siapa sosok yang kini duduk di kursi teras itu.
“Aku Zimar, teman SMP kamu dulu. Masa lupa?” lanjut Zimar.
Syifa mengerutkan dahi mencoba mengingat serasa tidak percaya teman SMP-nya itu sekarang berubah jadi ganteng dan santun. Padahal jaman masih sekolah dulu Zimar terkenal bar-bar dan super nakal. Berbalik 180 derajat sama penampilan dan perilakunya yang sekarang.
“Zimar, apa kabar kamu sekarang?” Syifa akhirnya ingat semuanya.
Lantas keduanya terlibat dalam obrolan penuh kehangatan. Syifa duduk di ambang pintu, sementara Zimar duduk di kursi teras. Mereka tertawa kala ingat masa SMP yang penuh dengan kenangan lucu.
Keduanya larut dalam kebersamaan hingga lupa waktu, dan tak menyadari jika hujan sudah reda. Obrolan masih terus berlanjut.
Sampai sebuah motor ninja warna hitam memasuki halaman depan rumah. Lalu masuk ke garasi.
“Itu yang datang suami kamu, Fa?” tanya Zimar, dan diangguki oleh Syifa.
Wajah Zimar pun seketika berubah sedikit murung.
Selang beberapa saat Zidan pun mendekat ke tempat Syifa dan Zimar berada setelah memarkirkan motornya.
“Wah, kayaknya ada yang selingkuh nih,” celetuk Zidan, tanpa merasa bersalah.
“Mas, kalau datang itu ucapin salam, bukannya malah asal nyeplos kek gitu,” ujar Syifa, dan dibalas dengan kibasan tangan masa bodoh oleh Zidan.
Zimar lantas berdiri lalu mengulurkan tangan bermaksud hendak menyalami Zidan mengajak berkenalan. Namun, ditepis oleh Zidan.
“Nggak penting! Gua nggak butuh kenal sama, lo!” ketus Zidan.
Zidan lalu mengarahkan pandangannya ke arah Syifa berdiri. “Gila ya, gua nggak nyangka sumpah,” ucap Zidan seraya geleng-geleng. “Orang kek lu bisa selingkuh juga ya, ternyata. Dasar cupu munafik lo!” imbuh Zidan. Lalu melenggang masuk ke dalam rumah meninggalkan Syifa yang masih berdiri di ambang pintu, dan Zimar yang masih berdiri di teras.
Zimar merasa heran akan sikap kasar suami Syifa.
“Maaf, kalau kedatanganku membuat semua jadi runyam. Aku ....”
“Enggak apa-apa. Ini hanya kesalahpahaman saja. Nanti biar aku jelaskan ke suamiku kalau dia sudah agak tenang,” sela Syifa.
Zimar pun pamit pulang membawa rasa tidak nyaman yang kemelut di hatinya. Ia merasa bersalah atas kerenggangan hubungan Syifa dan suaminya. Zimar tidak tahu jika sebenarnya hubungan Syifa dan Zidan memang tidak pernah harmonis dari awal.
***
__ADS_1
Setelah Zidan keluar dari kamarnya, Syifa mencoba menjelaskan siapa itu Zimar.
“Heh, menurut lu, gua peduli. Serah lu mau ngapain aja. Itu bukan urusan gua. Jadi, lu nggak usah laporan ama gua! Ganggu orang lagi main game aja, lu!” sentak Zidan, setelah Syifa menjelaskan panjang kali lebar.
“Bikin bad mood aja lu!” ketus Zidan. Lalu beranjak berdiri, dan mengayunkan langkahnya ke garasi. Mengeluarkan motor ninja hitamnya. Kemudian pergi menunggangi kuda besinya itu dengan kecepatan tinggi.
***
“Mas, apa nggak sebaiknya kamu cari kerja. Atau kalau nggak bantuin ngurus perusahaan orangtua kamu, Mas. Nggak enak ‘kan, kalau hidup kita terus-terusan dibiayai oleh oeangtua, Mas. Daripada cuma nongkrong-nongkrong gak jelas sama geng kamu itu.” Syifa dengan sangat hati-hati mencoba menasehati suaminya.
Zidan pun emosi, dibantingnya sendok yang semula di tangan ke atas piring sehingga menimbulkan suara khas besi membentur piring berbahan keramik. Lelaki tempramen itu urung menyuapkan makanan kr mulutnya. Tampaknya nafsu makannya hilang.
Gigi Zidan bergeletuk geram. “Lo itu kenapa si, bisanya Cuma bikin gua bad mood muluk. Hah?!” ketus Zidan seraya menggebrak meja.
Syifa pun sedikit terlonjak kaget.
“Lo itu di sini cuma numpang idup. Bikin susah pula!” inbuh Zidan. Lalu berdiri dengan gusar.
“Mas, kamu itu dewasa dikit kenapa sih,” ucap Syifa bercampur tangis.
“Elu nggak usah ngatur gua, serah gua mau gimana. Elu juga serah mau ngapain!”
“Ya sudah, kalau Mas, nggak may kerja. Aku minta izin untuk bekerja,” pinta Syifa.
Setelah mengomel Zidan pun pergi meninggalkan Syifa yang masih menangis terisak.
***
Hari berganti, tapi belum ada tanda-tanda Zidan akan berubah. Yang Syifa rasa semakin hari sikap Zidan justru malah semakin kasar dan keterlaluan.
Lelah?
Jangan ditanya. Adakalanya Syifa merasa sangat lelah dan ingin menyerah lalu pisah saja dengan Zidan. Namun, ia mempertimbangkan niatnya. Sekali lagi ia mencoba memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk tetap bertahan di sisi suaminya. Penuh harap kelak ada keajaiban datang menyapa rumah tangganya. Meski untuk saat ini terlihat mustahil, tapi jika dia mampu bersabar pasti akan ada buah yang kelak bisa dipetik.
***
Terkadang Tuhan mengirim seseorang ke dalam kehidupan kita dengan berbagai macam sifatnya sebagai penguji kesabaran.
Di sini tingkat kesabaran kita diukur seberapa luasnya.
***
__ADS_1
Syifa pun mulai mencari kerja, dan akhirnya diterima di salah satu kantor. Ia merasa tidak enak hati jika terus-terusan mengandalkan pemberian mertuanya.
Seharusnya ini menjadi tanggung jawab Zidan sebagai suami, tapi ia masih belum bisa diandalkan. Akhirnya Syifa memilih turun tangan sendiri. Setidaknya untuk biaya keperluan pribadinya dari hasil jerih payahnya sendiri nanti jika sudah berhasil menerima gaji.
***
“Astaghfirullah hal’adzim. Maaf,” ucap Syifa, saat sedang tergesa dan tanpa sengaja menabrak seseorang.
Dua insan yang kini beradu pandang pasca bertabrakan itu mematung tak percaya dengan apa yang dilihat di hadapannya masing-masing.
“Kamu?!” ucap keduanya nyaris bersamaan, sambil saling menunjuk satu sama lain.
Keduanya lalu terkekeh merasa lucu dengan kekompakan mereka.
“Kamu kerja di sini juga?” tanya Syifa.
“Iya,” jawab Zimar sambil mengangguk. Kemudian dahi Zimar berkerut penuh tanya. “Kamu ... kerja di sini juga?” tanya Zimar, balik.
“Iya, kemarin kirim pendaftaran via online, dan hari ini saya baru mulai bekerja,” jelas Syifa.
Zimar mengangguk paham. “Wah, berarti sekarang kita satu kantor.”
Keduanya lalu kembali terlibat dalam obrolan hangat sambil berjalan menuju meja kerja masing-masing.
Hingga keduanya sering makan siang bareng, dan Syifa sering diantar pulang oleh Zimar. Mereka berdua setiap harinya semakin akrab. Rasa canggung yang semula menjadi penyekat di antara mereka pun kini ‘tlah sirna. Layaknya sepasang sahabat. Tidak ada lagi rahasia di antara keduanya.
Mereka sama-sama nyaman ketika mencurahkan segala keluh kesah satu sama lain. Tidak hanya sekedar saling curhat, tapi keduanya juga selalu saling bantu mencarikan solusi masalah satu dengan yang lain. Juga saling suport dalam segala hal yang positif.
Dan kini Zimar pun tahu bagaimana kehidupan rumah tangga Syifa dengan Zidan. Pun sebaliknya, Syifa tahu bagaimana kehidupan Zimar.
***
Sepulang dari kantor, Syifa dikejutkan dengan adanya seorang wanita yang duduk di kursi teras rumahnya dengan kondisi perut buncit.
N
E
X
T
__ADS_1
👇