
🍄🍄🍄
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Syifa pun memutuskan untuk pergi tidur ke kamarnya. Selepas mengunci semua jendela dan pintu. Dari ba’da isya, ia menunggu suaminya, tapi tak kunjung pulang.
“Hemm, pasti Mas Zidan nggak pulang lagi, mending aku tidur aja,” gumam Syifa.
Baru saja menenggelamkan diri ke balik selimut, Syifa mendengar suara motor bising memasuki pekarangan depan rumah.
‘Siapa yang datang, rame amat?’ batin Syifa, seraya menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Lalu beringsut dari atas kasur. Memakai hijab lalu memastikan siapa yang datang.
“Woy! Buka pintunya!” pekik Zidan dari luar, seraya menggedor-gedor pintu.
“Iya, sebentar, sabar,” sahut Syifa, seraya berlari tergopoh mendekat ke pintu, lalu membukanya.
Syifa tertegun selepas membuka daun pintu bernuansa putih, dan mendapati suaminya datang bersama hampir seluruh anggota gengnya.
Netra Syifa pun memonitor semua pria yang berdiri di teras hampir semua penampilannya urakan khas penampilan anak jalanan, tatoan, semiran, tindikan, celana robek-robek. Sebela tangan Syifa masih sambil memegang knop pintu.
“Ini bini lu, Bos? Cakep juga,” celetuk salah satu anak buah Zidan.
“Cakep apaan. Cupu gini tampilannya,” sahut Zidan.
“A-ada apa ini, Mas? Kenapa datang beramai-ramai gini? Dan kenapa pada bawa ....”
“Sudah gua bilang, jangan panggil gua ‘mas' masih aja!” sela Zidan dengan nada nyolot.
“Ck, awas, minggir!” sentak Zidan kemudian seraya mendorong tubuh Syifa. Hingga hampir saja Syifa tersungkur ke sisi pintu.
“Ayo, silakan masuk, gaes!” titah Zidan pada semua temannya.
__ADS_1
“Oke, Bos!” sahut sebagian anggotanya nyaris kompak.
“Ayo-ayo, anggap saja seperti rumah sendiri, ya,” imbuh Zidan. Sejurus kemudian Zidan memghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang terletak di ruang tamu. Pun dengan teman-teman gengnya. Sebagian ada yang duduk di teras, dan sebagian lagi duduk di ruang tengah. Sehingga suasana rumah yang semula sepi pun kini laksana pasar malam. Bising.
Syifa masih tertegun di sisi pintu ruang tamu. Bingung. Ia merasa tidak nyaman karena di dalam rumah hanya wanita seorang diri.
“Heh, lu ngapain jadi patung di situ?” Syifa terperanjat oleh sentakan Zidan. “Sono ke dapur buatin kita makanan kek atau apa kek. Terus satu lagi bawain gelas kosong kemari!” imbuh Zidan.
“Eum, ge-gelas kosong?” ucap Syifa memastikan.
“Iya! Lu budeg ya?” jawab Zidan ketus.
“Bu-buat apa?” tanya Syifa tidak mengerti.
“Gelas kok buat apa? Ya, buat minumlah. Pe’a!” bentak Zidan. Lantas dua orang anak buah Zidan mengeluarkan beberapa botol minuman beralkohol dari dalam sebuah papper bag.
“Apa lu! Katrok lihat minuman kek gini aja kayak lihat setan, lu!” ejek Zidan. Sementara anggota gengnya terkekeh geli melihat ekspresi Syifa.
Syifa menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. “Mas, semuanya, saya mohon jangan jadikan rumah ini untuk bermaksiat! Jangan minum-minum miras di sini!” ujar Syifa, dan hanya ditanggapi dengan kekehan oleh Zidan beserta anak buahnya.
“Mas Zidan, aku mohon jangan minum-minum kayak gitu di rumah kita. Nanti rumah kita dijauhkan dari keberkahan. Jangan minum, minuman beralkohol lagi!” ucap Syifa dengan nada parau menahan tangis.
“Argh! Banyak bacot lu! Udah sono ambilin gelas!” sentak Zidan, seraya melemparkan papper bag bekas wadah botol tadi ke arah Syifa berada. Disambut tawa oleh anak buah Zidan.
“Ma’af, Mas, saya ndak mau turut andil dalam kemaksiatan ini. Jadi, saya ndak mau ambil gelas,” tegas Syifa.
Zidan pun emosinya tersulut. Sekali hentakan ia langsung berdiri dan melangkah gusar ke arah Syifa berada. Lantas langsung menarik lengan Syifa dengan kasar dan menyeret istrinya ke dapur.
Zidan tak menghiraukan rintihan kesakitan istrinya. Setelah sampai di dapur, Syifa langsung didorong dengan kasar. “Sekarang siapkan gelas untuk gua dan teman-teman gua!” titah Zidan, memaksa. Syifa menggeleng tidak mau sambil sesekali mengusap air matanya yang jatuh berderai.
__ADS_1
“Mas, jangan minum minuman beralkohol. Selain haram itu nggak baik buat kesehatan, Mas! Apalagi minumnya di sini, di rumah kita. Na’udzubillah, Mas.” Lagi, Syifa berusaha menasehati.
“Serah gua. Ini rumah, rumah gua. Jangan lupa lu cuma numpang idup di sini. Jadi, jangan sok ngatur-ngatur gua, lu!” bentak Zidan, seraya menunjuk kasar Syifa.
“Udah, minggir lu!” bentak Zidan, sambil menggeser tubuh Syifa dengan kasar. Sehingga tubuh Syifa terhempas menabrak kulkas yang terletak di sisi kirinya. Lagi, Syifa merintih kesakitan kemudian ber-istighfar.
“Kalok lu kagak mau ambilin. Gua bisa ambil ndiri!” sungut Zidan, seraya mengambil gelas dengan gusar.
Praaang!
“Subhanallah!” pekik Syifa, saat sebuah gelas jatuh dan pecah tepat di samping kakinya. Bahkan sebagian pecahan belingnya mengenai kaki Syifa. Zidan tak peduli, selepas mengambil gelas, ia langsung pergi ke tempat teman-temannya berada.
Sementara Syifa membersihkan pecahan gelas di dapur sambil bercucuran air mata.
Zidan dan teman-temannya menenggak miras di ruang tamu, ada yang di ruang tengah dan sebagian di teras.
Selepas membersihkan pecahan gelas di dapur, Syifa bergegas mengunci diri di kamar. Tubuhnya gemetar ketakutan. Air mata terus menetes dari mata indahnya.
Sementara di ruang tamu ke adaan mulai tak terkendali. Bising oleh suara musik yang diputar dengan volume keras juga bising suara ocehan khas orang mabuk.
N
E
X
T
👇
__ADS_1