KETABRAK CINTA KETUA GENG MOTOR

KETABRAK CINTA KETUA GENG MOTOR
BAB 10


__ADS_3

Hari berganti bisik-bisik tetangga soal perselingkuhan yang Syifa lakukan dengan teman kantornya semakin meluas hingga sampai ke telinga Syifa sendiri.


“Siapa yang bilang begitu, Bu?!” sahut Syifa, saat ia disindir oleh tetangganya pas beli sayuran di tukang sayur keliling yang mangkal di depan rumah Syifa. Ibu-ibu yang semula kasak-kusuk menyindir Syifa habis-habisan langsung terdiam. Menunduk ketakutan oleh ekspresi marah wanita berhijab itu.


“Siapa yang bilang saya selingkuh?” tanya Syifa dengan nada meninggi, akan tetapi semua ibu-ibu masih diam.


“Jawab Ibu-ibu! Jangan cuma beraninya sindir-sindir saya!”


“Suamimu,” jawab salah seorang ibu bertubuh gempal gemetar ketakutan.


Syifa segera membayar belanjaannya lalu pulang tanpa pamit pada ibu-ibu yang masih mengelilingi penjualnya dan pura-pura sibuk memilih sayuran.


Sesampainya di dalam rumah, Syifa langsung meluapkan amarahnya pada suaminya yang sudah tega memfitnahnya.


“Kamu itu keterlaluan banget sih, Mas! Aku yang kamu selingkuhin, tapi kenapa kamu bilang ke orang-orang kalau aku nyelingkuhin kamu?! Mau kamu itu apa sih, Mas? Hah?!”


Kali ini Syifa benar-benar sudah kehilangan kesabaran. Ia lelah dengan tingkah suaminya yang kekanakan dan tempramen.


“Gua gak bilang ke mereka kalau elu selingkuh. Gua Cuma nyebarin foto lu pas lagi bareng cowok lu. Mereka yang menyimpulkan sendiri,” kilah Zidan santai. Kemudian melanjutkan main game di ponselnya.


“Lagian emang bener ‘kan, dia itu selingkuhan elu?”


“Enak aja! Jangan samakan aku sama kamu, ya! Aku bukan tukang selingkuh kayak kamu!” ketus Syifa.


Syifa geram merebut ponsel Zidan lalu menyembunyikan di belakang punggungnya. “Kalau lagi diajak bicara itu lihat lawan bicaranya, Mas!”


“Ck, siniin nggak HP gua!” Zidan menengadahkan tangan kanannya.


“Enggak! Mau aku buang sekalian!” balas Syifa kesal.


Zidan berdiri dari duduk dan berusaha merebut Hpnya dari tangan Syifa. Keduanya pun terlibat adegan rebutan HP.


“Elu makin lama makin ngelunjak ya! Siniin nggak HP gua?!” bentak Zidan, seraya menarik lengan Syifa. Namun Syifa kekeh mempertahankan ponselnya.


Hingga keduanya ambruk ke lantai. Syifa jatuh tepat di atas dada bidang Zidan. Bahkan bibir keduanya nyaris bertemu. Beberapa detik mereka terdiam dalam posisi tumpang tindih. Lalu bangun dan sama-sama salah tingkah. Terutama Syifa, ia berubah menjadi gugup. Ini kali pertama bersentuhan dengan lelaki non mahrom. Meski sudah lama menikah, tapi bagi Syifa, Zidan masih lelaki asing di matanya.


Syifa memegangi dada, dimana di dalamnya jantungnya berdetak tak menentu. Ia sampai tak menyadari jika ponsel di tangannya sudah kembali pada si empunya.


Syifa memilih pergi ke kamarnya untuk menstabilkan detak jantungnya yang tak menentu. Mengabaikan Zidan yang kembali asyik dengan gamenya di ruang tengah.


***


Waktu terus bergulir. Kini Lina sudah melahirkan dan sudah menikah dengan Zidan. Hari-hari Syifa semakin mengenaskan, Ia kini sering tak masuk kerja karena dijadikan babysitters oleh Lina.


“Tolong jagain anak aku!” titah Lina, seraya memindahkan bayinya ke gendongan Syifa.

__ADS_1


“Lin, aku gak bisa. Aku mau kerja,” jelas Syifa.


“Ck, udahlah. Izin lagi aja sama bosmu yang baik hati itu,” ujar Lina dengan entengnya.


“Memangnya kamu mau ke mana, sih?” cecar Syifa.


“Mau hangout sama temen-temen aku,” jawab Lina.


“Ya Allah, Lin, masa nifas aja belum selesai udah pake acara hangout segala. Udahlah di rumah aja jagain bayimu. Biar aku bisa kerja. Aku kerja juga untuk biaya hidup kita semua,” cerocos Syifa. Geram.


Namun, Lina tak menghiraukan ucapan Syifa. Ia mengibaskan tangan masa bodoh lalu pergi.


Syifa teringat jika suaminya masih tidur di kamarnya. Ia pun bergegas ke kamar Zidan bermaksud hendak menyerahkan anak suaminya itu. Supaya ia tetap bisa bekerja.


Sesampainya di kamar Zidan, Syifa mendapati suaminya itu sudah dandan rapi dan wangi.


“Kamu mau ke mana, Mas?”


“Hah! Mau tau aja lu urusan gua!”


“Bukan gitu Mas, kalau nggak penting-penting amat nggak usah ke mana-mana ya! Di rumaj aja jagain anakmu. Aku mau kerja, Mas.”


“Suruh ibunya sana. Kan ini anak punya ibu. Ngapa lu nyuruh gua?”


“Lina sedang keluar, Mas.”


Terpaksa Syifa harus menelepon bosnya untuk minta izin lagi hari ini. Untungnya sang Bos mau mengerti kondisinya.


Syifa laksana pekerja rodi di rumah suaminya. Ia harus membiayai kehidupan suami, sekaligus madu dan anak madunya itu. Sampai kini Zidan masih belum mau mencari kerja.


***


Sepulang dari kantor, Syifa dikejutkan dengan suara gaduh dari dalam rumahnya. Syifa pun bergegas masuk melihat apa yang terjadi di dalam. Ternyata Zidan dan Lina sedang berseteru hebat. Ada seorang wanita lain lagi sedang duduk santai di sofa ruang tamu. Syifa lalu mendekat dan bertanya ada apa.


“Itu Fa, masa Mas Zidan katanya mau menikah lagi.”


Syifa yang semula menatap Lina beralih menatap Zidan. “Benar begitu, Mas?”


“Iya, gua suka dan cinta sama cewek gua ini.” Zidan merangkul bahu wanita cantik yang sedang duduk di sofa.


“Kamu itu nggak malu apa Mas? Sebagai laki-laki yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga. Membiayai kita semua aja masih bergantung sama Syifa. Sekarang lagu-laguan mau nikah lagi. Ngaca napa Mas! Ngaca!” cerocos Lina. Emosi. Sementara Syifa masih sanggup menguatkan dan menyuruh Lina bersabar.


“Yaudah kalok kalian gak mengizinkan gua nikah sama Ira secara resmi. Gua akan nikah sama dia secara siri. Gampang ‘kan?” kata Zidan. Dia selalu saja menggampangkan masalah. Lalu mengajak pergi calon istri barunya itu.


Lina semakin meradang, kata kasar, umpatan, kutukan, semua dilontarkan tanpa ampun terhadap suaminya yang sudah pergi bersama wanita lain.

__ADS_1


“Sabar Lin, sabar!” ucap Syifa, seraya mengusap bahu Lina.


Lina menatap Syifa dengan tatapan tak percaya. “Dari tadi kamu itu sabar-sabar terus, Fa. Aku bingung sama kamu. Hati kamu itu terbuat dari apa sih, Fa? Kok bisa sesabar ini?”


Syifa hanya tersenyum kecil.


“Masih bisa-bisanya ya, kamu tersenyum dalam keadaan kayak gini, Fa.” Selepas nyerocos Lina pergi ke kamarnya. Pun dengan Syifa.


Syifa benar-benar sudah capek menghadapi sikap suaminya. Ia berpikir untuk menyerah saja lalu pulang ke rumah orangtuanya.


“Fa,” panggil Lina dibarengi dengan ketuk pintu.


“Iya. Sebentar.” Syifa lalu bergegas membukakan pintu kamarnya.


Syifa terbengong melihat Lina yang menenteng koper dan tas besar. “Lin, kamu mau ke mana?”


Lina menaruh koper di sisinya berdiri juga tas besarnya. Kemudian melepas gendongan, dan menyerahkan bayinya pada Syifa. “Aku udah nggak kuat jadi istri Mas Zidan, Fa. Aku mau pergi saja dan mengurus surat cerai dengannya.”


“Lin, istighfar Lin. Jangan mengambil keputusan saat marah. Pikirkan anakmu dan masa depannya.” Syifa berusaha menasihati. Namun, Lina tetap pada pendiriannya.


“Aku akan tetap pergi, Fa. Aku nggak sanggup. Titip bayi aku, ya. Tolong rawat dia selayaknya anak kamu sendiri.”


Syifa menatap Lina, lalu beralih menatap bayi mungil yang kini berada di gendongannya. Lalu kembali menatap Lina. “Kamu sudah gila, ya? Ini anak kamu Lin.”


“Aku tahu itu anak aku. Tapi aku percaya kamu bisa merawat anak aku jauh lebih baik dibanding aku ibu kandungnya. Aku percaya di bawah pengasuhan wanita hebat seperti kamu, anak aku kelak pasti bakal jadi anak yang saleha, Fa.”


Syifa bergeming, ia tak tahu lagi harus berkata apa. Lina memeluk dan cium kedua sisi pipi Syifa sebagai tanda salam perpisahan. Kemudian Lina pergi. Sementara Syifa masih bergeming di tempat semula.


***


Syifa dilanda kekhawatiran. Zidan sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah. Dan selama beberapa hari itu pula Syifa terpaksa membawa bayinya ke tempat kerja.


“Kamu di mana sih, Mas?” gumam Syifa, sambil mondar-mandir di depan pintu depan. Matanya sesekali menyelidik keluar jendela yang tirainya terbuka itu. Namun, tak ada tanda-tanda Zidan akan datang.


“Pasti kamu lagi enak-enakan sama istri baru kamu itu ‘kan, Mas?” Lagi, Syifa menggumam. Lalu bergegas ke kamar setelah mendengar tangisan bayinya.


Syifa benar-benar frustrasi. Ia berpikir akan menyerah juga, lalu pulang ke rumah orangtuanya mengikuti jejak Lina.


“Aku sudah lelah Mas, dengan semua tingkahmu,” ucap Syifa, sambil packing semua baju-bajunya dan baju bayinya.


Keputusannya sudah bulat, ia akan pulang ke rumah orangtuanya.


Usai mengunci pintu dan menyimpan kuncinya di bawah taplak meja teras. Syifa berdiri di teras mengamati sekeliling. Ia berusaha meyakinkan hatinya untuk pergi dari sana. Ditatapnya anak yang ada di gendongan. Lalu mengelus pipi cubby bayinya. Mata Syifa pun berkaca-kaca.


Syifa tersentak dari lamunan saat tiba-tiba ponselnya berdering. Dilihat layarnya panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Syifa sempat ragu hendak mengangkat, tapi akhirnya diangkat juga takut penting.

__ADS_1


“APA?!” pekik Syifa usai mendengar percakapan seseorang di ujung telepon.


N E X T


__ADS_2