KETABRAK CINTA KETUA GENG MOTOR

KETABRAK CINTA KETUA GENG MOTOR
BAB 2


__ADS_3

❤❤❤


Selepas dari kamar mandi, Zidan langsung melepas jasnya dan melemparnya begitu saja ke sembarangan arah. Kemudian keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Syifa.


Syifa yang masih merasa canggung dan bingung hanya diam tidak tahu mesti bagaimana menghadapi sikap suaminya itu. Meremas jemarinya, gelisah, mondar-mandir di dalam kamar. Selepas suaminya pergi.


❤❤❤


"Lololo, kamu mau ke mana, Dan?" tanya mamanya, saat mendapati putranya keluar dari dalam kamar pengantin dengan langkah gusar.


"Mau ke basecamp, Ma," jawab Zidan dengan nada datar.


"Kamu jangan gila dong, Dan. Masa udah mau pergi aja. Tamunya aja sebagian masih belum pulang. Gimana sih, kamu?" omel mamanya, sambil memegang bahu Zidan.


"Urusan Zidan udah kelar. Jadi, ya, udah biarin Zidan pergi, Ma!" balasnya dengan nada kesal.


Tanpa menghiraukan peringatan dari mamanya lagi, Zidan pergi begitu saja meninggalkan pelaminan. Padahal para tamu juga belum pada bubar masih menunggu waktu berjabat tangan dengan pengantin. Bahkan pekikkan papanya juga tak digubrisnya.


Akhirnya Syifa naik ke pelaminan seorang diri. Menyalami para tamu undangan. Untungnya yang diundang tidak banyak, hanya kerabat, tetangga, dan sahabat keluarga saja.


❤❤❤


Pagi merangkak ke siang, sore, lalu berganti ke malam. Namun, Zidan belum ada tanda-tanda pulang ke rumah Syifa. Tempat di mana tadi diadakan acara pernikahannya secara sederhana.


"Fa, kok suamimu belum pulang ya, sudah jam segini?" tanya bunda Syifa, cemas.


"Aku juga nggak tahu, Bun." Syifa pun sama cemasnya.


"Coba kamu telepon, gih!" titah ayahnya.


Syifa tersenyum canggung kemudian mengulum bibir. "Syifa nggak punya nomor telepon Mas Zidan, Yah," jawabnya. Kemudian nyengir.


"Ya sudah, sebentar ayah minta nomornya Zidan ke mertuamu."


Syifa mengangguk, dan menunggu. Setelah nomor didapatkan Syifa pun berusaha menelepon, tapi nomornya selalu sibuk dan di luar jangkauan. Kirim pesan pun tidak terkirim.


Akhirnya Syifa memilih diam dalam kepasrahan.


❤❤❤


Menjelang tengah malam Zarin-mamanya Zidan dikejutkan dengan suara motor yang masuk ke dalam garasi.


Zarin mengerjap, mengucek mata, lalu duduk di atas kasur menajamkan pendengarannya.


"Pah, bangun!" Zarin menepuk-nepuk perlahan bahu suaminya.


"Hmmm, ada apa, Ma?" Tama pun membuka matanya. Lalu menoleh ke arah istrinya.


"Itu kayak ada suara motor Zidan. Apa Zidan pulang ke sini bareng Syifa, ya, Pah?"

__ADS_1


Tama langsung duduk dan mengedikkan bahu. Tanda tak tahu.


"Kita lihat, yuk, Pah!" ajak Zarin, dan Tama pun ngikut.


"Loh, Syifa mana, Dan?" tanya Zarin selepas membukakan pintu, dan mendapati Zidan hanya datang seorang diri.


"Ya, di rumahnya lah, Ma!" jawab Zidan dengan entengnya.


"Kamu dari tadi pagi itu baru pulang ini?" tanya Tama, dan hanya dijawab dengan gumaman oleh Zidan.


"Kamu ini benar-benar keterlaluan, Dan! Kamu nggak mikirin perasaan iatrimu apa? Ini kan malam pengantin kalian!" omel Zarin. Zidan mengibaskan tangannya masa bodoh.


"Udah ah, Zidan mau ke kamar. Capek, mau tidur," pungkasnya. Zidan lalu pergi meninggalkan kedua orangtuanya yang masih berdiri di ruang tamu dengan perasaan jengkel, dan malu serta merasa nggak enak hati dengan keluarga besannya terutama dengan menantunya, Syifa.


Zarin mendengkus kesal, pun dengan Tama.


"Mama telepon Syifa dulu ya, Pah." Tama mengangguk setuju. Lalu Zarin pun menelepon Syifa memberitahukan kalau Zidan pulang ke rumah. Dan Syifa berusaha mengerti.


❤❤❤


"Dan, kamu jemput Syifa dan ajak tinggal di sini kalau kamu nggak mau tinggal di rumah mertuamu."


Zidan tetap asyik menikmati sarapan, dan tidak menghiraukan saran dari papanya.


Emosi Tama pun tersulut hingga tanpa sadar menggebrak meja makan. "Kamu denger nggak, papa ngomong apa?!" ucap Tama dengan nada meninggi.


Sementara Zarin mengusap bahu suaminya. Menenangkan.


Tama dan Zarin hanya mampu menggeleng miris dengan sikap anaknya yang kekanakan itu.


"Perasaan cara mendidik kita juga sama seperti orang tua pada umumnya, tapi kenapa Zidan tumbuh jadi anak yang badung begitu ya, Pah?" lirih Zarin.


"Entahlah, Ma. Papa juga nggak ngerti," sahut Tama. Lalu mengusap bahu istrinya dengan lembut. "Sabar, Ma!" imbuhnya.


Zarin pun menghela napas pajang. Lalu manggut-manggut. "Iya, Pah."


"Ya sudah, nanti kita saja yang jemput Syifa, Pah. Sekalian minta maaf sama besan kita atas sikap anak kita."


Tama mengangguk setuju dengan saran istrinya.


Selepas sarapan Zarin dan Tama langsung bergegas ke rumah besannya untuk memboyong menantunya ke rumahnya.


❤❤❤


"Fa," panggil Salma pada putrinya.


Syifa yang sedang memasukkan baju ke dalam tas pun menoleh ke arah bundanya berada, dan menghentikan aktivitasnya sejenak. "Iya, ada apa, Bun?" sahutnya.


Salma mendekat ke tempat putrinya berdiri, lalu memegang bahu Syifa lembut. "Nanti di sana kamu yang sabar, ya! Ini tidak mudah, dan pasti akan banyak ujian yang bakal kamu hadapai nantinya. Semoga ini bisa menjadi ladang pahalan untukmu."

__ADS_1


Syifa mengangguk paham. "Iya, Bun. Insya Allah, Syifa akan selalu ingat pesan Bunda," sahutnya.


"Ingatlah, sabar yang sesungguhnya itu tanpa batas."


"Iya, Bun. Insya Allah," jawab Syifa.


"Sudah belum? Sudah ditunggu itu loh, sama mertuamu," ucap Arya, seraya menyembulkan setengah badannya ke dalam kamar Syifa.


Sontak Syifa dan Salma pun menoleh ke arah pintu. "Ayah, ngagetin saja," ucap ibu dan anak kompak. Arya terkekeh dibuatnya.


"Iya, Yah. Sebentar lagi," ucap Syifa kemudian.


"Ya sudah, cepetan. Mertuamu buru-buru katanya mau ada kepentingan lain selepas ini," jelas Arya. Setelah Syifa mengangguk mengerti, Arya pun kembali ke ruang tamu menemui besannya.


Setelah semua yang akan dibawa ke rumah mertuanya siap dalam tas, Syifa pun segera membawanya ke ruang tamu. Dibatu bundanya.


Selepas pamitan dengan kedua orangtuanya, Syifa berangkat ke rumah mertuanya.


❤❤❤


Sesampainya di rumah mertuanya, Syifa langsung diwanti-wanti dan diberitahu apa saja keburukan, dan kebiasaan serta makanan kesukaan Zidan. Juga diberitahu seluruh penjuru ruang dan kegunaannya.


Setelah dirasa cukup, Zarin dan Tama pamit akan pergi tinggal di rumahnya yang lain. Zarin dan Tama membiarkan Zidan tinggal berdua dengan Syifa agar bisa mandiri dan saling mengenal satu sama lain. Dengan begitu mereka berharap Zidan bisa cepat berubah menjadi lebih baik.


Tidak ada pilihan lain selain nurut. Syifa pun hanya bisa mengangguk setuju. Dan menyaksikan mertuanya pergi ke rumahnya yang terletak di kota lain. Sementara Zidan entah di mana?


❤❤❤


Syifa terperanjat kaget oleh suara motor yang memasuki garasi. Syifa yang ketiduran di atas sofa ruang tamu pun segera bangun saat pintu dibuka oleh Zidan.


Syifa segera berdiri dan mendekati suaminya, mengulurkan tangan hendak mengecup punggung tangan Zidan. Namun, lagi-lagi ditepis oleh Zidan.


"Hadewh, nggak usah lebay dah! Elu ngapain di sini? Mana nyokap sama bokap gua?" tanya Zidan merepet.


"Eum,"


"Am eum, am eum, elu bisa ngomong kagak si?!" bentak Zidan.


"Mama sama Papa pergi keluar kota," jelas Syifa kemudian.


"Whaaat!" pekik Zidan. "Jadi maksud lu, kita tinggal berdua doang di rumah ini? Gitu?" lanjut Zidan tak percaya. Syifa mengangguk pelan. Membenarkan.


"Shit!" umpat Zidan, lalu pergi ke kamarnya dan menelepon orangtuanya.


Zidan mengadu pada mama dan papanya, merasa keberatan jika harus tinggal berdua dengan Syifa. Mengutarakan niatnya hendak pergi saja dari rumah meninggalkan istrinya. Namun, Zidan diancam oleh kedua orangtuanya.


Selangkah saja Zidan berpikir pergi meninggalkan rumah dan Syifa. Maka segala fasilitas yang selama ini ia pakai akan dibekukan oleh orangtuanya. Dan akan diusir dari rumahnya serta diancam akan dicoret dari list pewaris keluarga Pratama Adijaya.


Zidan pun ngamuk. Semua barang di kamarnya jadi sasaran emosinya. Diobrak-abriknya seluruh isi kamar. Hingga berantakan di lantai bahkan ada yang pecah.

__ADS_1


'Oke, fine! Kalau gua nggak boleh pergi, gua akan buat hidup si cupu jadi kayak di neraka, dengan begitu gua yakin dia bakal pergi dengan sendirinya,' batin Zidan. Tangannya terkepal sempurna, sorot matanya dipenuhi kebencian dan amarah.


👇


__ADS_2