KETABRAK CINTA KETUA GENG MOTOR

KETABRAK CINTA KETUA GENG MOTOR
BAB 12


__ADS_3

“Mas, alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga,” ucap Syifa lega, setelah suaminya membuka mata.


Zidan tampak bingung, kedua tangannya meraba-raba ke udara. “Gua di mana?”


“Kamu di rumah sakit, Mas.” Syifa mencoba menjelaskan dengan lemah lembut.


“Kenapa gelap? Apa di sini lampunya tidak dinyalakan?” cerocos Zidan masih sambil meraba-raba ke udara.


“Gelap?” desis Syifa. “Ini siang Mas, dan di sini sangat terang.”


“Ta-tapi kenapa gua nggak bisa lihat apa-apa?”


“Astagfirullah hal’adzim. Subhanallah.” Syifa ikut bingung setelah mendengar penjelasan Zidan. “Ya sudah, sebentar ya, Mas, aku coba panggil dokter dulu supaya meriksa kamu.”


“Buruan! Panggil dokter!” titah Zidan gusar.


“Iya, iya, sabar ya, Mas!” Syifa lalu berlari tergopoh-gopoh mencari sang dokter berada. Setelah bertemu langsung dibawa ke ruangan Zidan.


“APA?!” pekik Zidan setelah mendengar penjelasan dari dokter bahwa kemungkinan dirinya mengalami kebutaan sementara. “Enggak, gua nggak mau buta!”


Syifa mencoba menenangkan dengan terus menyuruh suaminya agar sabar.


Zidan menepis tangan Syifa yang memegangi bahunya. “Ck, elu gak tahu rasanya gak bisa lihat kek mana. Bisanya Cuma bilang sabar, sabar, sabar!” omelnya pada Syifa.


“Maaf Mas,” ucap Syifa lirih.


“Maaf-maaf!” ketus Zidan. Detik kemudian ia berusaha untuk bangun dan menggerakkan kakinya. Ia ingin ke toilet, tapi Zidan kembali gusar saat kedua kakinya tak bisa digerakkan sama sekali.


“Ini kenapa lagi? Kenapa kaki gua nggak bisa digerakin sama sekali? Hah?!” seru Zidan. Yang lain bingung.


“Nanti kita coba periksa kondisi Bapak lebih mendalam, ya, Pak,” ucap dokter.


“Periksa sekarang! Jangan nanti-nanti, Dok!” ketus Zidan.


“Eum, baik Pak. Kami akan memeriksa Bapak sekarang juga.” Akhirnya dokter langsung memeriksa kondisi badan Zidan keseluruhan. Dan hasilnya mata Zidan dinyatakan mengalami kebutaan sementara. Sementara kakinya mengalami kelumpuhan yang belum bisa diprediksi sampai kapan. Kemungkinan sembuhnya hanya sekian persen.


Zidan pun frustrasi. Ia juga terus menanyakan keberadaan Ira. Syifa menjelaskan sesuai fakta yang ada, bahwa Ira dibawa pulang keluarganya. Namun, Zidan malah menuduh Syifa telah mengusir Ira.


“Aku nggak usir Ira, Mas, sungguh!” papar Syifa. Mencoba meyakinkan suaminya.


“Bohong! Pasti lu ‘kan yang usir Ira. Sekongkol lu ya sama Lina?” Zidan kekeh pada persepsinya.


“Cukup Zidan!” pekik mamanya yang baru saja memasuki kamar dan mendapati putranya tengah memojokkan menantunya.


“Mama,” desis Zidan.


“Kamu itu benar-benar keterlaluan Zidan. Kenapa mencari yang tidak ada? Di sini ada Syifa istri sah kamu. Lagian Syifa tidak mengusir Ira. Ira dibawa pergi oleh keluarganya. Mama lihat dengan mata kepala mama sendiri.”


Zidan kemudian menunduk sedih. Sementara Syifa mengusap bahu mama mertuanya menenangkan.


Suasana pun menjadi hening beberapa menit. Semua larut dalam pikiran masing-masing.


“Selama gua koma apa gak ada temen gua yang dateng buat jenguk?” tanya Zidan. Kali ini dengan nada suara yang nelangsa.


“Tidak ada Mas. Mungkin mereka takut kalau ditanya-tanya sama polisi.”


Setelah mendengar penjelasan dari Syifa. Zidan semakin menunduk dalam. Kesedihan tersirat jelas di wajahnya yang sekarang sudah tidak karuan bentuknya. Terdapat banyak bekas jahitan di mana-mana.


Detik kemudian Zidan berbaring di atas ranjang rumah sakit. Matanya meneteskan air mata. Nelangsa.


Ia merasa tak dianggap ada, oleh teman-temannya. Padahal dulu dia adalah ketua geng yang disegani. Semua perintahnya selalu dituruti oleh semua orang yang tergabung dalam anggota geng motor. Kini saat ia tak berdaya tidak ada yang datang sekedar mengucapkan ‘semoga cepat sembuh' untuknya.


Zidan menepis tangan Syifa yang berusaha mengusap air matanya. “Udah elu gak usah sok peduli ama gua! Lu seneng ‘kan sekarang kondisi gua kayak gini?!”


“Zidan!” bentak mamanya.


“Ma,” Syifa menghentikan ucapan mama mertuanya. Syifa tahu mama mertuanya akan mengomeli Zidan habis-habisan.


“Tinggalin gua sendiri! Gua pengen sendiri!”


“Baik Mas,” balas Syifa. Lalu merangkul mama mertuanya keluar.


“Mama benar-benar nggak hanis pikir. Kenapa mama bisa melahirkan anak kayak Zidan. Mama sebenarnya mau sama kamu, dam juga sama orang tuamu, Fa.”

__ADS_1


“Astagfirullah hal’adzim, Mama. Nggak boleh ngomong seperti itu, Ma. Nanti kalau Mas Zidan dengar dia malah tambah sedih.”


Wanita yang telah melahirkan Zidan itu menatap menantunya sedemikian rupa. “Mama beruntung punya menantu seperti kamu, Fa. Mama yakin dengan lautan kesabaran yang kamu punya ini, kelak Zidan akan jatuh ke pelukanmu seutuhnya.” Detik kemudian ia memeluk menantunya erat. Air mata haru pun menetes tanpa komando.


***


Kini Zidan sudah diperbolehkan pulang. Namun, kondisinya masih belum ada peningkatan. Ia justru semakin terpuruk saat tahu ternyata Ira wanita yang dicintainya telah menikah dengan lelaki lain.


Zidan jadi sering merutuki nasibnya, dan sering mengamuk layaknya orang kesetanan. Berteriak-teriak nggak jelas. Serta membanting barang-barang yang ada di sekitarnya. Bahkan beberapa kali ia mencoba mengakhiri hidup. Namun, masih berhasil diselamatkan.


Sejak suaminya sering terciduk hendak bunuh diri, kini Syifa lebih ekstra lagi dalam menjaganya. Meski perhatiannya sering ditolak mentah-mentah, tapi Syifa tetap tak kapok memberikan perhatian serta mencurahkan kasih sayang pada Zidan.


Syifa tetap berbakti sebagaimana bakti seorang istri terhadap suami. Meski Zidan sering kali mengamuk dan memakinya.


***


“Aaak!” pekik Zidan, saat ia bangun pagi dan membuka matanya. Ia merasakan sakit luar biasa pada matanya. Efek terkena silaunya cahaya yang selama beberapa bulan ini tak dilihatnya.


Syifa yang kebetulan sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya terkejut, dan langsung mendekati Zidan serta menanyakan kenapa?


“Mataku sakit,” rengek Zidan. Ia mengerang kesakitan, dan tak berani lagi membuka matanya.


“Sakit?” Syifa yang kebingungan akhirnya memanggil mertuanya.


“Ya sudah, kita telepon saja dokter Adi supaya datang ke sini.” Papa mertua Syifa langsung menelepon dokter pribadinya, yang tak lain adalah adiknya sendiri yakni pamannya Zidan. Jarak rumah yang tak begitu jauh, akhirnya sang dokter pun datang dan langsung memeriksa kondisi Zidan.


“Coba buka matanya perlahan!”


Zidan pun mengikuti instruksi sang Dokter.


“Mama, Papa!” pekik Zidan girang setelah matanya terbuka lebar dan sudah kembali bisa melihat. Syifa langsung mengucap hamdalah, pun mertuanya.


“Ini semua berkat istrimu, Dan, yang selalu sabar mendampingimu dan tak henti melambungkan doa untuk kesembuhanmu kepada Yang Maha Kuasa.”


Mama mertua dan sang Dokter mengangguk sepakat dengan ucapan papa mertua Syifa. Sementara Syifa hanya menunduk malu dan melengkungkan senyum kecil.


“Bener apa kata papa kamu, Dan. Syifa ini selama kamu koma dia setia menunggu dan selalu mendoakan kesembuhan kamu loh,” timpal sang Dokter.


Zidan melirik Syifa, hatinya mulai sedikit tersentuh.


Zidan kini tak sekasar dulu sikapnya terhadap Syifa. Seperti hari ini Zidan nurut pada Syifa saat diajak ke rumah sakit untuk terapi dan belajar jalan.


“Hari ini perkembangannya pesat banget loh, Mas. Hebat! Mas sudah bisa melangkah sampai 10 langkah tadi pas di rumah sakit tanpa berhenti,” puji Syifa bangga.


“Ini semua berkat kamu. Terima kasih ya, sudah setia mendampingi aku walau kondisiku sekarang menjijikkan begini,” balas Zidan dengan nada lembut. Ini kali pertama Zidan memanggil Syifa dengan sebutan ‘aku kamu’. Serta kali pertama suaminya itu berterimakasih padanya. Syifa tertegun mendengar Zidan berkata demikian. Jantungnya berdetak tak menentu.


“Sama-sama Mas, itu sudah kewajiban aku sebagai istri. Jangan bicara begitu, bagiku kamu lelaki terkeren Mas.” Syifa langsung mengatupkan bibirnya. Ia sadar telah salah bicara. “Eum, mak-maksudku ... eumm, anu Mas ....” Syifa gelagapan tidak tahu mesti berdalih apa lagi. Ia malu pipinya merona.


“Maukah kamu duduk di sini?” Zidan menepuk kasur.


Syifa menunjuk dirinya sendiri tak percaya. “Ak-aku?”


Zidan mengangguk. Lalu Syifa melangkah ragu kemudian duduk di sisi Zidan. Jantung Syifa kian berdetak tak menentu saat Zidan menggenggam tangannya.


Zidan menatap istrinya sedemikian rupa membuat Syifa salah tingkah. “Terima kasih ya, selama ini kamu sudah setia mendampingi aku. Meskipun aku sudah kasar dan keterlaluan sama kamu. Aku minta maaf atas segala kesalahan yang dulu pernah kulakukan padamu.”


Mata Syifa berkaca-kaca. Pun mata Zidan. Tatapan keduanya beradu. Syifa mengangguk. “Iya Mas, aku udah maafin Mas kok, jauh sebelum Mas minta maaf.”


Kemudian Zidan memeluk Syifa masih dalam posisi duduk di tepi ranjang. Tangis keduanya pun pecah.


Beberapa detik kemudian Zidan melepaskan pelukannya, dan mengusap air mata istrinya setelah menyeka air matanya sendiri. “Selama ini kamu sudah menjadi istri yang sangat baik untukku. Kini saatnya aku belajar menjadi suami yang baik juga untukmu.”


Dahi Syifa berkerut tak mengerti. “Maksudnya gimana, Mas?”


Zidan menghela napas panjang. “Aku mau belajar jadi imam rumah tangga kita yang sesungguhnya. Aku mau belajar jadi lelaki yang lebih baik dari sebelumnya.”


Tangis Syifa kembali pecah. Zidan berkali-kali mengusap air mata istrinya.


“Kenalkan aku pada Tuhan,” pinta Zidan. Syifa mengangguk, dan lagi air matanya mengalir deras.


***


Zidan kini sudah hafal gerakan dan bacaan salat serta hafal beberapa surah pendek. Setiap hari juga Zidan belajar ngaji iqro. Perlahan tapi pasti, setiap harinya sang Ketua geng motor itu menunjukkan perubahannya. Perubahan ke arah yang lebih baik.

__ADS_1


***


Saat azan subuh berkumandang Syifa bangun, dan langsung pergi ke kamar Zidan bermaksud hendak membangunkan suaminya untuk melaksanakan salat subuh. Namun, ia terkejut saat sampai di kamar dan tidak mendapati Zidan di sana.


Syifa pun kebingungan mencari suaminya ke seluruh penjuru ruang rumahnya. Lalu membangunkan semua anggota keluarga bahkan semua pembantunya untuk membantu mencari suaminya usai salat subuh.


“Mama udah periksa semua ruangan rumah ini, tapi Zidan nggak ada.” Papa mertua dan semua pembantunya juga memberikan pernyataan sama dengan mama mertuanya.


Lalu semua sepakat untuk mencari Zidan keluar rumah. Tepat saat Syifa dan yang lain membuka pintu depan. Zidan sudah berdiri tepat di depan pintu, mengenakan kopiah serta sarung dan baju koko. Sajadah tersampir di pundaknya. Syifa pun terpana dibuatnya. Suaminya itu terlihat sangat keren pagi ini. Pun dengan yang lain. Semua terbengong melihat penampilan Zidan.


“Kalian mau ke mana?” tanya Zidan, menatap orang-orang di hadapannya satu persatu.


Semua orang di hadapannya masih terbengong. Sementara Syifa langsung berlari dan memeluk suaminya. Erat. Zidan membalas pelukan istrinya.


“Kamu yang dari mana?” tanya Syifa, masih sambil memeluk Zidan erat. Seolah takut ditinggal pergi. Syifa sampai lupa kalau di belakangnya ada mertua serta beberapa asisten rumah tangganya.


“Aku tadi habis salat subuh berjamaah di Masjid.”


Jawaban Zidan membuat semua orang bangga dan bahagia. Terutama mama dan papanya.


Syifa langsung melepaskan pelukannya dan menatap suaminya sedemikian rupa. Detik kemudian ia mengucap hamdalah.


Mama dan papanya bergantian memeluk Zidan. Bahagia dan bangga akan perubahan Zidan yang sekarang.


“Kamu berhasil,” bisik mama mertuanya pada Syifa. Syifa hanya tersenyum kecil.


“Loh, Mas Zidan sudah bisa jalan to?” pekik tukang kebun yang baru datang hendak bekerja memangkas rumput taman rumahnya. Sontak membuat semua yang di sana baru menyadari hal itu. Lagi, semua mengucap hamdalah untuk kesembuhan kaki Zidan.


Zidan langsung mengajak istrinya jalan-jalan ke taman kota yang terletak tak jauh dari rumahnya. Untuk merayakan kesembuhannya katanya.


Di taman Zidan mengungkapkan rasa cintanya kepada Syifa, dan Syifa menerima serta mengakui bahwa dirinya memiliki rasa yang sama. Kini keduanya telah menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya.


Hari-hari mereka senantiasa diliputi canda tawa bahagia.


Zidan pun kini telah bekerja mengelola perusahaan ayahnya. Ia telah benar-benar menjadi lelaki sejati. Banyak perempuan datang silih berganti berusaha menggoyahkan imannya. Namun, Zidan kini telah berubah menjadi sosok yang teguh pendirian. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi lelaki sejati.


Lelaki sejati ialah yang mampu setia pada satu wanitanya. Yakni Syifa seorang. Itu prinsipnya sekarang.


***


Sepulang dari kantor Zidan merasa aneh dengan tingkah laku istrinya yang mendadak dandan sangat cantik dan banyak senyum. Serta langsung menariknya ke kamar.


“Kamu kenapa sih, Sayang? Kok hari ini aneh gini?” Dahi Zidan berkerut bingung.


“Aku ada hadiah untuk, Mas.”


“Apa?” cecar Zidan tak sabar.


Kemudian Syifa menyerahkan sebuah kotak sebesar kotak HP.


“Apa ini?” tanya Zidan penasaran.


“Buka aja!” titah Syifa.


Zidan pun membuka bungkusan berbentuk kotak itu. Namun, saat satu bungkus berhasil dibuka. Ternyata masih ada bungkus yang lain begitu seterusnya. “Ya Allah, Sayang, ini isinya apaan? Bungkusnya banyak banget. Niat banget kayaknya mau ngerjain masnya, ya?”


“Udah buka aja terus, itu tinggal dikit lagi sampai di bungkus terakhir kok.”


Zidan semakin penasaran dibuatnya, dan mempercepat membuka bungkusnya. Hingga sampai pada bungkus terakhir, Zidan membuka penuh kehati-hatian.


Ternyata isinya testpack, terpampang dua garis warna merah muda yang menandakan bahwa Syifa kini tengah mengandung buah cintanya.


“Kamu hamil?” tanya Zidan dengan ekspresi semringah. Syifa mengangguk. Detik kemudian Zidan menitikkan air mata bahagia lalu memeluk istrinya erat sambil terus mengucap hamdalah begitu kerasnya.


“Ssssth! Jangan keras-keras, Mas. Aku belum ngasih tahu ke Mama dan Papa,” bisik Syifa.


“Biarin. Nanti aja kasih tahu Mama sama Papanya,” balas Zidan dan semakin mengeratkan pelukannya.


S E L E S A I


🌺🌺🌺


Setiap masalah yang dihadapkan dengan doa dan sabar, pasti Allah akan membukakan jalan keluar yang tak terduga-duga.

__ADS_1


Sabar yang sesungguhnya itu luas tanpa batas. Dan sesungguhnya Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar.


🌺🌺🌺


__ADS_2